AWAS!! Terperosok ke dalam Ghibah


Ghibah adalah di antara sekian bentuk penyelewengan lidah yang sangat besar bahayanya – semoga Allah menyelamatkan kita daripadanya. Semoga peringatan ini bisa menolong kita untuk menghindarinya, dan kita mampu menghiasi lidah dengan dzikir kepada-Nya serta menyibukkan diri dengan aib diri kita sendiri daripada aib orang lain, juga mengajak manusia untuk berbuat demikian.

A. Ta’rif Ghibah.

Ghibah merupakan bentuk penyelewengan lidah yang sangat berbahaya. Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam telah menerangkan ta’rif ghibah dengan sabdanya:

أَتَدْ رُوْنَ مَاالْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا:اَللَّهُ وَرَسُوْلُهُ اَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُلَ اَخَاكَ بِمَايَكْرَهُ، قِيْلَ، اَفَرَآَيْتَ اِنْكَانَ فِىاَخِيْ مَااَقُوْلُ؟ قَالَ:اِنْ كَانَ فِيْهِ مَاتَقُوْلُ فَقَدْ اِغْتَبْتَهٌ وَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَاتَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu!” Lalu beliau melanjutkan, “Yaitu kamu menceritakan saudaramu tentang hal yang tidak disukainya.” Lalu seseorang bertanya, “Bagaimana pendapatmu bila apa yang aku katakan ada pada diri saudaraku yang aku ceritakan?” Beliau menjawab, “Bila apa yang kamu ceritakan itu ada pada diri saudaramu, maka kamu telah melakukan ghibah terhadapnya. Dan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada pada diri saudaramu, berarti kamu telah mengada-ada tentangnya.” (Di keluarkan oleh Muslim dari Abu Hurairah).

Dari hadits ini, jelaslah bahwa ghibah adalah menceritakan orang lain tanpa sepengetahuannya, tentang sifat atau keadaan yang ada pada dirinya, yang seandainya dia mendengarnya pastilah dia tidak menyukainya. Bila apa yang diceritakan itu tidak terdapat dalam dirinya, maka disebut mengada-ada atau berdusta, dan ini lebih besar dosanya dari pada ghibah.

B. Bentuk-bentuk Ghibah

  1. Terkadang ghibah berbentuk pembicaraan tentang keadaan jasad orang lain, dengan mengatakan orang itu buta, juling, tinggi, pendek, hitam, kuning, botak, atau yang lainnya yang tidak disukai bila terdengar oleh orang yang bersangkutan.
  2. Ghibah bisa juga tentang nasab seseorang dengan mengatakan Khudhoiry, Bukhory, Hadhiry, Hindy, dengan maksud menghinakan. Atau dengan mengatakan ‘abid (hamba sahaya), atau bekas ‘abid, dan sebagainya.
  3. Ghibah tentang pekerjaan yang dianggap rendah, dengan mengatakan tukang kayu, tukang cukur, tukang jagal, pemulung, tukang beca, dan sebagainya.
  4. Ghibah tentang akhlak dengan mengatakan jelek akhlaknya, bakhil, takabur, penakut, emosional, dan sebagainya.
  5. Ghibah yang berkaitan dengan urusan-urusan syar’iyyah dengan mengatakan pencuri, pendusta, pemabuk, penghianat, dzalim, suka melalaikan shalat atau zakat, kurang benar ruku’ dan sujudnya, tidak hati-hati terhadap najis, tidak berbakti kepada orang tua, tidak terpelihara puasanya dari ghibah. Kecuali bila orang itu jelas-jelas melakukan kefasikan secara terbuka, tanpa rasa takut kepada Allah dan manusia.
  6. Ghibah tentang hal-hal yang berkaitan dengan urusan dunia dengan mengatakan kurang sopan, suka menghina, banyak bicara, banyak tidur, dan sebagainya.
  7. Ghibah yang berkaitan dengan apa yang dikenakan seseorang dengan mengatakan bajunya kumal, lengan bajunya lebar, kaca matanya tebal, sepatunya bolong, dan sebagainya.

Semua yang dijelaskan di atas termasuk bentuk-bentuk ghibah. Bila semua itu sesuai dengan keadaan orang yang diceritakannya tanpa dibumbui dengan dusta, maka membicarakan hal tersebut termasuk ghibah, yang berarti memakan daging saudara sendiri dan merupakan maksiat kepada Allah SWT.

Dan ‘Aisyah ra, dia berkata:

قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّىاللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَسْبُكَ مِنْ صَغِيَّةُ اَنَّهَا قَصِيْرَةٌ. فَقَالَ: لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْمُزِ جَتْ بِمَا ءِالْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ، أَىْ لَعَكَرَتْهُ وَأَنْتَنَيْهُ  –  قَالَ الترمزي حسن صهه

“Aku berkata kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam :Cukuplah Shofiyah bagimu karena dia itu pendek.” Lalu Nabi Saw berkata, “Engkau telah mengatakan satu kalimat yang apabila dicampur dengan air laut, pasti laut itu akan keruh.” (Menurut Tirmidzi hadits ini hasan shohih).

C. Macam-macam Ghibah

Ghibah tidak terbatas pada ucapan lidah semata, akan tetapi setiap gerakan, isyarat, ungkapan, sindiran, umpatan, celaan, kerlingan mata, tulisan, atau segala sesuatu yang bisa dipahami sebagai hinaan, maka hal itu haram dan termasuk dalam kategori ghibah.

D. Ikut Serta Melakukan Ghibah

Termasuk sama hukumnya dengan ghibah adalah mendengarkan orang yang sedang ghibah dengan sikap kagum dan menyetujui apa yang dikatakannya. Inilah yang menambah semangat dan gairah orang yang sedang ghibah untuk melanjutkan ghibahnya. Sikap semacam itu termasuk membenarkan perbuatan ghibah. Bila si pendengar membenarkan apa yang dikatakan orang yang ghibah serta ridha terhadap hal itu, berarti dia telah bersekutu dalam hal ghibah. Padahal setiap orang berkewajiban untuk mencegah saudaranya dari perbuatan ghibah.

Imam Ahmad di dalam musnadnya memuat satu hadits dengan sanad hasan dari Asma’ binti Yazid, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ ذَبَّ عَنْ عِْرْضِ أَخِيْهِ بِالْغَيْبِ كَنَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَعْتِقَهُ مِنْ النَّارِ.

Barangsiapa mencegah ghibah yang menyinggung kehormatan saudaranya, maka Allah akan membebaskannya dari api neraka.

At Tirmidzi mengeluarkan hadits dengan sanad hasan dan Abu Darda’, bahwa Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Khat arab

Barangsiapa mencegah ghibah yang dilakukan oleh saudaranya, maka Allah akan mencegahnya dari neraka pada hari kiamat.”

E. Motivasi (Pendorong) Ghibah.

Beberapa dampak ghibah yang dilakukan oleh seseorang terhadap saudaranya:

  1. Kebencian terselubung yang dikhawatirkan akan berubah menjadi bentuk permusuhan yang nyata.
  2. Sifat hasad (dengki) yang menggerogoti hati seseorang sehingga ingin merebut kedudukan saudaranya dalam pandangan manusia.
  3. Adanya sifat fasad dan gairah dalam melakukan dosa dan kemunkaran.
  4. Tidak rela terhadap kehormatan dari seseorang, sehingga ingin memunculkan aibnya.
  5. Dukungan majelis kepadanya dan simpati kawan-kawan yang membenarkannya dan sikap mereka yang menjilat dan nifak.

F. Ghibah yang Diperbolebkan

  1. Orang yang didzalimi boleh menceritakan kepada hakim tentang kedzaliman saudaranya terhadapnya, atau penkhianatannya, atau uang suap yang telah diterimanya.
  2. Meminta pertolongan untuk mengubah kemunkaran dengan menceritakan kepada orang yang mampu mengubah kemunkaran itu, agar menjadi kebenaran. Misalnya orang yang melihat seorang pemabuk, lalu dia menceritakan hal itu kepada walinya agar bisa saling menolong dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar.
  3. Bercerita kepada seorang mufti untuk meminta fatwa, misalnya seorang istri yang menceritakan suaminya yang bakhil, sehingga ia mendapat penjelasan apakah ia boleh mengambil harta suaminya itu.
  4. Memperingatkan kaum muslimin dari kejahatan seseorang, apabila dikhawatirkan hal itu akan menimpa mereka. Misalnya seseorang yang mendapatkan seseorang yang lain selalu berbuat fasik atau bid’ah, lalu dia menasihati dan mengingatkan orang lain agar tidak bergaul dengan orang tertentu. Termasuk dalam hal ini adalah memelihara sunnah Nabi Saw dengan menyebutkan kedustaan atau kelemahan para perawi hadits untuk menentukan keshahihan sanadnya. Termasuk juga meminta nasihat. Orang yang dimintai nasihat adalah orang yang terpercaya. Misalnya orang yang bertanya tentang seseorang yang akan dijadikan sebagai tempat bersandar dalam pekerjaan, atau akan diangkat sebagai anggota keluarga atau teman sejawat atau tetangga. Lalu orang yang ditanya tadi menjelaskan keadaannya.
  5. Memanggil dengan panggilan yang sudah dikenal, tanpa bermaksud merendahkan. Misalnya mengatakan si juling atau si buta kepada seseorang yang sudah biasa dikenal dengan sebutan itu.
  6. Orang yang terang-terangan berbuat fasik, misalnya terang-terangan minum khamr atau menerirna suap. Demikian pula terhadap seseorang yang terang-terangan berbuat bid’ah, juga hakim yang jahat, tidaklah berdosa menceritakan perbuatannya, agar orang lain berhati-hati terhadap mereka.

G. Hukum Ghibah dan Dalil-dalilnya.

Ghibah merupakan penyakit sosial yang tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim. Ia diharamkan berdasarkan ijma’, dan termasuk dosa besar. Islam telah mengharamkan dan melarang kita dari padanya karena bisa mengakibatkan putusnya ukhuwah, rusaknya kasih sayang, timbulnya permusuhan, tersebarnya aib, lahirnya kehinaan dan timbulnya gairah untuk melakukannya. Lebih-lebih bagi orang yang menjadi teladan umat atau para da’i yang menyeru kepada kebaikan.

Agar manusia berhati-hati terhadap ghibah, maka Allah menyamakan orang yang melakukan ghibah dengan orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah dari berprasangka, karena sesungguhnya sebagian berprasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang lain, dan janganlah sebagian di antaramu mempergunjingkan (ghibah) terhadap sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati? Padahal bila dibawakan daging mayat kepadamu, pasti kamu membencinya.” (Al Hujurat:12).

Orang yang mencela saudaranya dalam bentuk ghibah, adalah seperti orang yang menggigit dan memakan daging saudaranya yang sudah mati sehingga tidak akan terasakan sakitnya oleh si mayat. Nauzdubillah!

Diriwayatkan ketika seseorang yang telah melakukan perbuatan zina mengaku kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dengan maksud ingin membersihkan dirinya dari dosa dengan cara dihukum rajam, maka Nabi pun merajamnya hingga mati. Lalu Nabi mendengar dua orang laki-laki yang salah seorang di antaranya berbicara kepada temannya: “Tidakkah kamu lihat orang ini, ia telah ditutup rahasianya oleh Allah, tetapi hatinya gelisah sehingga dia membongkar rahasianya dan dirajam seperti dirajamnya anjing.” Lalu Nabi Saw melewati bangkai seekor himar (keledai), lalu berkata: “Mana Si Fulan dan si Fulan? Turunlah kalian dan makanlah bangkai himar ini. Kedua orang itu berkata, “Semoga Allah mengampuni engkau wahai Rasulullah, mana mungkin kami memakannya?” Lalu Nabi bersabda:

فَمَا بِلْمُتَا مِنْ أَخِقيْكُمَاا نِغًااَشَدّ أَكْلًامِنْهُ، وَالَّذِىْ نَفْسِي بِيَدِهِ إِنّهُ الانَ لَفِ اَنْهَا رِالْجَنَّةِ يَنْغَمِسُ فِيْهَا.

Apa yang kamu katakan tentang saudaramu tadi lebih menjijikkan daripada makan bangkai himar ini. Demi Allah yang jiwaku ada di dalam genggamannya-Nya, sesungguhnya dia sekarang sedang bersenang-senang di sungai-sungai surga berendam di dalamnya.” (HR. Abu Ya’la dan Umar dengan sanad yang shohih dan Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya dari Abu Hurairoh).

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdilah ra, dia berkata bahwa pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bertiup angin yang busuk baunya, lalu Nabi bersabda:

إِنَّ نَسًا مِنَ الْمُنَفِقِيْنِ قَدِا غَتَابُوْاأُنَاسًا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ فَلِذَلِكَ هَاجَتْ هَذِهِ الرِّيْحُ الْمُنْتِنَةُ

Sesungguhnya segolongan orang munafik telah melakukan ghibah terhadap orang-orang muslim, sehingga bertiuplah angin busuk ini.” (HR. Ahmad dan berkata Al Hafizh al Mundziri bahwa para perawinya tsiqoh).

Kemudian diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Anas, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَمَّا عُرِزَبِى مَرَرْتُ بِقَوْمِلَهُمْ اَظْفَا رٌمِنْ نُحَاسٍ يَخَمُشُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ وَصُدُوْرُهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ يَا جِبْرِيْلُ؟ قَالَ:هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَآْكُلُوْنَ لَحُوْمَ النَّاسِ وَيَقَعُوْنَ فَِىاَعْرَاضِهِمْ

Ketika aku di-mi’raj-kan aku bertemu dengan suatu kaum yang mempunyai kuku-kuku panjang dari tembaga, mereka mencakarkan kuku-kukunya ke wajah dan dada-dada mereka, lalu aku bertanya, ‘Siapakah mereka itu, wahai Jibril?’ Lalu Jibril menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan merendahkan kehormatan mereka”. (Diriwayatkan dengan musnad dan mursal)

H. Sibuk dengan Aib Sendiri

Tak ada seorang manusia pun selain para rasul, yang tidak mempunyai aib. Kadang-kadang aib kita lebih besar dan lebih parah dari pada aib orang lain. Semestinya setiap hamba menyibukkan diri dalam upaya perbaikan aib sendiri dan membina pribadi. Berbahagialah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri. Diriwayatkan oleh Al-Baro bin ‘Azib dengan sanad yang baik, bahwa Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَامَعْشَرَمَنْ اَمَنَ بِلِسَابِهِ، لَاتَغْتَابُوْاالمُسْلِمِيْنَ، وَلَاتَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَاءِنَّ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخَيْهِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَيَّ يُفْضِحَهُ فى جَوْفِ بَيْتِهِ.

Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya, janganlah kalian melakukan ghibah terhadap sesama kaum muslimin dan jangan pula membongkar ‘aurat’ mereka, karena barangsiapa yang membuka aib saudaranya, maka Allah akan membuka auratnya hingga terbongkar di tengah-tengah rumahnya.” (HR. Abu Dawud dan Abu Ya’la).

Mahabesar Allah yang bijaksana yang telah menjelaskan ghibah sebagai hidangan orang-orang fasik dan kesenangan (hiburan) para wanita.

I. Perniagaan yang Merugikan

Orang yang melakukan ghibah akan mengalami kerugian, karena pahala amal kebaikan yang dilakukannya dia berikan kepada orang yang menjadi sasaran ghibahnya. Di lain pihak, ada orang lain yang mendapatkan keuntungan karena memperoleh pahala amal kebaikan yang datang tanpa diketahuinya.

Dari Abu Umamah al Bahily ra, dia berkata, “Sesungguhnya seorang hamba akan diberi kitab catatan amalnya pada hari kiamat, maka dia melihat pahala kebaikan yang tidak pernah dilakukannya waktu di dunia, lalu dia berkata, “Ya Allah, dari manakah semua ini?” Lalu Allah menjawab, “Ini dari orang-orang yang melakukan ghibah terhadapmu tanpa kamu sadari.”

Berkata Ibrahim bin Adham, “Wahai para pendusta, engkau bakhil dalam urusan duniamu terhadap kawan kawanmu, tetapi engkau begitu dermawan dalam urusan akhiratmu terhadap musuh-musuhmu, padahal engkau tidak tercela dengan kebakhilanmu dan tidak terpuji dengan kedermawananmu.” Demikian seorang pendusta telah mengirimkan pahala kepada bekas musuh-musuhnya di akhirat melalui ghibah, sementara dengan itu dia sendiri mengumpulkan dosa. Sungguh teramat rugi bagi orang yang suka ghibah!

Ketika Hasan Al-Bashri mendengar ada seseorang yang melakukan ghibah terhadapnya, dia lalu mengirim sekantung kurma kepadanya dan berkata, “Telah sampai kepadaku kabar bahwa engkau telah menghadiahkan kebaikanmu kepadaku, aku ingin membalas kebaikanmu padaku. Celalah aku, aku tidak mampu membalasmu dengan sempurna.”

Jelaslah bagi kita bahwa ghibah membuat seseorang terjerumus kepada kemurkaan Allah dan gugur kebaikan-kebaikannya. Orang yang melakukan ghibah akan mengalami kerugian dengan dialihkannya kebaikan-kebaikannya, atau beban kejelekan-kejelekan saudaranya ke atas pundaknya, sehingga timbangan kejelekannya lebih berat daripada kebaikannya.

J. Taubat dari Ghibah.

Orang yang melakukan ghibah telah melakukan dua kesalahan;

Pertama: kesalahan terhadap Allah (dengan melanggar larangan-Nya). Sebagai kafarat atas kesalahan ini adalah dengan cara menyesali perbuatan itu, bertekad untuk tidak melakukannya kembali, dan beristighfar serta bertaubat dengan benar.

Kedua: kesalahan terhadap manusia. Kafarat atas kesalahan ini, bila ghibahnya telah terdengar oleh orang yang bersangkutan, maka dia harus mengemukakan alasan serta meminta maaf kepadanya. Namun bila belum terdengar oleh orang yang bersangkutan, hendaklah memintakan ampun untuknya, mendoakannya kepada Allah, serta memuliakannya sebanding dengan kejelekan yang telah dilakukan terhadapnya. Janganlah bosan meminta maaf kepadanya sampai dia tidak marah lagi.

Semoga Allah menjauhkan kita dari penyimpangan lidah, dan memelihara kita dari azab neraka. Semoga Allah juga melimpahkan sholawat atas Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam .

Maraji:

Al Bayan fi Aafaati al Lisan, Abdullah bin Jaarulah, Terj. Abu Haidar, Abu Fahmi, Penerbit Gema Insani Press.

Dituliskan dan diarsipkan pada dedykusnaedi.wordpress.com

3 Komentar

  1. 14 Februari 2010 pada 3:00 am

    Thx, lam knal

  2. 14 Februari 2010 pada 10:21 am

    Salam kenal kembali, jazakumullaahu khair atas kunjungannya.

  3. virouz007 said,

    21 Mei 2010 pada 2:46 pm

    artikel yang bagus sekali… jadi tambahan ilmu buat saya…
    Syukron ya akhi… teruslah berbagi dan berbagi….. Salam kenal!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: