AWAS!! Bencana Namimah!!


Termasuk penyimpangan lidah yang sangat besar bahayanya adalah namimah, yaitu menyampaikan berita di antara dua orang dengan maksud merusak hubungan keduanya serta untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian. Perbuatan yang merusak ini terkadang dilakukan antara dua orang kawan, suami istri, dua orang saudara, dua keluarga, dua suku, dua negara, atau antar dua kelompok yang sudah menjalin perdamaian dan kasih sayang di antara keduanya. Jadi, namimah tidak hanya dilakukan terhadap dua orang secara perorangan. Ini termasuk cara syaitan yang paling keji untuk memisahkan dua kelompok, merusak keutuhan ukhuwah dan mahabbah. Amat banyak keburukan yang diakibatkan oleh namimah. Amat banyak pula perpecahan yang terjadi di antara manusia, rusaknya hubungan di antara mereka dan lahirnya berbagai macam fitnah sebagai akibat dari namimah.

A. Pendorong Namimah

Namimah kadangkala disebabkan hasad dan kebencian. Atau khususnya keinginan untuk meraih ambisi, misalnya agar lebih dekat dengan orang yang diberi informasi, atau ingin menimpakan kejelekan kepada orang lain, atau ingin menyalakan api fitnah di antara manusia.

B. Hukum Namimah dan Dalil-dalilnya

1. Namimah termasuk dosa besar yang diharamkan berdasarkan ijma’. Telah jelas dalil-dalil yang mengharamkannya di dalam Kitab Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Di antara dalil-dalil dan Al Qur’an tentang namimah adalah:

وَلَاتُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِيْنٍ  – ١٠  – هَمَّازِمَشَّاءٍبِنَمِيْمٍ -١١

Dan janganlah kamu taat kepada orang-orang yang suka bersumpah dan menghina. Yang suka mencela dan kian kemari untuk berbuat namimah (menyebarkan fitnah).” (QS. Al-Qalam 10-11)

2. Allah telah menerangkan sifat istri Abu Lahab sebagai pemikul kayu bakar. Sebagian mufasir telah menjelaskan bahwa ini hanyalah kiasan, karena pekerjaannya selalu melakukan namimah. Namimah diumpamakan sebagai kayu bakar karena bisa menimbulkan permusuhan yang diibaratkan seperti menyalakan api.

3. Orang yang melakukan namimah dengan menyebarkan kabar buruk, telah disebut oleh Allah sebagai orang fasik, dan Allah telah memerintahkan orang-orang mu’min untuk menyaring informasi yang datang darinya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَآَيُّهَا لَّذِيْنَ اَمَنُوْا اِنْجَآءَكُمْ فَسِقٌ بِذَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْا اَنتُصِيْبُوُا قَوْمًا بِجَهَا لَةِ فَتُصْبِحُوْا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَدِميْنَ

Hai orang-orang yang beriman, bila datang kepadamu orang fasik membawa keterangan, maka selidikilah dahulu, agar kamu tidak menimpakan satu kerugian kepada suatu kaum karena kebodohan kamu, sehingga kamu akan menyesal.” (QS. Al-Hujurat 6).

4. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

Celakalah bagi setiap humazah dan lumazah.” (QS. Al-Humazah 1). Yang dimaksud humazah dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang berbuat namimah, pengumpat.

5. Ketika istri Nabi Nuh menyebut suaminya sebagai orang gila, dan istri Nabi Luth menyebarkan berita tentang tamu yang datang ke rumahnya, maka Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka berdua:

Maka keduanya mengkhianati suaminya, padahal hal itu tidak bermanfaat sedikit pun bagi Allah, dan dikatakan, ‘Masuklah kalian berdua ke dalam neraka bersama orang-orang yang memasukinya.” (QS. At-Tahrim 10).

Namimah berarti menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat, dan Islam telah mengharamkan perbuatan menyakiti, apa pun bentuknya, termasuk di antaranya namimah.

Di dalam Sunnah Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam yang dikeluarkan oleh Syaikhoni dan yang lainnya dari Hudzaifah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَايَدْخُلُ الْجَنَّهَ نَمَامٌ

Tidak akan masuk surga orang yang melakukan namimah.”

Di dalam riwayat lain dikatakan:

لَايَدْخُلُ الْجَنَّهَ قَتَّاتٌ

Tidak akan masuk surga Al Qottat.”

Al Qottat artinya an-naumam, ialah orang yang berbuat namimah.

Dikeluarkan oleh Asy Syaikhoni dan yang lainnya dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam melalui dua kuburan yang penghuninya sedang disiksa, lalu beliau bersabda:

Keduanya sedang disiksa sekarang. Tidaklah keduanya disiksa karena kesalahan yang besar. Salah seorang di antaranya disiksa karena melakukan namimah, dan yang lainnya tidak sempurna ketika bersuci setelah buang air kecil.”

Dalam hadits di atas, yang pertama disiksa karena berbuat namimah yang mengakibatkan terjadinya permusuhan di antara manusia dengan lisannya, sekalipun apa yang dikatakannya benar. Yang kedua, disiksa karena meninggalkan thaharoh yang diwajibkan, padahal dalam satu hadits dijelaskan bahwa yang pertama kali akan ditanya kepada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Thaharoh merupakan persiapan yang harus dilakukan sebelum shalat, dan merupakan syarat yang paling penting. Bila tidak suci dari najis air kecil, maka dia telah melalaikan salah satu syarat shalat. Demikian pula dengan namimah.

Sesungguhnya sebab-sebab terjadinya pertumpahan darah di antara manusia adalah permusuhan, dan namimah merupakan pemicu dan penyebab timbulnya permusuhan.

(Ghodz a’u al-Albab, Juz I hal. 11)

C. Bermuka Dua

Orang yang melakukan namimah seakan-akan memiliki dua wajah, karena ia menampakkan wajah yang berbeda kepada dua pihak yang akan diadudombakannya. Orang yang memiliki dua wajah adalah sejelek-jelek manusia pada hari kiamat. Dikeluarkan oleh Asy Syaikhoni dari Abu Hurairoh, bahwa Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَتَجِدُوْنَ شَرَّالنَّا سِيَوْمَ القِيَامَةِ ذُالوَجْهَيْنَ الَّذِيْ يَأْتِي هَؤُلَاءبِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِبِوَجْهٍ

Akan kalian temui sejelek-jelek manusia pada hari kiamat, yaitu yang bermuka dua. Dia datang kepada satu kelompok manusia dengan satu wajah, dan datang kepada kelompok lain dengan wajah yang lain pula.”

Orang yang bermuka dua adalah orang munafiq yang takut kepada manusia, tapi tidak takut kepada Allah, Rabb manusia. Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan sifat mereka di dalam Al Qur’an:

Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An Nisa’ 108)

Dikeluarkan oleh Bukhari, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Abdullah bin Umar ra, “Kami masuk menemui penguasa-penguasa kami, lalu kami berkata kepada mereka dengan perkataan yang berbeda dengan apa yang kami bicarakan bila kami keluar dari tempat mereka.” Lalu Abdullah menjawab, “Kami menganggap itu sebagai sifat munafik di zaman Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.”

D. Bagaimana bila Berhadapan dengan Orang yang Melakukan Namimah?

Para ulama menjelaskan enam sikap yang wajib kita lakukan bila berhadapan dengan orang yang melakukan namimah.

  1. Tidak membenarkan apa yang disampaikannya, karena persaksiannya tertolak. Al-Qur’an menyebut orang semacam itu dengan sebutan fasik.
  2. Melarangnya dari namimah, karena melarang kemunkaran itu wajib.
  3. Membencinya karena Allah, karena ia telah maksiat; dan membenci orang yang maksiat itu wajib.
  4. Tidak berburuk sangka terhadap saudara kita yang diceritakannya, karena berburuk sangka terhadap sesama muslim itu haram.
  5. Tidak mencari-cari keterangan untuk menemukan kesalahan orang lain, karena Allah melarang perbuatan tersebut.
  6. Apa yang tidak disukai oleh manusia dari namimah jangan sampai kita lakukan, dan jangan pula menyebarkan apa yang disampaikan oleh orang yang berbuat namimah kepada siapa pun.

Ketika seseorang masuk menemui Umar bin Abdul Aziz dan menceritakan kepadanya tentang orang lain, berkatalah Umar, “Bila engkau mau, akan aku selidiki keteranganmu. Bila engkau dusta maka engkau termasuk yang diceritakan dalam ayat: ‘Bila datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka selidikilah dahulu.’ Sedangkan bila engkau benar, maka engkau termasuk yang diceritakan dalam ayat: ‘Yang mengadu domba dan berjalan dengan melakukan namimah.’ Bila engkau mau, aku akan mengampuni.” Lalu orang itu berkata, “Maafkanlah wahai Amirul Mukminin, saya tidak akan mengulanginya lagi”

Berkata Hasan al Bashri, “Barangsiapa menyampaikan suatu pembicaraan kepadamu, maka ketahuilah, sesungguhnya ia pun akan menyampaikan ucapanmu kepada orang lain.”

E. Pengaruh Namimah

Jarang sekali orang yang memandang namimah sebagai suatu penyakit yang bisa diobati. Kisah berikut ini menjelaskan kepada kita, bahaya namimah dalam memecah belah manusia dan menyebabkan kerusakan di muka bumi.

Dari Hamad bin Salamah, dia mengatakan bahwa seseorang telah menjual seorang hamba sahaya, lalu dia berkata kepada si pembeli, “Dia tidak mempunyai cacat, kecuali suka berbuat namimah.” Lalu si pembeli menganggap itu baik, maka dibelilah hamba sahaya itu. Kemudian budak itu tinggal dengan keluarga si pembeli. Suatu hari, ia bercerita kepada istri si pembeli, “Sesungguhnya suamimu tidak mencintaimu dan dia akan menikah lagi. Maukah engkau kuberitahu agar dia mencintaimu kembali.” Lalu istri Si pembeli itu menjawab, “Mau!” Berkata lagi si hamba kepadanya, “Ambillah pisau cukur, dan cukurlah jenggot suamimu ketika ia tidur.” Setelah itu si hamba tadi pergi menemui tuannya, lalu berkata, “Sesungguhnya istrimu punya kekasih yang lain dan dia hendak membunuhmu, apakah Tuan ingin mengetahui hal itu?” Si tuan menjawab, “Ya, mau!” Lalu si hamba berkata lagi, “Berpura-puralah Tuan tidur, maka Tuan akan tahu.” Maka ia pun berpura pura tidur, lalu datanglah istrinya dengan membawa pisau cukur, dengan maksud akan mencukur jenggot suaminya. Tetapi suaminya menyangka bahwa istrinya akan membunuhnya, maka direbutlah pisau cukur itu dari istrinya, lalu dibunuhlah istrinya. Setelah itu datanglah orangtuanya, sehingga terjadilah perang antara dua kelompok. (Lihat kitab Al Kabair karangan Adz Dzahabi hal. 156)

Demikian pula halnya pada tingkat negara. Seringkali terjadi peperangan dahsyat antara dua negara, yang banyak menelan korban harta dan manusia. Penyebab utamanya adalah namimah, amat cepat menanggapinya tapi lamban dalam menyelidikinya.

Perhatikanlah wahai saudaraku, betapa banyak kehancuran yang menimpa seseorang atau kelompok, karena namimah! Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari keburukan namimah, dan menyibukkan lidah kita dengan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dan taat kepada-Nya. Semoga Allah menuntun kita kepada hal-hal yang dicintai dan diridhoi-Nya. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada hamba dan kekasih-Nya, Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam , serta keluarga dan para sahabatnya.

Maroji:

Al Bayan fi Aafaati al Lisan, Abdullah bin Jaarulah, Terj. Abu Haidar, Abu Fahmi, Gema Insani Press.

Dituliskan, disunting, dan diarsipkan pada dedykusnaedi.wordpress.com

2 Komentar

  1. El-Qolam said,

    4 April 2010 pada 1:17 pm

    Terima kasih ats artikelknya, cukup lengkap

  2. Qonita said,

    10 Oktober 2011 pada 12:28 pm

    Terima kasih banyak….
    artikel ini banyak membantu saya melengkapi pelajaran agama saya,
    lengkap dengan dalil-dalilnya…
    Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi Anda…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: