Wajibkah shalat fardhu secara berjama’ah di masjid?


Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa SallamAl-jama’ah menurut pengertian bahasa ialah kumpulan orang banyak, kumpulan orang beribadat, rombongan, suatu golongan atau himpunan dalam suatu kaum. Himpunan suatu kaum yang hatinya sudah dihuni oleh suatu konsep aqidah.

Sedangkan Al-Jama‘ah menurut pengertian syara’ adalah “penghubung antara shalat makmum dengan imam”. Wujudnya adalah shalat herjama’ah. Berarti bersatunya hati dalam naungan ibadah yang sangat besar. Bersatunya jiwa dalam memanjatkan do’a dan mengadu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Himpunan dalam ikatan dan kerukunan sesama kaum Muslimin, menjadikan suatu hakikat, yaitu adanya ikatan antara imam1) dengan ma’mum dalam memeluk Islam secara jelas dan nyata.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

وَاَقِيْمُواالصَّلَوةَ وَاَتُواالزَّكَوةَ وَرْكَعُوْامَعَ الرَّاكِعِيْنَ

Dan dirikan olehmu shalat, dan keluarkanlah olehmu zakat, dan rukulah kamu beserta orang-orang yang ruku.” (QS. Al-Baqarah:43)

Ayat yang mulia ini menegaskan wajibnya shalat secara berjama’ah. Dalam ayat tersebut sangat jelas, dan rukulah kamu beserta orang-orang yang ruku. Ini perintah untuk ruku (tunduk, khusyu, merendah diri) beserta orang-orang yang ruku. Berarti manusia diperintah untuk shalat secara bersama-sama, atau diperintah untuk shalat secara berjama’ah.

Masih banyak kaum muslimin yang menganggap sederhana terhadap didirikannya shalat fardhu secara berjama’ah di masjid. Atau karena ketidaktahuan bagaimana pentingnya shalat fardhu secara berjama’ah itu. Atau barangkali karena terpengaruh oleh kaidah ushul fiqih, bahwa shalat berjama’ah itu hukumnya sunnat, yang berarti akan mendapat pahala bila dikerjakan, dan tidak berdosa apabila ditinggalkan. Selayaknya seorang muslim tidak meremehkan suatu perkara yang Allah malah menganggapnya besar dalam Al Qur’an. Dan rasul-Nya juga melakukan demikian.

Apakah karena dianggap tidak berdosa kemudian tidak  menghadiri jama’ah untuk shalat bersama-sama di masjid? Dan apakah benar tidak berdosa apabila tidak menghadirinya? Apakah dengan shalat berjama’ah di masjid kemudian menjadikan shalat di rumah tidak shah? Ataukah belum ada niat untuk shalat secara berjama’ah di masjid?

Suatu fakta menunjukkan, bahwa apabila adzan Magrib dikumandangkan, banyak kaum muslimin pergi ke masjid untuk shalat fardhu secara berjama’ah. Akan tetapi, bila waktunya adzan Isya dikumandangkan, berkuranglah kaum muslimin yang hendak shalat secara berjama’ah. Terutama pada waktu subuh, banyaklah berkurangnya. Dan orang yang biasa datang ke masjid untuk shalat fardhu secara berjama’ah itu, kalau boleh dikatakan sebagai wajah ahlul masjid yang itu-itu juga.

Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu menceritakan hadits berikut, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafiq ialah shalat Isya dan shalat Subuh. Tetapi seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat pada keduanya (Isya dan Subuh), niscaya mereka mendatanginya, sekalipun harus dengan (jalan) merangkak”. (Muttafaq ‘alaih)

Waktu Isya adalah waktunya istirahat dari kesibukan dan bekerja sepanjang hari. Berkumpul bersenda gurau bersama keluarga di rumah, bercengkrama bersama anak isteri, sehingga merasa berat pergi ke luar rumah untuk shalat fardhu secara berjama’ah di masjid.

Udara subuh adalah waktu yang paling dingin untuk dinikmati dalam selimut. Kondisi ini sangat kuat menahan seseorang untuk tidak beranjak dari tempat tidur. Sangat berat rasanya pergi keluar rumah untuk shalat secara berjama’ah di masjid.

Semua keadaan itu sangat kuat untuk memalingkan seseorang dari shalat berjama’ah, maka yang demikian itu dirasakan sangat berat bagi orang-orang yang seperti dikatakan oleh Rasulullah Sha-llallaahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai orang-orang munafiq. Namun apabila mereka mengetahui apa yang akan diberikan oleh Allah Subha-nahu wa ta’ala berupa pahala serta kebaikan jika pergi ke masjid untuk shalat fardhu secara berjama’ah, pasti mereka akan datang memenuhi seruan adzan untuk shalat berjama’ah, walaupun dengan cara jalan merangkak seperti anak kecil sekalipun.

Ada hadits riwayat yang menerangkan, bahwa ketika dalam perang Dzatur Riqa’, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam shalat berjama’ah bersama sebagian sahabat. Di belakang Beliau satu shaf berma’mum kepada Beliau, dan sebagian lagi membelakangi untuk berjaga-jaga menghadapi musuh. Kemudian setelah shaf pertama selesai shalat, maka majulah segolongan yang kedua untuk shalat berjama’ah bersama Rasulullah bergiliran dengan golongan pertama. Sedangkan Beliau tetap di tempatnya.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan shalat bersama-sama mereka, hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (selesai menyempurnakan satu raka’at) maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk pindah menghadapi musuh) dan hendaklah datang (giliran) golongan yang lain  yang belum shalat, lalu mereka shalat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka.” (QS. An-Nisa:102) 2)

Demikian dalam keadaan yang sedang genting atau perang sekalipun (khauf), Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam mengagungkan shalat secara berjama’ah, karenanya Beliau selalu memeliharanya.

Dibandingkan dengan situasi dan kondisi masa sekarang, yang sudah demikian damai dan tentram, yang sangat memungkinkan seseorang untuk bisa datang ke masjid untuk shalat berjama’ah, cara ibadat yang sangat dianjurkan (bahkan kata sebagian besar ulama diwajibkan), yaitu shalat fardhu secara berjama’ah, kalau tidak pergi ke masjid  rasanya merinding bila sampai disebut durhaka terhadap seruan panggilan adzan untuk datang ke masjid. Lebih-lebih bila letak keberadaan masjid tidak sampai radius ribuan meter.

Kata Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu : “Adapun orang ini, maka sungguh ia telah mendurhakai Abu Qosim”. Abu Qosim adalah sebutan untuk Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dalam riwayat ini, ada seorang muslim meninggalkan masjid setelah adzan diserukan. Ia tidak respek terhadap seruan adzan untuk memelihara shalat secara berjama’ah di masjid, sehingga ia disebut durhaka. Bahkan seorang muslim yang tidak dapat melihat pun (buta), bila mendengar seruan adzan, ia diharuskan memenuhi panggilan adzan untuk menghadiri jama’ah di masjid. Seperti yang diriwayatkan dalam hadits berikut:

Amr Ibn Ummi Maktum berkata:

”Ya Rasulullah, saya seorang tunanetra, dan rumah saya jauh dari masjid. Sedangkan yang menuntun saya tidak cocok dengan diri saya. Dapatkah saya shalat di rumah saja?’

Maka Nabi bertanya: ’Apakah engkau mendengar adzan?’

Jawabku: ’Ya’.

Bersabda Nabi: ’Kalau demikian tidak ada alasan untuk mengijinkanmu shalat di rumah”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah; Al-Muntaqa).

Perlu ditegaskan, bahwa seruan adzan dari masjid  حَيَّ عَلَى الصَّلَا ةِ  “Hayya alash shalah!” bukanlah hanya sebagai tanda masuk waktu untuk shalat semata, tapi ia merupakan panggilan mulia kepada kaum muslimin untuk datang ke masjid untuk shalat secara jamaah.

Abdullah ibnu Umar telah menceritakan, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Shalat berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian dengan perbandingan dua puluh tujuh derajat (pahala)”. (HR. Bukhary dan Muslim).

Shalat berjama’ah lebih utama memberi kesan shalat sendirian pun shah juga. Barangkali karena inilah ada sebagian ulama menyatakan, bahwa shalat berjama’ah itu hukumnya sunnat.

Ulama-ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan: “Shalat berjama’ah itu adalah sunnat mu’akkadah, oleh karena itu berdosalah orang yang meninggalkannya, dan tetap shah shalatnya walaupun dikerjakan dengan tidak berjama’ah”.

Imam Asy-Syafi’iy mengatakan: “Adapun shalat berjama’ah itu, tidak boleh orang meninggalkannya, terkecuali kalau ada ‘udzur (halangan yang dibenarkan oleh syara’)”.

Yang dimaksud ‘udzur yakni:

  1. sakit;
  2. ada keperluan yang sangat penting;
  3. takut kehilangan harta benda, gangguan keselamatan, sangat mengantuk;
  4. gangguan alam (hujan sangat lebat, banjir, jalan yang dilalui berlumpur).

Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, Imam Ahmad, Ishaq, dan segolongan dari Ahlul Bait berpendapat, bahwa shalat dengan cara berjama’ah adalah fardu‘ain (wajib).

Kita kaji pula hadits yang berikut: Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu menceritakan, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

وَالََّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَبِحَطَبٍ فَيُحْتَطَبَ، شُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا شُمَ آمُرَ

رَجُلًافَيَؤُمَّ النَّاسَ، شُمَّ لُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ لَايَشْهَدُوْنَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku telah berniat untuk memerintahkan (orang-orang) agar kayu-kayu dikumpulkan, kemudian aku perintahkan (orang-orang) untuk shalat, dan adzan diserukan untuknya, kemudian aku perintahkan seorang laki-laki untuk menjadi imam bagi mereka. Setelah itu aku pergi menuju kaum laki-laki yang tidak menghadiri shalat (berjama’ah), lalu aku (akan) membakar rumah-rumah mereka”. (Muttafaq ‘alaih, sedangkan lafaz hadits diketengahkan oleh Imam Bukhary)

Hadits ini mengungkapkan, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersumpah ketika beliau merasa kehilangan orang-orang yang biasa mengikuti shalat berjama’ah. Beliau berniat akan melakukan suatu perkara besar untuk menghukum mereka atas ketidakhadirannya dalam shalat berjama’ah. Lalu beliau memerintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang sebagai pengganti dirinya, sementara Beliau sendiri pergi menemui orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjama’ah. Beliau akan membakar rumah-rumah mereka sebagai hukuman atas perbuatan mereka karena tidak menghadiri shalat berjama’ah, sekaligus untuk memberi peringatan bagaimana pentingnya shalat secara berjama’ah. Hadits ini mengandung kecaman yang sangat pedas terhadap mereka yang tidak menghadiri shalat berjama’ah di masjid.

Kalau kita kaji makna hadist tersebut, seperti yang dikatakan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-’Asqalany “Hadits ini lahirnya menegaskan, bahwa shalat berjama’ah itu adalah hukumnya wajib (fardlu ‘ain). Karena kalau sunnat, tentu Nabi tidak akan mengancam orang-orang yang tidak memelihara shalat berjama’ah, yaitu dengan ancaman rumah-rumah mereka akan dibakar beserta dengan mereka sendiri”.

Sebagian ulama mengatakan, walaupun tidak ada alasan untuk tidak shalat berjama’ah di masjid, shalat sendirian di rumah pun shah, tetapi bukan berarti tidak wajib datang manghadiri jama’ah di masjid.

Bagaimana dengan shalat berjama’ah yang dilakukan di rumah?

Tentu saja dibolehkan selama ada halangan yang dibenarkan syara’.

Seperti yang diceritakan oleh Mahmud bin Rabi’ Al-Anshari:

“Sesungguhnya Itban bin Malik (ia seorang sahabat Rasulullah yang turut dalam perang Badar dari Madinah) datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam sambil berkata : “Ya Rasulullah! Sesungguhnya penglihatanku sudah tidak jelas dan saya shalat menjadi imam bagi kaumku. Kalau hari turun hujan mengalirlah air lembah di antara saya dan mereka, dan saya tidak bisa datang ke masjid kami untuk shalat berjama’ah bersama mereka. Saya lebih suka, ya Rasulullah, supaya anda datang shalat di rumahku.”  Jawab Rasulullah: “Nantilah saya datang, insya Allah!”  Kata Itban bin Malik: “Pada suatu pagi datanglah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersama Abu Bakar, waktu hari telah agak tinggi. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam minta izin untuk masuk dan kuizinkan. Beliau tidak langsung duduk ketika masuk rumah, hanya bertanya kepada Itban bin Malik: “Di manakah yang engkau lebih suka aku shalat di rumahmu ini?” Lalu kutunjukkan kepadanya satu sisi dari rumah itu. Maka beridirilah Rasulullah bertakbir di situ, kami berbaris di belakang Nabi. Beliau shalat dua raka’at, lalu memberi salam. Kemudian kami tahan beliau untuk tidak pergi lebih dulu untuk makan makanan yang telah kami sajikan untuk beliau. (HR. Sahih Buchari).

Demikian juga shalat berjama’ah yang dilakukan di tempat bekerja, di kantor-kantor intansi atau perusahaan pada waktu-waktu shalat. Tapi kalau mengingat pahala dari shalat berjama’ah yang dilakukan di rumah dengan yang dilakukan di masjid, tentu saja ada perbedaan. Sebab, shalat seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam , bahwa “Shalat berjama‘ah lebih utama daripada shalat sendirian dengan perbandingan dua puluh tujuh derajat” adalah khusus untuk shalat berjama’ah di masjid.

Yang dimaksud dengan dua puluh tujuh derajat, walaupun para ulama tidak menemukan hadits yang jelas mengenai perincian pahala dari kedua puluh tujuh derajat tersebut, Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-’Asqalany mencoba menguraikan berikut:

  1. pahala memenuhi panggilan adzan untuk shalat berjama’ah;
  2. pahala bergegas menuju jama’ah pada awal waktu;
  3. pahala berangkat (langkah kaki) menuju masjid dengan tenang dan terhormat;
  4. memasuki masjid dengan berdo’a;
  5. mendirikan shalat tahiyyatul masjid;
  6. menanti jama’ah;
  7. memperoleh istighfar malaikat;
  8. para malaikat menyaksikan shalat cara berjama’ah;
  9. menjawab seruan iqamah;
  10. memperoleh ketentraman karena syetan lari ketika iqamah diserukan;
  11. duduk di masjid dan kemudian berdiri menanti imam bertakbirathul ikhram;
  12. mengikuti takbirathul ikhram bersama imam;
  13. meluruskan dan mengisi celah-celah dalam shaf;
  14. menjawab ketika imam tasmi’ (bacaan bangkit dari ruku);
  15. terhindar dari lupa, dan mengingatkan bila imam lupa;
  16. khusyu dan terhindar dari yang melalaikan;
  17. membaguskan keadaan shalat;
  18. mendapat naungan malaikat;
  19. melatih tajwid bacaan dan mempelajari kaifiyat (tata cara) shalat;
  20. melahirkan syi’ar agama Islam;
  21. mempersatukan kekuatan untuk mengalahkan syetan dalam melakukan ibadat;
  22. terbebas dari sifat munafiq dan dari buruk sangka orang;
  23. menjawab salam imam;
  24. mendapat maslahat dan do’a dari himpunan jama’ah, dan memperoleh ilmu bagi yang kurang (yang belum mengeta-hui) dari orang-orang yang cukup (berilmu);
  25. melahirkan silaturrahim persaudaraan dan kerukunan dalam jama’ah. Ditambah nomor yang berikut untuk shalat jahriyah
  26. mendengarkan surat Al-Fatihah yang dibacakan imam;
  27. dan mengaminkan surat Al-Fatihah yang dibacakan imam.

Selain pahala dari shalat secara berjama’ah, hal yang paling penting adalah sebagai manispestasi tanggungjawab seorang muslim dalam syi’ar Islam secara nyata. Masjid dan jama’ah adalah dua komponen yang demikian penting untuk menunjukkan keberadaan Islam dan kekuatan syi’ar dalam memperkokoh aqidah islamiyah.

Peringatan bagi laki-laki yang tidak mengikuti shalat berjama’ah di masjid tanpa ada alasan.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ الَّله عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسَُوْلُ الَّله صَلَّى الَّله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَمِعَ النَّدَاءَ فَلَمْ يَمْنَعْهُ مِنِ اتَّبَاعِهِ عُذْرٌ. قَالُوا: وَمَا الْعُذُرُ؟ قَالَ خَوْفٌ، أَوْمَرَضٌ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ الصَّلَاةُ الَّتِي صَلَّى

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mendengar panggilan (adzan), lalu tidak ada udzur (alasan) yang menghalanginya untuk mengikuti (mendatangi masjid) maka shalat (sendirian di rumah) yang ia lakukan tidak diterima.”  Mereka bertanya: “Apa itu udzur?” Beliau menjawab ‘Yakni sakit atau ada perkara yang menakutkannya.” (HR. Abu Daawud dan Ibnu Maajah dinilai sahih oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim.)


Dalam hadits lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Siapa yang mendengar panggilan adzan lalu tidak mendatanginya (ke masjid), maka tidak ada shalat baginya kecuali ada udzur”. (HR. Abu Daawud dan Ibnu Maajah).

Hadits ini menunjukkan bagi siapa yang mendirikan shalat dengan tidak secara berjama’ah di masjid (shalat sendiri di rumah) dengan tidak ada alasan, maka sama dengan tidak melakukan shalat, atau shalatnya sia-sia. Sebagian besar ulama mengatakan shalatnya tidak berpahala.

Wallaahu a’lam.

(Dedy Kusnaedi)

Maraji:

1.  Tafsir Al-Maraghi.

2.  Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir.

3.  Shahih Bukhori

4.  Ibaanatul Ahkaam, ‘Alawi Abbas Al-Maliki, Hasan Sulaiman An-Nuri.

5.  Koleksi Hadits-hadits Hukum, jld. 4  DR. TM. Hasbi Ash-Shidieqy.

6.  Pedoman Shalat, DR. TM Hasbi Ash- Shidieqy.

7.  Shifatu Shalati in-Nabiyyi, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

8. Ringkasan Targhib wa Tarhib, Ibnu Hajar Al-Asqalani


1) Adalah sebagai perantaraan ma’mum dengan Rab-nya (HR. Ad-Daruquthy, dan Ibnu Umar: Jami Shagir 1:8)

2) Selain Surat Al-baqarah ayat 43, Surat An-Nisa ayat 102 ini pun menjadi dalil bagi jumhur ulama bahwa shalat berjama’ah adalah hukumnya wajib, sedangkan seperti kita ketahui, bahwa hukum wajib adalah berdosa bila meninggalkannya.

7 Komentar

  1. Bambang Tjahyono said,

    13 Mei 2010 pada 12:27 am

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Kalau mungkin isi haditsnya dalam tulisan arab bisa disertakan

    Wassalamu’alaikum wr.wb

  2. 3 Juni 2010 pada 9:12 am

    […] Abdul Hamid bin Mahmud berkata : “Aku sholat bersama Anas bin Malik Radhiallahu anhu pada hari Jum’at, kamipun terdesak diantara […]

  3. FAG bearing said,

    30 Juli 2013 pada 10:14 am

    He was medium weight, just under six feet tall, and dressed in the height of unobtrusive fashion with jeans, work boots and a flannel shirt. I called his house to inquire as to how he was doing and his mother informed me that he was sent to California to live with his aunt. The ceramic ball is lighter than steel ball and the centrifugal force and friction are also drastically less than small ball.

  4. 30 Juli 2013 pada 10:23 am

    ” I thought about his mother and what she was going to do to his ass if she came home and found something broke. Because the axis of movement in any route possible, while the electric features needed only for the rotation axis. “Help him,” he said in a semi-intelligible bark and nodded at the giant, who was strangling a male vampire with one hand while trying to remove the three females biting into his back with the other.

  5. Fag Bearings said,

    30 Juli 2013 pada 10:55 am

    In spite of what they seem like, these are all bearings, and all provide the purpose of helping large buildings to help survive an earthquake. If this is the West Shaft who endured the test of the first survival, then I believe the West axis were also able to drag the second time. If some iron scraps and dust enter to the bearing, some difficulty, such as noise and vibration, is going to be created when it rotates.

  6. 30 Juli 2013 pada 12:06 pm

    Robert Bloomfield’s Giles spent his morning filching wood;. NSK China’s goods can provide the use of copper cage, and can. “Wanna impress me punch some buckshot from a sawed off shotgun.

  7. Fag Bearing said,

    30 Juli 2013 pada 1:30 pm

    you are now one of the chosen few and are now a disciple of the Master. Inside the FAG bearing functionality tablet, there’s limit speed and unlimited reference speed by standards, namely, the bearing rotation limit to contact seal. Inside the international regular 4604-93, the radial gap of Timken bearing could be categorized into five groups, particularly, group two, group 0, group three, group 4 and group 5.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: