Antara Ulama dan Da’i


Arus kebangkitan Islam terus berhembus, menyeruak ke segala penjuru belahan bumi. Suatu tema yang sangat menarik untuk dibicarakan oleh banyak pihak: mahasiswa dan pelajar, para da’i dan umat Islam pada umumnya. Termasuk musuh-musuh Islam yang geram karenanya.

Di kota-kota besar dan pusat-pusat pendidikan yang merupakan markazut taghyiir (pusat perubahan) masyarakat telah marak berbagai kegiatan keislaman. Kajian-kajian keislaman seperti seminar, dauroh (semacam training), halaqah pendalaman Islam, ceramah dan dialog, pengajian-pengajian dan tablig akbar berlangsung di mana-mana yang dilakukan dan dimotori oleh para pelajar dan mahasiswa serta para pemuda umumnya.

Ghirah keislaman telah tumbuh dan berkembang di dada generasi muda. Semangat kecintaannya pada Islam serta kemauannya untuk menyiarkannya tak terbendung lagi. Mereka telah meretas jalan menuju kehidupan yang islami. Dengan penuh kesadaran mereka telah menceburkan diri dalam keharusan sejarah; arus da’wah yang insya Allah membawa rahmat dan barokah.

Kahausan untuk mendapatkan siraman rohani yang dapat menyejukkan jiwa, telah memacu merebaknya tarbiyah islamiyah dan da’wah harakiyah.Sebagai konsekwensi logis dari fenomena itu adalah semakin banyaknya orang-orang yang harus terlibat dalam da’wah. Banyak orang yang bukan ulama bukan kiyai dan bukan jebolan pondok pesantren harus berbicara tentang Islam; mengisi pengajian, seminar, membentuk kelompok untuk kajian Islam secara rutin, dan lain-lain. Demikianlah  realitasnya. Tuntutan keadaan dan keterbatasan sumber daya manusia yang bernama ulama. Tapi itu bukan satu-satunya alasan mengapa seseorang harus berda’wah.

Suara Sumbang.

Di tengah semaraknya da’wah Islam yang sangat menggembirakan itu, ternyata ada saja yang gerah. Kalau kegerahan itu dirasakan oleh orang-orang non-Muslim, jelas itu wajar. Karena memang sudah menjadi tabi’at dalam kehidupan. Jika ada al-haq pasti ada kebathilan menghadang; jika Islam berkembang, maka musuh-musuhnya (kafirin, musrikin, Yahudi, dan Nasrani) memang tidak akan senang. Mereka akan dengan segala cara memusuhi Islam dan umatnya.

Tetapi sayangnya, suara sumbang yang menyiratkan kegerahan itu justeru keluar dari kalangan umat Islam sendiri. (Semoga saja itu bukan kegerahan, akan tetapi kesadaran untuk memberi taushiyah). Diantaranya adalah ungkapan bahwa sekarang ini banyak da’i kacangan, baru tahu sedikit sudah berani berbicara. Dan yang kurang hati-hati adalah fatwanya: Ikutilah ulama dan jangan ikuti da’i! Dalam hal-hal tertentu statemen itu bisa diterima. Kita sebagai orang awam kalau kurang, atau tidak tahu, memang disuruh harus bertanya kepada ahludzdzikri (ahlulilmi), atau orang yang tahu alias ulama. Akan tetapi kalau digebyah uyah seperti dalam konteks da’i kacangan seperti di atas, tentu kurang menguntungkan bagi perkembangan da’wah dan keutuhan umat.

Mudah-mudahan uraian ini menjadi taushiyah dan pelajaran yang bermanfaat.

Tentang Ulama

Diantaranya Al-Qur’an menyebutkan : ”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah ulama”. Selain kata ulama, dalam Al-Qur’an kita juga menemukan kata-kata yang lain yang hampir sama atau hampir sama, misalnya ulul albaab, ahladz dzikri, ulul ‘ilmi, dan lain-lain.

Para mufasir atau mujtahid dalam menjelaskan kata ulama berbeda-beda, tetapi pada hakekatnya sama, di antaranya: Ibnu Katsir. Ulama adalah yang benar-benar mari’fatnya kepada Allah sehingga mereka takut kepadanya, jika mari’fatnya sudah sangat mendalam, maka sempurnalah takutnya kepada Allah. Imam Mujahid mengatakan, ulama adalah orang yang takut kepada Allah. Malik bin Anas mengatakan: Orang yang tidak takut kepada AllahSubhanahu wa ta’ala bukanlah ulama. Hasan Basri mengatakan: Ulama adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala disebabkan karena perkara ghaib, suka kepada setiap sesuatu yang disukai-Nya.

Dari ayat dan hadits serta penjelasan-penjelasan di atas dapatlah kita ketahui karakteristik utama yang ada pada ulama, adalah:

1.       Memiliki ilmu (ma’rifat) yang mendalam.

2.       Takut kepada Allah (khasyyatullah).

3.       Menjadi pewaris para nabi.

Dengan demikian kata ulama itu lebih bernuansa atau bermuatan sifat atau karakteristik tertentu yang melekat pada seseorang daripada sebagai suatu nama (sebutan) belaka.

Di antara tugas dan tanggungjawab penting bagi seorang ulama adalah berda’wah yang pada intinya adalah amar ma’ruf nahi munkar. Jadi idealnya, seorang ulama juga adalah merupakan seorang da’i. Walau tidak menutup kemungkinan karena keterbatasan manusiawi, ada ulama yang tidak bisa berbicara ke sana ke mari. Bahkan kita tahu, nabiyullah Musa alaihi sallam sampai meminta kepada Allah untuk didatangkan pembantu sebagai penyambung lidah (Harun alaihi sallam).

Ulama ‘su

Dalam kenyataan memang banyak ditemukan adanya ulama yang tidak khasyyatullah (takut kepada Allah). Ada ulama yang berani mengubah ayat-ayat Allah, atau setidaknya merasa kurang sreg sehingga perlu di-reaktualisasi. Ada pula ulama yang melacurkan ilmu untuk kepentingan diri dan penguasa, seperti Hamam (ulamanya Fir’aun). Ada juga ulama yang mendekat-dekat (menjilat) pada penguasa, sehingga berani membuat fatwa pesanan. Imam Ghazali menyebut ulama semacam itu sebagai ulama ‘su atau ulama jahat atau ulama dunia. Tentu saja ulama semacam ini tidak layak untuk diikuti.

Tentang Da’i

Sungguh, kegiatan da’wah merupakan suatu amal shaleh. Suatu amal yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Cobalah renungkan firman-Nya yang menjelaskan sebagai yang terbaik perkataannya:

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلاًمِِّمَّنْ  دَعَآ اِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًاوَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسلِمِيْنَ

“Dan siapakah yang lebih baik perkataanya selain orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.” (QS. 41:33).

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa ta’ala juga mengingatkan kita:

لاَخَيْرَ فِي كَثِيْرٍ مِنْ نَجْوَا هُمْ اِلَامَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْمَعْرُوْفٍ اَوْاِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ

” Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisik mereka, kecuali bisikan mereka memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perbaikan di antara manusia.” (QS. 4:114).

Da’wah memang mempunyai urgensi yang banyak sekali. Karena da’wah, kehidupan akan jauh sekali dari kerusakan. Karena da’wah, bisa menghindarkan dari kehancuran manusia dan alam sekitarnya. Da’wah juga merupakan kebutuhan sekaligus thabiat manusiawi. Da’wah bisa menghindarkan kerugian hidup di dunia dan di akhirat. Lebih dari itu semua, da’wah bernilai syar’i, karena memang diperintahkan oleh AllahSubhanahu wa ta’ala, dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam. Perintah Allah Subhanahu wa ta’ala cukup jelas.

اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَ ّبِكَ بِالْحِمَكّْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحسَنُ

Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik.” (QS. 16:125).

وَلْتَكُنْ ّمِنْكُمْ اُ ّمَةٌ ّيَدْ عُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَآ مُرُوْنَ بِلْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan manusia yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.” (QS. 3:104).

Sementara dalam skala yang sangat minimal Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam tetap menyuruh kita “Sampaikanlah apa yang datang dariku walaupun satu ayat”.

Patut kita renungkan, adakah yang salah jika mereka yang bukan ulama, bukan kiyai, juga bukan alumni pondok pesantren atau ma’had terjun ke dalam aktivitas da’wah?  Sebagai muslim yang baik, tentu saja akan dengan  penuh semangat untuk berkata-kata dan beramal baik alias da’wah demi menggapai kenikmatan syurga dan izzul Islam wal Muslimin.

Para Da’i yang Mengajak ke Pintu-pintu Jahannam.

Sebaiknyalah kita tidak menutup mata. Sebab tidak semua yang menyeru atau yang mengajak itu pasti kepada kebajikan. Selain yang amar ma’ruf nahi mungkar dan da’wah ilallah, ada pula yang mengajak dan menyeru ke neraka. Al-Qur’an telah mengingatkan kepada kita, bahwa orang-orang musyrik mengajak ke neraka, sedangkan Allah Subhanahu wa ta’ala mengajak ke syurga dan ampunan dengan idzin Allah (QS. 2:221). Pada bagian lain disebutkan adanya da’i-da’i yang amar mungkar nahi ma’ruf, menyuruh kemungkaran dan mencegah kebaikan (QS. 9-67).

Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam juga pernah menyebutkan adanya du’atun ilaa abwaabi jahannam (para da’i yang mengajak kepada pintu-pintu jahannam).

Da’i-da’i seperti itu jelas tidak pantas untuk kita ikuti. Karena memang mereka tidak mengajak kepada Islam. Seruan apa pun asal tidak kepada Islam atau tidak kepada Allah Subhanahu wa ta’ala memang tidak perlu diikuti.

Antara Ulama dan Da’i.

Kiranya sudah teramat jelas dan gamblang bagaimana kita berbuat dan bersikap. Tegasnya, kepada siapa kita harus mengikuti antara ulama dan da’i.

Dalam hal penentuan hukum atau fatwa, tentu kita akan mengikuti ulama. Karena merekalah ulama yang benar (ulama yang mukhlis, bukan ulama ‘su) tentunya yang mempunyai otoritas.  Begitu juga dengan da’wah (karena ulama umumnya juga da’i) kita pun mengikutinya. Ini jelas keharusan. Sebab merekalah yang melanjutkan risalah kenabian; yang menjadi pewaris para nabi, termasuk mewarisi tugas da’wah.

Terhadap para da’i, yang  bukan ulama da’i ilallah tentunya,  bukan da’i ilan naar, semestinyalah kita pun mengikuti. Ini bagi yang awam. Kalau kita sebagai orang yang telah banyak tahu tentang Islam, atau bahkan mungkin ulama, maka semestinyalah kita  harus menghargai kerja para da’i itu. Sebab dalam kenyataan dalam sejarah yang telah panjang ini,  da’wah dan tersebarnya Islam ke berbagai penjuru dunia tidak pernah sepi dari kiprah para da’i yang tak terhitung jumlahnya.

Oleh karena itu alangkah baiknya kalau kita menjaga diri dari suuzhan. Kita kembangkan budaya husnuzhan. Dengan harapan kita terhindar dari berbagai penyakit hati, yang pada akhirnya bisa menjadi penyakit dalam da’wah (ambaradhud da’wah).  Mudah-mudahan uraian ini bermanfaat adanya dan dapat menjadi taushiyah bil haq wa bishabr.

Wallahu a’alam bishawaab.


Diangkat dari:

Majalah Almuslimun No 303. Tahun XXVI(42),

Muharam, 1415-Juni 1995. Oleh Drs. Parjono.

Diarsipkan pada dedykusnaedi.wordpress.com

1 Komentar

  1. Rahman said,

    29 November 2010 pada 2:14 pm

    Ulama dan Da’i tdk bs di pisahkan…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: