AWAS!! Bahaya Lidah.


Lidah termasuk nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala yang sangat besar bagi manusia. Kebaikan yang diucapkannya melahirkan manfaat yang luas, tapi juga kejelekan yang dikatakannya membuahkan ekor keburukan yang panjang. Barangsiapa yang mengumbar lidahnya dan melepaskan kekang yang mengendalikannya, maka syaitan akan masuk untuk memanfaatkannya, sehingga dia akan terperosok ke dalam jurang curam yang berbahaya.

Siapapun tidak akan selamat dari kejahatan lidah,kecuali bila dia mengikatnya dengan kendali syar’i, sehingga tidak berbicara kecuali tentang hal yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Lidah bisa membuat anggota-anggota tubuh melakukan maksiat, karena tidak terlalu sukar untuk menggerakkannya, dan tidak terlalu sulit untuk mempergunakannya. Dia adalah alat yang paling penting yang bisa dimanfaatkan oleh syaitan dalam menjerumuskan manusia.

Kedua mata, amalnya hanya terbatas pada memandang; kedua telinga fungsinya hanya terbatas pada mendengar; dan tangan hanya bisa menyentuh. Sedangkan lidah, sekali pun kecil, mampu menjangkau segala sesuatu, baik yang haq maupun yang bathil, menolak atau menerima, taat atau maksiat, iman atau kufur.

Satu hal yang aneh, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu al-Qoyyim, bahwa manusia amat lemah dalam memelihara dan menjaga diri dari memakan makanan yang haram, berbuat dzalim, berzina, mencuri, minum khamr, memandang yang haram, dan yang lainnya. Tapi dibandingkan itu semua, tidak ada yang lebih sukar daripada memelihara gerakan lidah, sehingga Anda sering melihat seseorang yang mampu melaksanakan ajaran agama, zuhud dan rajin beribadah, akan tetapi sering mengucapkan kata-kata yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wa ta’ala (Al Jawab al Kafi, hal. 182).

Perkataan yang diucapkan lidah tidak akan keluar dari empat hal berikut ini:

Pertama, ucapan yang seluruhnya mengandung mudharat.

Kedua, ucapan yang seluruhnya mengandung manfaat.

Ketiga, ucapan yang mengandung manfaat dan mudharat.

Keempat, ucapan yang tidak mengandung manfaat ataupun mudharat.

Adapun ucapan yang seluruhnya mengandung mudharat, maka kita harus menjaga diri daripadanya, demikian pula terhadap ucapan yang aspek mudharatnya lebih banyak daripada aspek manfaatnya. Sedangkan ucapan yang tidak mengandung manfaat dan tidak mengandung mudharat, maka bila menyibukkan diri dalam hal itu hanya membuang waktu saja.

Tiga dari empat macam perkataan telah nyata kerugiannya, sehingga tinggallah yang keempat yang jelas-jelas manfaatnya, perkataan yang aspek manfaatnya lebih besar dari aspek mudharatnya. Inilah jenis perkataan yang harus dibiasakan dan hendaknya manusia menyibukkan diri dengannya, sebab di dalamnya terkandung tazkiatun nafs (pensucian jiwa), dan membersihkan diri dari riya’, serta yang lainnya (lhya’ ‘Ulumuud Din, juz 3, hal. 141).

Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضَْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ

Barangsiapa yang mampu menjaga apa yang terdapat di antara dua janggutnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, maka aku jamin dia akan masuk surga.” (Muttafaq ‘alaih, dari Sahl bin Sa’ad)

Apa yang terdapat di antara dua janggut artinya lidah, sedangkan yang terdapat di antara dua kaki adalah faraj (alat kelamin).

Terkadang seseorang mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan dan tanpa dipertimbangkan sebelumnya, sehingga melahirkan kerugian dan penyesalan. Di dalam hadits muttafaq alaih dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhuma , dinyatakan bahwa dia pernah mendengar Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَايَتَبَيَّنُ فِيْهَا يَزِلُّ بِهَاإِلَى النَّرِأَبْعَدُ مِمَّابَيْنَ الْمَشْرِقِ

وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh antara timur dan barat.

Tanpa ‘tabayyun’ artinya tanpa berpikir panjang dan tanpa pertimbangan.

Kalau ucapan bisa menjadi penyebab lahirnya murka Allah Subhanahu wa ta’ala , maka dia pun bisa mengundang keridhoan-Nya. Imam Bukhari mengeluarkan hadits yang diterima dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhuma , bahwa Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنِّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِلْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ تَعَالَى مَايَلْقَى لَهَابَالًا يَرْفَعَمُ اللَّهُ بِهَادَرَجَاتٍ، وَاِنَّ الْعبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللَّهِ تَعَالَى لَايَلْقَى لَهَا بَالًا يَهْوِيْ بِهَا فِيْ جَهَنَّمَ

Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata yang mengundang keridhoan Allah, dan tidak diperhatikan orang maka Allah mengangkat derajatnya dengan ucapannya itu. Dan seorang hamba mengucapkan kata-kata yang mengundang kemurkaan Allah, dan tidak diperhatikan orang lalu dia terjerumus ke dalam neraka jahanam.”

Oleh karena itu, jelaslah bahwa keselamatan seorang hamba tergantung pada pemeliharaan lidahnya dari kejelekan. Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam telah menasihati ‘Uqbah bin ‘Amir ketika dia bertanya tentang keselamatan. Lalu beliau menjawab:

َاَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلِيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَبْكِ عَلَى خَطِيْءَتِكَ

Peliharalah lidahmu, betahlah tinggal di rumahmu dan tangisilah dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata bahwa hadits ini hasan)

Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam pun telah memberi nasihat kepada Mu’adz:

Pelihara ini olehmu!” Mu’adz bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kita akan disiksa karena apa-apa yang kita katakan?” Lalu beliau menjawab: “Ibumu akan kehilanganmu! Tidaklah manusia dipanggang wajah mereka di neraka, kecuali karena penyelewengan lidah-lidah mereka.” (HR. At Tirmidzi, dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

Seluruh anggota badan manusia menuntut kepada lidah agar istiqomah pada kebenaran dan tidak menyeleweng. Tidaklah satu hari terlewati oleh seseorang, kecuali anggota tubuhnya selalu mengingatkan lidah dengan berkata; “Takutlah kepada Allah tentang kami, karena keselamatan kami tergantung kepadamu. Bila engkau bersikap istiqomah (terhadap kebenaran) kami pun akan istiqomah, namun bila engkau menyimpang, kami pun akan menyimpang pula.”

Bila seseorang telah mengerti bahwa dia akan dihisab dan dibalas atas segala ucapan lidahnya, baik yang panjang ataupun yang singkat, maka dia akan tahu bahaya kata-kata yang diucapkan lidah, dan dia pun akan mempertimbangkan dengan matang sebelum lidahnya dipergunakan. Bila yang akan dia ungkapkan itu baik, maka dia akan mengatakannya, namun bila tidak, maka dia akan menahannya.  Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَايَلْفِظُمِنْ قَوْلٍ اِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkan, kecuali di dekatnya ada malaikat Roqib dan Atid  (pengawas yang selalu siap mencatat).” (QS. Qoof : 18)

Pada ayat yang lain Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَاِنِّ عَلَيْكُمْ لَحَفِظِيْنََ.١٠  كِرَامًاكَاتِبِيْنَ .١١

Sesungguhnya bagi kamu ada malaikat yang mengawasi, yang mulia dan pencatat amal perbuatanmu.” (QS. Al Infithor : 10-11)

Lidah adalah salah satu ayat Allah Subhanahu wa ta’ala , juga salah satu nikmat-Nya. Maka wajiblah manusia memeliharanya dari dosa dan kemaksiatan, serta menjaganya dari ucapan-ucapan yang bisa menimbulkan penyesalan dan kerugian. Lidahlah yang akan menjadi saksi pada hari kiamat. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَّوْمَ تَثْهَدُ عَلَيْهِمْ اَلْسِنَتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْايَعْمَلُوْنَ

Pada hari ketika lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa-apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An Nur : 24)

Ingatlah wahai saudaraku, sesungguhnya lidah itu mempunyai dua macam penyelewengan. Bila dia lolos dari penyelewengan pertama, maka dia tak akan bersih dari hal yang kedua, yaitu penyelewengan dalam berbicara dan penyelewengan ketika diam. Kadangkala yang kedua bisa lebih fatal akibatnya daripada yang pertama. Diam dari kebenaran adalah syaitan yang bisu, dia maksiat kepada Allah dan menentang-Nya serta tertipu. Dengan demikian kebenaran dari Allah ditenggelamkannya oleh diam. Sebaliknya, berbicara bathil adalah syaitan yang sedang berkata, dia pun maksiat kepada Allah. Sedangkan orang pertengahan, adalah orang yang berjalan di atas shirotol mustaqim, yang menahan lidahnya dari kebatilan dan berkata dalam hal kebenaran yang mengandung manfaat di akhirat (Al Jawab al Kafi, hal. 190).

Maka dari itu, jadilah Anda dari golongan mereka wahai saudaraku, khususnya bila Anda sudah mengetahui sabda Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam :

اَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الفَمُ وَالْفَرْجُ

Penyebab terbesar manusia masuk ke dalam neraka adalah mulut dan faraj.

Para sahabat telah mengetahui bahaya lidah, maka mereka mempergunakannya dalam kebaikan dan memeliharanya dari kejelekan. Abu Bakar Ash Shiddiq menunjuk lidahnya, lalu berkata, “Inilah yang mengakibatkan timbulnya dosa.”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Demi Allah yang tidak ada Ilah selain Dia, tidak ada sesuatu pun yang lebih pantas untuk dipenjara daripada lidah.”

Al Hakim menyatakan bahwa ada enam hal yang dimiliki oleh orang bodoh, yaitu:

1. Marah karena segala hal.

2. Berbicara yang tidak bermanfaat.

3. Memberi bukan pada tempatnya.

4. Menyebarkan kejelekan kepada setiap orang.

5. Percaya kepada setiap manusia.

6. Tidak mengenal kawannya daripada musuhnya.

Sebagian orang bijaksana memuji sikap diam karena tujuh hal:

1. Termasuk ibadah tanpa susah payah.

2. Merupakan perhiasan tanpa perlu menghias.

3. Merupakan kehebatan tanpa kekuasaan.

4. Merupakan pertahanan yang kokoh tanpa adanya benteng.

5. Termasuk kekayaan tanpa bergantung pada orang lain.

6. Memberikan kesempatan beristirahat kepada para malaikat pencatat.

7. Penutup aib pembicara.

Berkata Luqman, “Diam itu hikmat, tapi sedikit sekali orang yang melakukannya.

Berkata An Nawawy, “Ketahuilah, wajib bagi setiap mukallaf memelihara lidahnya dari setiap ucapan, kecuali ucapan yang jelas-jelas mengandung manfaat. Sehingga ketika ada ucapan yang tidak mengandung manfaat, maka berdasarkan sunnah dia harus menahan diri daripadanya, karena kadang-kadang ucapan yang mubah bisa mengarah kepada hal yang makruh atau haram. Hal ini sering sekali terjadi, sedangkan keselamatan tak ada bandingannya.”

Di dalam hadits muttafaq alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma , Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْاََخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًااَوْلِيَصْكٌتْ

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam.

Ini adalah hadits yang shorih, yang menjelaskan bahwa kita tidak pantas berbicara kecuali pembicaraan yang baik yang jelas-jelas mengandung maslahat. Bila diragukan kandungan maslahatnya, maka janganlah berbicara. (Riyadush Sholihin, hal. 632)

Lidah memiliki kesempatan yang sangat luas untuk taat kepada Allah dan berdzikir kepada-Nya, tetapi juga memungkinkan untuk digunakan dalam kemaksiatan dan untuk berbicara berlebihan. Semestinya kita mampu mengendalikan lidah untuk berdzikir dan taat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, sehingga bisa meninggikan derajat kita. Maka ucapan istighfar, tasbih, tahmid, takbir, membaca Al Qur’an, amr ma’ruf nahi munkar, mendamaikan dua orang yang bermusuhan, dan lain-lain, merupakan kebaikan yang sangat luas. Ia mengandung kesibukan menggunakan lidah dalam ketaatan kepada Allah, dan mengangkat derajat ke tingkat yang lebih tinggi. Juga terkandung upaya menjauhkan diri dari maksiat dan dosa. Sedangkan banyak berbicara tanpa dzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengeraskan hati, dan menjauhkan diri dari Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga Allah menuntun kita kepada hal-hal yang dicintai dan diridhoi-Nya. Dan semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada hamba dan kekasih-Nya, Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam , serta keluarga dan para sahabatnya.

Dikutip dari  muqadimah Al Bayan fi aafaati al Lisan, Abdullah bin Jaarullah. Terj. Abu Haidar, Abu Fahmi. Penerbit Gema Insani Press

Dituliskan pada dedykusnaedi.wordpress.com

4 Komentar

  1. pikiranpojok said,

    5 Februari 2010 pada 5:20 pm

    sae mas🙂

  2. masmoi said,

    6 Februari 2010 pada 7:55 am

    syukron artikelnya.
    salam ukhuwah.😀

  3. 6 Februari 2010 pada 9:52 am

    Segala puji bagi Allah

  4. 6 Februari 2010 pada 10:23 am

    Salam ukhuwah kembali, jazakumullaahu khair atas kunjungannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: