MENGAPA SHALAT DI RUMAH?


Hal yang patut kita syukuri dan sangat menggembirakan adalah, bahwa saat ini banyak sekali masjid-masjid dibangun di mana-mana, sehingga bila tiba waktunya untuk menjalankan ibadah shalat, maka dengan mudah masjid dapat ditemukan. Bahkan banyak bangunan–bangunan masjid yang direnovasi dan diperluas serta diperindah, dilengkapi dengan fasilitas bersuci (thaharah) dan sanitasi yang semakin baik. Disediakan pula areal parkir, sehingga kaum muslimin yang sedang dalam safar pun dapat singgah untuk menjalankan ibadah. Apabila telah masuk waktunya untuk shalat, maka dari masjid-masjid tersebut terdengar seruan adzan berkumandang saling bersahutan, memanggil seluruh kaum muslimin datang ke masjid untuk shalat secara berjama’ah. Namun seberapa banyak kaum muslimin yang menyambut seruan adzan yang mulia itu?

Kebanyakan kaum muslimin lebih memilih shalat seorang diri di rumah, mereka sudah merasa tenang telah melaksanakan perintah agama, dan mereka berpikir sudah merasa cukup puas dengan pahala satu derajat yang didapatnya. Sementara peluang pahala dua puluh tujuh derajat dan berbagai pahala serta segudang manfaat dan keutamaan lainnya yang akan diberikan oleh Allah ‘Azza wa Jalla pada shalat berjama’ah, mereka lewatkan dan sia-siakan begitu saja. Tidak disadari bahwa cara shalat seperti itu tidak memperoleh keuntungan-keuntungan. Bahkan sebaliknya mendatangkan banyak kerugian. Padahal shalat berjama’ah di masjid demikian istimewa dan besar keutamaannya, sehingga di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum, shalat secara berjama’ah merupakan perkara yang sangat diperhatikan, tidak seorangpun dari kaum muslimin yang meninggalkannya. Mereka sangat takut akan terkena penyakit munafiq apabila tidak menghadiri shalat berjama’ah, karena mereka tahu bahwa munafik adalah penyakitnya orang-orang yang malas mendatangi masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah.

Dari Abdulah bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata,

Aku bertanya kepada Rasulullah mana yang lebih utama: shalat di rumahku ataukah shalat di masjid?” Rasulullah menjawab, “Lihatlah rumahku, betapa dekatnya ia dengan masjid. Aku shalat di rumahku lebih aku suka daripada shalat di masjid, kecuali shalat wajib.” (HSR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya).

Dari Ibnu Abas radhiyallahu ‘anhu, At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa ia pernah ditanya oleh seseorang tentang seorang laki-laki yang senantiasa rajin puasa dan bangun malam (untuk shalat tahajud), tapi ia tidak pernah mengerjakan shalat berjama’ah (di masjid) dan shalat Jum’at, maka ia menjawab, “Jika ia mati, maka ia akan masuk neraka

Kepekaan seorang muslim terhadap seruan panggilan adzan untuk segera beranjak pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah adalah merupakan tolok ukur seberapa besar ketaqwaan dan keimanannya. Selayaknya seorang muslim tidak meremehkan suatu perkara yang Allah malah menganggapnya besar.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (ketika di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (QS. Al-Qalam: 42-43)

“Pada hari betis disingkapkan . . .” Ini kejadian pada hari qiamat. Yakni (dahsyatnya) pada hari Qiamat dengan berbagai peristiwa yang terjadi di sana, berupa hal-hal yang menakutkan, goncangan, ujian, dan berbagai macam peristiwa besar lainnya. Mereka (orang-orang munafiq) diliputi penyesalan. Dulu ketika di dunia mereka diseru dengan adzan dan iqamat untuk bersujud (di masjid).

“Ayat ini turun sehubungan dengan orang-orang yang meninggalkan shalat berjama’ah. Ancaman apalagi yang lebih dahsyat bagi orang yang meningglkan shalat berjama’ah, padahal ia mampu melaksanakannya selain (dengan) ayat ini?”. Demikian dikatakan oleh Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullahu.

 Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Aku pernah mendengar Nabi Shollallahu alaihi wa sallam bersabda : ‘Rab kita akan menyingkapkan betisnya sehingga setiap orang mukmin, laki-laki maupun  perempuan bersujud kepada-Nya. Dan orang-orang yang bersujud (shalat) ketika di dunia hanya karena ingin dilihat orang dan yang selalu memperdengarkan amal solehnya kepada orang lain akan tetap diam (tidak bisa bersujud). Kemudian mereka beranjak untuk bersujud tetapi (setiap kali hendak bersujud) punggungnya (lekat bertumpuk) kembali jadi satu.”  Demikian hadits yang diriwayatkan di dalam kitab ash-Shahihain

Dalam redaksi yang lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Allah Ta’ala berfirman: “Apakah antara kalian dan Rabb kalian ada tanda yang dapat kalian mengenali-Nya?” Mereka menjawab: “Ya.” Lalu Allah menyingkapkan betis-Nya. Maka semua orang yang dahulu bersujud kepada Allah karena ingin berjumpa dengan-Nya, Allah mengijinkannya bersujud. Adapun orang-orang (munafiq) yang dahulu bersujud karena sekedar ingin menjaga jiwa dan hartanya, atau karena ingin dipandang orang, Allah menjadikan tulang punggungnya menyatu (tidak ada tulang ruasnya), sehingga setiap kali hendak bersujud, mereka jatuh terjungkal ke belakang.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6088 dan Muslim, no. 269)

Berkata Al-Imam Fakhrurraziy rahimahullahu tentang ayat ini: “Dan sungguh mereka pada waktu di dunia telah diseru untuk sujud sedang mereka dalam keadaan sejahtera.”  yakni ketika mereka diseru dengan adzan kepada shalat-shalat (yang wajib secara berjama’ah) sedang mereka dalam keadaan sejahtera, serta mampu untuk melaksanakannya. Dalam ayat ini terdapat ancaman terhadap orang yang duduk tidak menghadiri shalat berjama’ah dan tidak memenuhi panggilan adzan sampai ditegakkannya iqamah shalat berjama’ah.” (At-Tafsirul-Kabir 30/96).

Sa’id bin Musayyib rahimahullahu mengatakan: “Mereka dahulu mendengar seruan hayya ‘alash shalah hayya ‘alal falah,  namun mereka tidak memenuhi panggilan itu, padahal keadaan mereka sehat tak kurang suatu apa pun.”

Al-Hafizh Ibnul Jauziy rahimahullahu mengatakan: “Dan dalam ayat ini terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat berjama’ah.” (Zadul Masir 8/342).

‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dalam menafsirkan ayat ini mengatakan: “Mereka mendengar adzan dan panggilan untuk shalat tetapi mereka tidak menjawab (dengan mendatangi masjid)” (Ruhul Ma’ani 29/36).

Telah Berkata Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu: “Mereka mendengar (panggilan) ‘Hayya ‘alal falaah’ tetapi tidak memenuhi panggilan tersebut.” (Tafsir Al-Qurthubiy 18/151 dan Ruhul Ma’ani 29/36).

Berkata Ibrahim An-Nakha’iy: “Yaitu mereka diseru dengan adzan dan iqamah tetapi mereka enggan (memenuhi seruan tersebut).”

Peringatan bagi laki-laki yang tidak mengikuti shalat wajib secara berjama’ah di masjid tanpa ada alasan:

a).     Pada hari qiamat tidak memperoleh naungan dari Allah subhanahu wata’ala.

Hati seorang muslim akan merasa asing serta jauh dengan masjid, sehingga ia tidak memperoleh naungan dari Allah subhanahu wata’ala pada hari qiamat.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: الإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ 

Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada hari (kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; (diantaranya) Seorang penguasa yang adil, pemuda yang dibesarkan dalam ketaatan kepada Tuhannya, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, ….” (Muttafaqun alaihi)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa yang dimaksud dengan ‘seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid’ dalam hadits di atas adalah seorang muslim yang sangat cinta terhadap masjid-masjid dan senantiasa melaksanakan shalat berjama’ah di dalamnya. (Lihat Al-Minhaj), sedangkan yang merasa asing dan hatinya jauh dengan masjid sehingga enggan untuk shalat berjama’ah di masjid, pada hari qiamat tidak memperoleh naungan dari Allah subhanahu wata’ala.

b).     Ditutup hatinya dari rahmat Allah subhanahu wata’ala.

Orang yang sengaja meninggalkan shalat berjama’ah tanpa udzur (alasan yang dibenarkan syara) akan ditutup hatinya dari rahmat Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجَمَاعَةَ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِيْنَ“

“Hendaknya orang-orang itu berhenti dari perbuatan meninggalkan shalat berjama’ah, atau nanti Allah subhanahu wata’ala benar-benar akan menutup hati-hati mereka, kemudian pasti mereka menjadi golongan orang-orang yang lalai”. (Diriwayatkan oleh Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ad-Darimi, lihat Ash Shahihah no. 2967 oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani).

c).   Akan disungkurkan wajahnya di neraka.

Orang yang shalat Shubuh dengan berjama’ah berada dalam jaminan Allah subhanahu wata’ala. Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Siapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah, maka ia berada dalam jaminan Allah. Barangsiapa yang membatalkan jaminan Allah, maka Allah menyungkurkan wajahnya di dalam Neraka.” (HR. ath-Thabrani).

Menurut para ulama, yang dimaksud dengan “jaminan Allah” adalah shalat yang menyebabkan rasa aman. Artinya, jangan meninggalkan shalat Shubuh berjama’ah dan jangan meremehkannya, sehingga perjanjian yang terjalin antara kalian dengan Rabb kalian menjadi batal, lalu Allah menyungkurkan wajah kalian di dalam Neraka.

d).   Dilaknat oleh Allah subhanahu wata’ala.

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abas bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda, “Allah melaknat tiga golongan manusia: Orang yang memimpin suatu kaum sedangkan kaum itu tidak menyukainya, wanita yang tidur sedangkan suaminya marah kepadanya, dan orang yang mendengar seruan ‘hayya alash shalah hayya alal falah’ kemudian ia tidak mendatanginya.”  (Diriwayatkan oleh At-Timidzi. Didha’ifkan oleh Ahmad karena ada perawi yang tidak haafizh).

e).   Lebih baik dikucurkan timah panas yang mendidih ke dalam telinganya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

Lebih baik telinga manusia itu dituangi timah panas yang mendidih dari pada kalau ia mendengar suara ‘hayya alash shalah hayya alal falah’ lalu ia tidak memenuhinya (shalat berjama’ah di masjid). (Diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah. Isnadnya dha’if, karena ada perawi majhul/tidak diketahui jati dirinya)

f).     Akan terkena sifat-sifat munafiq.

Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu menceritakan hadits berikut, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafiq ialah shalat Isya dan shalat Subuh. Tetapi seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat pada keduanya, niscaya mereka mendatanginya, sekalipun harus dengan (jalan) merangkak”. (Muttafaq ‘alaih).

g).   Ibadahnya akan tersesat.

Dikhawatirkan menjadi seorang muslim yang tersesat dalam ibadahnya karena meninggalkan Sunnah Nabi.

Sahabat Rasulullah Shollallahu alaihi wa sallam yang bernama Ibnu Mas’ud (dalam redaksi lain Anas bin Malik) radhiyallahu anhu  berkata: ”… Seandainya kalian shalat (fardhu) di rumah kalian sebagaimana orang yang tinggal di rumahnya, maka kalian telah meninggalkan sunnah (petunjuk) Nabi kalian. Andaikan kalian meninggalkan petunjuk Nabi kalian, maka kalian akan sesat. …. Kami telah menyaksikan (bahwa) orang-orang di antara kami tak ada yang tertinggal dari shalat jama’ah, kecuali orang munafiq yang nyata kemunafiqannya. Sungguh ada seorang laki-laki didatangkan (ke masjid) sambil dipapah oleh dua orang sampai ia diberdirikan dalam barisan (untuk shalat bersama-sama)” . [HR.Muslim dalam Kitab Al-Masajid wa Mawadhi’ Ash-Sholah(654), dan Ibnu Majah dalam Kitab Al-Masajid wa Al-Jama’at (777)]

h).   Shalatnya tidak diterima

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada udzur.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Hadits ini dinilai shahih oleh Syeikh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551)

Dalam redaksi lain dar Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa  Sallam bersabda: “Barangsiapa mendengar panggilan (adzan), lalu tidak ada udzur (alasan) yang menghalanginya untuk mengikuti (mendatangi masjid) maka shalat (sendirian di rumah) yang ia lakukan tidak diterima.”  Mereka bertanya: “Apa itu udzur?” Beliau menjawab ‘Yakni sakit atau ada perkara yang menakutkannya.” (HR. Abu Daawud dan Ibnu Maajah dinilai sahih oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim.)

Secara lahiriyah, hadits-hadits ini menunjukkan bahwa shalatnya sia-sia bagi siapa yang dengan tanpa alasan mendirikan shalat dengan tidak berjama’ah di masjid. Sebagian besar ulama mengatakan shalatnya tidak berpahala.

Ketahuilah bahwa yang menghadiri shalat berjama’ah di masjid adalah shalat wajib bagi kaum laki-laki yang sudah aqil balig (Yang sudah dihukumkan/diwajibkan untuk shalat). Adapun wanita muslimah, tidak ada larangan untuk shalat berjama’ah di masjid, meskipun shalat wanita di rumahnya adalah yang lebih baik bagi dirinya.

Adapun perbedaan-perbedaan pendapat mengenai kedudukan hukum shalat berjama’ah di masjid apakah wajib atau sunnah, itu bukanlah suatu alasan untuk tidak menghadiri shalat berjamaah. Demi mendapatkan keutamaan dan khawatir akan dosa  bila meninggalkannya, maka lebih baik tidak bersikap pilih-pilih dalam beribadah.

Semoga tulisan yang sederhana ini dapat membuka hati kaum muslimin yang selama ini jauh dengan masjid, dan semakin memperkokoh kaum muslimin yang selalu rutin shalat berjama’ah. Amiin.

Allahu ‘alam

(Dedy Kusnaedi)

Maraji

  1. Tafsir Ibnu Katsir.
  2. Mukhtasar Shahih Bukhari, Syaikh Nashiruddin Al-Albani
  3. Al-Kabaair, Imam Adz-Dzahabi
  4. Situs-situs internet manhaj salaf.
%d blogger menyukai ini: