Ibadah


بِسْمِاللَّهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْمِ

Kata ‘ibadah sangat tidak asing bagi kaum muslimin, sebab ia adalah bagian yang tidak boleh lepas dalam perjalanan hidup seorang muslim.

A. Pengertian ‘ibadah

‘Ibadah berasal dari kata ‘abd yang artinya abdi, hamba, budak, jongos atau pelayan. Jadi ‘ibadah berarti, pengabdian, penghambaan, pembudakan, ketaatan, atau merendahkan diri.

Istilah hamba atau budak, akan terlintas dalam pikiran tentang perbudakan terhadap orang-orang  berkulit hitam dalam sejarah Amerika pada abad-abad silam, yang kemudian perbudakan itu dihapuskan oleh Presiden Abraham Lincoln yang kemudian menimbulkan pertentangan besar dan akhirnya beliau pun menjadi sasaran pembunuhan. Atau tentang perbudakan pada sebagian bangsa Arab pada zaman jahiliyah, kehidupan manusia yang diperjualbelikan seperti khewan yang berlaku sebelum Islam. Setelah Islam datang dengan membawa pencerahan bagi umat manusia, mereka dimerdekakan dan perbudakan berangsur-angsur dihilangkan. Semua yang demikian itu adalah bentuk perbudakan yang menistakan manusia atas manusia pada zamannya

Dalam hubungannya dengan arti pengabdian, seseorang yang menjadi budak atau hamba dalam melayani tuannya1) dengan sikap sebagaimana layaknya seorang budak terhadap tuan atau majikan, maka sikap dan perbuatan seperti itu disebut penghambaan seorang budak, atau keta’atan seorang budak terhadap majikannya, atau ‘ibadahnya seorang budak terhadap tuannya.

Berlawanan apabila seorang yang menjadi budak yang memperoleh perlindungan dan  penghidupan dari tuannya, tapi tidak ta’at dan tidak mau melayani tuannya, maka ia dikatakan telah membangkang, lebih tepat lagi bisa dikatakan sebagai pengkhianatan.

Bagaimana seharusnya sikap dan tingkahlaku seorang budak terhadap tuannya?

Pertama, kewajiban dari seorang hamba atau budak adalah mengakui bahwa tuannya adalah penguasa, dan wajib setia kepada orang yang menjadi tuannya, yang menghidupinya, yang melindunginya, yang memeliharanya, serta meyakini sepnuhnya bahwa tak seorang pun selain tuannya itu yang layak mendapatkan kesetiaan darinya.

Kedua, kewajiban seorang budak selalu patuh pada tuannya, melaksanakan perintah-perintahnya dengan sepenuh hati, tidak boleh sekali-kali malas dalam melayaninya, dan tidak boleh mendengarkan perkataan orang lain bila perkataan itu bertentangan dengan tuannya, tidak boleh mengatakan apa pun yang tidak disukai tuannya. Dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, seorang budak adalah tetap seorang budak. Sama sekali ia tidak punya hak untuk memilih-milih pekerjaan dari tuannya, dan tidak punya hak untuk menolak pekerjaan lainnya. Sekali-sekali ingin bebas adalah pembangkangan.

Ketiga, kewajiban seorang budak adalah menghormati dan menghargai tuannya. Ia harus mengikuti cara dan sikap hidup yang ditentukan oleh tuannya sebagai sikap hormat dan ta’zim kepada tuannya. Ia harus selalu hadir untuk memberi hormat pada waktu yang ditentukan oleh tuannya, sebagai bukti bahwa ia benar-benar setia dan patuh kepada tuannya.

Inilah jika diringkas ketiga kewajiban tersebut yang harus dipenuhi secara mutlak dalam ‘ibadah (penghambaan) seorang budak terhadap tuannya, yaitu:

Pertama,  kesetiaan terhadap tuan yang menghidupinya;

Kedua,    kepatuhan pada perintah tuannya;

Ketiga,   penghormatan dan ta’zim terhadap tuannya

Demikianlah gambaran kedudukan seorang hamba atau budak, serta kewajiban yang harus dipikul sebagai bentuk ‘ibadah atau penghambaan seorang budak terhadap tuannya.

Walaupun secara bahasa, arti kata ‘ibadah adalah penghambaan, pengabdian, atau pembudakan seperti yang telah dipaparkan diatas, sangat berbeda makna dengan perbudakan manusia atas dirinya di hadapan Tuhannya. Makna perbudakkan atau penghambaan yang akan dijelaskan adalah perkara yang memuliakan manusia serta membedakan dengan khewan dan makhluk lainnya. Apa yang difirmankan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat Adz-Dzaariyaat:56:   وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَالاِْنْسَاِلاَّلِيَعْبُدُنِ   Artinya: “Tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka ber’ibadah (mengabdi, menghamba) kepada-Ku”. Arti ‘ibadah di sini adalah bahwa jin dan manusia dalam hidupnya harus tunduk dan patuh terhadap aturan dan hukum-hukum Allah. Ini berarti, bahwa tujuan Allah menciptakan jin dan manusia adalah agar mereka:

Pertama, hanya setia kepada Allah saja dan tidak kepada yang lain, karena hanya Dia Yang Maha Menghidupi dan Maha Memelihara

Kedua,     agar mereka hanya mengikuti perintah-perintah Allah saja dan tidak mendengarkan perintah siapa pun yang bertentangan dengan perintah-Nya;

Ketiga,    hanya kepada  satu Dzat saja mereka harus menyembah dan mendekatkan diri (taqarrub), yaitu hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan tidak kepada yang lain.

Dalam situasi dan kondisi bagaimana pun, perbuatan seorang hamba yang senantiasa mengikuti aturan dan hukum Allah, serta yang melepaskan diri dari ikatan dan aturan hukum yang lain yang bertentangan dengan hukum Allah, maka itulah yang disebut ‘ibadah. Dengan demikian, ‘ibadah adalah perbuatan sepanjang hidup yang dijalani oleh seorang hamba dengan mengikuti rambu-rambu atau aturan-aturan dan hukum Allah Ta ‘ala. Dalam hidup yang demikian ini, maka tidur kita, bangun kita, makan dan minum kita, bahkan berjalan dan berbicara kita, semuanya adalah ‘ibadah. Setiap perbuatan seorang hamba yang ta’at akan selalu memperhatikan, mana yang dibolehkan oleh Allah dan mana yang tidak dibolehkan oleh Allah, mana yang halal dan mana yang haram, apa yang diwajibkan dan apa yang dilarang,  perbuatan apa yang membuat-Nya suka kepada kita dan perbuatan apa yang membuat-Nya tidak suka kepada kita.

Demikian luasnya ruang lingkup ‘ibadah ini, hingga hubungan intim suami isteri, dan ciuman kepada anak-anak dan cucu-cucu pun adalah ‘ibadah selama perbuatan itu mengantarkan ruh kepada kedekatan terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala (taqarrub). Seorang pemulung sejati yang sedang mengais-ngais di tempat sampah dikatakan ‘ibadah bila ia ingat pekerjaannya itu adalah sesuatu yang dipercayakan Allah kepada dirinya, bahwa hidup dirinya serta keluarganya harus dipertahankan dan dipelihara, sehingga dengan itu ia tidak meminta-minta, suatu perbuatan yang tidak diakui syari’at, terlebih lagi bila mencuri. Pekerjaan-pekerjaan yang umumnya disebut pekerjaan profesional yang bersifat duniawi, sesungguhnya semuanya itu juga adalah pekerjaan ‘ibadah selama mengerjakannya atas nama Allah dan mengikuti aturan dan hukum yang telah ditentukan oleh Allah Ta ‘ala.

Perbuatan seperti shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya itu memang juga termasuk ‘ibadah, yaitu ‘ibadah khasshah (‘ibadah khusus). Dengan shalat lima kali sehari berarti memperingatkan kita, bahwa di mana pun dan kapan pun kita berada adalah tetap budak Allah, dan hanya kepada-Nya-lah kita harus menghamba. Dengan shalat membawa manusia mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Zakat menyadarkan kita akan kenyataan bahwa harta yang kita peroleh adalah pemberian Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan sepenuhnya atas hasil usaha sendiri. Jangan kita habiskan harta itu hanya untuk kepentingan kepuasan lahiriyah saja, tetapi haruslah kita berikan juga hak Allah, mensucikan harta kita, membuktikan kepedulian kita kepada fakir miskin.

Sebenarnya, hakikat ‘ibadah adalah yang terkumpul di dalamnya berbagai pengertian ‘ibadah menurut para ahli ilmu, seperti pengertian ahli tauhid, tafsir, hadits, ulama akhlak, fuqaha (ahli fiqih), dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya, antara pengertian ibadah menurut yang satu dengan pengertian ‘ibadah lainnya adalah saling berkaitan. Tidaklah seseorang dikatakan telah mengerjakan ‘ibadah (yang sempurna) apabila selama ‘ibadahnya hanya mengerjakan ‘ibadah menurut pengertian akhli fiqih saja, atau hanya menurut ahli tauhid saja. Umpamanya, tata cara shalat dijalankan dengan benar dan sesuai dengan sunnah (pengertian menurut ahli fiqih), tapi rasa takut dan cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tidak ada (pengertian menurut ahli tauhid, tafsir, hadits), atau tanpa diikuti pula dengan perbaikan dan peningkatan budi pekerti (pengertian menurut ulama ahli akhlak) maka di dalam shalatnya juga tidak ada ruh, hanya akan menjadi suatu pekerjaan badaniyah yang tak berjiwa dan sia-sia.

Apabila langkah dan perbuatannya sudah sesuai dengan aturan-aturan dan hukum yang telah dirumuskan ke dalam istilah ‘ibadah (penghambaan), dan menjadi pencerminan penghambaan kepada Allah Ta ‘ala, maka tidak ragu lagi, bahwa shalatnya adalah shalat yang benar, puasanya adalah puasa yang benar, zakatnya adalah zakat yang benar, dan hajinya adalah haji yang benar. Tetapi bila tujuan ibadat dalam ruang lingkup yang luas ini tidak tercapai, maka tidak ada artinya melakukan ruku, sujud, haji, dan zakat itu semua.

Sudah kita ketahui, bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk ber’ibadah (tunduk dan patuh) kepada Allah Ta ‘ala, maka barangsiapa merasa dirinya diciptakan, dia berkewajiban untuk tunduk dan patuh kepada Penciptanya, terlebih Penciptanya itu adalah satu-satunya Dzat tempat kembali. Maka dia lebih wajib untuk mentauhidkan-Nya dalam ber’ibadah kepada-Nya.

Ibnu Qayyim Rahimahullah mengatakan, siapa yang tunduk kepada-Nya, namun tidak mencintai-Nya, maka ia belum bisa dikatakan sebagai hamba-Nya. Dan seseorang akan benar-benar menjadi hamba Allah jika dia telah menyatukan kedalam dirinya kecintaan dan ketundukan (kepatuhan) kepada-Nya. Seorang hamba yang paling sempurna ‘ibadahnya kepada Allah Ta ‘ala adalah mereka yang paling sempurna ketundukan, ketaatan dan kepasrahannya kepada Allah Ta ‘ala. Sebab seorang hamba (budak) itu akan senantiasa merasa rendah di hadapan tuannya, terlebih lagi jika yang dipertuan ini adalah Allah yang haq. Budak atau hamba lebih patut untuk merasa rendah diri di hadapan-Nya dengan seluruh bentuk kerendahan diri, ia merasa rendah karena keagungan dan kekuasaan-Nya, perawatan dan kebaikan-Nya, serta karena nikmat dan budi baik-Nya.

Beliau menyatakan, bahwa manusia itu selamanya akan menjadi seorang hamba, selamanya dia akan tetap menjadi budak Allah, dan kalau tidak, sudah pasti dia akan menghamba kepada yang lain, yaitu mengabdikan diri kepada hawa nafsu (duniawi) atau bahkan mengabdikan diri kepada syetan, (atau ber’ibadah kepada Allah tapi dengan cara dan aturan-aturan yang dibisikkan syetan, sehingga ia merasa ber’ibadah padahal yang sebenarnya ia terperdaya, ibadahnya dibelokkan kepada yang dikehendaki syetan).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjelaskan, bahwa ibadah awalnya dari suatu hubungan yang erat antara hati hamba (‘abid) dengan Yang Disembah (ma‘bud), kemudian hubungan itu meningkat menjadi kerinduan karena tercurahnya perasaan hati kepadaNya, kemudian rasa rindu itu meningkat menjadi rasa kecintaan yang kemudian meningkat pula menjadi keasyikan, dan akhirnya menjadi cinta yang amat mendalam, sehingga akhirnya membuat orang yang mencintai(-Nya) bersedia melakukan apa saja demi Yang Dicintainya.

B. Ulama fiqih telah membagi ‘ibadah menjadi tiga macam:

1)   ‘Ibadah Mahdlah. Semua perbuatan ibadah yang pelaksanaannya diatur dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan sunnah. Contoh, salat harus mengikuti petunjuk Rasulullah salallahu alaihi wassalaam dan tidak dibenarkan untuk menambah atau menguranginya, begitu juga puasa, haji dan yang lainnya. ‘Ibadah mahdlah ini dilakukan hanya berhubungan dengan Allah  saja (hubungan ke atas/ Hablum Minallah), dan bertujuan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Ta ‘ala. Ibadah ini hanya dilaksanakan dengan jasmani dan rohani saja, karenanya disebut ‘ibadah badaniyah ruhiyah.

2) ‘Ibadah Ghairu Mahdlah, yaitu ‘ibadah yang tidak hanya sekedar menyangkut hubungan dengan Allah, tetapi juga menyangkut hubungan sesama makhluk (Hablum Minallah Wa Hablum Minannas), atau di samping hubungan ke atas, juga ada hubungan sesama makhluk. Hubungan sesama makhluk ini tidak hanya sebatas pada hubungan sesama manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungan alamnya (khewan dan tumbuhan).

3)   ‘Ibadah Dzil-Wajhain, yaitu ‘ibadah yang memiliki dua sifat sekaligus, yaitu ‘ibadah mahdlah dan ‘ibadah ghairu mahdlah, seperti nikah dan talak.

C. Syarat-syarat amal bernilai ‘ibadah

Menurut Syeikh Muhammad. Yusuf al-Qardlawi, lima syarat agar perbuatan seseorang akan bemilai ‘ibadah di sisi Allah adalah:

1)   Perbuatan yang dikerjakan tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam. Oleh karena itu, umpamanya berjudi atau korupsi, walaupun niat untuk memperoleh uang  untuk biaya menunaikan ’ibadah haji, tidak dapat dianggap sebagai ’ibadah, sebab berjudi (atau korupsi/penghianatan) merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan syariat Islam.

2)   Perbuatan tersebut dilandasi dengan niat yang suci dan ikhlash. Dengan demikian, aktivitas makan dan minum dalam keseharian jika tidak didasari dengan niat untuk mendekatkan diri (taqarrub) dan mencari ridla Allah maka tidak dapat dinilai sebagai ‘ibadah, melainkan hanya bernilai perbuatan rutinitas saja atau kebiasaan saja (Baca artikel berjudul “Al-Basmalah” pada blog ini). Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah salallahu alaihi wassalaam: “Sesungguhnya semua perbuatan akan dinilai berdasarkan niatnya, dan perbuatan seseorang akan memperoleh hasilnya sesuai dengan apa yang diniatkannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

3)   Untuk melakukan perbuatan tersebut yang bersangkutan harus memiliki keyakinan dan percaya diri bahwa perbuatan yang dilakukannya akan membawa kepada kebaikan.

4) Perbuatan yang dilakukan tidak boleh menjadi halangan terhadap perbuatan-perbuatan yang wajib dikerjakan menurut syari’at. Misalnya, perbuatan mejalankan bisnis jangan sampai membuat pelakunya lalai akan perbuatan mengerjakan shalat.

Bila keempat syarat ini terpenuhi dalam semua perbuatan-perbuatan seorang hamba, maka perbuatan-perbuatan itu bernilai ‘ibadah.

D. Sifat dan Ciri-ciri ‘Ibadah.

Mustafa Ahmad al-Zarqa, seorang ahli ilmu fikih menyebutkan beberapa sifat yang menjadi ciri-ciri ‘ibadah yang benar adalah:

1.   Bebas dari perantara. Dalam ber’ibadah kepada Allah Ta ‘ala, seorang muslim tidak memerlukan perantara, akan tetapi harus langsung kepada Allah. Para alim ulama atau para tokoh agama hanya berfungsi dan berperan sebagai pembimbing, petunjuk  dan penyampai kebenaran bagi muslim lainnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta ‘ala:

وَاِذَاسَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَادَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْ الِيْ اوَلْيُؤْمِنُوْ بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرثُدُوْنَ

Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengkabulkan permohonan orang yang berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mnereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. al-Baqarah, 2: 186).

2)   Tidak terikat kepada tempat-tempat khusus. Secara umum ajaran Islam tidak mengharuskan penganutnya untuk melakukan ‘ibadah pada tempat-tempat khusus, kecuali ‘ibadah haji. Islam memandang setiap tempat cukup suci sebagai tempat ‘ibadah. Rasulullah salallahu alaihi wassalaam bersabda: “Seluruh tempat di bumi adalah tempat bersujud, bersih dan suci” (HR. Bukhari dan Muslim). Firman Allah Ta ‘ala:

وَاِللَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْافَشَمَّ وَجْهُ اللَّهِ . اِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌٌ عَلِيْمٌ

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS.al-Baqarah, 2:115).

3)   Tidak memberatkan dan tidak menyulitkan, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan. Rasulullah salallahu alaihi wassalaam bersabda: “Kamu seharusnya melakukan pekerjaan yang kamu sendiri mampu melakukannya, sesungguhnya Allah tidak menyenangi perbuatan suatu perbuatan hingga kamu sendiri menyenanginya” (HR. Bukhari dan Muslim). Firman Allah Ta ‘ala:

لاَيُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًااِلاَّوُسْعَهَا، لَهَامَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala dari kebajikan yang diusahakannya, dan ia mendapatkan siksa dari kejahatan yang dikerjakannya” (QS. al-Baqarah, 2: 286). Kendati demikian, tidak berarti mengenteng-entengkan perbuatan ‘ibadah karena kemalasan dan tiada peduli terhadap pengetahuan syar’iat.

E. Hikmah ‘Ibadah

Kita yakin, bahwa tidak ada satupun di antara ciptaan dan kebijakan Allah yang kosong dari nilai-nilai kebaikan atau hikmah, tidak ada satu ciptaanpun  yang mengandung kesia-siaan, firman-Nya:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللَّهَ  قِيَامًاوَّقُعُوْدًاوَّعَلَىجُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ  خَلْقِ السَّمَوَتِ وَالاَْرْضِ، رَبَّنَامَا خَلَقْتَ هَذَابَاطِلاً سُبْحَنَكَ فَقِنَاعَذَابَ النَّارِ

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya Tuhan kami! Tidaklah Engkau menciptakan ini semua dengan sia sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.“ (QS. Al Imran, 3: 191). Namun untuk memperoleh nilai-nilai kebaikan dan hikmah tersebut, sangat bergantung kepada kecerdasan dan ilmu pengetahuan manusia itu sendiri. Mereka yang terang hatinya, dan tajam pikirannya serta memilki ilmu pengetahuan dipastikan  dapat menyelami hikmah-hikmah tersebut. Sebaliknya yang mata hatinya buta, yang berpaling terhadap majelis pengajian dan menjauh dari ilmu pengetahuan, selain tidak akan bisa menembus dan menyelami hikmah ibadah, juga akan mengakibatkan kebodohan ruhiyah.

Dalam hubungannya dengan ini maka nilai-nilai kebajikan dan hikmah ‘ibadah paling tidak akan dapat menimbulkan kesadaran dalam dirinya, yaitu;

1)      bahwa dirinya adalah makhluk yang diciptakan Allah dan hanya kepada-Nya harus mengabdi (QS. al-Dzariyat. 51: 56), sehingga ‘ibadah merupakan bentuk pemeliharaan diri dan proteksi dari perbuatan yang menimbulkan dosa dan siksa.

2)      bahwa sesudah kehidupan dunia ini akan ada kehidupan akhirat untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan perintah Allah selama dirinya menjalani kehidupan di dunia, dan akan mendapat balasan atas perbuatan baik-buruknya, sekecil apapun perbuatan itu (QS. al-Zalzalah, 99: 7-8).

3)      bahwa dirinya diciptakan Allah Ta ‘ala bukan sekedar pelengkap alam semesta, melainkan justru menjadi pusat alam dan segala isinya. Apa yang ada di bumi dan dilangit beserta isinya adalah untuk dirinya. (QS. al Baqarah, 2:29).

Majelis ta’lim (pengajian) yang biasa diadakan di masjid-masjid adalah selain sebagai kumpulan silaturrahim, tapi juga di dalamnya ada penjelasan tafsir Qur’an, hadits, fiqih, ilmu ahlaq, dan lain-lain, sehingga dari kumpulan itu selain kita memperoleh pengetahuan, juga dapat meningkatkan kecerdasan ruhiyah (spiritual), dengan demikian kita akan dapat menembus dan menyelami nilai-nilai kebajikan atau hikmah ‘ibadah, sehingga akan dapat merasakan bahwa ‘ibadah kita bukan pekerjaan sia-sia.

Ketahuilah, walaupun ‘ibadah itu adalah hak Allah Ta ‘ala yang bukan hanya wajib kita jalankan, tapi juga merupakan anugrah yang patut  kita syukuri, sebab dengan perintah ‘ibadah kita dimanusiakan serta dimuliakan, dan hanya khewan yang tidak dihukumkan wajib beri’badah.

اَللّهُمَّ آتِنِى أَفْضَلَ مَاتُؤْتِى عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

”Ya Allah, berilah aku seutama-utama apa yang  (seperti) engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang sholeh”.(HR. An-Nasaa’i, Ibn Sunni dan Al-Bukhary).

Allaahu a’lam.

(Dedy Kusnaedi).

Maraji:

1.  Al-Qur’an dan terjemahan

2.  Terj. Kitab Tafsir Al-Maraghi,

3.  Kuliah Ibadah, T.M. Hasbi Ash-Shidieqy

4.  Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim, Dr. Hasan bin Ali Al-Hijazy.

5.  Afeksi Islam, Tim Dosen Unpas.

6.  Terj. Fundamentals of Islam, Abu A’la Maududi


1) tuan  = orang tempat mengabdi, lawan dari hamba, abdi, budak.

2 Komentar

  1. adampisan said,

    28 Desember 2009 pada 12:37 am

    Menarik mengikuti pemaparan mengenai ibadah mahdlah yang harus mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasul, tidak boleh menambah ataupun mengurangi. Ini contoh dalam hal berwudhu:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki,” (Q.S. Al-Maidah:6)

    Kalau kita konsisten untuk tidak menambah dan mengurangi apa yang diajarkan Quran (Allah) dan Rasul-Nya, maka seharusnya kita berwudhu tidak boleh memasukkan kumur-kumur dan pembersihan telinga sebagai bagian dari wudhu. Praktik wudhu lain yang sering dilakukan kebanyakan muslimin juga adalah membasuh kaki, padahal jelas-jelas di Quran bahwa kaki hanya diusap/disapu. Kelihatannya tidak ada bukti bahwa Rasul melakukan pembasuhan kaki dan telinga.

  2. 10 Februari 2010 pada 2:52 pm

    Balasan tersendiri dalam posting “Hukum Berkumur dalam Wudhu”. Jazakumullaahu khair atas kunjungannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: