AWAS!! Lidah Tergelincir ke dalam Dusta


Berdusta termasuk salah satu penyelewengan lidah. Ia merupakan penyakit jiwa, bila tidak segera diobati, maka pelakunya akan terjerumus ke dalam neraka, tempat menetap yang paling buruk.

Bila kejujuran merupakan syi’ar orang-orang beriman, maka dusta adalah termasuk tanda-tanda orang munafik. Allah Subhanahu wa ta’ala. berfirman:

اِذَا جَءَكَ الْمُنَافِقُوْنَ قَالُوا نَثْهَدُ اِنَّاكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ اِنَّكَ لَرَسُلُهُ وَاللَّهُ يَثْهَدُ اِنَّ الْمُنَفِقِيْنَ لَكَذِبُونَ

Bila datang kepadamu orang-orang munafik, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.’ Sedang Allah mengetahui bahwa engkau adalah Rasulullah. Dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu adalah pendusta”. (QS. Munafiqun:1). Saudaraku, termasuk penyimpangan yang nyata dalam masyarakat kita adalah melakukan dusta, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan; dalam menjual atau membeli; juga dalam sumpah dan perjanjian. Manusia telah menganggap sepele terhadap masalah dusta, sehingga pada anak-anak kecil pun menjadi kebiasaan, dan tidak dipedulikan lagi oleh orang-orang dewasa

Urusan dusta termasuk hal yang berbahaya, karena termasuk urusan haram yang menyebabkan pelakunya terjerumus ke dalam neraka.

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَاِنَّ الكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى لفُجُوْرِ، وَاِنَّ الفُجُوْرَيَهْدِيْ إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الََرَّخُلُ يَكْدِبُ وَيَتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَاللَّهِ كَذَّابًا  . ةتفق عليه

Sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kekejian, dan kekejian itu menuntun ke dalam neraka. Tidak henti-hentinya seseorang berdusta dan membiasakan diri dalam dusta, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Mutaffaq ‘alaih).

Seorang pendusta, sekalipun mencoba menutupi dirinya, tetapi mau tidak mau, cepat atau lambat, Allah Subhanahu wa ta’ala akan membukanya. Seorang pendusta terhina karena dosanya, maka tidak aneh bila ia tidak mempunyai kawan dan dibenci oleh kerabat. Bukankah itu suatu hal yang merusak? Lalu apakah yang mendorong untuk berdusta?

A. Pengaruh Buruk Dusta

Dusta mempunyai beberapa pengaruh buruk. Seandainya ini disadari oleh para pendusta, pasti mereka akan meninggalkan kebiasaan dustanya, dan kembali bertoubat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kini akan kita sebutkan sebagian dari pengaruh buruk itu, yaitu antara lain:

1. Menyebarkan keraguan di antara Manusia

Keraguan artinya bimbang dan resah. Ini berarti seorang pendusta selamanya menjadi sumber keresahan dan keraguan, dan menjauhkan ketenangan pada orang yang jujur. Bersabda Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam:

Tinggalkan apa-apa yang membuatmu ragu, ambil apa-apa yang tidak meragukanmu. Karena sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan, dan dusta itu adalah keraguan.” (HR. Tirmidzi, An Nasa’i, dan yang lainnya dengan sanad yang shahih, Riyadush Sholihin hal. 38)

2. Terjerumusnya Seseorang ke dalam Salah Satu Tanda Munafiq

Bersabda Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam

Ada empat hal, barang siapa yang memiliki semuanya, maka dia munafiq sejati. Dan barang siapa yang memiliki satu di antaranya, berarti dia mempunyai satu jenis sifat munafiq hingga dia meninggalkannya. Yaitu bila diamanati dia khianat, bila berkata dia dusta, bila dia berjanji dia mengingkari, dan bila dia berselisih dia membongkar rahasia.” (Muttafaq ‘alaih)

Sebagaimana kita ketahui, orang-orang munafiq akan menempati kerak neraka yang paling bawah. Sebutan munafiq merupakan sebutan yang amat berat. Maka, mengapa kita bersusah payah dalam dusta, padahal ia akan mengantarkan kita pada kedudukan yang paling buruk?

3. Tercabutnya Barokah Ketika Berniaga

Sesungguhnya syaitan menjanjikan keuntungan yang banyak kepada penjual dan pembeli, bila perniagaannya disisipi muslihat dan dusta. Ini banyak terjadi dikalangan orang-orang yang tidak dekat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan tidak takut pada hari perhitungan. Mereka menyembunyikan cacat pada barang yang akan dijual, karena takut si calon pembeli tidak jadi membelinya. Sedangkan si pembeli merendahkan mutu barang yang akan dibelinya, walaupun dia mengetahui ketinggian mutunya. Kadang-kadang dia berkata dusta kepada si penjual, bahwa dia telah menemukan barang yang serupa dengan itu atau yang lebih baik, tetapi lebih murah harganya. Lalu si penjual pun percaya. Ini semua akibat dusta, dan akibat tidak memperdulikan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengatakan:

Penjual dan pembeli itu berada dalam pilihan, selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya jujur dan menjelaskan cacat barangnya, mereka akan diberkahi dalam jual-belinya. Bila keduanya menyembunyikan cacat barangnya dan disisipi dusta, maka dicabutlah barokah dalam jual beli yang dilakukannya.” (Muttafaq ‘alaih)

4. Hilangnya Kepercayaan.

Sesungguhnya selama dusta menyebar dalam masyarakat, maka hal itu itu akan menghilangkan kepercayaan di kalangan kaum muslimin, memutuskan jalinan kasih sayang di antara mereka, sehingga menyebabkan tercegahnya kebaikan dan menjadi penghalang sampainya kebaikan kepada orang yang berhak menerimanya.

5. Memutarbalikan Kebenaran.

Di antara pengaruh buruk dusta adalah memutarbalikan kebenaran. Hal itu disebabkan para pendusta suka mengubah kebenaran menjadi kebathilan, kebathilan menjadi kebenaran dalam pandangan manusia. Yang ma’ruf menjadi munkar, dan yang munkar menjadi ma’ruf. Sebagaimana para pendusta pun suka menghiasi keburukan sehingga berubah menjadi baik dalam pandangan manusia dan memburuk-burukkan yang baik sehingga berubah menjadi buruk. Itulah perniagaan para pendusta. Apa saja yang mereka katakan tentang keburukan suatu benda, dan apa pun pengaruhnya dalam masyarakat, maka hati-hatilah terhadap mereka, baik apa yang kita baca dari mereka ataupun yang anda dengar. Pahamilah firman Allah  Subhanahu wa ta’ala :

“… Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang melampau batas lagi pendusta.” (Al-Mu’min:28).

6. Pengaruh Dusta terhadap Anggota Badan.

Dusta menjalar dari hati ke lidah, maka rusaklah lidah itu. Lalu menjalar lagi dari lidah ke anggota badan, maka rusaklah perbuatan-perbuatannya sebagamana rusaknya lidah dalam berbicara. Umumnya dusta lahir dalam bentuk ucapan dan perbuatan, maka semakin besarlah kerusakan itu dan akan menjurus ke arah kehancuran, bila Allah Subhanahu wa ta’ala tidak memberi penyembuhannya dengan obat kejujuran. Seluruh perbuatan yang merusak, baik lahir maupun bathin, disebarkan oleh dusta. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya kejujuran itu menuntun pada kebajikan, sedangkan dusta menuntun kepada kedurhakaan.”

Wahai saudaraku, ini hanya sebagian saja dari pengaruh-pengaruh buruk dusta. Semuanya merupakan akibat yang terasa di dunia. Adapun di akhirat, hanya di sisi Allah balasan bagi pendusta yang  lebih dahsyat dan lebih membinasakan.

B. Akibat yang Mengerikan Setelah Mati.

Jelas, bahwa para pendusta berjalan di atas jalan menuju ke neraka.

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya dusta itu menuju kepada kekejian, dan kekejian menuntun ke neraka. Seseorang terus menerus berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Mutafaq ‘alaih).

Di antara siksa yang akan dialami oleh para pendusta, dia akan diazab pada hari qiamat dalam bentuk ketakutan yang membuat badannya menggigil. Di dalam shahih Bukhari dijelaskan tentang mimpi Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

Kami mendatangi seorang laki-laki yang terlentang, sementara ada orang lain yang berdiri sambil memegang rantai besi. Tiba-tiba mendekati sebelah wajahnya, lalu disabit mulutnya sampai ke tengkuknya, hidungnya pun disabit sampai ketengkuknya, kedua matanya disabit pula sampai ke tengkuknya. Kemudian dia pindah kepada sisi lain, lalu dia pun melakukan hal yang sama. Belum selesai dia berbuat kepada sisi yang kedua, maka sisi yang pertama telah pulih kembali. Kemudian dia kembali kepada sisi yang pertama tadi, lalu berbuat seperti tadi pula.” Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan, “Aku berkata, Maha Suci Allah, siapakah orang ini? Seseorang menjawab, ‘Sesungguhnya dia adalah orang yang pergi dari rumahnya pada pagi hari sambil berkata dusta yang mencapai (puncaknya).”

C. Bentuk-bentuk Dusta yang Buruk

Semua dusta itu buruk, dan segala bentuk keburukan pelakunya akan mendapat ancaman dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Bentuk-bentuk berikut ini akan menjelaskan sebagian dari keburukan itu.

1. Bersumpah Palsu agar Dagangannya Laris.

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari qiamat, dan Allah tidak akan memandang kepada mereka. Orang yang mengungkit-ungkit sodaqohnya, orang yang menjual barang dagangan dengan sumpah palsu, dan orang yang mengulurkan sarungnya (sampai melebihi mata kaki).” (HR. Muslim).

2. Mengambil Harta Orang Muslim dengan Jalan Sumpah Palsu.

Tentang ini Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Barang siapa bersumpah palsu untuk mengambil harta seorang muslim tanpa haq, maka Allah akan ditemuinya dalam keadaan marah.” (Muttafaq ‘alaih).

3. Berdusta dalam Hal Mimpi.

Maksudnya adalah seseorang yang berkata bahwa dia memimpikan sesuatu di dalam tidur, padahal dusta. Tentang hal ini RasulullahShallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Seseorang disebut mengada-ada bila kedua matanya melihat apa-apa yang tidak dilihatnya.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits lain dikatakan:

Barang siapa yang bermimpi sesuatu yang tidak pernah dilihatnya, maka dipaksa mendamaikan antara dua pasukan yang sedang bertempur dan pasti dia tidak akan bisa melakukannya.” (HR. Bukhari).

D. Bagaimana Cara Meninggalkan Dusta?

1.   Kita harus mampu menghadirkan keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala dan memantapkannya. Dusta umumnya disebabkan oleh rasa takut terhadap hilangnya suatu kepentingan yang dijanjikan oleh syaitan. Sedangkan keyakinan kepada AllahSubhanahu wa ta’ala dan bertawaqal kepada-Nya akan mampu menghilangkan rasa takut ini.

2.   Memiliki keyakinan yang mantap bahwa kerugian yang ditakdirkan untuk kita, mau tidak mau, akan terjadi, khususnya dalam urusan dunia yang membuat kita tamak dan bernafsu untuk mengumpulkannya, sehingga menimbulkan dusta. Akan tetapi, yakinilah bahwa kerugian dan keuntungan telah ditakdirkan Allah Subhanahu wa ta’ala bagi kita. Hal ini akan memberikan ketenangan dalam hati.

3.   Melatih jiwa, membiasakan diri melakukan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan untuk kita. Jiwa itu ibarat seorang anak kecil, bila dia dilepas, maka akan menyulitkan kita. Melatihnya berarti membiasakan dia untuk melakukan hal-hal yang baik, sehingga perbuatan itu menjadi tabiat. Jangan berputus asa atau malas untuk memulai hal itu, karena segala urusan membutuhkan kesabaran. Cobalah hal itu untuk menghilangkan kebiasaan buruk dalam berdusta, maka kita akan merasaskan dalam jangka waktu tertentu, bahwa kita telah meninggalkan kebiasaan dusta dan akan masuk ke dalam golongan shodiqin. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami kepada mereka. Dan sungguh,  Allah  beserta orang-orang yang berbuat baik” (Al-Ankabut:69)

Dan Firman-Nya lagi:

Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (Ath-Thalaq:2)

Kita diperbolehkan berdusta dalam hal-hal tertentu. Di antaranya ketika perang, atau mendamaikan manusia, atau pembicaraan seorang suami kepada isterinya dan sebaliknya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (Riyadush Shalihin, hal 693).

E. Persaingan Merupakan Lapangan yang Luas untuk Pendusta.

Janganlah kita memandang remeh terhadap dusta, jangan pula kita mengatakan bahwa dusta tidak akan merugikan orang lain. Atau menganggap bahwa anak kecil boleh kita bohongi, sedangkan dia tidak boleh membohongi kita. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam telah melihat seorang wanita memanggil anaknya, dia berkata: “Kemarilah, nanti akan ibu beri sesuatu.” Maka bertanyalah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apa yang akan engkau berikan kepadanya?” Wanita itu menjawab: “Saya akan memberi ini.” Lalu berkata Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam: “Bila engkau tidak memberikannya, maka engkau akan dicatat sebagai pendusta.” Wanita itu berkata pula: “Maksud saya hanya bergurau saja.” Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Aku adalah pemimpin di sebuah rumah di tengah syurga bagi orang yang meninggalkan dusta, sekalipun hanya bergurau.”

Jalan keluar terbaik bila terpaksa, adalah mengatakan sesuatu yang memungkinkan banyak makna yang berbeda dengan yang kita maksud tanpa harus berkata dusta. Seperti yang diriwayatka oleh An-Nakho’iy, bahwa apabila dia dicari oleh orang yang tidak disukainya ketika dia berada di rumah, maka dia berkata kepada budaknya, “Katakanlah kepadanya ‘carilah dia di masjid’, jangan kau katakan kepadanya bahwa aku tidak ada agar tidak termasuk dusta.”

Semoga Allah menganugerahkan kejujuran kepada kita dalam perbuatan dan ucapan. Dan semoga shalawat dilimpahkan atas Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarganya, serta para sahabatnya.

Judul asli Al Bayan fi aafaati al Lisan, Abdullah bin Jaarullah. Terj : Abu Haidar, Abu Fahmi. Penerbit : Gema Insani Press

Ditulis oleh Dedy K. pada dedykusnaedi.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: