Benarkah saya muslim?


Jika Ibuku berasal dari suku Sunda, dan Bapakku juga berasal dari suku Sunda, maka akupun dengan sendiri-nya adalah asli turunan suku Sunda.

Atau, jika Ayah dan Ibuku berasal dari keluarga bangsawan atau ningrat, maka akupun dengan sendirinya menjadi seorang ningrat. Walaupun tergolong miskin dan bodoh, serta tidak berpengetahuan, aku tetap menjadi seorang ningrat.

Akan tetapi, apabila Ibu-bapakku orang Islam, apakah dengan sendirinya akupun menjadi orang Islam? Apakah otomatis aku menjadi seorang muslim?

Belum tentu!

Keislaman seseorang bukan ditentukan oleh turunan atau warisan dari orang tua atau nenek moyang. Seseorang bisa dikatakan Muslim jika ia menerima Islam sebagai agamanya. Orang yang beragama Budha, atau agama Hindu akan dikatakan sebagai Muslim apabila kemudian ia menerima Islam sebagai agamanya.

Sebaliknya, walaupun kedua orang tuanya keluarga muslim, atau ustadz, atau kiyai, akan dikatakan kafir apabila ia melepaskan Islam sebagai agamanya. Atau akan dikatakan muslim yang munafik apabila perilaku ibadatnya tidak ikhlas, hanya untuk memperoleh status sosiologis di tengah masyarakat. Atau akan dikatakan muslim yang  fasiq bila perilaku ibadatnva malas, melecehkan sunnah dan merendahkan syari’at Islam. Atau akan dikatakan muslim yang bodoh apabila perilaku ibadatnya hanya menurut sekendak hati dan pikirannya sendiri, tidak dalam koridor ilmu-ilmu syari’ah. “Akan datang suatu zaman dimana banyak orang yang beribadah tapi dengan kebodoh-an (jahil)”. Demikian sabda Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bila seseorang mengaku Islam sebagai agamanya, yang kemudian tercantum dalam KTP (Kartu Tanda Penduduk), apakah berarti ia seorang Muslim?

Seseorang bisa dikatakan Muslim apabila dengan kesadaran yang tinggi dan sengaja menerima ajaran-ajaran dari Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam, serta segala perbuatannya yang sesuai dengan ajaran-ajaran tersebut. Siapa pun yang menganut dan mengamalkan ajaran-ajaran tersebut, maka ia berhak mendapat predikat Muslim. Sebab hanya dengan menerima ajaran dan perbuatan yang sesuai dengan ajaran tersebut, yang tunduk dan patuh terhadap syari’at yang menjadi syarat untuk bisa dikatakan sebagai seorang Muslim.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk tunduk dan patuh kepadaKu”. (QS. Adz-Dzaariyaat :56)

Memahami makna ayat ini yang menjadi dasar seseorang untuk mengaku dan menjadikan dirinya seorang Muslim, dan konsisten dengan pengakuannya ke dalam bentuk amal perbuatan. Bukan atas pengakuan atau label Islam dalam KTP, walaupun dari kaidah syari’at Islam, Muslim-KTP sah sebagai orang Islam, dan karenanya tidak bisa dikatakan kafir, memperoleh perlakuan sebagai orang Islam, bisa mengadakan hubungan perkawinan secara Islam, memperoleh warisan secara Islam, dan hak-hak perdata lainnya secara Islam pula. Berarti keislamannya hanyalah untuk urusan duniawi, bukan karena sebagai hamba yang mengabdi (tunduk dan patuh) kepada Allah Yang Mahakuasa.

Sebutan Muslim adalah suatu kemuliaan yang diperoleh dengan usaha. Kemuliaan seorang Muslim akan dicabut (naudzubillah!) bila keimanannya diterlantarkan dan tidak dipedulikan. Oleh karena itu iman harus dipelihara dan dipupuk dengan ilmu pengetahuan, baik dengan cara menghadiri majelis-majelis ilmu (majelis ta’lim, pengajian), atau dengan menumbuhkan minat baca terhadap literatur Islam (kitab-kitab Islam, dsb). Semakin banyak seorang Muslim memiliki pengetahuan agama, semakin tinggi kesadaran keislamannya, dan semakin besar kemuliaannya.

Bila seseorang tidak faham apa yang disebut manusia, dan tidak tahu perbedaan antara dirinya dengan khewan, tentulah ia akan berperilaku seperti khewan. Demikian pula artinya, bila seseorang merasa menjadi Muslim, tapi tidak tahu arti menjadi seorang Muslim, dan tidak tahu perbedaan antara Muslim dengan non-Muslim (kafir), maka ia akan berperilaku seperti orang kafir. Oleh karenanya bila seseorang mengaku dirinya sebagai Muslim, ia harus belajar dan memahami benar arti daripada “mengakui dirinya sebagai Muslim” itu sendiri, untuk kemudian menentukan sikap dalam keislamannya.

Islam adalah ajaran dan perbuatan. Oleh karena itu Islam adalah sebutan terhadap pengetahuan (ilmu) dan tindakan mempraktekkan (amal) atas pengetahuan tersebut. Mustahil menjadi seorang Muslim, dan hidup sebagai seorang Muslim tanpa mengetahui apa-apa tentang ajaran-ajaran Islam. Tidak cukup hanya rajin shalat dan pintar baca Qur’an, karena Islam bukan hanya memerintahkan untuk beribadah, tapi juga memerintahkan untuk berpikir. Melalui ilmu seorang Muslim menjadi tahu, harus seperti apa dan bagaimana sikap hidup dan perilaku ibadahnya. Oleh karena itu, wajibnya bagi seorang Muslim menuntut ilmu, serta tidak dibenarkan hidup dalam keadaan putus hubungan dengan ilmu, bukan berarti seorang Muslim harus menjadi seorang penceramah, da’i, kiyai, ustadz atau ulama, akan tetapi bagaimana agar menjadi seorang Muslim yang sejati (sesungguhnya).

Bagi seorang Muslim yang sesungguhnya, adalah wajib ada di dalam dirinya satu dari dua kedudukan:

ü  Menjadi seorang muslim yang tidak tahu, atau seorang muslim yang tahu.

ü  Menjadi seorang Muslim yang belajar atau seorang Muslim yang mengajar.

ü  Menjadi seorang Muslim yang menuntut petunjuk, atau seorang Muslim yang memberi petunjuk.

ü  Menjadi seorang Muslim yang menerima kebenaran, atau seorang Muslim yang menyampaikan kebenaran.

Yang tidak dibenarkan adalah kedudukan seorang Muslim yang tidak tahu tapi tidak mau tahu. Sebab kedudukan yang demikian akan membawa seorang Muslim meluncur pada martabat yang paling rendah dan bodoh.

Oleh karena itulah Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya untuk tidak henti-hentinya menuntut ilmu agama hingga ke ujung usia. Sabdanya:

Wahai sekalian manusia, belajarlah kamu. Ilmu hanya (didapat) melalui belajar. Dan fiqih (diperoleh) dengan bertafaqquh. Barang siapa yang menghendaki kebaikan dari Allah, maka hendaklah ia bertafaqquh di dalam agama.” (HR. Abu Na’im, Abu Darda, Ibnu Mas’ud).

Seorang Muslim harus mengetahui batas-batas apa yang diajarkan dalam Islam agar ia tetap dianggap sebagai Muslim, dan apabila ia melanggar batas-batas tersebut maka tak dapat lagi dikatakan sebagai seorang Muslim, walaupun tetap mengatakan ia seorang Muslim. Menyerahkan segala urusan kehidupan, niaga, pekerjaan, jodoh, dsb kepadaorang pintar, atau meminta wasilah kepada makam para wali, bahkan memperlakukan ayat-ayat Al Qur’an sebagai jimat dan bacaan-bacaan yang bertuah adalah jelas bukan perbuatan seorang Muslim. Pada perayaan-perayaan hari besar Kristen, seperti perayaan Tahun Baru Masehi, Valentine Day, Ulang Tahun Kelahiran, atau tradisi-tradisi non-Islam lainnya, banyak yang merasa dan mengaku dirinya Muslim ikut hanyut ke dalam perayaan tersebut, yang demikian adalah tidak konsisten dengan pengakuan keislamannya, karena tasyabuh dilarang oleh Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ketika seorang Muslim mendengar seruan panggilan adzan untuk shalat berjama’ah di masjid, sebenarnya ia berada dalam batas saat pembuktian sebagai Muslim, apakah ia akan beranjak dari tempatnya untuk segera menunjukkan kapatuhan dan keta’atan, ataukah akan membuktikan bahwa dirinya tidak cocok untuk menjadi seorang Muslim. Tidak ada kepatuhan dan keta’atan terhadap Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang telah membuktikan, bahwa dirinya bukan hamba Allah, ia telah membuktikan bahwa dirinya tidak takut kepada Allah Yang Mahakeras (siksa-Nya), ia jauh dari memelihara dan menjaga diri dari hukum Allah di akhirat.

Dengan demikian, yang dikatakan Muslim adalah seseorang yang dengan tuntunan ilmunya ia berserah diri kepada Allah, tunduk dan patuh di dalam syari’at-Nya, dan tidak menyerahkan segala urusannya kepada selain Allah.

Wallaahu a’lam..

Hanya kepada Allah Yang Maha Penyayang kami memohon ampun. (Dedy Kusnaedi)

6 Komentar

  1. adampisan said,

    5 November 2009 pada 3:29 am

    Betul memang, status muslim yang disandang orang tua tidak serta merta menjadikan anaknya benar-benar muslim. Mungkin untuk masa kanak-kanak anak-anak mengikuti jejak orang tuanya. Tetapi sejalan dengan perkembangan dirinya sebagai manusia yang berpikir, pastilah ada naluri untuk mencari kebenaran.

  2. 9 Februari 2010 pada 3:16 am

    Tentu saja dalam mencari kebenaran dengan ilmu dan pemahaman yang tidak dipengaruhi hawa nafsu

  3. bondan said,

    1 Maret 2010 pada 4:51 am

    mas, arti tulisan arab di judul blog antum apa ya? ayo mas update blog lagi🙂

  4. 1 Maret 2010 pada 10:17 am

    bacaannya ‘blog pribadi’, artinya pemilik blog bukan yayasan. dengan huruf arab hanya menunjukkan bahwa blog hanya bertemakan keislaman.
    matur nuwun, lagi buka-buka referensi.

  5. sendiri said,

    27 Mei 2010 pada 4:38 am

    Mungkin bisa dibuka situs rujukan:
    http://www.al-shia.org/html/id/books/003/index.html

  6. 28 Mei 2010 pada 5:26 pm

    Menilik conten situs http://www.al-shia.org/html/id/books/003/index.html.
    Bagi saya pribadi, berhadapan dengan perkara-perkara yang berkaitan dengan perdebatan antar mazhab tentang claim kebenaran adalah sangat tidak berguna, hanya membuang-buang enerji dan mensia-siakan umur, lebih lebih bila secara praktis terjun kedalam “kancah peperangan paham” dengan menggunakan masing-masing dalil “musuh” sebagai amunisi. Semestinya Umat Islam menjadikan surat Adz-Dzaariyaat:56 ( وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَالاِْنْسَاِلاَّلِيَعْبُدُنِ Artinya: “Tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka ber’ibadah (mengabdi, menghamba) kepada-Ku”) sebagai azas “filosofis” untuk segala amal perbuatannya. Tentu saja implentasinya harus dengan mendalami ilmu-ilmu syar’i yang oleh masing-masing diyakini dengan tanpa mata memicing sinis ke kiri atau kekanan (ke mazhab-mazhab lain), sebab yang akan menolong diri sendiri di akhirat bukanlah mazhabnya, tapi amal perbuatannya. Sampai kiamat pun perbedaan itu akan selalu ada, dan selalu menimbulkan perdebatan yang tiada henti. Toch sampai hari ini Ahlus Sunnah mengijinkan kaum Syiah melakukan ibadah haji, apa artinya membicarakan perbedaan yang dapat menimbulkan perdebatan yang tiada guna!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: