<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>بلغ فربد</title>
	<atom:link href="http://dedykusnaedi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com</link>
	<description>untuk kecerdasan ruhiyah, semoga berguna</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Dec 2011 09:16:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dedykusnaedi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/75a5c2dc22bda8b4e1dab05c227dbba6?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>بلغ فربد</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dedykusnaedi.wordpress.com/osd.xml" title="بلغ فربد" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dedykusnaedi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>HUKUM MEMINTA-MINTA (MENGEMIS) MENURUT SYARI&#8217;AT ISLAM</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/12/24/hukum-meminta-minta-mengemis-menurut-syariat-islam/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/12/24/hukum-meminta-minta-mengemis-menurut-syariat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 17:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=900</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas DEFINISI MINTA-MINTA (MENGEMIS). Minta-minta atau mengemis adalah meminta bantuan, derma, sumbangan, baik kepada perorangan atau lembaga. Mengemis itu identik dengan penampilan pakaian serba kumal, yang dijadikan sarana untuk mengungkapkan kebutuhan apa adanya. Hal-hal yang mendorong seseorang untuk mengemis –salah satu faktor penyebabnya- dikarenakan mudah dan cepatnya hasil yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=900&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas</p>
<p>DEFINISI MINTA-MINTA (MENGEMIS).</p>
<p>Minta-minta atau mengemis adalah meminta bantuan, derma, sumbangan, baik kepada perorangan atau lembaga. Mengemis itu identik dengan penampilan pakaian serba kumal, yang dijadikan sarana untuk mengungkapkan kebutuhan apa adanya. Hal-hal yang mendorong seseorang untuk mengemis –salah satu faktor penyebabnya- dikarenakan mudah dan cepatnya hasil yang didapatkan. Cukup dengan mengulurkan tangan kepada anggota masyarakat agar memberikan bantuan atau sumbangan.<span id="more-900"></span></p>
<p>FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG SESEORANG UNTUK MENGEMIS DAN MINTA-MINTA<br />
Ada banyak faktor yang mendorong seseorang mencari bantuan atau sumbangan. Faktor-faktor tersebut ada yang bersifat permanen, dan ada pula yang bersifat mendadak atau tak terduga. Contohnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>1). Faktor ketidakberdayaan, kefakiran, dan kemiskinan yang dialami oleh orang-orang yang mengalami kesulitan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Karena mereka memang tidak memiki gaji tetap, santunan-santunan rutin atau sumber-sumber kehidupan yang lain. Sementara mereka sendiri tidak memiliki keterampilan atau keahlian khusus yang dapat mereka manfaatkan untuk menghasilkan uang. Sama seperti mereka ialah anak-anak yatim, orang-orang yang menyandang cacat, orang-orang yang menderita sakit menahun, janda-janda miskin, orang-orang yang sudah lanjut usia sehingga tidak sanggup bekerja, dan selainnya.<br />
2). Faktor kesulitan ekonomi yang tengah dihadapi oleh orang-orang yang mengalami kerugian harta cukup besar. Contohnya seperti para pengusaha yang tertimpa pailit (bangkrut) atau para pedagang yang jatuh bangkrut atau para petani yang gagal panen secara total. Mereka ini juga orang-orang yang memerlukan bantuan karena sedang mengalami kesulitan ekonomi secara mendadak sehingga tidak bisa menghidupi keluarganya. Apalagi jika mereka juga dililit hutang yang besar sehingga terkadang sampai diadukan ke pengadilan.<br />
3). Faktor musibah yang menimpa suatu keluarga atau masyarakat seperti kebakaran, banjir, gempa, penyakit menular, dan lainnya sehingga mereka terpaksa harus minta-minta.<br />
4). Faktor-faktor yang datang belakangan tanpa disangka-sangka sebelumnya. Contohnya seperti orang-orang yang secara mendadak harus menanggung hutang kepada berbagai pihak tanpa sanggup membayarnya, menanggung anak yatim, menanggung kebutuhan panti-panti jompo, dan yang semisalnya. Mereka ini juga adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan, dan biasanya tidak punya simpanan harta untuk membayar tanggungannya tersebut tanpa uluran tangan dari orang lain yang kaya, atau tanpa berusaha mencarinya sendiri walaupun dengan cara mengemis.</p>
<p>JENIS-JENIS PENGEMIS<br />
Ketika kita membahas tentang fenomena pengemis dari kacamata kearifan, hukum, dan keadilan, maka kita harus membagi kaum pengemis menjadi dua kelompok:</p>
<p>1). Kelompok pengemis yang benar-benar membutuhkan bantuan<br />
Secara riil (kenyataan hidup) yang ada para pengemis ini memang benar-benar dalam keadaan menderita karena harus menghadapi kesulitan mencari makan sehari-hari.</p>
<p>Sebagian besar mereka ialah justru orang-orang yang masih memiliki harga diri dan ingin menjaga kehormatannya. Mereka tidak mau meminta kepada orang lain dengan cara mendesak sambil mengiba-iba. Atau mereka merasa malu menyandang predikat pengemis yang dianggap telah merusak nama baik agama dan mengganggu nilai-nilai etika serta menyalahi tradisi masyarakat di sekitarnya. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>&#8220;(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah sehingga dia tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui&#8221; [al-Baqarah/2 : 273].</p>
<p>2). Kelompok pengemis gadungan yang pintar memainkan sandiwara dan tipu muslihat<br />
Selain mengetahui rahasia-rahasia dan trik-trik mengemis, mereka juga memiliki kepiawaian serta pengalaman yang dapat menyesatkan (mengaburkan) anggapan masyarakat, dan memilih celah-celah yang strategis. Selain itu mereka juga memiliki berbagai pola mengemis yang dinamis, seperti bagaimana cara-cara menarik simpati dan belas kasihan orang lain yang menjadi sasaran. Misalnya di antara mereka ada yang mengamen, bawa anak kecil, pura-pura luka, bawa map sumbangan yang tidak jelas, mengeluh keluarganya sakit padahal tidak, ada yang mengemis dengan mengamen atau bermain musik yang jelas hukumnya haram, ada juga yang mengemis dengan memakai pakaian rapi, pakai jas dan lainnya, dan puluhan cara lainnya untuk menipu dan membohongi manusia.</p>
<p>PANDANGAN SYARIAT TERHADAP MINTA-MINTA (MENGEMIS)<br />
Islam tidak mensyari’atkan meminta-minta dengan berbohong dan menipu. Alasannya bukan hanya karena melanggar dosa, tetapi juga karena perbuatan tersebut dianggap mencemari perbuatan baik dan merampas hak orang-orang miskin yang memang membutuhkan bantuan. Bahkan hal itu merusak citra baik orang-orang miskin yang tidak mau minta-minta dan orang-orang yang mencintai kebajikan. Karena mereka dimasukkan dalam golongan orang-orang yang meminta bantuan. Padahal sebenarnya mereka tidak berhak menerimanya, terlebih kalau sampai kedok mereka terungkap.</p>
<p>Banyak dalil yang menjelaskan haramnya meminta-minta dengan menipu dan tanpa adanya kebutuhan yang mendesak. Diantara hadits-hadits tersebut ialah sebagai berikut.</p>
<p>Hadits Pertama.<br />
Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu &#8216;anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.</p>
<p>&#8220;Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya&#8221;.[1]</p>
<p>Hadits Kedua<br />
Diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah Radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ.</p>
<p>&#8220;Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api&#8221; [2].</p>
<p>Hadits Ketiga<br />
Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>َالْـمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ، إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِيْ أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ.</p>
<p>&#8220;Minta-minta itu merupakan cakaran, yang seseorang mencakar wajahnya dengannya, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau atas suatu hal atau perkara yang sangat perlu&#8221; [3]</p>
<p>Bolehnya kita meminta kepada penguasa, jika kita dalam kefakiran. Penguasa adalah orang yang memegang baitul maal harta kaum Muslimin. Seseorang yang mengalami kesulitan, boleh meminta kepada penguasa karena penguasalah yang bertanggung jawab atas semuanya.</p>
<p>Namun, tidak boleh sering meminta kepada penguasa. Hal ini berdasarkan hadits Hakiim bin Hizaam Radhiyallahu &#8216;anhuma, ia berkata: Aku meminta kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, lantas beliau memberiku. Kemudian aku minta lagi, dan Rasulullah memberiku. Kemudian Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>يَا حَكِيْمُ، إِنَّ هَذَا الْـمَـالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُوْرِكَ لَهُ فِيْه ِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيْهِ ، وَكَانَ كَالَّذِيْ يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ. الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى.</p>
<p>&#8220;Wahai Hakiim! Sesungguhnya harta itu indah dan manis. Barang siapa mengambilnya dengan berlapang hati, maka akan diberikan berkah padanya. Barang siapa mengambilnya dengan kerakusan (mengharap-harap harta), maka Allah tidak memberikan berkah kepadanya, dan perumpamaannya (orang yang meminta dengan mengharap-harap) bagaikan orang yang makan, tetapi ia tidak kenyang (karena tidak ada berkah padanya). Tangan yang di atas (yang memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (yang meminta)&#8221;.</p>
<p>Kemudian Hakîm berkata: &#8220;Wahai Rasulullah! Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak menerima dan mengambil sesuatu pun sesudahmu hingga aku meninggal dunia”.</p>
<p>Ketika Abu Bakar Radhiyallahu &#8216;anhu menjadi khalifah, ia memanggil Hakîm Radhiyallahu &#8216;anhu untuk memberikan suatu bagian yang berhak ia terima. Namun, Hakîm tidak mau menerimanya, sebab ia telah berjanji kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Ketika ‘Umar menjadi khalifah, ia memanggil Hakîm untuk memberikan sesuatu namun ia juga tidak mau menerimanya. Kemudian ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu berkata di hadapan para sahabat: &#8220;Wahai kaum Muslimin! Aku saksikan kepada kalian tentang Hakîm bin Hizâm, aku menawarkan kepadanya haknya yang telah Allah berikan kepadanya melalui harta rampasan ini (fa’i), namun ia tidak mau menerimanya. Dan Hakîm Radhiyallahu &#8216;anhu tidak mau menerima suatu apa pun dari seorang pun setelah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sampai ia meninggal dunia”.[4]</p>
<p>Hadits ini menunjukkan tentang bolehnya meminta kepada penguasa. Akan tetapi tidak boleh sering, seperti kejadian di atas, yaitu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menasihati Hakîm bin Hizâm. Hadits ini juga menerangkan tentang ta’affuf (memelihara diri dari meminta kepada manusia) itu lebih baik. Sebab, Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu &#8216;anhu pada waktu itu tidak mau meminta dan tidak mau menerima.</p>
<p>ORANG-ORANG YANG DIBOLEHKAN MEMINTA-MINTA<br />
Diriwayatkan dari Sahabat Qabishah bin Mukhariq al-Hilali Radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>يَا قَبِيْصَةُ، إِنَّ الْـمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ : رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُوْمَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ : لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ ، فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْش ٍ، –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْـمَسْأَلَةِ يَا قَبِيْصَةُ ، سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا.</p>
<p>“Wahai Qabiishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram”.[5]</p>
<p>KEUTAMAAN TIDAK MEMINTA-MINTA DAN ANJURAN UNTUK BERUSAHA<br />
Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam haditsnya menganjurkan kita untuk berusaha dan mencari nafkah apa saja bentuknya, selama itu halal dan baik, tidak ada syubhat, tidak ada keharaman, dan tidak dengan meminta-minta. Kita juga disunnahkan untuk ta’affuf (memelihara diri dari minta-minta), sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya.</p>
<p>&#8220;(Apa yang kamu infakkan adalah) untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah sehingga dia tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari minta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak minta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui&#8221; [al-Baqarah/2 ayat 273].</p>
<p>Diriwayatkan dari az-Zubair bin al-‘Awwâm Radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau bersabda:</p>
<p>لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوْهُ.</p>
<p>&#8220;Sungguh, seseorang dari kalian mengambil talinya lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, kemudian ia menjualnya sehingga dengannya Allah menjaga wajahnya (kehormatannya), itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, mereka memberinya atau tidak memberinya&#8221;.[6]</p>
<p>Seseorang yang menjual kayu bakar yang ia ambil dari hutan adalah lebih baik daripada ia harus meminta-minta kepada orang lain. Nabi n menjelaskan jalan yang terbaik karena meminta kepada orang lain hukumnya haram dalam Islam, baik mereka (orang yang dimintai sumbangan) itu memberikan atau pun tidak. Tetapi yang terjadi pada sebagian kaum muslimin dan thâlibul-‘ilmi (para penuntut ilmu) adalah meminta kepada orang lain, dan menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa dan wajar. Padahal, hal ini hukumnya haram dalam Islam. Jadi, yang terbaik ialah kita mencari nafkah, kemudian setelah itu kita makan dari nafkah yang kita dapat, baik sedikit maupun banyak, dan sesuatu yang kita dapat itu lebih mulia daripada minta-minta kepada orang lain.</p>
<p>Seorang anak yang minta kepada kedua orang tuanya, atau orang tua kepada anaknya, atau isteri kepada suaminya, ini tidak termasuk dalam hadits ini. Karena, orang tua wajib memberikan nafkah kepada anaknya. Jadi, kalau anak meminta kepada orang tuanya, tidak termasuk dalam hadits ini, begitu pun sebaliknya. Karena pada hakikatnya harta anak itu milik orang tuanya. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>أَنْتَ وَمَالُكَ ِلِأَبِيْكَ.</p>
<p>&#8220;Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu&#8221;.[7]</p>
<p>Sebagian dari para sahabat adalah orang-orang miskin, tetapi mereka tidak meminta-minta kepada orang lain walaupun mereka sangat membutuhkan. Tetapi, orang-orang yang tidak mengetahui menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya disebabkan mereka menjaga kehormatan diri mereka dengan tidak meminta-minta kepada orang lain.</p>
<p>Orang yang paling berbahagia dan yang paling beruntung dalam hidup ini adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Contohnya, orang yang hanya mendapat rizki Rp 5000,- (Lima ribu rupiah) sehari, kemudian ia merasa cukup dengannya, maka ia adalah orang yang paling beruntung dan bersyukur kepada Allah Ta’ala dengan apa yang Allah berikan kepadanya.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ.</p>
<p>&#8220;Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberikan rizki yang cukup, dan dia merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya&#8221;.[8]</p>
<p>Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ أَوْشَكَ اللهُ لَهُ بِالْغِنَى: إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ.</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang ditimpa suatu kesulitan lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka tidak akan tertutup kefakirannya. Dan barangsiapa yang mengadukan kesulitannya itu kepada Allah, maka Allah akan memberikannya salah satu diantara dua kecukupan: kematian yang cepat atau kecukupan yang cepat&#8221;.[9]</p>
<p>Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seorang yang mendapat kesulitan dan kesusahan, namun ia selalu berharap kepada orang lain, maka kefakirannya tidak akan tertutupi. Kita dapat saksikan betapa banyaknya kaum Muslimin yang tertimpa musibah dan kesulitan mereka adukan semuanya kepada orang lain, baik dengan mengatakan bahwa ia sedang sakit atau sedang bangkrut usahanya atau selainnya. Tetapi, apabila mereka sedang mendapatkan senang dan mendapat keuntungan, mereka tidak mengadukannya kepada orang lain. Seseorang yang mengadukan kefakiran dan kesulitannya agar orang lain merasa kasihan kepadanya, maka hal itu tetap tidak akan menutup kefakirannya. Namun jika ia merasa cukup dengan karunia yang Allah Ta’ala berikan, dan ia mengadukan segala kesulitannya kepada Allah, maka Dia akan menutupi kefakirannya itu dan akan menambah karunia yang telah diberikan-Nya kepadanya. Apabila Allah Ta’ala mentakdirkan kita mengalami kesulitan, lalu kita adukan kesulitan yang kita alami kepada Allah, maka Dia akan memberikan kepada kita jalan keluar yang baik dan rizki, baik cepat maupun lambat.</p>
<p>Kita harus mengimani, memahami, dan mengamalkan hadits ini dalam kehidupan kita. Kita harus yakin bahwa hanya Allah-lah yang mendengar kesulitan kita. Adapun manusia, mereka tidak suka mendengar kesulitan orang lain. Islam menganjurkan kita untuk berusaha, berdasarkan ayat-ayat dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dan usaha ini tidak mengurangi waktu kita, baik dalam menuntut ilmu maupun mengajar dan mendakwahkan ilmu.</p>
<p>KESIMPULAN<br />
Ada beberapa poin yang dapat diambil sebagai kesimpulan dari pembahasan ini, di antaranya:<br />
1. Harta yang kita peroleh dengan usaha kita sendiri adalah diberkahi.<br />
2. Bila kita mengalami kesulitan, maka kita harus mengadukannya kepada Allah Ta’ala.<br />
3. Dianjurkan untuk menjaga diri (ta’affuf), dan tidak meminta-minta kepada orang lain.<br />
4. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membaiat para sahabatnya, agar mereka tidak meminta-minta kepada orang lain.<br />
5. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang para sahabat dan ummatnya untuk meminta-minta kepada orang lain.<br />
6. Harta yang diperoleh dari minta-minta adalah tidak berkah.<br />
7. Meminta-minta menghilangkan rasa malu.<br />
8. Meminta-minta adalah perbuatan yang haram dan hina.<br />
9. Harta hasil dari meminta-minta tanpa kebutuhan adalah haram.<br />
10. Meminta-minta adalah cakaran, yang seseorang mencakar wajahnya dengannya.<br />
11. Orang yang meminta-minta kepada manusia tanpa kebutuhan, maka pada hari Kiamat tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.<br />
12. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjamin dengan Surga bagi siapa saja yang menjamin dirinya untuk tidak meminta-minta kepada orang lain.<br />
13. Orang yang meminta-minta berarti ia meminta bara api Neraka Jahannam.<br />
14. Meminta-minta tidak akan dapat menutupi kefakiran seseorang.<br />
15. Kita harus berputus asa terhadap apa yang dimiliki orang lain, dan hanya mengharapkan apa yang ada di Tangan Allah Ta’ala.</p>
<p>KHATIMAH<br />
Di akhir pembahasan ini saya wasiatkan kepada kaum muslimin, para penuntut ilmu, dan para dai agar menjaga kehormatan dirinya dengan tidak minta-minta kepada orang dan tidak mengharap sesuatu kepada manusia. Bagi pemilik harta hendaklah ia menginfakkannya pada jalan yang disyariatkan. Bagi mereka yang fakir, hendaklah bersabar dan memohon kecukupan kepada Allah. Dan kepada orang kaya yang tidak mengeluarkan zakatnya -demikian pula para pengacau dakwah yang mencuri harta orang lain untuk kepentingan kelompoknya- hendaklah mereka takut akan siksa Allah Ta’ala.</p>
<p>Mudah-mudahan Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai orang yang bersyukur dan qana’ah atas segala nikmatnya, merasa cukup dengan apa yang ada, serta menahan diri dari minta-minta. Sesungguhnya Allah Mahadermawan, Mahamulia.</p>
<p>Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, kepada keluarganya, Sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dan akhir dari dakwah ini ialah segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.</p>
<p>Marâji’:<br />
1. Al-Qurâ`nul-Karim.<br />
2. Al-Mustadrak.<br />
3. Al-Mughamarat al-Mutamawwilin Baina al-Hajat wal Ihtirâf, karya Shâlih bin &#8216;Abdullah al-Utsaimin.<br />
4. Al-Mu’jamul-Kabir.<br />
5. As-Sunan al-Kubra lin Nasâ`i.<br />
6. At-Ta’liqatul-Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibban.<br />
7. Bahjatun-Nazhirin Syarh Riyadhush-Shâlihin, karya Syaikh Salim al-Hilali.<br />
8. Dzammul Mas`alah, Ta’lif: Abu Abdirrahmân Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah .<br />
9. Hilyatul-Auliyâ`.<br />
10. Irwâ`ul-Ghalil.<br />
11. Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.<br />
12. Shahîh Bukhâri.<br />
13. Shahîh Muslim.<br />
14. Shahîh Jâmi’ush-Shaghîr.<br />
15. Sunan Abu Dâwud.<br />
16. Sunan ad-Dârimi.<br />
17. Shahîh Ibnu Khuzaimah.<br />
18. Sunan Ibnu Mâjah.<br />
19. Sunan Nasâ`i.<br />
20. Sunan Tirmidzi.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/Ramadhan1429H/2085. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]<br />
_________<br />
Footnotes<br />
[1]. Muttafaqun ‘alaihi. HR al-Bukhâri (no. 1474) dan Muslim (no. 1040 (103)).<br />
[2]. Shahîh. HR Ahmad (IV/165), Ibnu Khuzaimah (no. 2446), dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jamul-Kabîr (IV/15, no. 3506-3508). Lihat Shahîh al-Jâmi’ish-Shaghîr, no. 6281.<br />
[3]. Shahîh. At-Tirmidzi (no. 681), Abu Dawud (no. 1639), an-Nasâ`i (V/100) dan dalam as-Sunanul-Kubra (no. 2392), Ahmad (V/10, 19), Ibnu Hibbân (no. 3377 –at-Ta’lîqâtul Hisân), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jamul Kabîr (VII/182-183, no. 6766-6772), dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliyâ` (VII/418, no. 11076).<br />
[4]. Shahîh. Al-Bukhâri (no. 1472), Muslim (no. 1035), dan lainnya.<br />
[5]. Shahîh. HR Muslim (no. 1044), Abu Dâwud (no. 1640), Ahmad (III/477, V/60), an-Nasâ`i (V/89-90), ad-Dârimi (I/396), Ibnu Khuzaimah (no. 2359, 2360, 2361, 2375), Ibnu Hibbân (no. 3280, 3386, 3387 –at-Ta’lîqtul-Hisân), dan selainnya.<br />
[6]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 1471, 2075).<br />
[7]. Shahîh. HR Ibnu Mâjah (no. 2291) dari Jaabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu &#8216;anhuma, dan ath-Thabrâni dalam Mu’jamul-Kabîr (VII/230, no. 6961, X/81-82, no. 10019) dari Samurah dan Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu &#8216;anhu. Lihat Irwâ`ul-Ghalîl (no. 838).<br />
[8]. Shahîh. HR Muslim (no. 1054) dan lainnya, dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu &#8216;anhu.<br />
[9]. Shahîh. HR Ahmad (I/389, 407, 442), Abu Dâwud (no. 1645), at-Tirmidzi (no. 2326), dan al-Hâkim (I/408). Lafazh ini milik Abu Dâwud.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/900/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=900&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/12/24/hukum-meminta-minta-mengemis-menurut-syariat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sunnah-sunnah dalam Shalat</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/08/17/mengenal-sunnah-sunnah-dalam-shalat/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/08/17/mengenal-sunnah-sunnah-dalam-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 10:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=845</guid>
		<description><![CDATA[Diantara sunnah-sunnah shalat adalah 1. Do’a Istiftaah 2. Meletakkan (telapak) tangan kanan di atas (punggung) tangan kiri pada dada tatkala berdiri sebelum ruku’ 3. Mengangkat kedua tangan dengan jari-jari rapat yang tebuka (tidak terkepal) setinggi bahu atau telinga tatkala takbir pertama, ruku’, bangkit dari ruku’, dan ketika berdiri dari tasyahhud awal menuju raka’at ketiga 4. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=845&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><strong>Diantara sunnah-sunnah shalat adalah</strong><br />
1. Do’a Istiftaah<br />
2. Meletakkan (telapak) tangan kanan di atas (punggung) tangan kiri pada dada tatkala berdiri sebelum ruku’<br />
3. Mengangkat kedua tangan dengan jari-jari rapat yang tebuka (tidak terkepal) setinggi bahu atau telinga tatkala takbir pertama, ruku’, bangkit dari ruku’, dan ketika berdiri dari tasyahhud awal menuju raka’at ketiga<span id="more-845"></span><br />
4. Tambahan dari sekali tasbih dalam tasbih ruku’ dan sujud<br />
5. Tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku’<br />
6. Tambahan dari satu permohonan akan maghfirah (yaitu bacaan Rabbighfirlii) Diantara dua sujud<br />
7. Meratakan kepala dengan punggung dalam ruku’<br />
8. Berjauhan antara kedua lengan atas dengan kedua sisi, antara perut dengan kedua paha dan antara kedua paha dengan kedua betis pada waktu sujud<br />
9. Mengangkat kedua siku dari lantai ketika sujud<br />
10. Duduk iftiraasy (duduk di atas kaki kiri sebagai alas dan menegakkan kaki kanan) pada tasyahhud awal dan Diantara dua sujud.<br />
11. Duduk tawarruk (duduk pada lantai dan meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan yang tegak) pada tasyahhud akhir dalam shalat tiga atau empat raka’at<br />
12. Mengisyaratkan dengan telunjuk pada tasyahhud awal dan tasyahhud akhir sejak mulai duduk sampai selesai tasyahhud<br />
13. Mendo’akan shalawat dan berkah untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga beliau serta untuk Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan keluarga beliau pada tasyahhud awal<br />
14. Berdo’a pada tasyahhud akhir<br />
15. Mengeraskan (jahr) bacaan pada shalat Fajar (Shubuh), Jum’at, Dua Hari Raya, Istisqaa` (minta hujan), dan pada dua raka’at pertama shalat Maghrib dan ‘Isya`<br />
16. Merendahkan (sirr) bacaan pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, pada raka’at ketiga shalat Maghrib dan dua rakaat terakhir shalat ‘Isya`<br />
17. Membaca lebih dari surat Al-Fatihah.<br />
Demikian juga kita harus memperhatikan apa-apa yang tersebut dalam riwayat tentang sunnah-sunnah selain yang telah kami sebutkan. Misalnya, tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku’ untuk imam, makmum, dan yang shalat sendiri, karena hal itu termasuk sunnah. Meletakkan kedua tangan dengan jari-jari terbuka (tidak rapat) pada dua lulut ketika ruku’ juga termasuk sunnah.<br />
<strong><br />
Penjelasan Sunnah-sunnah Shalat</strong><br />
Ketahuilah bahwa sunnah-sunnah shalat itu ada dua macam:<br />
1. Sunnah-sunnah perkataan<br />
2. Sunnah-sunnah perbuatan</p>
<p>Sunnah-sunnah ini tidak wajib dilakukan oleh orang yang shalat, tetapi jika ia melakukan semuanya atau sebagiannya maka ia akan mendapatkan pahala, sedangkan orang yang meninggalkan semuanya atau sebagiannya maka tidak ada dosa baginya, sebagaimana pembicaraan tentang sunnah-sunnah yang lain (selain sunnah shalat). Namun seharusnya bagi seorang mukmin untuk melakukannya sambil mengingat sabda Al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam,<br />
“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafaa` Ar-Raasyidiin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (HR. At-Tirmidziy dari Al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p><strong>Sunnah-sunnah dalam Shalat itu sebagai berikut:</strong></p>
<p>1. Doa Istiftaah<br />
Dinamakan do’a Istiftaah karena shalat dibuka dengannya.<br />
Diantara doa istiftaah:</p>
<p>سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ<br />
“Maha Suci Engkau Ya Allah dan Maha Terpuji, Maha Berkah Nama-Mu, Maha Tinggi Kemuliaan-Mu, dan tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Engkau.”<br />
Makna Subhaanakallaahumma, “Saya mensucikan-Mu dengan pensucian yang layak bagi Kemuliaan-Mu, Ya Allah.”<br />
Wabihamdika, ada yang mengatakan maknanya, “Saya mengumpulkan tasbih dan pujian bagi-Mu.”<br />
Watabaarakasmuka, maknanya, “Berkah dapat tercapai dengan menyebut-Mu.”<br />
Wata’aalaa jadduka, maknanya, “Maha Mulia Keagungan-Mu.”<br />
Wa laa ilaaha ghairuka, maknanya, “Tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) di bumi maupun di langit selain-Mu.”<br />
Boleh membaca do’a istiftaah dengan do’a yang mana saja yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mustahab (termasuk sunnah) jika seorang muslim melakukan doa istiftaah kadang dengan do’a yang ini, kadang dengan do’a yang itu, agar dia tergolong orang yang melakukan sunnah keseluruhannya (dalam masalah ini).<br />
Diantara do’a-do’a istiftaah yang tersebut dalam riwayat adalah</p>
<p>اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ<br />
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dengan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dengan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju yang putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, es dan embun.”</p>
<p><strong>2. Meletakkan (telapak) tangan kanan di atas (punggung) tangan kiri pada dada saat berdiri sebelum ruku’</strong><br />
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Wa`il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu,<br />
“Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan yang kanan di atas tangan yang kiri.” (HR. Al-Imam Ahmad dan Muslim)<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,<br />
إِنَّا مَعْشَرَ الأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا بِتَعْجِيْلِ فِطْرِنَا وَتَأْخِيْرِ سُحُوْرِنَا وَأَنْ نَضَعَ أَيْمَانَنَا عَلَى شَمَائِلِنَا فِي الصَّلاَةِ<br />
“Sesungguhnya kami, kalangan para Nabi, telah diperintahkan untuk menyegerakan buka puasa kami, mengakhirkan sahur kami, serta agar kami meletakkan tangan kanan kami di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang hasan dari Thawus secara mursal)</p>
<p>Dan masih ada lagi selain cara di atas sebagaimana di terangkan dalam berbagai riwayat. Namun dalam hal ini, pendapat yang terpilih dan rajih adalah meletakkan tangan di atas dada (yaitu tepat di dada, bukan di atas dada mendekati leher), atau yang mendekati dada yaitu di sekitar hati, wallaahu a’lam.<br />
Asy-Syaikh Al-Albaniy menjelaskan bahwa meletakkan kedua tangan di dada inilah yang shahih di dalam sunnah, adapun selain itu riwayatnya dha’if atau laa ashla lahu (tidak ada asalnya), lihat kitab beliau Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam. (bersambung insya Allah). Wallaahu A’lam.</p>
<p>Pada edisi yang lalu telah dijelaskan do’a istiftaah dan meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri pada dada saat berdiri sebelum ruku’, sekarang akan dilanjutkan dengan sunnah-sunnah yang lainnya, yaitu:</p>
<p><strong>3. Mengangkat kedua tangan dengan jari-jarinya yang rapat terbuka (tidak terkepal) setinggi bahu atau telinga tatkala takbir pertama, ruku’, bangkit dari ruku’ dan ketika berdiri dari tasyahhud awal menuju raka’at ketiga</strong></p>
<p>Berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari yang rapat terbuka /tidak terkepal (dan tentunya menghadap ke kiblat).<br />
Juga berdasarkan hadits Abu Humaid radhiyallahu ‘anhu, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan setinggi kedua bahunya.” (HR. Abu Dawud)<br />
Dan hadits Malik bin Huwairits, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga setinggi ujung kedua telinganya.” (Muttafaqun ‘alaih)<br />
Mengangkat kedua tangan adalah isyarat membuka hijab antara seorang hamba dengan Rabbnya, sebagaimana telunjuk mengisyaratkan ke-Esaan Allah ‘azza wa jalla.<br />
Pada Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau berdiri untuk shalat wajib maka beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangan beliau setinggi kedua bahunya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan seperti itu apabila telah selesai dari bacaannya dan hendak ruku’, demikian pula setelah mengangkat kepala dari ruku’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat tangannya sama sekali ketika duduk di dalam shalat. Apabila telah berdiri selesai melakukan dua sujud (maksudnya adalah dua raka’at), maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidziy menshahihkannya).</p>
<p><strong>4. Tambahan dari sekali dalam tasbih ruku’ dan sujud</strong><br />
Sesuai hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan tatkala ruku’, Subhaana rabbiyal ‘azhiim, sedangkan tatkala sujud, Subhaana rabbiyal a’laa. (HR. Abu Dawud)<br />
Boleh juga ditambah dengan wabihamdih. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)<br />
Yang wajib adalah satu kali, sedangkan batas minimal kesempurnaan adalah tiga kali dan maksimalnya sepuluh kali (bagi imam). Sebagaimana dikatakan oleh para ‘ulama, “Bagi imam, batas minimal kesempurnaan adalah tiga kali dan maksimalnya sepuluh kali.”<br />
Boleh juga do’a yang lain seperti dalam hadits Abu Hurairah, bahwa di dalam sujudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,</p>
<p>اللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ كُلَّهُ وَدِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَأَخِرَهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ وَسِرَّهُ<br />
“Ya Allah, ampunilah bagiku dosaku semuanya, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, serta yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.” (HR. Muslim)<br />
Atau memilih do’a yang lain, lihat Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Asy-Syaikh Al-Albaniy.<br />
Jika mau maka boleh berdo’a (dengan bahasa Arab) ketika sujud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
“Adapun ketika sujud, maka perbanyaklah do’a padanya, sebab sangat pantas dikabulkan bagi kalian (dengan keadaan seperti itu).” (HR. Muslim)<br />
Ketahuilah bahwa tidak boleh membaca ayat atau surat Al-Qur`an saat ruku’ dan sujud karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya!! (HR. Muslim)</p>
<p><strong>5. Tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku’</strong><br />
Seperti menambahkan,</p>
<p>مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ<br />
“Sepenuh langit dan sepenuh bumi dan sepenuh semua yang Engkau kehendaki selain itu.” (HR. Muslim)<br />
Jika mau maka boleh menambahkan lagi,</p>
<p>أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ<br />
وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ<br />
“Pemilik pujian dan kemuliaan yang paling pantas untuk dikatakan oleh seorang hamba, semua kami hamba-Mu, Ya Allah, tidak ada penghalang terhadap apa yang Engkau berikan, tidak ada pemberi terhadap apa yang Engkau tahan, dan tidak dapat memberi manfaat selain daripada-Mu.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Abu ‘Awanah)<br />
Boleh juga tanpa wawu Rabbanaa lakal hamdu. (Muttafaqun ‘alaih)<br />
Boleh mengucapkan do’a yang lain yang disebutkan dalam berbagai riwayat, lihat Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>6. Tambahan dari satu permohonan akan maghfirah di antara dua sujud</strong><br />
Yang wajib adalah satu kali sesuai riwayat Hudzaifah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan di antara dua sujud, Rabbighfirlii (Rabbku ampunkanlah aku!). (HR. An Nasa`iy dan Ibnu Majah)</p>
<p><strong>7. Meratakan kepala dengan punggung dalam ruku’</strong><br />
Berdasarkan hadits ‘A`isyah, “Jika ruku’, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggikan kepalanya dan tidak pula menurunkannya, akan tetapi di antara itu.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>8. Berjauhan antara kedua lengan atas dengan kedua sisi, antara perut dengan kedua paha dan antara kedua paha dengan kedua betis pada waktu sujud</strong><br />
<strong><br />
9. Mengangkat kedua siku dari lantai ketika sujud</strong><br />
Berdasarkan hadits tentang sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merapatkan kedua siku ke lantai. (HR. Al Bukhariy dan Abu Dawud)<br />
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua sikunya dari lantai dan menjauhkannya dari dua sisinya sehingga tampak putih ketiaknya dari belakang. (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p><strong>10. Duduk Iftiraasy (duduk di atas kaki kiri sebagai alas dan menegakkan kaki kanan) pada tasyahhud awal dan di antara dua sujud</strong><br />
Berdasarkan hadits riwayat ‘A`isyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan alas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. (HR. Muslim)<br />
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Lalu duduk iftirasy untuk bertasyahhud, meletakkan kedua tangan di atas paha dengan jari-jari tangan kiri dibentangkan dan rapat menghadap Kiblat, sedangkan pada tangan kanannya maka anak jari dan jari manis dikepal, serta jari tengah dilingkarkan dengan ibu jari, lalu bertasyahhud dengan sirr, sementara telunjuk memberi isyarat tauhid.”</p>
<p><strong>11. Duduk tawarruk (duduk dengan pantat menyentuh lantai dan meletakkan kaki kiri di bawah kaki kanan yang tegak) pada tasyahhud akhir dalam shalat tiga atau empat raka’at</strong><br />
Abu Humaid As-Sa’idiy berkata, “Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk pada raka’at terakhir maka beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan yang lain (kanan) serta duduk dengan pantat menyentuh lantai.” (HR. Al-Bukhariy 2/828)<br />
Dan dalam hadits Rifa’ah bin Rafi’ dijelaskan, “Lalu jika kamu telah duduk di pertengahan (akan selesainya) shalat maka thuma’ninahlah, rapatkan ke lantai paha kirimu lalu bertasyahhud.” (HR. Abu Dawud no.860)</p>
<p><strong>12. Mengisyaratkan dengan telunjuk pada tasyahhud awal dan tasyahhud akhir sejak mulai duduk sampai selesai tasyahhud<br />
</strong><br />
<strong>13. Mendo’akan shalawat dan berkah untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga beliau serta untuk Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam dan keluarga beliau pada tasyahhud awal</strong></p>
<p><strong>14. Berdo’a pada tasyahhud akhir</strong><br />
Berdasarkan hadits, “Lalu hendaklah ia memilih do’a yang dia suka.”<br />
Banyak do’a-do’a setelah tasyahhud yang terdapat dalam berbagai riwayat, silahkan meruju’ kitab Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>15. Menjahrkan (mengeraskan) bacaan pada shalat Fajr, Jum’at, Dua Hari Raya, Istisqaa` (minta hujan) dan pada dua raka’at pertama shalat Maghrib dan ‘Isya`</strong></p>
<p><strong>16. Merendahkan (sirr) bacaan pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, pada raka’at ketiga shalat Maghrib dan dua rakaat terakhir shalat ‘Isya`</strong><br />
Al-Imam Ibnu Qudamah berkata, “Telah disepakati akan mustahab-nya menjahrkan bacaan pada tempat-tempat jahr dan mensirrkan pada tempat-tempat sirr, serta kaum muslimin tidak berselisih pendapat tentang tempat-tempatnya. Atas dasar perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jelas pada penukilan ‘ulama khalaf dari ‘ulama salaf.”</p>
<p><strong>17. Membaca lebih dari Al-Fatihah</strong><br />
Al-Imam Ibnu Qudamah berkata, “Membaca surat setelah Al-Fatihah adalah disunnahkan pada dua raka’at (awal) dari semua shalat, kita tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.”</p>
<p><strong>Sunnah-sunnah yang lain dalam Shalat</strong></p>
<p>Termasuk sunnah, yaitu imam menjahrkan takbirnya dan pada saat mengucapkan tasmii’ (sami’allaahu liman hamidah), sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika imam takbir maka bertakbirlah kalian.”<br />
Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika imam mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Rabbanaa walakal hamdu.” (Muttafaqun ‘alaih)<br />
Adapun makmum dan orang yang shalat sendiri, maka mereka mensirrkan kedua ucapan tersebut.<br />
Disunnahkan mengucapkan ta’awwudz secara sirr, dengan mengucapkan A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, atau A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wanafkhihi wanaftsih (aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk, dari semburannya, kesombongannya dan hembusannya). Lalu membaca basmalah dengan sirr (pelan), basmalah tidak termasuk Al-Fatihah, tidak pula surat-surat lainnya (kecuali pada surat An-Naml ayat 30, pent), namun basmalah merupakan satu ayat tersendiri yang berada di awal tiap surat kecuali At-Taubah.</p>
<p>Disunnahkan menulis basmalah di awal tiap kitab sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Sulaiman dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta hendaklah diucapkan di tiap permulaan suatu pekerjaan, sebab ia dapat mengusir syaithan.<br />
Ketika membaca Al-Fatihah disunnahkan untuk berhenti pada tiap ayat sebagaimana cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya, lalu mengucapkan aamiin (Ya Allah, kabulkanlah!) setelah diam sejenak agar diketahui bahwa kata aamiin bukan dari Al-Qur`an. Tidak boleh mengucapkan Rabighfirlii sebelum aamiin, karena tidak ada dalilnya. Imam dan makmum menjahrkan aamiin secara bersamaan pada shalat jahr, setelah itu disunnahkan bagi imam untuk diam sejenak pada shalat jahr berdasarkan hadits Samurah.</p>
<p>Disunnahkan membaca satu surat secara utuh setelah Al-Fatihah (dari awal sampai akhir ayat dalam satu surat) walaupun boleh hanya membaca satu ayat, yang menurut Al-Imam Ahmad mustahab (sunnah/disukai) satu ayat tersebut panjang. Adapun di luar shalat, maka membaca basmalah boleh dengan jahr atau sirr.</p>
<p>Hendaklah surat yang dibaca pada shalat Fajr (Shubuh), surat yang termasuk dalam Thiwaal Al-Mufashshal (surat-surat panjang dari mufashshal), berdasarkan ucapan Aus, “Saya telah menanyakan kepada para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana kalian membagi Al-Qur`an?” Maka masing-masing mereka berkata, “Tiga bagian, lima, tujuh, sembilan, sebelas dan tiga belas, ditambah satu bagian Al-Mufashshal (yang dimulai dari surat Qaaf hingga An-Naas).”<br />
Kemudian pada shalat Maghrib membaca Qishaar Al-Mufashshal (surat-surat pendek dari mufashshal). Adapun pada shalat-shalat yang lain, maka membaca Ausath Al-Mufashshal (yang sedang dari mufashshal) jika tidak ada ‘udzur/halangan, namun jika ada halangan maka membaca yang pendek saja.</p>
<p>Tidak mengapa bagi wanita membaca dengan jahr pada shalat jahr, selama tidak ada laki-laki ajnabiy (yang bukan mahram) yang mendengarkannya.</p>
<p>Adapun orang yang melakukan shalat sunnah di malam hari, maka hendaklah ia memperhatikan maslahat, jika di dekatnya ada orang yang merasa terganggu hendaklah ia sirrkan, adapun jika orang di dekatnya justru memperhatikan bacaannya maka hendaklah ia jahrkan. Tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu ketika shalat malam agar meninggikan sedikit suaranya dan memerintahkan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu agar menurunkan sedikit suaranya.<br />
Hendaklah menjahrkan bacaan pada tempat jahr dan mensirrkannya pada tempat sirr, walaupun tetap sah shalatnya kalau ia melakukan kebalikannya, akan tetapi sunnah lebih berhak untuk diikuti. Adapun tertib ayat, maka wajib diperhatikan karena tertib ayat harus berdasarkan nash.</p>
<p>Termasuk sunnah, berpaling ke kanan dan kiri saat salam, dan hendaklah berpaling ke kiri lebih dalam hingga pipi terlihat. Imam menjahrkan pada salam pertama saja, adapun selain imam maka hendaklah mensirrkan kedua salam itu. Disunnahkan untuk tidak memanjangkan suara saat memberi salam serta berniat dengannya untuk keluar dari (mengakhiri) shalat dan memberi salam kepada malaikat penjaga dan orang-orang yang hadir.</p>
<p>Termasuk sunnah, setelah shalat imam (berbalik) condong ke makmum baik pada sisi kanan atau kirinya, imam tidak lama duduk menghadap Kiblat setelah salam, dan makmum tidak pergi sebelum imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
إِنِّيْ إِمَامُكُمْ فَلاَ تَسْبِقُوْنِيْ بِالرُّكُوْعِ وَلاَ بِالسُّجُوْدِ وَلاَ بِالإِنْصِرَافِ<br />
“Sesungguhnya aku adalah imam kalian, maka janganlah mendahuluiku dalam ruku’, sujud dan pergi.”</p>
<p>Jika ada jama’ah wanita yang ikut shalat, maka hendaklah jama’ah wanita itu keluar terlebih dahulu, sedangkan jama’ah laki-laki tetap pada tempatnya untuk berdzikir agar tidak berpapasan dengan wanita.<br />
Wallaahu A’lam.</p>
<p>Disadur dari Syarh Ad-Duruus Al-Muhimmah li ‘Aammatil Ummah, karya Asy-Syaikh Ibnu Baaz dan Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Asy-Syaikh Al-Abaniy.</p>
<p><strong>Sumber : Bulletin Al Wala wal Bara Edisi ke-27 Tahun ke-3 / 03 Juni 2005 M / 25 Rabi’uts Tsani 1426 H dan Edisi ke-28 Tahun ke-3 / 10 Juni 2005 M / 02 Jumadil Ula 1426 H)</strong></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/845/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=845&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/08/17/mengenal-sunnah-sunnah-dalam-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa Kaum Jin</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/07/21/bahasa-kaum-jin/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/07/21/bahasa-kaum-jin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 14:29:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[gaib]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[mahluk halus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=879</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullahditanya mengenai bahasa kaum jin. Beliau rahimahullah menjelaskan, “Yang nampak, jin memiliki bahasa sebagaimana manusia yaitu bahasa yang beraneka ragam. Di antara mereka ada yang berbahasa Inggris, ada yang berbahasa Perancis, ada yang berbahasa Amerika. Di kalangan kaum Jin ada yang berbahasa non Arab dan ada pula yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=879&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz <em>rahimahullah</em>ditanya mengenai bahasa kaum jin.</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> menjelaskan, “Yang nampak, jin memiliki bahasa sebagaimana manusia yaitu bahasa yang beraneka ragam. Di antara mereka ada yang berbahasa Inggris, ada yang berbahasa Perancis, ada yang berbahasa Amerika. Di kalangan kaum Jin ada yang berbahasa non Arab dan ada pula yang berbahasa Arab karena di antara mereka ada berbagai macam bangsa. Allah berfirman mengenai kaum jin,<span id="more-879"></span></p>
<p align="center">وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا</p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara Kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda</em>.” (QS. Al Jin: 11).</p>
<p>Kaum jin itu ada berkelompok-kelompok sebagaimana firman Allah,</p>
<p align="center">وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ</p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.</em>” (QS. Al Jin: 14)</p>
<p>Kaum jin itu terdapat beberapa kelompok, ada yang baik dan ada yang jahat. Di antara mereka ada yang Jahmi (pengikut Jahmiyah), ada yang Sunni, ada yang Rofidhoh (Syi’ah), ada yang Nashrani, ada yang Yahudi dan lain-lain. Mereka itu berpecah-pecah dalam berbagai kelompok sebagaimana firman Allah,</p>
<p align="center">وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا</p>
<p>“<em>D</em><em>an sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda</em>.” (QS. Al Jin: 11). Yang dimaksud “دُونَ ذَلِكَ” adalah umum, artinya kaum jin sendiri terpecah-pecah menjadi kelompok yang lain.</p>
<p>Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/879/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=879&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/07/21/bahasa-kaum-jin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemacetan lalu lintas sebabkan telat shalat</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/06/29/kemacetan-la-lin-sebabkan-telat-shalat/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/06/29/kemacetan-la-lin-sebabkan-telat-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 09:22:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[jama']]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[taqdim]]></category>
		<category><![CDATA[wajib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=854</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan ; Kami tinggal di kota besar yang (lalu lintasnya) senantiasa padat, terkadang seseorang terjebak dalam kemacetan selama berjam-jam sampai keluar waktu shalat, maka apa yang harus ia lakukan? Dan jika ia memperkirakan bahwa kemacetan tersebut akan panjang, bolehkah baginya menjama’ dua shalat dengan jama’ taqdim?Jawab; Pada asalnya semua shalat itu dikerjakan pada waktunya, Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=854&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan ; Kami tinggal di kota besar yang (lalu lintasnya) senantiasa padat, terkadang seseorang terjebak dalam kemacetan selama berjam-jam sampai keluar waktu shalat, maka apa yang harus ia lakukan? Dan jika ia memperkirakan bahwa kemacetan tersebut akan panjang, bolehkah baginya menjama’ dua shalat dengan jama’ taqdim?<span id="more-854"></span>Jawab; Pada asalnya semua shalat itu dikerjakan pada waktunya, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا” (النساء – 103)”</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman</em>“. (Qs. An-Nisa’; 103) maka yang wajib shalat-shalat tersebut dilakukan pada waktunya seperti yang disyariatkan.</p>
<p>Disini penanya mengatakan bahwa ia tinggal di kota besar yang selalu macet yang seseorang terkadang berada dalam kemacetan berjam-jam lamanya hingga keluar waktu shalat. Ia tidak boleh untuk tetap didalam mobil, sepertinya yang dimaksud si penanya apabila ia tetap didalam mobil, yaitu (hukumnya) tidak boleh baginya untuk tetap di dalam mobil sampai keluar waktu shalat, shalat-shalat tersebut harus dilakukan pada waktunya sebagaimana ayat yang telah kami sebutkan tadi.</p>
<p>Maka apabila terjadi kondisi seperti ini dengan artian ia tetap didalam mobil sampai hampir keluar waktu shalat maka ia harus shalat pada waktunya agar tidak keluar waktu shalat, akan tetapi apakah ia melakukan shalat di dalam mobil atau diluar? Saya jawab, yang benar, jika ia mampu untuk mengerjakan shalat yang diwajibkan di luar mobil dengan menghadap kiblat maka inilah yang wajib ia kerjakan. Dan apabila ia tidak mampu dalam artian kepadatan tersebut (antara kendaraan) menempel rapat (sampai-sampai) ia tidak mampu untuk keluar dan tidak mendapatkan tempat untuk shalat, melakukan ruku’ atau sujud maka jawaban kami untuk keadaan seperti ini adalah, boleh baginya melakukan shalat di atas kendaraannya yakni mobilnya dan disyaratkan baginya menghadap kiblat ketika memulai takbir, kemudian (menyempurnakan –ed) shalatnya kemana pun arah kendaraannya. Maka ruku’nya dengan merunduk dan sujudnya lebih rendah lagi, berdasarkan hadits Ya’la bin Murrah riwayat Al Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan yang lainnya, bahwa Ya’la pernah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam di tempat yang sempit lalu datanglah awan dan tanah pun basah, kemudian tiba waktu shalat, lalu nabi memerintahkan muadzin untuk mengumandangkan adzan, maka ia mengumandangkan adzan dan iqamah dan nabi pun shalat di atas kendaraanya. Ya’la berkata: “<em>Beliau (shalat dengan –ed) merunduk dan sujudnya lebih rendah dari ruku’nya</em>.</p>
<p>Pada hadist ini tidak didapatkan nabi menghadap kiblat, diantara ahlul ilmi ada yang menshahihkannya dan berpendapat dengan hadits ini, diantara mereka yang berpendapat dengan hadits ini adalah Al Imam Ahmad rahimahullah, Ishaq bin Rahawaih dan selainnya dari kalangan ulama. Dan diantara yang menshahihkannya dan mengatakan sanadnya baik adalah Al Imam An-Nawawi dan yang lainnya dan sebagian ahlul ilmi berpendapat akan lemahnya hadits ini diantara mereka adalah Al-Baihaqi. Karena itu mereka tidak mengambil hadist ini. Yang kami maksudkan adalah hendaknya ia mengerjakan sebagaimana yang terdapat didalam hadits Ya’la ini, dan saya katakan: “<em>menghadap kiblat</em> ” hal ini adalah sebagai kehatian-hatian. Dan saya katakan ini sebagai bentuk kehati-hatian, hendaknya ia menghadap kiblat, walaupun hadits Ya’la dan yang lainnya menerangkan nabi tidak menghadap kiblat yakni tidak ada nas yang menyatakan nabi menghadap kiblat. Jika orang tersebut shalat dalam keadaan ini, maka boleh agar tidak sampai keluar waktu shalat. Tetapi kalau ia mendapatkan tempat shalat di luar mobil ia bisa shalat, ruku’ dan sujud di situ maka inilah yang lebih utama dan inilah yang harus ia kerjakan.</p>
<p>Adapun ucapan si penanya jika ia merasa bahwa kemacetan akan lama, apakah ia boleh menjama’ dua shalat secara jama’ taqdim? (Perkaranya) tidak demikian, karena urusan ini kembalinya bukan kepada perasaan, dalam hal ini ada waktu-waktu yang dibatasi oleh syari’at, waktu-waktu tersebut ada awal dan ada akhirnya dengan kata lain ada waktu yang luas dan ada waktu yang sempit, maka dalam kondisi ini ia melihat antara dua waktu ini, seperti yang terdapat dalam hadits Jibril: “<em>Diantara dua waktu ini adalah waktu-waktu shalat, diantara dua waktu ini adalah waktu-waktu shalat</em>“. Jibril shalat bersama nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam sekali diawal waktu dan sekali diakhir waktu setiap shalat, kemudian berkata: “<em>Diantara dua waktu ini adalah waktu-waktu shalat</em>“. Seperti yang datang dalam hadist yang shahih Maka perkaranya tidak kembali kepada perasaan, akan tetapi waktu-waktu (yang membatasinya) apakah ia mengetahui waktu shalat (atau tidak). Dan waktu-waktu tersebut diketahui apakah dengan cara-cara syar’i atau dengan jam dan diantaranya ada yang diketahui dengan perkiraan. Maka ia berupaya untuk shalat pada waktunya. Kondisi ini bagaimanapun bukan udzur yang membolehkan seseorang untuk menjama’ shalat. Sebagaimana yang kalian ketahui jama’ secara terus menerus bukan termasuk sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dari hadits Ibnu Abbas beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam pernah mengerjakannya (jama’) tanpa sebab rasa takut atau hujan. Ibnu Abbas Rad berkata tatkala ditanya (akan hal ini): “<em>Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam tidak ingin memberatkan umatnya” artinya bahwa hal ini (jama’ –ed) boleh dikerjakan sewaktu-waktu yakni jika seseorang membutuhkannya seperi kalau sedang sakit, lelah atau ada penghalang. Adapun keluar untuk urusan-urusan dan kebutuhan (sehari-hari ), hal ini berlangsung terus menerus, bukankah begitu ? Dan ini akan terus berulang, saya khawatir (apabila ia menjama’ dalam kondisi seperti ini ) ia akan mengambil keleluasaan tersebut dan mengulang-ulanginya padahal perbuatan ini bukan sunnah baginya</em>.<em></em></p>
<p>Dikutip dari http://www.ahlussunnah-jakarta.com</p>
<p>Sumber : rec tanyajawab dgn Asy-Syaikh Abdullah Al Bukhari</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/854/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=854&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/06/29/kemacetan-la-lin-sebabkan-telat-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Sejati Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/03/05/cinta-sejati-kepada-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/03/05/cinta-sejati-kepada-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 16:38:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=795</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=795&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hukum Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</strong></p>
<p>Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [XI/523] no: 6632)</p>
<p>Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [I/58] no: 15, dan Muslim dalam Shahih-nya [I/67 no: 69])</p>
<p>Banyak sekali hadits-hadits yang senada dengan dua hadits di atas, yang menekankan wajibnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal itu merupakan salah satu inti agama, hingga keimanan seseorang tidak dianggap sempurna hingga dia merealisasikan cinta tersebut. <span id="more-795"></span>Bahkan seorang muslim tidak mencukupkan diri dengan hanya memiliki rasa cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, akan tetapi dia dituntut untuk mengedepankan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -tentunya setelah kecintaan kepada Allah- atas kecintaan dia kepada dirinya sendiri, orang tua, anak dan seluruh manusia.</p>
<p><strong>Potret Kecintaan Para Sahabat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</strong></p>
<p>Bicara masalah cinta Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa diragukan lagi adalah orang terdepan dalam perealisasian kecintaan mereka kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa? Sebab cinta dan kasih sayang merupakan buah dari perkenalan, dan para sahabat merupakan orang yang paling mengenal dan paling mengetahui kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak mengherankan jika cinta mereka kepada Beliau jauh lebih besar dan lebih dalam dibandingkan kecintaan orang-orang yang datang sesudah mereka.</p>
<p>Di antara bukti perkataan di atas, adalah suatu kejadian yang terekam dalam sejarah yaitu: Perbincangan yang terjadi antara Abu Sufyan bin Harb -sebelum ia masuk Islam- dengan sahabat Zaid bin ad-Datsinah rodhiallahu ‘anhu ketika beliau tertawan oleh kaum musyrikin lantas dikeluarkan oleh penduduk Mekkah dari tanah haram untuk dibunuh. Abu Sufyan berkata, “Ya Zaid, maukah posisi kamu sekarang digantikan oleh Muhammad dan kami penggal lehernya, kemudian engkau kami bebaskan kembali ke keluargamu?” Serta merta Zaid menimpali, “Demi Allah, aku sama sekali tidak rela jika Muhammad sekarang berada di rumahnya tertusuk sebuah duri, dalam keadaan aku berada di rumahku bersama keluargaku!!!” Maka Abu Sufyan pun berkata, “Tidak pernah aku mendapatkan seseorang mencintai orang lain seperti cintanya para sahabat Muhammad kepada Muhammad!” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu Katsir [V/505], dan kisah ini diriwayatkan pula oleh al-Baihaqy dalam Dalail an-Nubuwwah [III/326]).</p>
<p>Kisah lain diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, “Di tengah-tengah berkecamuknya peperangan Uhud, tersebar desas-desus di antara penduduk Madinah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbunuh, hingga terdengarlah isakan tangisan di penjuru kota Madinah. Maka keluarlah seorang wanita dari kalangan kaum Anshar dari rumahnya, di tengah-tengah jalan dia diberitahu bahwa bapaknya, anaknya, suaminya dan saudara kandungnya telah tewas terbunuh di medan perang. Ketika dia memasuki sisa-sisa kancah peperangan, dia melewati beberapa jasad yang bergelimpangan, “Siapakah ini?”, tanya perempuan itu. “Bapakmu, saudaramu, suamimu dan anakmu!”, jawab orang-orang yang ada di situ. Perempuan itu segera menyahut, “Apa yang terjadi dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!” Mereka menjawab, “Itu ada di depanmu.” Maka perempuan itu bergegas menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menarik bajunya seraya berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak akan mempedulikan (apapun yang menimpa diriku) selama engkau selamat!” (Disebutkan oleh al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid [VI/115], dan dia berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dari syaikhnya Muhammad bin Su’aib dan aku tidak mengenalnya, sedangkan perawi yang lain adalah terpercaya.” Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [II/72, 332]).</p>
<p>Demikianlah sebagian dari potret kepatriotan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>Pahala Bagi Orang yang Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</strong></p>
<p>Tentunya cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan suatu ibadah yang amat besar pahalanya. Banyak ayat-ayat Al Quran maupun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan ganjaran yang akan diperoleh seorang hamba dari kecintaan dia kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara dalil-dalil tersebut:</p>
<p>Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi pun shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Rasulullah pun shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [X/557 no: 6171] dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2385])</p>
<p>Adakah keberuntungan yang lebih besar dari tinggal bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya di surga kelak??</p>
<p><strong>Hakikat Cinta Pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Ragam Manusia di Dalamnya</strong></p>
<p>Setelah kita sedikit membahas tentang hukum mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa potret cinta para sahabat kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ganjaran yang akan diraih oleh orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada perkara yang amat penting untuk kita ketahui berkenaan dengan masalah ini, yaitu: bagaimanakah sebenarnya hakikat cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?, bagaimanakah seorang muslim mengungkapkan rasa cintanya kepada al-Habib al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apa saja yang harus direalisasikan oleh seorang muslim agar dia dikatakan telah mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Masalah ini perlu kita angkat, karena di zaman ini banyak orang yang menisbatkan diri mereka ke agama Islam mengaku bahwa mereka telah mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan telah mengagungkannya. Akan tetapi apakah setiap orang yang mengaku telah merealisasikan sesuatu, dapat diterima pengakuannya? Ataukah kita harus melihat dan menuntut darinya bukti-bukti bagi pengakuannya? Tentunya alternatif yang kedua-lah yang seyogyanya kita ambil.</p>
<p><strong>Manusia telah terbagi menjadi tiga golongan dalam memahami makna cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:</strong></p>
<p>1. Golongan yang berlebih-lebihan.<br />
2. Golongan yang meremehkan.<br />
3. Golongan tengah.</p>
<p><strong>Kita mulai dari golongan tengah</strong>, yakni yang benar dalam memahami makna cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Golongan ini senantiasa menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai landasan mereka dalam mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun meneladani para generasi awal umat ini (baca: salafush shalih) dalam mengungkapkan rasa cinta kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena salafush shalih adalah generasi terbaik umat ini, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian generasi sesudah mereka (para tabi’in), kemudian generasi sesudah mereka (para tabi’it tabi’in).” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [V/258-259, no: 2651], dan Muslim dalam Shahih-nya [IV/1962, no: 2533])</p>
<p><strong>Di antara bukti kecintaan mereka yang hakiki kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain:<br />
</strong><br />
a. Meyakini bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar utusan Allah subhanahu wa ta’ala, dan Beliau adalah Rasul yang jujur dan terpercaya, tidak berdusta maupun didustakan. Juga beriman bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang paling akhir, penutup para nabi. Setiap ada yang mengaku-aku sebagai nabi sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pengakuannya adalah dusta, palsu dan batil. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 137, Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaid al-Arba’in an-Nawawiyah, hal 38, Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syeikh Shalih Alu Syaikh, hal 56).</p>
<p>b. Menaati perintah dan menjauhi larangannya. Allah menegaskan,</p>
<p style="text-align:center;">وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا</p>
<p>“<em>Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.</em>” (QS. Al-Hasyr: 7)</p>
<p>c. Membenarkan berita-berita yang beliau sampaikan, baik itu berupa berita-berita yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, karena berita-berita itu adalah wahyu yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala.</p>
<p style="text-align:center;">وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى</p>
<p>“<em>Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)</em>.” (QS. An-Najm: 3-4)</p>
<p>d. Beribadah kepada Allah dengan tata-cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ditambah-tambah ataupun dikurangi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align:center;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu</em>.” (QS. Al-Ahzab: 21)</p>
<p>Juga Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya (III/1344 no 1718).</p>
<p>e. Meyakini bahwa syariat yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setingkat dengan syari’at yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dari segi keharusan untuk mengamalkannya, karena apa yang disebutkan di dalam As Sunnah, serupa dengan apa yang disebutkan di dalam Al Quran (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 138). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):</p>
<p style="text-align:center;">مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ</p>
<p><em>“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah</em>.” (QS. An-Nisa: 80)</p>
<p>f. Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala Beliau masih hidup, dan membela ajarannya setelah beliau wafat. Dengan cara menghafal, memahami dan mengamalkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga menghidupkan sunnahnya dan menyebarkannya di masyarakat.</p>
<p>g. Mendahulukan cinta kepadanya dari cinta kepada selainnya. Sebagaimana kisah yang dialami oleh Umar di atas, akan tetapi jangan sampai dipahami bahwa cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membawa kita untuk bersikap ghuluw (berlebih-lebihan), sehingga mengangkat kedudukan beliau melebihi kedudukan yang Allah subhanahu wa ta’ala karuniakan kepada Nabi-Nya. Sebagaimana halnya perbuatan sebagian orang yang membersembahkan ibadah-ibadah yang seharusnya dipersembahkan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dia persembahkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya: ber-istighatsah (meminta pertolongan) dan memohon kepadanya, meyakini bahwa beliau mengetahui semua perkara-perkara yang ghaib, dan lain sebagainya. Jauh-jauh hari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya agar tidak terjerumus ke dalam sikap ekstrem ini, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan dalam memuji (Isa) bin Maryam, sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka ucapkanlah (bahwa aku): hamba Allah dan rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [VI/478 no: 3445])</p>
<p>h. Termasuk tanda mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah mencintai orang-orang yang dicintainya. Mereka antara lain: keluarga dan keturunannya (ahlul bait), para sahabatnya (Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa, karya al-Qadli ‘Iyadl [II/573], Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah [III/407], untuk pembahasan lebih luas silahkan lihat: Huquq an-Nabi ‘Ala Ummatihi fi Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah, karya Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi [I/344-358]), serta setiap orang yang mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga masih dalam kerangka mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah kewajiban untuk memusuhi setiap orang yang memusuhinya serta menjauhi orang yang menyelisihi sunnahnya dan berbuat bid’ah. (Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa, [2/575], untuk pembahasan lebih lanjut silahkan lihat: Huquq an-Nabi ‘Ala Ummatihi [I/359-361]).</p>
<p><strong>Adapun golongan yang meremehkan</strong> Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah orang-orang yang lalai dalam merealisasikan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak memperhatikan hak-hak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas.</p>
<p>Di antara potret peremehan mereka adalah: Sangkaan mereka bahwa hanya dengan meyakini kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah cukup untuk merealisasikan cinta kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa harus “capek-capek” mengikuti tuntunannya dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Bahkan di antara mereka ada yang belum bisa menerima dengan hati legowo tentang ke-ma’shum-an (dilindunginya) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kesalahan-kesalahan dalam menyampaikan wahyu, sehingga perlu untuk dikritisi. Sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh koordinator JIL, Ulil Abshar Abdalla, “Menurut saya: Rasul Muhammad Saw adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).” (Islam Liberal &amp; Fundamental, Sebuah Pertarungan Wacana, Ulil Abshar Abdalla dkk, hal 9-10).</p>
<p>Ada juga yang merasa berat untuk meyakini bahwa tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa diterapkan di segala zaman, sehingga harus “bergotong royong” untuk menyusun fikih gaya baru, yang digelari Fikih Lintas Agama. Dengan alasan “fiqih klasik tidak mampu lagi menampung perkembangan kebutuhan manusia modern, termasuk soal dimensi hubungan agama-agama.” (Fiqih Lintas Agama, Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis, Nurcholis Madjid dkk, hal: ix).</p>
<p>Di antara bentuk peremehan terhadap Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ulah Koran Denmark “Jyllands-Posten”, pada hari Sabtu, 26 Sya’ban 1426/30 September 2005, dengan memuat karikatur penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhzahumullah wa qatha’a aidiyahum, amien.</p>
<p>Dan masih banyak contoh-contoh nyata lainnya yang menggambarkan beraneka ragamnya kekurangan banyak orang yang menisbatkan diri mereka kepada agama Islam dalam merealisasikan cinta mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang itu semua bermuara pada penyakit tidak dijadikannya Al Quran dan As Sunnah dan pemahaman salaf sebagai barometer dalam mengukur kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>Golongan ketiga</strong> <strong>adalah orang-orang yang ghuluw</strong>, yaitu mereka yang berlebih-lebihan dalam mengungkapkan cinta mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga mereka mengada-adakan amalan-amalan yang sama sekali tidak disyari’atkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak pernah dilakukan oleh salafush shalih yang mana mereka adalah orang-orang yang paling tinggi kecintaannya kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Golongan ketiga ini mengira bahwa amalan-amalan tersebut merupakan bukti kecintaan mereka kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Di antara sikap ekstrem yang mereka tampakkan; berlebihan dalam mengagung-agungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga menyifatinya dengan sifat-sifat yang merupakan hak prerogatif Allah subhanahu wa ta’ala. Di antara bukti sikap ini adalah apa yang ada dalam “Qashidah al-Burdah” yang sering disenandungkan dalam acara peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِي مَنْ أَلُوْذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ العَمِمِ …</p>
<p>فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ</p>
<p>“<em>Wahai insan yang paling mulia (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)!</em></p>
<p><em>Tiada seseorang yang dapat kujadikan perlindungan selain dirimu, ketika datang musibah yang besar…</em></p>
<p><em>Karena kebaikan dunia dan akhirat adalah sebagian kedermawananmu,</em></p>
<p><em>dan sebagian dari ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudz) dan qalam</em>”</p>
<p>(Tabrid al-Buldah fi Tarjamati Matn al-Burdah, M. Atiq Nur Rabbani, hal: 56).</p>
<p>La haula wa la quwwata illa billah… Bukankah kita diperintahkan untuk memohon perlindungan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika tertimpa musibah?? (Lihat: QS. Al An’am: 17 dan At Taghabun: 11). Bukankah kebaikan dunia dan akhirat bersumber dari Allah semata?! Kalau bukan kenapa kita selalu berdo’a: “Rabbana atina fid dun-ya hasanah wa fil akhirati hasanah…” ?? Terus kalau ilmu lauh mahfudz dan ilmu qalam adalah sebagian dari ilmu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas apa yang tersisa untuk Robb kita Allah subhanahu wa ta’ala??!! Inaa lillahi wa inna ilaihi raji’un…</p>
<p>Di antara amalan yang sering dipergunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah merayakan peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai sudah menjadi budaya, hingga timbul semacam ketakutan moral diasingkan dari arena sosial jika tidak mengikutinya. Bahkan ada yang merasa berdosa jika tidak turut menyukseskannya.</p>
<p>Pernahkah terbetik pertanyaan dalam benak mereka: Apakah perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini pernah diperintahkan oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakannya? Atau mungkin salah seorang dari generasi Tabi’in atau Tabi’it Tabi’in pernah merayakannya? Kenapa pertanyaan-pertanyaan ini perlu untuk diajukan? Karena merekalah generasi yang telah dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik umat ini, dan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kabarkan bahwa perpecahan serta bid’ah akan menjamur setelah masa mereka berlalu. Ditambah lagi merekalah orang-orang yang paling sempurna dalam merealisasikan kecintaan kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Merujuk kepada literatur sejarah, kita akan dapatkan bahwa acara maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sekalipun dirayakan pada masa tiga generasi awal umat ini, banyak sekali para ulama kita yang menegaskan hal ini.</p>
<p><strong>Di antara para ulama yang menjelaskan bahwa Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah dikerjakan pada masa-masa itu:<br />
</strong><br />
1. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalany, sebagaimana yang dinukil oleh as-Suyuthi dalam Husn al-Maqshid fi ‘Amal al-Maulid lihat al-Hawi lil Fatawa (I/302).<br />
2. Al-Hafidz Abul Khair as-Sakhawy, sebagaimana yang dinukil oleh Muhammad bin Yusuf ash-Shalihy dalam Subul al-Huda wa ar-Rasyad fi Sirati Khairi al-’Ibad (I/439).<br />
3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim (I/123).<br />
4. Ibnul Qayyim, dalam kitabnya I’lam al-Muwaqqi’in (II/390-391).<br />
5. Al-Imam Tajuddin Umar bin Lakhmi al-Fakihani, di dalam risalahnya: Al-Maurid fi al-Kalami ‘ala al-Maulid, hal: 8.<br />
6. Al-Imam Abu Zur’ah al-Waqi, sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad bin Muhammad bin ash-Shiddiq dalam kitabnya Tasynif al-Adzan, hal: 136.<br />
7. Ibnu al-Haj, dalam kitabnya al-Madkhal (II/11-12, IV/278).<br />
8. Abu Abdillah Muhammad al-Hafar, sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad bin Yahya al-Wansyarisi dalam kitabnya al-Mi’yar al-Mu’rib wa al-Jami’ al-Mughrib ‘an Fatawa Ulama Ifriqiyah wa al-Andalus wa al-Maghrib (VII/99-100).<br />
9. Muhammad Abdussalam asy-Syuqairi, dalam kitabnya as-Sunan wa al-Mubtada’at al-Muta’alliqah bi al-Adzkar wa ash-Shalawat, hal: 139.<br />
10. Ali Fikri, dalam kitabnya al-Muhadharat al-Fikriyah, hal: 128.</p>
<p>Lantas siapakah dan kapankah maulid pertama kali diadakan? Maulid pertama kali dirayakan pada abad ke empat hijriah (kurang lebih empat ratus tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) oleh seorang yang bernama al-Mu’iz lidinillah al-’Ubaidi, salah seorang raja Kerajaan al-Ubaidiyah al-Fathimiyah yang mengikuti paham sekte sesat Bathiniyah (Lihat kesesatan-kesesatan mereka dalam kitab Fadhaih al-Bathiniyah, karya Abu Hamid al-Ghazali, dan Kasyful Asrar wa Hatkul Asrar, karya al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani). Sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.</p>
<p><strong>Di antara para ulama yang mengungkapkan fakta ini:<br />
</strong><br />
1. Al-Imam al-Muarrikh Ahmad bin Ali al-Maqrizi asy-Syafi’i (w 766 H), dalam kitabnya al-Mawa’idz wa al-I’tibar fi Dzikri al-Khuthathi wa al-Atsar (I/490).<br />
2. Al-Imam Tajuddin Umar bin Lakhmi al-Fakihani, di dalam risalahnya: Al-Maurid fi al-Kalami ‘ala al-Maulid, hal: 8.<br />
3. Ahmad bin Ali Al-Qalqasyandi asy-Syafi’i (w 821), dalam kitabnya Shubh al-A’sya fi Shiyaghat al-Insya’ (3/502).<br />
4. Hasan As-Sandubi dalam kitabnya Tarikh al-Ihtifal bi al-Maulid an-Nabawi, hal: 69.<br />
5. Muhammad Bakhit al-Muthi’i (mufti Mesir di zamannya) dalam kitabnya Ahsan al-Kalam fima Yata’allaqu bi as-Sunnah wa al-Bid’ah min al-Ahkam, hal: 59.<br />
6. Ismail bin Muhammad al-Anshari, dalam kitabnya al-Qaul al-Fashl fi Hukm al-Ihtifal bi Maulid Khair ar-Rusul shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal: 64.<br />
7. Ali Mahfudz, dalam kitabnya al-Ibda’ fi Madhar al-Ibtida’, hal: 126.<br />
8. Ali Fikri, dalam kitabnya al-Muhadharat al-Fikriyah, hal: 128.<br />
9. Ali al-Jundi, dalam kitabnya Nafh al-Azhar fi Maulid al-Mukhtar, hal: 185-186.</p>
<p>Apa yang melatarbelakanginya untuk mengadakan perayaan ini? Berhubung mereka telah melakukan pemberontakan terhadap Khilafah Abbasiyah, dan mendirikan negara sendiri di Mesir dan Syam yang mereka namai Al Fathimiyah, maka kaum muslimin di Mesir dan Syam tidak suka melihat tingkah laku mereka, serta cara mereka dalam menjalankan tali pemerintahan, hingga pemerintah kerajaan itu (Bani Ubaid) merasa khawatir akan digulingkan oleh rakyatnya. Maka dalam rangka mengambil hati rakyatnya, al-Mu’iz lidinillah al-’Ubaidi mengadakan acara maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ditambah dengan maulid-maulid lain seperti maulid Fatimah, maulid Ali, maulid Hasan, maulid Husain dan maulid-maulid lainnya. Termasuk perayaan Isra Mi’raj dan perayaan tahun Hijriah. Hingga para ulama zaman itu berjibaku untuk mengingkari bid’ah-bid’ah itu, begitu pula para ulama abad kelima dan abad keenam. Pada awal abad ketujuh kebiasaan buruk itu mulai menular ke Irak, lewat tangan seorang sufi yang dijuluki al-Mula Umar bin Muhamad, kemudian kebiasaan itu mulai menyebar ke penjuru dunia, akibat kejahilan terhadap agama dan taqlid buta.</p>
<p>Jadi, sebenarnya tujuan utama pengadaan maulid-maulid itu adalah rekayasa politis untuk melanggengkan kekuasaan bani Ubaid, dan bukan sama sekali dalam rangka merealisasikan kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataupun kepada ahlul bait!! (Al-Ihtifal bi al-Maulid an-Nabawi, Nasy’atuhu-Tarikhuh-Haqiqatuh-Man Ahdatsuh, Ibrahim bin Muhammad al-Huqail, hal: 5).</p>
<p>Hal lain yang perlu kita ketahui adalah hakikat akidah orang-orang yang pertama kali mengadakan perayaan maulid ini. Dan itu bisa kita ketahui dengan mempelajari hakikat kerajaan Bani Ubaid. Bani Ubaid adalah keturunan Abdullah bin Maimun al-Qaddah yang telah terkenal di mata para ulama dengan kekufuran, kemunafikan, kesesatan dan kebenciannya kepada kaum mukminin. Lebih dari itu dia kerap membantu musuh-musuh Islam untuk membantai kaum muslimin, banyak di antara para ulama muslimin dari kalangan ahli hadits, ahli fikih maupun orang-orang shalih yang ia bunuh. Hingga keturunannya pun tumbuh berkembang dengan membawa pemikirannya, di mana ada kesempatan mereka akan menampakkan permusuhan itu, jika tidak memungkinkan maka mereka akan menyembunyikan hakikat kepercayaannya (Lihat: Ar-Raudhatain fi Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah asy-Syafi’i, (I/198), Mukhtashar al-Fatawa lil Ba’li, hal: 488).</p>
<p>Adapun hakikat orang yang pertama kali mengadakan maulid yaitu al-Mu’iz lidinillah al-’Ubaidi, maka dia adalah orang yang gemar merangkul orang-orang Yahudi dan Nasrani, kebalikannya kaum muslimin dia kucilkan, dialah yang mengubah lafadz azan menjadi “Hayya ‘ala khairil ‘amal”. Yang lebih parah lagi, dia turut merangkul paranormal dan memakai ramalan-ramalan mereka (Lihat: Tarikh al-Islam karya adz-Dzahabi XXVI/350, an-Nujum az-Zahirah fi Muluk al-Mishr wa al-Qahirah karya Ibnu Taghribardi IV/75). Inilah hakikat asal sejarah maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Dan perlu diketahui, bahwa kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah diukur dengan merayakan hari kelahiran beliau atau tidak merayakannya. Bukankah kita juga mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan puluhan ribu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya? Apakah kita juga harus merayakan hari kelahiran mereka semua, untuk membuktikan kecintaan kita kepada mereka? Kalau begitu berapa miliar dana yang harus dikeluarkan? Bukankah lebih baik dana itu untuk membangun masjid, madrasah, shadaqah fakir miskin dan maslahat-maslahat agama lainnya?</p>
<p>Saking berlebihannya sebagian orang dalam masalah ini, sampai-sampai orang yang senantiasa berusaha menegakkan akidah yang benar, rajin sholat lima waktu di masjid, dan terus berusaha untuk mengamalkan tuntunan-tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, tidak dikatakan mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hanya karena dia tidak mau ikut maulid. Sebaliknya setiap orang yang mau ikut maulid, entah dia sholatnya hanya setahun dua kali (idul adha dan idul fitri), atau dia masih gemar maksiat, dikatakan cinta kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah ini salah satu bentuk ketidakadilan dalam bersikap?</p>
<p>Semoga kita semua termasuk orang-orang yang merealisasikan kecintaan yang hakiki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mohon maaf atas segala kekurangan.</p>
<p>Wallahu ta’ala a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Judul Asli : Cinta Sejati Kepada Sang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc.<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<p>Di arsipkan pada: dedykusnaedi.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/795/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/795/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/795/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=795&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2011/03/05/cinta-sejati-kepada-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-sallam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.995345 107.792321</georss:point>
		<geo:lat>-6.995345</geo:lat>
		<geo:long>107.792321</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dosa Meninggalkan Shalat Lima Waktu Lebih Besar Dibandingkan Dosa Berzina</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/09/29/dosa-meninggalkan-shalat-lima-waktu-lebih-besar-dibandingkan-dosa-berzina/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/09/29/dosa-meninggalkan-shalat-lima-waktu-lebih-besar-dibandingkan-dosa-berzina/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 12:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[dosa besar]]></category>
		<category><![CDATA[Fasiq]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Syurga]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=755</guid>
		<description><![CDATA[Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Kita semua pasti tahu bahwa shalat adalah perkara yang amat penting. Bahkan shalat termasuk salah satu rukun Islam yang utama yang bisa membuat bangunan Islam tegak. Namun, realita yang ada di tengah umat ini sungguh sangat berbeda. Kalau kita melirik sekeliling kita, ada saja orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=755&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Kita semua pasti tahu bahwa shalat adalah perkara yang amat penting. Bahkan shalat termasuk salah satu rukun Islam yang utama yang bisa membuat bangunan Islam tegak. Namun, realita yang ada di tengah umat ini sungguh sangat berbeda. Kalau kita melirik sekeliling kita, ada saja orang yang dalam KTP-nya mengaku Islam, namun biasa meninggalkan rukun Islam yang satu ini.<span id="more-755"></span> Mungkin di antara mereka, ada yang hanya melaksanakan shalat sekali sehari, itu pun kalau ingat. Mungkin ada pula yang hanya melaksanakan shalat sekali dalam seminggu yaitu shalat Jum’at. Yang lebih parah lagi, tidak sedikit yang hanya ingat dan melaksanakan shalat dalam setahun dua kali yaitu ketika Idul Fithri dan Idul Adha saja.</p>
<p>Memang sungguh prihatin dengan kondisi umat saat ini. Banyak yang mengaku Islam di KTP, namun kelakuannya semacam ini. Oleh karena itu, pada tulisan yang singkat ini kami akan mengangkat pembahasan mengenai hukum meninggalkan shalat. Semoga Allah memudahkannya dan memberi taufik kepada setiap orang yang membaca tulisan ini.</p>
<p><strong>Para ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar lainnya</strong></p>
<p>Ibnu Qayyim Al Jauziyah <em>–rahimahullah</em>- mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (<em>Ash Sholah</em>, hal. 7)</p>
<p>Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm <em>–rahimahullah</em>- berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (<em>Al Kaba’ir</em>, hal. 25)</p>
<p>Adz Dzahabi –<em>rahimahullah</em>- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).” (<em>Al Kaba’ir</em>, hal. 26-27)</p>
<p><strong>Apakah orang yang meninggalkan shalat, kafir alias bukan muslim?</strong></p>
<p>Dalam point sebelumnya telah dijelaskan, para ulama bersepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar bahkan lebih besar dari dosa berzina dan mencuri. Mereka tidak berselisih pendapat dalam masalah ini. Namun, yang menjadi masalah selanjutnya, apakah orang yang meninggalkan shalat masih muslim ataukah telah kafir?</p>
<p>Asy Syaukani -<em>rahimahullah</em>- mengatakan bahwa tidak ada beda pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun apabila meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib -sebagaimana kondisi sebagian besar kaum muslimin saat ini-, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat (Lihat <em>Nailul Author</em>, 1/369). Mengenai meninggalkan shalat karena malas-malasan dan tetap meyakini shalat itu wajib, ada tiga pendapat di antara para ulama mengenai hal ini.</p>
<p>Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat harus dibunuh karena dianggap telah murtad (keluar dari Islam). Pendapat ini adalah pendapat Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, ‘Amir Asy Sya’bi, Ibrohim An Nakho’i, Abu ‘Amr, Al Auza’i, Ayyub As Sakhtiyani, ‘Abdullah bin Al Mubarrok, Ishaq bin Rohuwyah, ‘Abdul Malik bin Habib (ulama Malikiyyah), pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, pendapat Imam Syafi’i (sebagaimana dikatakan oleh Ath Thohawiy), pendapat Umar bin Al Khothob (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm), Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya.</p>
<p>Pendapat kedua mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dibunuh dengan hukuman had, namun tidak dihukumi kafir. Inilah pendapat Malik, Syafi’i, dan salah salah satu pendapat Imam Ahmad.</p>
<p>Pendapat ketiga mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan adalah fasiq (telah berbuat dosa besar) dan dia harus dipenjara sampai dia mau menunaikan shalat. Inilah pendapat Hanafiyyah. (<em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah</em>, 22/186-187)</p>
<p>Jadi, intinya ada perbedaan pendapat dalam masalah ini di antara para ulama termasuk pula ulama madzhab. Bagaimana hukum meninggalkan shalat menurut Al Qur’an dan As Sunnah? Silakan simak pembahasan selanjutnya.</p>
<p><strong>Pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Al Qur’an</strong></p>
<p>Banyak ayat yang membicarakan hal ini dalam Al Qur’an, namun yang kami bawakan adalah dua ayat saja.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<h4>فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا</h4>
<p><em>“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.”</em> (QS. Maryam: 59-60)</p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (<em>Ash Sholah</em>, hal. 31)</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.</p>
<p>Pada ayat selanjutnya juga, Allah telah mengatakan,</p>
<h4>إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا</h4>
<p><em>“kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.”</em> Maka seandainya orang yang menyiakan shalat adalah mukmin, tentu dia tidak dimintai taubat untuk beriman.</p>
<p>Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,</p>
<h4>فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ</h4>
<p><em>“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.”</em> (QS. At Taubah [9]: 11). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengaitkan persaudaraan seiman dengan mengerjakan shalat. Berarti jika shalat tidak dikerjakan, bukanlah saudara seiman. Konsekuensinya orang yang meninggalkan shalat bukanlah mukmin karena orang mukmin itu bersaudara sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,</p>
<h4>إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ</h4>
<p><em>“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.”</em> (QS. Al Hujurat [49]: 10)</p>
<p><strong>Pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Hadits</strong></p>
<p>Terdapat beberapa hadits yang membicarakan masalah ini.</p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<h4>بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ</h4>
<p><em>“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.”</em> (HR. Muslim no. 257)</p>
<p>Dari Tsauban <em>radhiyallahu ‘anhu</em> -bekas budak Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>-, beliau mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<h4>بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ</h4>
<p><em>“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.”</em> (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat <em>Shohih At Targib wa At Tarhib</em> no. 566).</p>
<p>Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<h4>رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ</h4>
<p><em>“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.”</em> (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi</em>). Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat.</p>
<p><strong>Para sahabat ber-ijma’ (bersepakat) bahwa meninggalkan shalat adalah kafir</strong></p>
<p>Umar mengatakan,</p>
<h4>لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ</h4>
<p>“Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat.”</p>
<p>Dari jalan yang lain, Umar berkata,</p>
<h4>ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ</h4>
<p>“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di <em>Ath Thobaqot</em>, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam kitab <em>Sunan</em>-nya, juga Ibnu ‘Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Irwa’ul Gholil</em> no. 209). Saat Umar mengatakan perkataan di atas tatkala menjelang sakratul maut, tidak ada satu orang sahabat pun yang mengingkarinya. Oleh karena itu, hukum bahwa meninggalkan <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/dosa-meninggalkan-shalat-lima-waktu-lebih-besar-dari-dosa-berzina.html">shalat</a> adalah kafir termasuk ijma’ (kesepakatan) sahabat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab <em>Ash Sholah</em>.</p>
<p>Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq. Beliau mengatakan,</p>
<h4>كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ</h4>
<p>“Dulu para shahabat Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat <em>Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab</em>, hal. 52)</p>
<p>Dari pembahasan terakhir ini terlihat bahwasanya Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’ (kesepakatan) mereka menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam). Itulah pendapat yang terkuat dari pendapat para ulama yang ada.</p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, “Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik).” (<em>Ash Sholah</em>, hal. 56)</p>
<p><strong>Berbagai kasus orang yang meninggalkan shalat</strong></p>
<p><strong>[Kasus Pertama]</strong> Kasus ini adalah meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang, <em>“Sholat oleh, ora sholat oleh.”</em> [Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak shalat juga tidak apa-apa]. Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama.</p>
<p><strong>[Kasus Kedua]</strong> Kasus kali ini adalah meninggalkan shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya. Bahkan ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini berlaku hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama salaf dari shahabat dan tabi’in.</p>
<p><strong>[Kasus Ketiga]</strong> Kasus ini yang sering dilakukan kaum muslimin yaitu tidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga dia kembali ke jalan yang benar. <em>Wal ‘ibroh bilkhotimah</em> [Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya].</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika seorang hamba melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian, maka baginya keimanan sesuai dengan perintah yang dilakukannya. Iman itu bertambah dan berkurang. Dan bisa jadi pada seorang hamba ada iman dan nifak sekaligus. …Sesungguhnya sebagian besar manusia bahkan mayoritasnya di banyak negeri, tidaklah selalu menjaga shalat lima waktu. Dan mereka tidak meninggalkan secara total. Mereka terkadang shalat dan terkadang meninggalkannya. Orang-orang semacam ini ada pada diri mereka iman dan nifak sekaligus. Berlaku bagi mereka hukum Islam secara zhohir seperti pada masalah warisan dan semacamnya. Hukum ini (warisan) bisa berlaku bagi orang munafik tulen. Maka lebih pantas lagi berlaku bagi orang yang kadang shalat dan kadang tidak.” (<em>Majmu’ Al Fatawa</em>, 7/617)</p>
<p><strong>[Kasus Keempat]</strong> Kasus ini adalah bagi orang yang meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman.</p>
<p><strong>[Kasus Kelima]</strong> Kasus ini adalah untuk orang yang mengerjakan shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman,</p>
<h4>وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)</h4>
<p><em>“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.”</em> (QS. Al Maa’un [107]: 4-5) (Lihat <em>Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin Al Albani</em>, 189-190)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sudah sepatutnya kita menjaga shalat lima waktu. Barangsiapa yang selalu menjaganya, berarti telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang sering menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi.</p>
<p>Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –<em>radhiyallahu ‘anhu</em>- mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.”</p>
<p>Imam Ahmad –<em>rahimahullah</em>- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.” (Lihat <em>Ash Sholah</em>, hal. 12)</p>
<p>Oleh karena itu, seseorang bukanlah hanya meyakini (membenarkan) bahwa shalat lima waktu itu wajib. Namun haruslah disertai dengan melaksanakannya (inqiyad). Karena iman bukanlah hanya dengan tashdiq (membenarkan), namun harus pula disertai dengan inqiyad (melaksanakannya dengan anggota badan).</p>
<p>Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan (tashdiq). Namun bukan hanya sekedar membenarkan (meyakini) saja, tanpa melaksanakannya (inqiyad). Kalau iman hanyalah membenarkan (tashdiq) saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya, kaum sholeh, dan orang Yahudi yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (mereka meyakini hal ini sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka semua akan disebut orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).”</p>
<p>Al Hasan mengatakan, “Iman bukanlah hanya dengan angan-angan (tanpa ada amalan). Namun iman adalah sesuatu yang menancap dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan.” (Lihat <em>Ash Sholah</em>, 35-36)</p>
<p>Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga kita dapat mengingatkan kerabat, saudara dan sahabat kita mengenai bahaya meninggalkan shalat lima waktu. <em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris Munandar</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/dosa-meninggalkan-shalat-lima-waktu-lebih-besar-dari-dosa-berzina.html">www.muslim.or.id</a><em> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/755/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/755/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/755/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=755&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/09/29/dosa-meninggalkan-shalat-lima-waktu-lebih-besar-dibandingkan-dosa-berzina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga Dosa Besar</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/08/19/tiga-dosa-besar/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/08/19/tiga-dosa-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 10:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak & Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[Dusta]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[sumpah]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=679</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Tiga Dosa Besar Pada suatu hari, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bermajelis bersama para shahabatnya dan memberikan pelajaran kepada mereka. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan: أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟ “Perhatikanlah (wahai para shahabat), maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=679&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h2>Peringatan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Tiga Dosa  Besar</h2>
</div>
<p>Pada suatu hari, Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>sedang  duduk bermajelis bersama para shahabatnya dan memberikan pelajaran  kepada mereka. Beliau <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>kemudian  mengatakan:</p>
<h2><strong>أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟</strong></h2>
<p><em>“Perhatikanlah (wahai para shahabat), maukah aku tunjukkan kepada  kalian dosa-dosa yang paling besar?”</em><em> </em>Beliau <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakannya tiga  kali. Kemudian para shahabat mengatakan: <em>“Tentu wahai Rasulullah.” <span id="more-679"></span></em></p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun menerangkan:</p>
<h2><strong>الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ  وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ أَوْ قَوْلُ الزُّوْرِ.</strong></h2>
<p><em>“(Dosa-dosa yang paling besar itu adalah) syirik kepada Allah,  durhaka kepada kedua orang tua, dan persaksian palsu (perkataan dusta).” </em>(<strong>HR. Al Bukhari</strong> dan <strong>Muslim</strong> dari  shahabat Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu )</p>
<p>Itulah sepenggal kisah bagaimana Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa  sallam </em>membimbing dan mengajarkan ilmu agama ini kepada para  shahabatnya. Beliau adalah seorang yang sangat bersemangat dalam  mengajarkan segala permasalahan agama ini kepada umatnya.</p>
<p>Beliau mengajarkan kebaikan agar umatnya melakukan kebaikan tersebut.  Dan beliau juga menerangkan beberapa bentuk kejelekan agar umatnya  menjauhi kejelekan tersebut.</p>
<p>Dalam hadits tersebut, secara khusus Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa  sallam </em>menerangkan sekaligus memperingatkan beberapa bentuk  perbuatan dosa yang paling besar. Betapa pentingnya peringatan tersebut  sampai-sampai Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengulanginya  tiga kali. Perbuatan-perbuatan itu adalah:</p>
<p><strong>1. Syirik kepada Allah </strong><strong>‘Azza wa Jalla</strong><strong>.</strong></p>
<p>Para pembaca yang dimuliakan Allah ‘Azza wa Jalla, Allah ‘Azza wa  Jalla adalah Dzat yang Maha Tunggal, Dialah satu-satunya yang  menciptakan alam semesta ini, Dialah satu-satunya Dzat yang memberi  rizki kepada seluruh makhluk-Nya, dan Dialah satu-satunya yang mengatur  alam semesta ini. Maka dari itulah, Allah ‘Azza wa Jalla adalah  satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi, ditujukan kepada-Nya  segala macam permintaan dan do’a, dimintai rizki, dimintai pertolongan  dan perlindungan.</p>
<p>Sangatlah tidak pantas jika seorang hamba beribadah kepada selain  Allah ‘Azza wa Jalla, memohon dan meminta kepada makhluk dengan  permintaan yang tidak mungkin bisa dipenuhi kecuali oleh Allah ‘Azza wa  Jalla saja, seperti rizki, keselamatan, atau menyandarkan nasib hidupnya  kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.</p>
<p>Maka sangatlah tepat ketika Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>memposisikan  syirik ini sebagai dosa yang paling besar, karena seorang yang berbuat  syirik berarti dia telah berbuat lancang dan melampaui batas terhadap  Penciptanya. Menjadikan tandingan / sekutu bagi Allah ‘Azza wa Jalla,  padahal Allah ‘Azza wa Jalla adalah Maha Tunggal dan tidak ada sekutu  baginya. Sungguh ini adalah kezhaliman yang sangat besar sebagaimana  Allah ‘Azza wa Jalla firmankan (artinya):</p>
<p><em>“Sesungguhnya kesyirikan merupakan kezhaliman yang besar.” </em>(<strong>Luqman:  13</strong>)</p>
<p>Betapa zhalimnya ketika seorang muslim menyembelih hewan untuk  kemudian dipersembahkan kepada makhluk yang diyakini memiliki <em>kekuatan </em>sehingga dia akan terhindar dari bencana, padahal Allah ‘Azza wa  Jalla lah satu-satunya Dzat yang mampu untuk mendatangkan bencana.</p>
<p>Dan betapa zhalimnya ketika seorang muslim meminta-minta keselamatan  dan rizki yang lancar kepada orang-orang shalih yang sudah meninggal di  samping kuburannya, padahal Allah ‘Azza wa Jalla sajalah yang mampu  untuk memberikan keselamatan dan rizki kepada makhluk-Nya.</p>
<p>Oleh karena itulah ketika shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu  ‘anhu  bertanya kepada Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p dir="rtl"><strong>أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ ؟</strong></p>
<p><em>“Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?”</em></p>
<p>Beliau <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>menjawab:</p>
<p dir="rtl"><strong>أَنْ تَجْعَلَ لِلّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ.</strong></p>
<p><em>“Engkau menjadikan tandingan bagi Allah (menyekutukan Allah)  padahal Allah lah yang telah menciptakanmu.” </em>(<strong>HR. Al  Bukhari</strong> dan <strong>Muslim</strong>)</p>
<p>Ketika syirik telah diposisikan sebagai dosa yang paling besar, maka  tentunya adzab dan bencana yang akan ditimpakan kepada pelakunya pun  juga sangat besar. Allah ‘Azza wa Jalla mengancam untuk tidak akan  mengampuni pelaku kesyirikan selama dia belum bertaubat ketika  meninggal.</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia  akan mengampuni dosa yang di bawah kesyirikan bagi siapa saja yang  dikehendaki-Nya.” </em>(<strong>An Nisa’: 48</strong>)</p>
<p>Amalan ibadah seseorang yang dikerjakan dengan susah payah dan  kesungguhan yang besar akan hilang nilainya dan sia-sialah apa yang dia  amalkan tadi dengan sebab kesyirikan yang dia lakukan. Yang demikian itu  karena Allah ‘Azza wa Jalla akan menghapus nilai amalan seseorang  manakala dia telah berbuat lancang dengan menyekutukan Allah ‘Azza wa  Jalla dalam ibadah. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan dalam ayat-Nya  (artinya):</p>
<p><em>“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada  (nabi-nabi) sebelummu: jika kamu mempersekutukan (berbuat syirik) kepada  Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk  orang-orang yang merugi.” </em>(<strong>Az Zumar: 65</strong>)</p>
<p>Dan pada akhirnya, sungguh malang nasib seorang yang berbuat syirik  karena tempat tinggal terakhirnya adalah di An Nar (neraka) dan dia  kekal di dalamnya karena Allah ‘Azza wa Jalla telah mengharamkan baginya  untuk masuk ke dalam Al Jannah sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla  firmankan (artinya):</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,  maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Al Jannah, dan tempatnya adalah  An Nar, tidaklah ada bagi orang-orang yang zhalim itu seorang  penolongpun.” </em>(<strong>Al Ma’idah: 72</strong>)</p>
<p>Dan sebagaimana juga yang Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>sabdakan:</p>
<p dir="rtl"><strong>مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدٌّا  دَخَلَ النَّارَ.</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan dia berdo’a  (beribadah) kepada selain Allah (sebagai) tandingan / sekutu (bagi  Allah), maka dia akan masuk ke dalam An Nar. </em>(<strong>HR. Al  Bukhari</strong>)</p>
<p><strong>2. Durhaka kepada kedua orang tua</strong></p>
<p>Durhaka kepada kedua orang tua diposisikan sebagai dosa besar setelah  syirik. Yang demikian itu karena perintah untuk berbuat baik kepada  orang tua sering diiringkan dan diletakkan setelah perintah untuk  beribadah dan mengesakan ibadahnya tersebut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.  Ini menunjukkan besarnya hak orang tua untuk mendapatkan perlakuan yang  baik dari anak-anaknya.</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (artinya):</p>
<p><em>“Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya  dengan sesuatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua …” </em>(<strong>An  Nisa’: 36</strong>)</p>
<p>Durhaka kepada kedua orang tua apapun bentuknya merupakan perbuatan  yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya <em>shalallahu  ‘alaihi wa sallam</em>. Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p dir="rtl"><strong>إِنَّ اللهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ  اْلأُمَّهَاتِ …..</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan atas kalian durhaka  kepada para ibu (yakni orang tua), …” </em>(<strong>Muttafaqun ‘Alaihi</strong>).</p>
<p>Ketika kedua orang tua sudah lanjut usia dan lemah, mestinya mereka  mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sungguh-sungguh dari  anak-anaknya. Tetapi apa yang terjadi di masyarakat kita justru  sebaliknya, mereka menitipkan orang tuanya di panti jompo atau yang  semisalnya. Sungguh ini merupakan salah satu bentuk kedurhakaan anak  kepada orang tuanya.</p>
<p>Para pembaca yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla, masih banyak lagi  contoh sikap durhaka anak kepada orang tuanya. Yang terpenting bagi kita  adalah bagaimana kita berusaha mengamalkan perintah Allah ‘Azza wa  Jalla untuk berbuat baik kepada orang tua kita dan menunaikan hak-hak  mereka sebagaimana yang dituntunkan oleh syari’at Islam yang mulia ini.</p>
<p><strong>3. Persaksian palsu atau perkataan dusta</strong></p>
<p>Larangan untuk berkata dusta ini telah Allah ‘Azza wa Jalla firmankan  dalam ayat-Nya yang mulia (artinya):</p>
<p><em>“… maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan  jauhilah perkataan-perkataan dusta.” </em>(<strong>Al Hajj: 30</strong>)</p>
<p>Kalau anda perhatikan ayat tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla  mengiringkan larangan berkata dusta dengan perintah untuk menjauhi  perbuatan syirik dan meninggalkan berhala-berhala yang disembah selain  Allah ‘Azza wa Jalla.</p>
<p>Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa perbuatan syirik merupakan  perkara besar yang diperingatkan dalam agama ini, maka perkataan dusta  juga demikian, karena tidaklah dua perkara disebutkan dalam satu  rangkaian kalimat melainkan di sana terkandung substansi permasalahan  yang tidak jauh berbeda, dan dalam pembahasan kali ini adalah keduanya  sama-sama perbuatan terlarang yang menyebabkan pelakunya terjatuh ke  dalam perbuatan dosa besar. Wallahu A’lam.</p>
<p>Ketika kita membaca Al Qur’an, kita akan mendapati di ayat yang ke 63  dan seterusnya dari surat Al Furqan, di situ disebutkan beberapa ciri  hamba-hamba Allah ‘Azza wa Jalla yang mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya.  Dan di antara ciri dan sifat mereka adalah tidak memberikan persaksian  palsu sebagaimana disebutkan dalam ayat yang ke 72 (artinya):</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu.” </em>(<strong>Al  Furqan: 72</strong>)</p>
<p>Para pembaca yang mulia, mengapa dusta yang kelihatannya perkara  sepele dan diremehkan oleh sebagian manusia itu, ternyata merupakan  salah satu bentuk dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar yang  dilarang dalam agama? Mari kita perhatikan pemaparan berikut.</p>
<p>Berkata dusta tergolong dosa besar karena pangkal dari kejelekan dan  kerusakan yang dilakukan manusia itu bernuara pada perbuatan ini, karena  dusta merupakan amalan yang bisa mengantarkan kepada kejelekan  sebagaimana sabda Nabi ‘Azza wa Jalla:</p>
<p dir="rtl"><strong>وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُحُوْرِ وَإِنَّ  الْفُحُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى  يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً.</strong></p>
<p><em>“Dan sesungguhnya dusta itu bisa mengantarkan kepada kejelekan,  dan kejelekan itu bisa mengantarkan kepada An Nar, dan senantiasa  seseorang itu berbuat dusata sampai dia dicatat di sisi Allah sebagai  pendusta.” </em>(<strong>HR. Al Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Seorang yang berdusta berarti dia telah melanggar salah satu prinsip  penting dalam Islam, karena di antara misi yang diemban Rasulullah <em>shalallahu  ‘alaihi wa sallam </em>dalam mengajarkan Islam adalah menjunjung tinggi  sikap kejujuran. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sufyan  ketika ditanya oleh Heraklius (kaisar Romawi ketika itu) tentang  pokok-pokok ajaran yang dibawa Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p dir="rtl"><strong>اعْبُدُوا اللهَ وَحْدَهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ  شَيْئًا وَاتْرُكُوا مَا يَقُوْلُ آبَاءُكُمْ وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ  وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ.</strong></p>
<p><em>“Beribadahlah kepada Allah satu-satunya dan jangan  menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, tinggalkan ajaran-ajaran nenek  moyangmu (yang tidak baik, pen), beliau juga memerintahkan kepada kami  untuk shalat, </em><strong><em>jujur</em></strong><em>, menjaga diri  dari perbuatan yang haram, dan menyambung tali silaturrahim.” </em>(<strong>Muttafaqun  ‘Alaihi</strong>)</p>
<p>Para pembaca, balasan apa yang pantas untuk dirasakan kepada orang  yang suka berdusta? Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah  bermimpi (dan tentunya mimpi beliau adalah benar), di mana dalam mimpi  tersebut beliau melihat manusia disiksa dengan siksaan yang beragam  sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan. Dan di antara yang beliau  lihat adalah sebagaimana yang dituturkan dalam sabdanya (artinya):</p>
<p><em>“Kemudian kami mendapatkan seseorang yang terlentang, sedangkan  di dekatnya ada seorang yang berdiri dengan memegang semacam gergaji  dari besi, kemudian ia membelah salah satu sisi mukanya yaitu dari mulut  sampai ke tengkuknya, dari hidung sampai ke tengkuknya, dari mata  sampai ke tengkuknya, kemudian pada sisi muka yang lain dengan perlakuan  yang sama dengan sisi muka yang pertama tadi. </em><em>Apabila telah  selesai, maka muka itu utuh kembali dan apabila sudah utuh maka  diperlakukan lagi seperti sebelumnya.”</em></p>
<p>Pada mulanya beliau <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak tahu  apa yang menyebabkan orang tadi disiksa dengan siksaan yang seperti itu.  Kemudian dikatakanlah kepada beliau <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p dir="rtl"><strong>وَأَمَّا الرَّجُلُ الّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ  يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ،  وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ  فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ اْلآفَاقَ.</strong></p>
<p><em>“Dan adapun seorang yang engkau datangi dan dibelah salah satu  sisi mukanya yaitu dari mulut sampai ke tengkuknya, dari hidung sampai  ke tengkuknya, dari mata sampai ke tengkuknya, itu adalah seorang yang  suka membuat berita bohong sampai berita itu tersebar ke mana-mana.”</em></p>
<p>Kisah tersebut merupakan potongan hadits yang panjang diriwayatkan  oleh Al Imam Al Bukhari.</p>
<p>Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla menjauhkan kita dan kaum muslimin  semuanya dari perbuatan tercela ini.</p>
<p><strong>Menjauhi dosa besar, penghapus dosa kecil</strong></p>
<p>Di antara bentuk kasih sayang Allah ‘Azza wa Jalla kepada hamba-Nya  adalah dijadikannya amalan kebaikan itu sebagai penghapus dari amalan  kejelekan. Setiap amalan shalih yang dikakukan oleh seorang muslim, maka  amalannya tadi akan menghapus dosa dan kesalahan yang dia lakukan.  Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (artinya):</p>
<p><em>“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan  (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” </em>(<strong>Hud: 114</strong>)</p>
<p>Oleh karena itulah Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p dir="rtl"><strong>وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا</strong></p>
<p><em>“Dan iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya (kebaikan  tadi) akan menghapuskannya.” </em>(<strong>HR. At Tirmidzi</strong>)</p>
<p>Dan di antara bentuk kebaikan pada diri seorang hamba adalah dia  menjauhi perbuatan-perbuatan yang tergolong dosa besar. Lihatlah wahai  pembaca, sebatas dia menjauhi dan tidak melakukan dosa besar, sudah  terhitung baginya kebaikan yang akan menghapus dosa kecil yang pernah  dia lakukan. Inilah bukti rahmah dan kasih sayang Allah ‘Azza wa Jalla  yang telah berfirman dalam kitab-Nya (artinya):</p>
<p><em>“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu  dilarang megerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu  (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Al  Jannah).” </em>(<strong>An Nisa’: 31</strong>)</p>
<p>www.assalafy.org</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/679/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=679&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/08/19/tiga-dosa-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wudhunya Batal Saat Berada di Shaf Pertama dan Tidak Bisa Keluar dari Masjid</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/07/22/wudhunya-batal-saat-berada-di-shaf-pertama-dan-tidak-bisa-keluar-dari-masjid/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/07/22/wudhunya-batal-saat-berada-di-shaf-pertama-dan-tidak-bisa-keluar-dari-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 04:47:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Bathal]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[suci]]></category>
		<category><![CDATA[thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=689</guid>
		<description><![CDATA[Apabila  wudu saya batal, sementara saya berada di shaf pertama di belakang imam, terutama dalam shalat Jumat, Ied atau Taraweh Ramadan. Jika keluar sangat berat, karena banyaknya shaf waktu itu.  Sebagian orang menghalangi berjalan di depannya. Apa yang (harus) saya lakukan? Apakah saya tetap di tempat ataukah menerobos barisan agar dapat keluar dan memperbarui wudu? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=689&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#020202;">Apabila  wudu saya batal, sementara saya  berada di shaf pertama di belakang imam, terutama dalam shalat Jumat,  Ied atau Taraweh Ramadan. Jika keluar sangat berat, karena banyaknya  shaf waktu itu.  Sebagian orang menghalangi berjalan di depannya. Apa  yang (harus) saya lakukan? Apakah saya tetap di tempat ataukah menerobos  barisan agar dapat keluar dan memperbarui wudu?<span id="more-689"></span></span></p>
<p><span style="color:#020202;">Alhamdulillah</span></p>
<p><span style="color:#020202;">Bersuci termasuk syarat sah shalat. Jika      seseorang melakukannya tanpa bersuci, maka tidak dianggap shalat dan  tidak      diterima meskipun dia melakukan semua perbuatan dan perkataan  shalat.</span></p>
<p><span style="color:#020202;">Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam      bersabda:</span></p>
<p><span style="color:#020202;">”Tidak diterima shalat tanpa bersuci.”  (HR.      Muslim, no. 224 dari hadits Ibnu Umar)</span></p>
<p><span style="color:#020202;">Dan sabda sallallahu’alaihi wa sallam:</span></p>
<p><span style="color:#020202;">لاَ      يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى  يَتَوَضَّأَ  (رواه      البخاري، رقم 6440،       ومسلم، رقم 330)</span></p>
<p><span style="color:#020202;">“Allah tidak menerima shalat salah satu di      antara kalian apabila dia berhadats sebelum dia berwudu.” (HR.  Bukhari, no.      6440 dan Muslim, no.  330)</span></p>
<p><span style="color:#020202;">Maka kesuciannya telah batal di tengah      shalat, seharusnya orang yang shalat tersebut keluar dari shalat  untuk      bersuci kembali kemudian mengulangi shalatnya dari awal.</span></p>
<p><span style="color:#020202;">Kalau memungkinkan keluar untuk wudu, dan      mendapatkan shalat berjamaah meskipun hanya satu rakaat, maka dia  harus      keluar agar mendapatkan (shalat) berjamaah. Terutama pada shalat  Jumat.      Tidak mengapa dia melewati barisan shalat, karena sutrah (pembatas  shalat)      imam adalah sutrah bagi orang yang ada di belakangnya. Kalau  hadatsnya di      akhir shalat, dan dia tahu kalau keluar dan berjalan di antara shaf  tidak      memungkinkan untuk mendapatkan shalat berjamaah bersama imam,  sementara      keluarnya sendiri sulit, maka dibolehkan baginya menunggu sampai  selesai      shalat untuk berwudu dan mengulangilagi shalatnya dari awal.</span></p>
<p><span style="color:#020202;">Syekh Shaleh Al-Fauzan hafizahullah ditanya:      “Kalau seseorang shalat di shaf pertama dalam masjid,  lalu wudunya  batal di      tengah shalat, akan tetapi sulit baginya keluar karena banyaknya  shaf di      dalam masjid. Apakah dia menyempurnakan shalat tanpa bacaan, hanya  ruku dan      sujud dan berdiri dalam kondisi diam, atau dia duduk sampai shalat  berakhir      meskipun di tengah shaf?</span></p>
<p><span style="color:#020202;">Beliau menjawab: ‘Yang dianjurkan bagi orang      yang batal wudunya di tengah shalat adalah keluar dari shalat.  Sebagaimana      sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam: “Maka jangan sekali-kali  keluar      (dari shalat) sampai mendengar suara atau mendapatkan (bau) angin.&#8221;  (HR.      Bukhari dalam kitab shahihnya, 1/43) Hadits ini sebagai dalil bahwa  orang      yakin wudunya batal, dia (harus) keluar dan tidak tinggal (diam).</span></p>
<p><span style="color:#020202;">Kalau tidak keluar sebagaimana yang disebutkan karena sempit atau  banyaknya shaf, tidak diperkenankan baginya melanjutkan shalat. Tapi  kalau dia mampu keluar, maka dia (harus) keluar. Hal ini yang didukung  oleh dalil. Kalau dia tidak mampu untuk keluar, maka dia duduk sampai  ada kesempatan baginya untuk keluar. Wallahu ta’ala a’lam.&#8221; (Al-Muntaqa  Min Fatawa Al-Fauzan).</span></p>
<p><span style="color:#020202;"><br />
</span></p>
<p>http://islamqa.com/id/ref/141613</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/689/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=689&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/07/22/wudhunya-batal-saat-berada-di-shaf-pertama-dan-tidak-bisa-keluar-dari-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dosa Besar karena Perkara Shalat</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/06/28/651/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/06/28/651/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 10:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Fir'aun]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Haman]]></category>
		<category><![CDATA[Hisab]]></category>
		<category><![CDATA[kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Qarun]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan mempertaruhkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (Maryam, 9:60) Ibnu Abas berkata: “Makna menyia-nyiakan shalat bukanlah meninggalkan sama sekali. Tapi mengakhirkan dari waktu yang seharusnya.”1. Imam para tabi’in, Sa’id [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=651&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> berfirman:</p>
<p>“<em>Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) <strong>yang menyia-nyiakan shalat</strong> dan mempertaruhkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.</em>” (Maryam, 9:60)</p>
<p>Ibnu Abas berkata: “Makna menyia-nyiakan shalat bukanlah meninggalkan sama sekali. Tapi mengakhirkan dari waktu yang seharusnya.”<a href="#_edn1">1.</a><span id="more-651"></span></p>
<p>Imam para tabi’in, Sa’id bin Musayyib berkata: “Maksudnya adalah orang itu tidak mengerjakan shalat Zhuhur sehingga datang waktu Ashar. Tidak mengerjakan shalat Ashar sehingga datang waktu Maghrib. Tidak shalat Maghrib sampai datang Isya. Tidak shalat Isya sampai menjelang fajar. Tidak shalat Shubuh sampai matahari terbit. Barang siapa mati dalam keadaan terus menerus melakukan hal seperti itu dan tidak bertaubat, maka Allah menjanjikan baginya <strong><em>Ghayy,</em></strong> yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dasarnya lagi sangat tidak enak rasanya.”</p>
<p>Di tempat yang lain Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> berfirman:</p>
<p>“<em>Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lupa akan shalatnya.” </em>(Al-Ma’un:4-5)</p>
<p>Orang-orang yang lupa adalah orang yang lalai dan meremehkan shalat.</p>
<p>Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> tentang orang yang lupa akan shalatnya. Beliau menjawab, ‘<em>Yaitu yang mengakhirkan waktunya</em>.”<a href="#_edn2">2.</a></p>
<p>Mereka disebut orang-orang yang shalat. Namun ketika meremehkan dan mengakhirkan shalat dari waktu yang seharusnya, mereka diancam dengan <em>wail</em>, adzab yang berat. Ada juga yang mengatakan bahwa <em>wail </em>adalah sebuah lembah di neraka Jahannam yang jika gunung-gunung yang ada di dunia sekarang ini dimasukkan ke dalamnya, niscaya akan meleleh semuanya karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi orang-orang yang meremehkan shalat dan mengakhirkannya dari waktunya. Kecuali orang-orang yang bertaubat kepada Allah ta‘ala dan menyesal atas kelalaiannya.</p>
<p>Di ayat yang lain Allah berfirman, “<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”</em> (Al-Munafiqun:9)</p>
<p>Para mufasir menjelaskan, “<em>Maksud ‘mengingat Allah’ dalam ayat ini adalah shalat lima waktu. Maka barangsiapa disibukkan oleh harta perniagaannya, kehidupan dunianya, sawah-ladangnya, dan anak-anaknya dari mengerjakan shalat pada waktunya, maka ia termasuk orang-orang yang merugi.” </em>Demikian, dan Nabi <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> pun telah bersabda”</p>
<p>“<em>Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika (shalatnya) rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia.”<a href="#_edn3">3.</a></em></p>
<p>Berkenaan dengan penghuni neraka, Allah berfirman, “<em>Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: ’Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang bathil dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’ Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.”</em> (Al-Muddatstsir:42-48)</p>
<p><em> </em>Nabi <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p><em> </em></p>
<p>“<em>Sesungguhnya ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka telah kafirlah ia.”</em><a href="#_edn4">4.</a></p>
<p>Beliau juga bersabda:</p>
<p>“<em>Batas antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat”</em> <a href="#_edn5">5.</a></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> juga bersabda:</p>
<p>“<em>Barangsiapa tidak mengerjakan shalat ‘Ashar, terhapuslah amalnya.”</em><a href="#_edn6">6.</a></p>
<p>Juga,<em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, sungguh telah lepas jaminan dari Allah.”<a href="#_edn7">7.</a></em></p>
<p>Juga, “<em>Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada yang berhak diibadahi selain Allah) dan mengerjakan shalat serta membayar zakat. Jika mereka telah memenuhinya, maka darah dan hartanya aku lindungi kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya maka itu kepada Allah.”</em><a href="#_edn8">8.</a></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p>“<em>Barangsiapa menjaganya maka ia akan memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat nanti. Sedangkan yang tidak menjaganya tidak akan memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari itu. Pada hari itu ia dikumpulkan bersama Fir’aun, Qarun, dan Ubay bin Khalaf.”</em><a href="#_edn9">9.</a></p>
<p>Umar bin Khatab berkata, “Sesungguhnya tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan shalat.”<a href="#_edn10">10.</a></p>
<p>Sebagian ulama berkata: “Hanya orang yang meninggalkan shalat dikumpulkan dengan empat orang itu karena ia telah menyibukkan diri dengan harta, kekuasaan, pangkat, jabatan, dan perniagaannya dari shalat. Jika ia disibukkan dengan hartanya ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Jika ia disibukkan dengan kekuasaannya ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun. Jika ia disibukkan dengan pangkat/jabatan ia akan dikumpulkan bersama Haman. Dan jika ia disibukkan dengan perniagaannya akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf, seorang pedagang yang kafir di Mekah saat itu.”</p>
<p>Mu’adz bin Jabal meriwayatkan Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam </em>bersabda:</p>
<p>“<em>Barangsiapa meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, telah lepas darinya jaminan dari Allah”</em><a href="#_edn11">11.</a></p>
<p>Umar bin Khatab meriwayatkan, telah datang seseorang bertanya kepada Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em>, “Wahai Rasulullah, amal apakah dalam Islam yang paling dicintai Allah ta’ala?” Beliau menjawab<em>, </em>“<em>Shalat pada waktunya. Barangsiapa meninggalkannya (membiarkan shalatnya terlambat) sungguh ia tidak lagi memiliki dien (agama) lagi, dan shalat itu tiangnya dien”</em><a href="#_edn12">12.</a></p>
<p>Ketika Umar terluka karena tusukan seseorang mengatakan, “Anda tetap ingin mengerjakan shalat, wahai Amiril Mukminin?” “Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan shalat.”, jawabnya. Lalu ia pun mengerjakan shalat meski dari lukanya mengalir<a href="#_edn13">13.</a> darah yang cukup banyak.<a href="#_edn14">14.</a></p>
<p>Abdullah bin Syaqiq -<em>seorang tabi’in-</em> menuturkan, “Tidak ada satu amalan pun yang meninggalkannya dianggap kufur oleh para sahabat selain shalat.”<a href="#_edn15">15.</a></p>
<p>Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang seorang wanita yang tidak shalat, menjawab, “Barangsiapa tidak shalat kafirlah ia.”<a href="#_edn16">16.</a></p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa tidak shalat maka ia tidak mempunyai agama”<a href="#_edn17">17.</a></p>
<p>Ibnu Abas berkata, “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja sekali saja niscaya akan menghadap Allah yang dalam keadaan murka kepadanya.”<a href="#_edn18">18.</a></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam </em>bersabda, “<em>Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyia-menyiakan shalat, Dia tidak akan memperdulikan suatu kebaikan pun darinya.”</em><a href="#_edn19">19.</a></p>
<p>Ibnu Hazm berkata, “Tidaka ada dosa yang lebih besar sesudah syirik selain mengakhirkan shalat dari waktunya dan membunuh seorang mukmin bukan dengan haknya.”</p>
<p>Ibrahim An-Nakha’iy berkata, “Barangsiapa meninggalkan shalat maka telah kafir.” Hal senada diungkapkan oleh Ayyub As-Sikhtiyaniy.</p>
<p>‘Aun bin Abdullah berkata, “Apabila seorang hamba dimasukkan kedalam kuburnya, ia akan ditanya tentang shalatnya sebagai suatu pertama kali yang ditanyakan. Jika baik (shalatnya), baru kemudian amal-amal yang lain diperhitungkan. Sebaliknya jika shalatnya tidak baik, maka tidak ada satu amalan pun yang diperhitungkan (semua amalan dianggap tidak baik).”</p>
<p>Beliau <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam </em>bersabda, “<em>Apabila seorang hamba mengerjakan shalat di awal waktu, shalat itu (diliputi cahaya yang terang) akan naik ke langit sehingga sampai ke’Arsy, lalu shalat memohonkan ampunan bagi yang telah mengerjakannya, begitu seterusnya sampai hari kiamat. Shalat itu berkata (</em>kepada yang mengerjakannya<em>), “Semoga Allah menjagamu sebagaimana kamu menjagaku.” Dan apabila seorang hamba mengerjakan shalat bukan pada waktunya, shalat itu (diliputi kegelapan) akan naik ke langit. Sesampainya di sana ia akan dilipat seperti dilipatnya kain yang usang, lalu dipukulkan ke wajah orang yang telah mengerjakannya. Shalat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakanku.”</em><a href="#_edn20">20.</a></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam </em>bersabda:</p>
<p>“<em>Ada tiga orang yang shalatnya tidak diterima oleh Allah; (pertama) seseorang yang memimpin suatu kaum padahal kaum itu membencinya, (kedua) seseorang yang mengerjakan shalat ketika telah lewat waktunya, dan (ketiga) seseorang yang memperbudak orang yang memerdekakan  diri.”<a href="#_edn21">21.</a></em></p>
<p>Beliau <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam </em>juga bersabda: “<em>Barangsiapa yang menjama’ dua shalat tanpa udzur </em>(alasan yang diterima syara’<em>), sungguh ia telah memasuki pintu terbesar di antara pintu-pintu dosa besar”<a href="#_edn22">22.</a></em></p>
<p>Marilah kita memohon taufiq dan hidayah kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha pemurah dan Maha Pengasih di antara mereka yang mengasihi.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ednref"><span style="text-decoration:underline;">Catatan</span></a><span style="text-decoration:underline;">;</span></p>
<p>1.  Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (16/75), dan As-Suyuthi dalam <em>Ad-Durr Al-Mantsuur </em>(4/498) menambahkan penisbatan perkataan ini kepada Add bin Humaid.</p>
<p><a href="#_ednref">2.</a> <em>Dha’if</em> . Diriwayatkan oleh Al-Uqali (3/377), Ibnu Abi Hakim dalam <em>Al-Ilal </em>(1/187), dan Al-Baihaqi (2/214) dari jalur Ikrimah bin Ibrahim, dia lemah. Semua Ulama bersepakat bahwa ia <em>mauquf</em>, dan ini yang lebih benar.</p>
<p><a href="#_ednref">3.</a> <em>Shahih. </em>Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam <em>Asy_Syu’ab</em> (3016); dari Abu Hurairah, dan ia lemah. Dan diriwayatkan oleh Ath-Thayalisy, Adh-Dhiya, dan selain mereka; Syaikh Al-Albani men-<em>shahih-</em>kannya dalam <em>Ash-Shahihah</em> (1358), dengan berbagai jalur periwayatan dan hadits-hadits penguatnya dengan lafal “<em>Maka apabila shalatnya baik, baik (pula) seluruh amalnya, dan apabila rusak shalatnya, rusak (pula) seluruh amalnya.” </em>Lihat dalam <em>Shahih Al-Jaami” </em>(2573)<em> </em></p>
<p><a href="#_ednref">4</a> . <em>Hasan (baik)</em>. Diriwayatkan oleh Akhmad (5/346), At-Tirmidzi (2621), An-Nasa’i (1/231), Ibnu Majah (1079), Ibnu Hiban (1352), Al-Hakim (1/6-7), Al-Baihaqi dalam <em>Asy-Syu’ab</em> (2538), dan <em>As-Sunan</em> (3/366); dari Buradah. Dan Syaikh Al-Albani menyatakan <em>hasan </em>dalam <em>Shahih Al-Jaami” </em>(4022).<em> </em></p>
<p><a href="#_ednref">5.</a> Diriwayatkan oleh Ahmad (3/370), Muslim(82), At-Tirmidzi (2618), Ibnu Hiban (1451), Al-Baihaqi dalam <em>As-Sunan</em> (3/366), dan <em>Asy’Syu’ab</em> (2536); dari Jabir.</p>
<p><a href="#_ednref">6.</a> <em>Shahih. </em>Diriwayatkan oleh  Ahmad (5/349), Al-Bukhari (553),  An-Nasa’i (1/236), Ibnu Majah (694), Ibnu Hiban (1461), Al-Baihaqi dalam <em>Asy-Syu’ab</em> (2588); dari Buraidah. Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dengan lafal:</p>
<p>“<em>Seakan-akan keluarganya telah terampas”</em></p>
<p><a href="#_ednref">7.</a> <em>Hasan</em>. Diriwayatkan oleh  Ahmad (5/238), Ath-Thabrani dalam <em>Al-Kabir</em> (20/117/233,234) dan ada beberapa hadits penguatnya, yang membuat Syaikh Al-Albani menyataknnya sebagai <em>hasan</em> dalam <em>Shahih At-Targhib</em> (568)</p>
<p><a href="#_ednref">8.</a> Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (25)  dan Muslim (22)  dari Ibnu Umar</p>
<p><a href="#_ednref">9.</a> Isnadnya <em>shahih</em>. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/169), Abd bin Humaid (353), Ad-Darimi (695,698), Ibnu Hiban (1467), Ath-Thahawi dalam  <em>Musykil (Musykil Al-Atsar-</em>ed<em>)</em>(4/229), Ath-Thabrani dalam <em>Al-Ausath</em> (1788), dan Al-Baihaqi dalam <em>Asy-Syu’ab.</em></p>
<p><a href="#_ednref">10.</a> Diriwayatkan oleh Ahmad dalam <em>Masaa’il</em> dengan periwayatan anaknya Abdullah (55),  Ibnu Sa’ad (3/350), Muhammad bin Nashr dalam <em>Ash-Shalaah</em> (925), Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Al-Imaan</em> (103), dan Ad-Daruquthni (2/52), Syaikh Al-Albani berkata: isnadnya <em>shahih </em>menurut syarat keduanya (Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p><a href="#_ednref">11.</a> Telah disebutkan <em>takhrij</em>-nya.</p>
<p><a href="#_ednref">12.</a> Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam <em>Asy-Syu’ab</em> (2550), Al-Baihaqi men-<em>dhaif</em>-kannya, Syaikh Al-Albani dalam <em>Dha’if Al-Jaami’ </em>(170).</p>
<p><a href="#_ednref">13.</a> <em>Yats’abu</em> yaitu mengalirnya darah.</p>
<p><a href="#_ednref">14.</a> Telah disebutkan <em>takhrij</em>-nya.</p>
<p><a href="#_ednref">15.</a> Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Saibah dalam <em>Al-Imaan</em> (137), At-Tirmidzi (2622), Muhammad bin Nashr dalam <em>Ta’Zhim Qadr Ash-Shalaah</em> (948). Syikh Al-Albani men-<em>shahih-</em>kannya dalam <em>Shahih At-Targhib</em> (564).<em> </em></p>
<p><a href="#_ednref">16.</a> Diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah secara <em>marfu’ </em>(Periwayatan sampai kepada Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em>) dengan lafadz ‘<em>faqad kafara </em>(sungguh dia telah kafir).’ Lihat dalam <em>Shahih At-Targhib </em>(230)</p>
<p><a href="#_ednref">17.</a> Diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dalam <em>Ta’zhim Qadr Ash-Shalaah</em>,  Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (2/184), Ath-Thabrani dalam Al-kabir (3/19/1), Syaikh Al-Albani berkata, “<em>Isnad</em>-nya <em>hasan</em>.”</p>
<p><a href="#_ednref">18.</a> Diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr secara <em>mauquf</em> (periwayatan sampai pada sahabat saja) dengan<em> lafazh </em>“<em>faqad kafara (sungguh dia telah kafir).</em>”</p>
<p><a href="#_ednref">19.</a> Al-Iraqi dalam  (?) menisbatkannya pada Ath Thabrani dalam <em>Al-Ausath</em> dari Anas, namun aku belum mendapatkan (?)</p>
<p><a href="#_ednref">20.</a> Diriwayatkan oleh Ath-Thayalisy (hal. 80), Al-Bazzar  (350), Al-Baihaqi dalam <em>Asy-Syu’ab</em> (2871), Al-Khatib (?) dalam <em>takhrij</em>-nya. Hadits ini <em>dha’if.</em> Lihat <em>Dha’if Al-Jaami’</em> (400).</p>
<p><a href="#_ednref">21.</a> Diriwayatkan oleh Abu Dawud (593), dan Ibnu Majah (970). Hadits ini <em>dha’if</em> dengan teks lengkapnya. Lihat Dha’if Al-Jaami’ (119).</p>
<p><a href="#_ednref">22.</a> <em>Dha’if  jiddan</em> (lemah sekali). Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (188), Al-Hakim (1/275) Ath-Thabrani dalam <em>Al-Kabir</em> (11540), dan Abu Ya’la (1/2/139), At-Tirmidzi dan Adz-Dzahabi men-<em>dhaif-</em>kannya, juga Syaikh Al-Albani dalam <em>Dha’if Al-Jaami’</em> (5556). Hadits ini dari Ibnu Abas.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Dikutip dari:</span></p>
<p>1.  Al-Kabaair , <em>Imam Adz-Dzahabii (673H &#8211; 747H)</em>, Maktabah Al-Malik Fahd Al-Wathaniah, Pustaka Arafah-Solo, 2007, KAMPUNG SUNNAH.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/651/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=651&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/06/28/651/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Shaf (Barisan) Shalat yang Terputus oleh Tiang Masjid</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/06/03/hukum-shaf-barisan-shalat-yang-terputus-oleh-tiang-masjid/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/06/03/hukum-shaf-barisan-shalat-yang-terputus-oleh-tiang-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 09:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[antara dua tiang]]></category>
		<category><![CDATA[atsar]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tiang masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=612</guid>
		<description><![CDATA[A). Hadits–hadits tentang larangan memutus shaf dalam sholat Hadits Pertama : Hadits Anas bin Malik Radhiallahu anhu Dari Abdul Hamid bin Mahmud berkata : “Aku sholat bersama Anas bin Malik Radhiallahu anhu pada hari Jum&#8217;at, kami pun terdesak di antara tiang-tiang masjid, maka kami pun maju atau mundur, lalu berkata Anas: (( كنا نتقي هذا [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=612&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong>A). Hadits–hadits tentang larangan memutus shaf dalam sholat</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong><em>Hadits Pertama</em></strong> : Hadits Anas bin Malik <em>Radhiallahu anhu</em></div>
<div>
<p>Dari Abdul Hamid bin Mahmud berkata : “Aku <strong><a href="http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/11/wajibkah-shalat-berjamaah-di-masjid/">sholat</a></strong> bersama Anas bin Malik <em> Radhiallahu anhu</em> pada hari Jum&#8217;at,  kami pun terdesak di antara  tiang-tiang <a href="http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/23/tamu-allah-di-dalam-masjid/"><strong>masjid</strong></a>,  maka kami pun maju atau mundur,  lalu berkata Anas:<br />
(( كنا نتقي هذا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ))<br />
Artinya : &#8220;<em>Kami dahulu menghindari (tiang) ini di zaman Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.&#8221;<span id="more-612"></span></p>
<p><strong>Takhrij Hadits</strong><br />
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1/229),  Abu Dawud (673),   An-Nasaai (2/821) dan dalam Al-Kubra (1/895),   Ibnu Hibban (5/2218),   Al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/793),  Dhiyaa&#8217; dalam Al-Mukhtarah  (6/2287,  2288),  Al-Baihaqi (1/673), (3/104), Abdurrazzaq dalam  Mushannaf-nya (2/2489), Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/7498),  seluruhnya dari jalan Sufyan Ats-Tsauri dari Yahya bin Hani&#8217; bin Urwah  Al-Muradi dari Abdul Hamid bin Mahmud. Dan lafadz di atas berdasarkan  riwayat Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Dhiya&#8217;.</p>
<p>Pada lafadz yang lain, Abdul Hamid berkata:<br />
&#8220;Adalah aku bersama Anas bin Malik  akan menegakkan sholat, lalu mereka  mendesak kami di antara dua tiang (masjid), maka Anas pun mundur setelah kami  sholat beliau berkata : &#8220;<em>Sesungguhnya kami dahulu menghindari ini di  zaman Rasulullah shllallahu alaihi wasallam</em>&#8220;. Lafadz ini berdasarkan  riwayat Al-Baihaqi, Al-Hakim, Abdurrazzaq, dan Dhiya&#8217; dalam satu  riwayatnya.</p>
<p>Pada lafadz lainnya Abdul Hamid menyebutkan:<br />
&#8220;Kami sholat di belakang salah seorang penguasa, maka keadaan berdesakan,  maka kami pun sholat di antara dua tiang. Setelah kami sholat, berkata  Anas bin Malik:<br />
&#8220;<em>Sesungguhnya kami dahulu menghindari ini di zaman Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam</em>&#8220;.</p>
<p><strong>Kedudukan Hadits</strong></p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang SHAHIH, para perawinya adalah perawi yang  tsiqah (terpercaya). Abdul Hamid bin Mahmud Al-Bashri, ada pula yang  mengatakan Kufi telah ditsiqahkan oleh Ad-Daruquthni, An-Nasaai, dan  Ibnu Hibban. Apa yang disebutkan oleh Abdul Haq dalam kitabnya  &#8216;Al-Ahkam&#8221; bahwa beliau seorang yang tidak bisa dijadikan hujjah, adalah  pendapat yang tertolak. Oleh karena itu pendapat ini dibantah oleh Ibnul  Qahthan dan berkata : &#8220;Aku tidak melihat seorang pun menyebutkannya  dalam daftar para perawi yang lemah&#8221;.<br />
Dan hadits ini telah dishohihkan oleh banyak dari kalangan para ulama,  di antaranya:<br />
At-Tirmidzi, berkata: “Hadits ini hadits Hasan Shahih.” Juga dishahihkan  oleh Al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam  Al-Fath, dan Al-Allamah Albani dalam Shahih Abi Dawud (673).</p>
<p><strong><em>Hadits Kedua</em></strong> : Hadits Qurrah bin Iyyas <em>radhiallahu anhu</em></p>
<p>Dari Qurrah bin Iyyas <em>Radhiallahu anhu</em> berkata:<br />
(( كنا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نطرد طردا أن نقوم بين  السواري في الصلاة ))</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Adalah kami di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam  diusir sejauh-jauhnya untuk berdiri di antara tiang-tiang  (masjid) dalam  sholat</em>&#8220;.</p>
<p>Takhrij Hadits<br />
Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1002), Abu Dawud At-Thoyalisi  dalam &#8220;Al-Musnad&#8221; (1073), Ibnu Khuzaimah (1567), Al-Hakim (1/794), Ibnu  Hibban (5/2219), Al-Baihaqi (3/104), At-Thabrani (19/39), Al-Bazzar  dalam Musnad-nya (8/249/3312), seluruhnya dari jalan Harun Abu Muslim  dari Qatadah dari Muawiyah bin Qurrah dari ayahnya Qurroh bin Iyyas <em> radhiallahu anhu.</em><br />
Berkata Al-Bazzar: Hadits ini kami tidak mengetahui yang meriwayatkan  dari Qotadah kecuali Harun Abu Muslim.</p>
<p><strong>Kedudukan Hadits</strong><br />
Dalam sanad ini terdapat seorang perawi bernama Harun bin Muslim, Abu  Muslim Al-Bashri. Abu Hatim Ar-Razi berkata bahwa dia majhul (tidak  dikenal).  Namun telah dikuatkan dengan riwayat sebelumnya yaitu hadits  Anas bin Malik <em>radhiallahu anhu</em>, sehingga hadits ini adalah hadits yang  shahih.Telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim.Dan  Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah as-Shahihah: (1/335).</p>
<p><strong><em>Hadits Ketiga</em></strong> : Hadits Abdullah bin Abbas <em>radhiallahu anhuma</em></p>
<p>Dari Abdullah bin Abbas <em>radhiallahu anhuma</em> berkata : Bersabda Rasulullah  <em>shallallahu alaihi wasallam</em>:<br />
(( عليكم بالصف الأول, وعليكم بالميمنة, وإياكم والصف بين السواري ))<br />
&#8220;<em>Hendaklah kalian berada di shaf yang pertama dan carilah shaf sebelah  kanan, dan jauhilah shaf yang ada di antara tiang-tiang</em>&#8220;.</p>
<p>Takhrij Hadits:<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam al-Kabir (11/12004) dan  dalam Al-Awsath (9/9293), dari jalan Ismail bin Muslim al-Makki dari Abu  Yazid Al-Madini dari Ikrimah dari Ibnu Abbas <em>radhiallahu anhuma</em>.</p>
<p>Kedudukan hadits:<br />
Dalam sanad hadits ini terdapat seorang yang bernama  Ismail bin Muslim  Al-Makki, dia adalah seorang perawi yang dha&#8217;if, bahkan sebagian para  ulama sangat melemahkannya. Oleh karenanya hadits ini dilemahkan oleh  Al-Albani dalam Silsilah Ad-Dha&#8217;ifah (6/2895).</p>
<p><strong>B</strong><strong>). Beberapa Atsar dari para Shahabat</strong></p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>: Atsar Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiallahu anhu</em><br />
Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiallahu anhu bahwa beliau berkata:<br />
(( لا تصفوا بين السواري ))<br />
&#8220;<em>Jangan kalian bershaf di antara tiang-tiang</em>&#8220;</p>
<p>Takhrij Atsar<br />
Atsar ini dikeluarkan oleh Abdurrazzaq (2/2487, 2488), Abu Bakar bin Abi  Syaibah dalam Mushonnaf-nya (2/1750), At-Thabrani dalam Al-Kabir  (9/9293, 9295), Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir (8/2081), Al-Baihaqi  dalam Al-Kubra (3/104), Ibnul Ja&#8217;ad dalam Al-Musnad (1964), seluruhnya  dari jalan Abu Ishaq dari Ma&#8217;dikarib Al-Hamdani berkata : Aku mendengar  Abdullah bin Mas&#8217;ud berkata (&#8220;<em>Jangan kalian bershaf di antara  tiang-tiang</em>&#8220;) Al-Atsar.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>: Atsar Abdullah bin Abbas<br />
Berkata Abdullah bin Abbas <em>radhiallahu anhuma</em>:<br />
((عليكم بميامن الصفوف وإياكم وما بين السواري وعليكم بالصف الأول ))<br />
&#8220;<em>Hendaklah kalian mencari shaf bagian kanan, dan jauhilah shaf di antara  tiang-tiang, dan carilah shaf yang pertama</em>.&#8221;</p>
<p>Takhrij Atsar<br />
Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf (2/2477), dari Ibnu Juraij  berkata: berkata seseorang dari Ibnu Abbas.<br />
Dan diriwayatkan pula oleh Al-Fakihi dalam &#8220;Akhbar Makkah&#8221; (2/1227),  dari jalan Ismail bin Muslim dari Abdul Karim bin Abil Mukhariq dari  Sa&#8217;id bin Jubair berkata: berkata Ibnu Abbas <em>radhiallahu anhuma</em>.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>: Atsar Anas bin Malik<em> radhiallahu anhu</em>.<br />
Berkata Anas bin Malik <em>radhiallahu anhu</em>:<br />
(( نهينا أن نصلي بين الأساطين ))<br />
&#8220;<em>Kami dilarang shalat diantara tiang-tiang</em>&#8220;</p>
<p>Takhrij Atsar<br />
Dikeluarkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam Mushonnaf (2/7499):  telah memberitakan kepada kami Husyaim bahwa dia berkata: Telah  mengabari kami Khalid dari seseorang yang memberitakan padanya dari Anas <em> radhiallahu anhu</em>.</p>
<p><strong><em>Keempa</em></strong>t: Atsar Hudzaifah <em>Radhiallahu anhu</em><br />
عن حذيفة رضي الله عنه أنه كره الصلاة بين الأساطين<br />
“Dari Hudzaifah <em>Radhiallahu anhu</em> bahwa beliau membenci sholat di antara  tiang-tiang.”</p>
<p>Takhrij Atsar<br />
Dikeluarkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam Mushonnaf (2/7501) :  Telah memberitakan kami Fudhoil bin Iyyadh dari Hushain bin Hilal dari  Hudzaifah <em>radhiallahu anhu</em>.</p>
<p><strong>C). Pendapat para Ulama</strong></p>
<p>Dalam hal menjelaskan tentang hukum sholat di antara dua tiang <strong><a href="http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/23/tamu-allah-di-dalam-masjid/">masjid</a></strong>,  ada beberapa hal yang menjadi titik persamaan, dan ada pula yang menjadi  titik perbedaan di kalangan para ulama. Adapun yang menjadi titik  persamaan dan tidak diperselisihkan di kalangan mereka adalah sebagai  berikut:<br />
1). Bolehnya sholat sendiri di antara dua tiang<br />
2). Bolehnya Imam sholat jama&#8217;ah berdiri di antara dua tiang <strong><a href="http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/23/tamu-allah-di-dalam-masjid/">mesjid</a></strong><br />
3). Bolehnya sholat di antara dua tiang apabila jumlah jama&#8217;ah sedikit  yang tidak melewati apa yang terdapat di antara dua tiang tersebut<br />
4). Bolehnya membuat shaf bagi para makmum di antara dua tiang apabila  jumlah jama&#8217;ah terlalu banyak yang apabila mereka tidak sholat di antara  dua tiang akan menyebabkan mereka sholat diluar <a href="http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/23/tamu-allah-di-dalam-masjid/"><strong>mesjid</strong></a><br />
Adapun yang menjadi letak perselisihan adalah: para makmum membuat shaf  di antara dua tiang dalam keadaan memungkinkan bagi mereka   menghindarinya, dan tidak menyebabkan mereka sholat di luar masjid. Maka  inilah yang akan saya jelaskan.</p>
<p>Ketahuilah –semoga Allah merahmati kita semua- bahwa telah terjadi  perselisihan di kalangan para Ulama tentang hukum membuat shaf <a href="http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/11/wajibkah-shalat-berjamaah-di-masjid/"><strong> sholat ber jama&#8217;ah</strong></a> di antara tiang-tiang masjid menjadi dua pendapat :<br />
<strong><em>Pendapat pertama</em></strong> mengatakan : Tidak disukai (makruh). Ini adalah  pendapat Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ibrohim bin Yazid An-Nakha&#8217;i, dan  telah diriwayatkan dari beberapa Shahabat seperti yang telah kita  sebutkan di atas. Dan pendapat ini banyak dikuatkan oleh para ahli  Tahqiq seperti Asy-Syaukani, dan Al-Albani rahimahumullah Ta&#8217;ala.<br />
<strong><em>Pendapat kedua</em></strong> mengatakan:Boleh saja. Dan ini adalah pendapat Abu  Hanifah, Malik, dan Asy-Syafi&#8217;i, Ibnul Mundzir dan diriwayatkan dari  Hasan Al-Bashri,  Ibnu Sirin, Ibrahim At-Taimi, Sa&#8217;id bin Jubair, Suwaid  bin Ghaflah dan pendapat orang-orang Kufah.</p>
<p>Hujjah masing-masing kedua pendapat<br />
<strong><em>Alasan pendapat pertama:</em></strong><br />
a) Dalil-dalil yang shahih yang datang dari Rasulullah <em>shallallahu  alaihi wasallam</em> , yang telah kami sebutkan di atas<br />
b).Beberapa perkataan (atsar) para Shahabat yang telah kita sebutkan  pula dan tidak ada dari kalangan Shahabat yang lain menyelisihi pendapat  tersebut.</p>
<p><strong><em>Alasan pendapat kedua:</em></strong><br />
Pendapat ini berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari  (474) dan Muslim (2358)  dari Abdullah bin Umar <em>radhiallahu anhuma</em> berkata : Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> masuk ke dalam Ka&#8217;bah  bersama Usamah bin Zaid, Bilal, dan Utsman bin Thalhah lalu merekapun  menutupnya.Tatkala mereka membukanya, aku orang yang pertama  memasukinya. Lalu aku bertemu Bilal, maka aku bertanya kepadanya: “Apakah  Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> sholat didalamnya?”, beliau  menjawab : “<em>Iya, di antara dua tiang depan</em>.&#8221;<br />
Dalam riwayat yang lain : &#8220;Beliau jadikan satu tiang sebelah kanannya,  dan satu tiang sebelah kirinya.&#8221;<br />
Kata mereka : Ini menunjukkan boleh shalat di antara dua tiang secara  mutlak tanpa membedakan antara shalat sendiri ataupun sholat jama&#8217;ah.</p>
<p><em><strong>Bantahan terhadap pendapat yang kedua</strong></em><br />
Tidak ada hujjah bagi pendapat kedua dari hadits tersebut, sebab hadits  ini hanyalah menjelaskan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wasallam</em> sholat di antara dua tiang dalam keadaan sendiri, dan bukan sholat  jama&#8217;ah, sehingga berhujjah dengan hadits ini dalam permasalahan yang  diperselisihkan bukanlah pada tempatnya. Berkata Asy-Syaukani  <em>rahimahullah Ta&#8217;ala</em>: &#8220;Larangan tersebut khusus berkenaan tentang  sholatnya para makmum di antara tiang-tiang, bukan sholatnya Imam  ataukah sholat sendiri. Dan inilah yang terbaik untuk dikatakan, dan apa  yang terdahulu dalam mengkiaskan para makmum dengan (sholatnya) Imam  dan (sholat) sendiri adalah qiyas yang rusak, karena bertentangan dengan  hadits-hadits bab ini (tersebut diatas).&#8221; (Nailul Authaar,  Asy-Syaukani:3/187).</p>
<p>Maka, kuatlah pendapat pertama yang mengatakan makruhnya membuat shaf  bagi para makmum di antara tiang-tiang masjid. Bahkan Asy-Syaukani  <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwa dzahir dari hadits tersebut menunjukkan  HARAMNYA. (Nailul Authar:3/186).</p>
<p><strong>Hikmah larangan membuat shaf di antara tiang-tiang</strong><br />
Telah disebutkan oleh para ulama, di antaranya Ibnul Arabi, Al-Baihaqi,  Imam Ahmad, dan sebagian dari kalangan Hanabilah seperti Ibnu Muflih,  Al-Mardawi, Ibnu Qudamah, dan yang lainnya bahwa hikmah dilarangnya  membuat shaf di antara tiang-tiang masjid adalah disebabkan karena hal  tersebut menyebabkan terputusnya shaf shalat. Sedangkan merupakan suatu  hal yang dituntut dalam barisan sholat adalah rapat, dan tidak terputus.  Maka apabila shaf tersebut diputus oleh tiang-tiang masjid, maka  menyebabkan hilangnya salah satu tujuan bershaf yaitu merapatkannya,  sehingga menyatukan jasad kaum muslimin antara satu yang lainnya yang  mengantarkan kepada menyatunya pula hati-hati mereka.</p>
<p>Telah bersabda Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em>:<br />
ــ  أقيموا الصفوف فإنما تصفون بصفوف الملائكة و حاذوا بين المناكب و  سدوا الخلل و لينوا بأيدي إخوانكم و لا تذروا فرجات للشيطان و من وصل صفا  وصله الله و من قطع صفا قطعه الله عز و جل  .<br />
&#8220;<em>Luruskanlah shaf-shaf kalian, sesungguhnya kalian bershaf seperti  shaf-shaf-nya para malaikat, dan sejajarkanlah di antara pundak-pundak  kalian, tutuplah yang kosong, lembutlah pada tangan saudara kalian dan  jangan kalian biarkan adanya lubang-lubang syaithan. Barangsiapa yang  menyambung shaf, maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya), dan  barangsiapa yang memutus shaf, maka Allah akan memutusnya (menjauhkan  dari rahmat-Nya)</em>.&#8221;<br />
(HR.Ahmad, Abu Dawud, Thabrani, dari hadits Abdullah bin Umar  <em>radhiallahu anhuma</em>. Dishahihkan Al-Albani rahimahullah dalam Shahih  Al-Jami&#8217;, no:1187).</p>
<p>Abu Dawud berkata : “Aku telah bertanya kepada Imam Ahmad tentang shalat  di antara tiang-tiang”, maka beliau menjawab : “<em>Sesungguhnya hal itu  dibenci sebab membuat shaf terputus. Maka apabila berjauhan di antara  kedua tiangnya maka aku berharap (tidak mengapa)</em>.” (Kendati demikian,  untuk mencegah shaf di antara dua tiang menjadi penuh  karena kedatangan yang masbuk, maka  membentuk shaf di antara dua tiang sebaiknya tetap dihindari-<em>admin.)</em><br />
Oleh karena sebab terputusnya shaf sholat tersebut, maka termasuk  pelanggaran yang terdapat di sebagian masjid, terdapatnya mimbar yang  terlalu panjang yang menyebabkan terputusnya shaf pertama. Sehingga  pelanggaran dengan sebab mimbar tersebut dari dua perkara:<br />
Pertama: Menyelisihi mimbar Nabi<em> shallallahu alaihi wasallam</em> yang hanya  terdiri dari tiga anak tangga<br />
Kedua: Menyebabkan terputusnya shaf sholat<br />
(lihat kitab: Ats-Tsamar Al-Mustathab:1/413)</p>
<p>Semoga Allah memberikan hidayah kepada kaum muslimin untuk beramal  dengan sunnah Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em>, dan menyatukan  mereka di atasnya. Amin.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Maraji</span>:<br />
1). Shahih Bukhari<br />
2). Shahih Muslim<br />
3). Jami&#8217; Tirmidzi<br />
4). Sunan Abi Dawud<br />
5). Sunan An-Nasaai<br />
6). Sunan Ibnu Majah<br />
7). Al-Ihsan litartib Shahih Ibnu Hibban<br />
8). Mustadrak Al-Hakim<br />
9). Sunan Kubra, Al-Baihaqi<br />
10). Sunan Kubra, An-Nasaai<br />
11). Al-Mukhtarah, Dhiyaa&#8217;<br />
12). Mushannaf Abdurrazzaq<br />
13). Mushannaf Ibnu Abi Syaibah<br />
14). Shahih Ibnu Khuzaimah<br />
15). Musnad Abi Dawud At-Thayalisi<br />
16). Mu&#8217;jam Kabir, At-Thabrani<br />
17). Musnad Al-Bazzar<br />
18). Mu&#8217;jam Ausath, At-Thabrani<br />
19). Tarikh Kabir, Imam Bukhari<br />
20). Akhbar Makkah, al-Fakihi<br />
21). Musnad Ibnul Ja&#8217;ad<br />
22). Tahdzib At-Tahdzib, Ibnu Hajar Al-Asqalani<br />
23). Taqrib Attahdzib, Ibnu Hajar<br />
24). Nailul Authar, Asy-Syaukani<br />
25). Al-Mughni, Ibnu Qudamah<br />
26). Al-Mubdi&#8217;, Ibnu Muflih<br />
27). Al-Inshaf, Al-Mardawi<br />
28). Ats-Tsamar al-Mustathab, Al-Albani<br />
29). Asyarhul Mumti&#8217;, Ibnu Utsaimin<br />
30). Silsilah As-shohihah, Al-Albani<br />
31). Silsilah Ad-Dho&#8217;ifah, Al-Albani<br />
32). Shahih Al-Jami&#8217;, Al-Albani<br />
33). Shahih Abi Dawud, Al-Albani</p>
</div>
<div><em>Dikutip dari tulisan:</em> Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi,  <em> judul asli</em> HUKUM SHAF (BARISAN) SHOLAT YANG TERPUTUS OLEH TIANG <strong><a href="http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/23/tamu-allah-di-dalam-masjid/">MESJID</a></strong> DAN YANG SEMISALNYA,  www.salafy.or.id</div>
<div><em>Diarsipkan oleh/pada</em>: dedykusnaedi.wordpress.com</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/612/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=612&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/06/03/hukum-shaf-barisan-shalat-yang-terputus-oleh-tiang-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Menyingkat Penulisan Shalawat  Dengan &#8220;SAW&#8221;</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/06/01/hukum-menyingkat-penulisan-shalawat-dengan-saw/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/06/01/hukum-menyingkat-penulisan-shalawat-dengan-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 23:15:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Salam]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[wasilah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=594</guid>
		<description><![CDATA[Penulisan shalawat kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) tidak selayaknya untuk disingkat dengan ‘SAW’ atau yang semisalnya. Termasuk dalam hukum ini juga adalah penulisan subhanahu wata’ala disingkat menjadi SWT, radhiyallahu ‘anhu menjadi RA, ‘alaihissalam menjadi AS, dan sebagainya. Berikut penjelasan Al-Imam Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah disertai dengan perkataan ulama salaf terkait dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=594&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulisan  shalawat kepada Nabi (<em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>) tidak  selayaknya untuk disingkat dengan ‘SAW’ atau yang semisalnya. Termasuk  dalam hukum ini juga adalah penulisan <em>subhanahu wata’ala</em> disingkat menjadi SWT, <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menjadi RA, <em>‘alaihissalam</em> menjadi AS, dan sebagainya. Berikut penjelasan Al-Imam Asy-Syaikh  ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz <em>rahimahullah</em> disertai dengan  perkataan ulama salaf terkait dengan permasalahan ini.<span id="more-594"></span></p>
<p>Sebagaimana  shalawat kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> itu  disyari’atkan ketika tasyahhud di dalam shalat, disyari’atkan pula di  dalam khuthbah-khuthbah, do’a-do’a, istighfar, setelah adzan, ketika  masuk masjid dan keluar darinya, ketika menyebut nama beliau, dan di  waktu-waktu yang lain, maka shalawat ini pun juga ditekankan ketika  menulis nama beliau, baik di dalam kitab, karya tulis, surat, makalah,  atau yang semisalnya.</p>
<p>Dan yang  disyari’atkan adalah shalawat tersebut ditulis secara sempurna sebagai  realisasi dari perintah Allah <em>ta’ala</em> kepada kita, dan untuk  mengingatkan para pembacanya ketika  melalui bacaan shalawat tersebut.</p>
<p>Tidak seyogyanya  ketika menulis shalawat kepada Rasulullah dengan singkatan ‘SAW’[1]  atau yang semisal dengan  itu, yang ini banyak dilakukan oleh sebagian penulis dan pengarang,  karena yang demikian itu terkandung penyelisihan terhadap perintah  Allah <em>subhanahu wata’ala</em> di dalam kitabnya yang mulia:</p>
<p><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ  آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا</strong><strong>.</strong></p>
<p><em>“Hai  orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah  salam penghormatan kepadanya.”</em> (<strong>Al-Ahzab: 56</strong>)</p>
<p>Bersamaan dengan  itu tidaklah tercapai dengan sempurna maksud disyari’atkannya shalawat  dan hilanglah keutamaan yang terdapat pada penulisan <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em> dengan sempurna. Dan bahkan terkadang pembaca  tidak perhatian dengannya atau tidak paham maksudnya (jika hanya ditulis  ‘SAW’)[2]. Dan perlu diketahui bahwa  menyingkat shalawat dengan singkatan yang seperti ini telah dibenci oleh  sebagian ahlul ‘ilmi dan mereka telah memberikan peringatan agar  menghindarinya.</p>
<p>Ibnush Shalah di  dalam kitabnya ‘Ulumul Hadits’ atau yang dikenal dengan ‘Muqaddamah  Ibnish Shalah’ pada pembahasan yang ke-25 tentang ‘penulisan hadits dan  bagaimana menjaga kitab dan mengikatnya’ berkata:</p>
<p>“Yang  kesembilan: hendaknya menjaga penulisan shalawat dan salam kepada  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> ketika menyebut nama  beliau dan jangan merasa bosan untuk mengulanginya (penulisan shalawat  tersebut) jika terulang (penyebutan nama beliau) karena sesungguhnya hal  itu merupakan faidah terbesar yang tergesa-gesa padanya para penuntut  hadits dan para penulisnya (sehingga sering terlewatkan, <em>pent</em>).  Dan barangsiapa yang melalaikannya, maka sungguh dia telah terhalangi  dari keberuntungan yang besar. Dan kami melihat orang-orang yang  senantiasa menjaganya mengalami mimpi yang baik, apa yang mereka tulis  dari shalawat itu merupakan do’a yang dia panjatkan dan bukan perkataan  yang diriwayatkan. Oleh sebab itu tidak ada kaitannya dengan  periwayatan, dan tidak boleh mencukupkan dengan apa yang ada di dalam  kitab aslinya.</p>
<p>Demikian juga  pujian kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em> ketika menyebut nama-Nya  seperti <em>‘azza wajalla</em>, <em>tabaraka wata’ala</em>, dan yang  semisalnya.”</p>
<p>Sampai kemudian  beliau mengatakan:</p>
<p>“Kemudian  hendaknya ketika menyebutkan shalawat tersebut untuk menghindari dua  bentuk sikap mengurangi. Yang pertama, ditulis dengan mengurangi  tulisannya, berupa singkatan dengan dua huruf atau yang semisalnya. Yang  kedua, ditulis dengan mengurangi maknanya, yaitu dengan tanpa  menuliskan <em>‘wasallam’</em>.</p>
<p>Diriwayatkan  dari Hamzah Al-Kinani <em>rahimahullahu ta’ala</em>, sesungguhnya dia  berkata:</p>
<p>“Dahulu saya  menulis hadits, dan ketika menyebut Nabi, saya menulis <em>’shallallahu  ‘alaihi’</em> tanpa menuliskan <em>‘wasallam’</em>. Kemudian saya  melihat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> di dalam mimpi, maka  beliau pun bersabda kepadaku: ‘Mengapa engkau tidak menyempurnakan  shalawat kepadaku?’ Maka beliau (Hamzah Al-Kinani) pun berkata: ‘Setelah  itu saya tidak pernah menuliskan <em>’shallallahu ‘alaihi’</em> kecuali  saya akan tulis  pula <em>‘wasallam’</em>.</p>
<p>Ibnush Shalah  juga berkata:</p>
<p>“Saya katakan:  Dan termasuk yang dibenci pula adalah mencukupkan dengan kalimat <em>‘alaihis  salam’</em>, wallahu a’lam.”</p>
<p>-Selesai maksud  dari perkataan beliau <em>rahimahullah</em> secara ringkas-.</p>
<p>Al-’Allamah  As-Sakhawi <em>rahimahullahu ta’ala</em> di dalam kitabnya ‘Fathul  Mughits Syarhu Alfiyatil Hadits lil ‘Iraqi’ berkata:</p>
<p>“Jauhilah -wahai  para penulis- dari menyingkat shalawat dan salam kepada Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em> pada tulisan engkau dengan dua huruf atau yang  semisalnya sehingga penulisannya menjadi kurang sebagaimana yang  dilakukan oleh Al-Kattani dan orang-orang bodoh dari kebanyakan kalangan  anak-anak orang ‘ajam dan orang-orang awam dari kalangan penuntut ilmu.  Mereka hanya menuliskan “ص”, “صم”, atau “صلم” sebagai ganti <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.  Yang demikian itu di samping mengurangi pahala karena kurangnya  penulisannya, juga menyelisihi sesuatu yang lebih utama.”</p>
<p>As-Suyuthi <em>rahimahullah</em> di dalam kitabnya ‘Tadribur Rawi fi Syarhi Taqribin Nawawi’ berkata:</p>
<p>“Dan termasuk  yang dibenci adalah menyingkat shalawat atau salam di sini dan di setiap  tempat/waktu yang disyari’atkan padanya shalawat, sebagaimana yang  diterangkan dalam Syarh Shahih Muslim dan yang lainnya berdasarkan  firman Allah <em>ta’ala</em>:</p>
<p><strong>“&gt;</strong><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ  آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا</strong><strong>.</strong></p>
<p><strong><em>“</em></strong><em>Hai orang-orang yang beriman,  bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.”</em> (<strong>Al-Ahzab: 56</strong>)”</p>
<p>Beliau juga  berkata:</p>
<p>“Dan dibenci  pula menyingkat keduanya (shalawat dan salam) dengan satu atau dua huruf  sebagaimana orang yang menulis “صلعم”, akan  tetapi seharusnya dia menuliskan keduanya dengan sempurna.”</p>
<p>-Selesai maksud  perkataan beliau <em>rahimahullah</em> secara ringkas-.</p>
<p>Asy-Syaikh bin  Baz kemudian mengatakan:</p>
<p>Dan wasiatku  untuk setiap muslim, para pembaca, dan penulis agar hendaknya mencari  sesuatu yang afdhal (lebih utama) dan sesuatu yang padanya ada ganjaran  dan pahala yang lebih, serta menjauhi hal-hal yang membatalkan atau  menguranginya.</p>
<p>Kita memohon  kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em> agar memberikan taufiq untuk  kita semua kepada sesuatu yang diridhai-Nya. Sesungguhnya Dia Maha  Pemurah dan Maha Mulia.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>[1]. Dalam  tulisan Arab, penyingkatan shalawat ini biasanya dengan huruf  ص, صلم,  atau صلعم.</p>
<p>[2]. Dan ini  terkadang kita jumpai, seseorang yang membaca singkatan ini (SAW atau  SWT dan yang lainnya), dia hanya mengeja huruf-huruf tersebut tanpa  melafazhkan <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> maupun <em>subhanahu  wata’ala</em>. Mungkin dia sengaja melakukannya walaupun tahu maksud  SAW/SWT, atau bahkan mungkin juga dia tidak tahu maksud singkatan  tersebut. Wallahul Musta’an.</p>
<p>(Majmu’  Fatawa wa Rasa’il Al-Imam Ibni Baz, II/397-399)</p>
<p>Diterjemahkan  dari: <a href="http://sahab.net/home/index.php?Site=News&amp;Show=871">http://sahab.net/home/index.php?Site=News&amp;Show=871</a></p>
<p><em>Sumber :  http://www.assalafy.org</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/594/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=594&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/06/01/hukum-menyingkat-penulisan-shalawat-dengan-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bila Aqidah dan Tauhid Dianggap Kulit Agama.</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/05/26/bila-aqidah-dan-tauhid-dianggap-kulit-agama/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/05/26/bila-aqidah-dan-tauhid-dianggap-kulit-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 10:24:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kulit]]></category>
		<category><![CDATA[muslimin]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=575</guid>
		<description><![CDATA[Perhatian umat untuk memperbaiki kondisi kaum muslimin yang terbelakang dan senantiasa banyak menelan kekalahan sebenarnya cukup tinggi. Lihatlah, demikian banyak tokoh atau kelompok yang berupaya melakukan perbaikan dengan berbagai cara dan trik. Namun sayang, sampai sekarang kondisi umat masih begini-begini saja, malah terlihat makin terpuruk. Apa penyebabnya? Tahukah anda apa yang dimaksud dengan kata-kata kulit? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=575&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perhatian umat untuk memperbaiki   kondisi kaum muslimin yang terbelakang dan senantiasa banyak menelan   kekalahan sebenarnya cukup tinggi. Lihatlah, demikian banyak tokoh atau   kelompok yang berupaya melakukan perbaikan dengan berbagai cara dan   trik. Namun sayang, sampai sekarang kondisi umat masih begini-begini   saja, malah terlihat makin terpuruk. Apa penyebabnya?</p>
<p>Tahukah  anda apa yang dimaksud dengan kata-kata kulit? Dan siapakah yang   memunculkan statemen ini?<span id="more-575"></span></p>
<p>Kulit dalam pandangan mereka adalah  sesuatu yang enteng, remeh, kecil  tidak berguna, dan akan dibuang.  Padahal secara rasio, kulit itu sangat  menentukan isi dan bila kulit  itu rusak maka isinya pun akan ikut rusak.  Bahkan terkadang kulit lebih  besar manfaatnya dari isinya.<br />
Anda bisa membayangkan bila aqidah  dan tauhid sebagai sesuatu yang  prinsipil di dalam agama hanya dianggap  sebagai kulit oleh mereka. Yang  memunculkan statemen ini adalah ahli  bid’ah dari kalangan hizbiyyun.<br />
Ketahuilah bahwa kerusakan moral di  dalam beragama sesungguhnya  merupakan imbas kerusakan aqidah dan  tauhid. Kerusakan peribadahan  setiap orang kepada Allah Subhanahu wa  Ta&#8217;ala merupakan akibat dari  kerusakan aqidah dan tauhid. Kerusakan  bermuamalah dengan sesama  merupakan percikan dari kerusakan aqidah dan  tauhid. Kerusakan dalam  keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara  merupakan implementasi  dari kerusakan aqidah dan tauhid. Kerusakan  aqidah dan tauhid merupakan  muara dan poros dari segala kerusakan di  muka bumi ini. Allah Subhanahu  wa Ta&#8217;ala telah menjelaskan di dalam  firman-Nya:</p>
<p>ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا  كَسَبَتْ أَيْدِي  النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا  لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ</p>
<p>“Telah nampak kerusakan di daratan dan  di lautan akibat perbuatan  tangan-tangan manusia, dan Allah akan  merasakan kepada mereka akibat  perbuatan mereka agar mereka mau  kembali.” (Ar-Rum: 41)<br />
Di dalam banyak ayat, Allah Subhanahu wa  Ta&#8217;ala telah menvonis suatu  kaum atau individu sebagai orang-orang yang  melakukan kerusakan di muka  bumi dan menjelaskan bentuk-bentuk  kerusakan mereka.<br />
1.	Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah menvonis  orang-orang munafik dengan  kekufurannya sebagai perusak di muka bumi,  setelah mereka mencoba cuci  tangan dari berbuat kerusakan.</p>
<p>وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا   نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ. أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لاَ   يَشْعُرُوْنَ</p>
<p>“Dan bila dikatakan kepada mereka janganlah kalian  melakukan kerusakan  di muka bumi! Mereka menjawab: “Bahkan  sesungguhnya kamilah yang  melakukan perbaikan. (Allah mengatakan)  ketahuilah sesungguhnya  merekalah yang melakukan kerusakan namun mereka  tidak merasa.”  (Al-Baqarah: 11-12)<br />
2.	Allah telah menvonis  orang-orang yang ingkar kepada Allah dan kepada  para rasul sebagai  perusak di muka bumi.</p>
<p>وَالَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللهِ  مِنْ بَعْدِ مِيْثَاقِهِ  وَيَقْطَعُوْنَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَنْ  يُوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِي  اْلأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ  وَلَهُمْ سُوْءُ الدَّارِ</p>
<p>“Orang-orang yang merusak janji Allah  setelah diikrarkan dengan teguh  dan memutuskan apa-apa yang Allah telah  perintahkan untuk dihubungkan  dan mengadakan kerusakan di muka bumi,  orang-orang itulah yang telah  memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat  kediaman yang buruk  (Jahannam).” (Ar-Ra’du: 25)<br />
3.	Allah Subhanahu  wa Ta&#8217;ala menvonis kaum Nabi Shalih yang menentang  seruannya sebagai  perusak di muka bumi.</p>
<p>الَّذِيْنَ يُفْسِدُوْنَ فِي اْلأَرْضِ  وَلاَ يُصْلِحُوْنَ</p>
<p>“Yang membuat kerusakan di muka bumi dan  tidak mengadakan perbaikan.”  (Asy-Syu’ara`: 152)</p>
<p>وَكَانَ فِي  الْمَدِيْنَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُوْنَ فِي اْلأَرْضِ  وَلاَ  يُصْلِحُوْنَ</p>
<p>“Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki  yang membuat kerusakan  di muka bumi dan mereka tidak berbuat kebaikan.”  (An-Naml: 48)<br />
4.	Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menvonis Fir’aun dengan  segala tindak  tanduknya sebagai perusak.</p>
<p>آْلآنَ وَقَدْ  عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ</p>
<p>“Apakah sekarang  (baru kamu mau percaya) padahal sesungguhnya kamu telah  durhaka sejak  dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat  kerusakan.” (Yunus:  91)<br />
5.	Dan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala di dalam banyak ayat telah   memerintahkan kepada setiap hamba-hamba-Nya agar melihat apa yang Allah   Subhanahu wa Ta&#8217;ala perbuat terhadap kaum yang melakukan kerusakan,   seperti di dalam Surat Al-‘Araf ayat 86 dan 103 dan Surat An-Naml ayat   14.</p>
<p>وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ</p>
<p>“Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang melakukan   kerusakan.” (Al-A’raf: 86)<br />
Dari gambaran ayat di atas, betapa  jelasnya makna perbuatan merusak di  muka bumi. Kemudian Allah Subhanahu  wa Ta&#8217;ala pun mengutus seluruh rasul  untuk melakukan perombakan dan  perbaikan atas segala bentuk kerusakan  tersebut. Perlu diingat bahwa  para nabi tidak membuat rancangan sendiri  dalam melakukan perbaikan  situasi dan kondisi. Namun mereka menunggu  wahyu dari Allah Subhanahu  wa Ta&#8217;ala. Tugas yang pertama kali mereka  emban adalah pembaharuan  landasan dan prinsip hidup, itulah aqidah dan  tauhid. Alangkah naifnya  jika anda mengatakan prinsip dan landasan itu  sebagai kulit.</p>
<p><strong>Angan-angan yang Salah</strong><br />
Banyak orang berangan-angan untuk bisa  mengubah sebuah situasi yang  buruk untuk kemudian menjadi baik, yang  terbelakang dan mundur untuk  menjadi maju dan berkembang. Sehingga  bermunculan ide-ide dari berbagai  lapisan, diiringi perdebatan sengit  untuk memunculkan ide tersebut.  Mulai dari yang paham agama sampai  orang yang tidak mengerti agama, ikut  mengambil bagian dalam  membicarakan perbaikan moral dan kerusakan umat.  Tentunya dengan  berbagai macam jenis manusia itu akan melahirkan ide  yang beraneka  ragam.<br />
Yang mengerti sedikit ilmu agama, akan melakukan tinjauan  dengan  keterbatasan ilmu agama yang ada pada dirinya. Dan yang hanya  mengerti  tentang ilmu dunia akan menjawabnya dengan pengetahuan yang  dimilikinya.  Ada juga poros ketiga yang berusaha mempertemukan semua  ide tersebut  sehingga bisa seiring dan sejalan serta tidak  bertentangan, sekalipun  alat timbangnya bukan agama.<br />
Sungguh, jika  mereka membuka kembali lembaran-lembaran Al-Qur`an dan  As-Sunnah yang  menceritakan seruan pembaharuan yang dilakukan oleh para  rasul, niscaya  mereka akan menemukan jawabannya.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  berfirman:</p>
<p>وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ  اُعْبُدُوا اللهَ  وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللهُ  وَمِنْهُمْ مَنْ  حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيْرُوا فِي اْلأَرْضِ  فَانْظُرُوا  كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ</p>
<p>“Dan  sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk   menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thagut itu. Maka di antara   umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula   orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di   muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang   mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  berfirman:</p>
<p>وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ  نُوْحِي إِلَيْهِ  أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ</p>
<p>“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami   wahyukan kepadanya: ‘Tidak ada sesembahan yang benar melainkan Aku maka   sembahlah Aku oleh kalian’.” (Al-Anbiya`: 25)</p>
<p>وَلَقَدْ  أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيْرٌ  مُبِيْنٌ.  أَنْ لاَ تَعْبُدُوا إِلاَّ اللهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ  عَذَابَ  يَوْمٍ أَلِيمٍ</p>
<p>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada  kaumnya (dengan  mengatakan): “Sesungguhnya aku adalah pemberi  peringatan yang nyata  kepada kalian yaitu agar kalian tidak menyembah  kecuali kepada Allah dan  aku khawatir menimpa kalian pada suatu hari  adzab yang pedih.” (Hud:  25-26)</p>
<p>وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ  هُوْدًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا  لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ  أَفَلاَ تَتَّقُوْنَ</p>
<p>“Dan kepada kaum ‘Ad kami mengutus kepada  mereka saudara mereka Hud dan  (dia) berkata: “Wahai kaumku sembahlah  Allah, kalian tidak memiliki  sesembahan selain Dia, maka tidakkah  kalian takut?” (Al-A’raf: 65)</p>
<p>وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ  إِبْرَاهِيْمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيْقًا  نَبِيًّا. إِذْ قَالَ لأَبِيْهِ  يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لاَ يَسْمَعُ  وَلاَ يُبْصِرُ وَلاَ يُغْنِي  عَنْكَ شَيْئًا. يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ  جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ  يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ  صِرَاطًا سَوِيًّا. يَا أَبَتِ لاَ  تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ  الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا.  يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ  يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ  فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا</p>
<p>“Dan ceritakanlah (hai  Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab  (Al-Qur`an) ini, sesungguhnya  dia adalah orang yang sangat membenarkan  dan seorang nabi. Ingatlah  ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai  bapakku, mengapa kamu  menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, tidak  melihat dan tidak  bisa menolongmu sedikitpun. Wahai bapakku,  sesungguhnya telah datang  kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang  tidak datang kepadamu. Maka  ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan  kepadamu jalan yang lurus.  Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah  setan, sesungguhnya setan itu  durhaka kepada Rabb yang Maha Pemurah.  Wahai bapakku, sesungguhnya aku  khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab  dari Rabb Yang Maha Pemurah maka  kamu menjadi kawan bagi setan.”  (Maryam: 41-45)<br />
Wahai para da’i  kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, apa yang engkau ambil  manfaat dari  kisah pembaharuan para nabi dan rasul tersebut?<br />
Inilah Nabi Musa  yang berada di bawah kekuasaan pemerintah yang sangat  kufur, bahkan  menobatkan dirinya sebagai Rabb semesta alam,  berundang-undang dengan  undang-undang iblis, membunuh anak-anak laki dan  membiarkan hidup  anak-anak perempuan.</p>
<p>إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلاَ فِي اْلأَرْضِ  وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا  يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ  أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي  نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ  الْمُفْسِدِيْنَ</p>
<p>“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat semena-mena  di muka bumi dan  menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan  menindas segolongan dari  mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan  membiarkan hidup anak-anak  perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun  termasuk orang-orang yang  berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)<br />
Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala berkata kepada Nabi Musa:</p>
<p>وَأَنَا  اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوْحَى. إِنَّنِي أَنَا اللهُ لاَ  إِلَهَ  إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي. إِنَّ   السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيْهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا   تَسْعَى</p>
<p>“Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah kepada apa  yang kamu  diwahyukan: Sesungguhnya Aku adalah Allah dan tidak ada  sesembahan yang  benar melainkan Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah  shalat untuk  mengingat-Ku. Sesungguhnya hari kiamat pasti datang dan  Aku  menyembunyikannya agar setiap orang dibalas apa yang telah  diperbuat.”  (Thaha: 15)<br />
Inilah Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang  dihinakan di dalam penjara dan  disejajarkan dengan para pelaku maksiat.  Beliau tidak mengajak para  penghuni penjara mencaci maki penguasa dan  membakar semangat mereka  untuk menentang pemerintah yang diktator dan  mempersiapkan kekuatan  untuk melakukan perombakan hukum dan segala  tatanan hidup kenegaraan  yang kafir. Namun yang beliau serukan di dalam  penjara adalah:</p>
<p>يَاصَاحِبَيِ السِّجْنِ أأَرْبَابٌ  مُتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ أَمِ اللهُ  الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ. مَا  تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ إِلاَّ أَسْمَاءً  سَمَّيْتُمُوْهَا أَنْتُمْ  وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللهُ بِهَا مِنْ  سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ  إِلاَّ لِلَّهِ أَمَرَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ  إِيَّاهُ ذَلِكَ  الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ  يَعْلَمُوْنَ</p>
<p>“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang   bermacam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Kamu tidak   menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama dan nenek   moyangmu membuatnya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun  tentang  nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah keputusan Allah. Dia  telah  memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama  yang  lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Yusuf:  39-40)<br />
Dan inilah rasul terakhir dan penutup semua rasul, Muhammad  Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam. Beliau diutus kepada kaum yang rusak  segala-galanya,  bahkan mereka bagaikan binatang yang berwujud manusia.  Tidak ada halal  dan haram, tidak ada aturan yang mengikat perbuatan  mereka. Kerusakan  hidup tingkat tertinggi dan segala bentuk kejahatan  terkumpul di saat  itu. Apakah yang beliau perbuat untuk melakukan  perombakan tatanan  kehidupan jahiliyah lagi hewani tersebut dan apa  tugas yang diemban dari  Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala? Allah Subhanahu wa  Ta&#8217;ala menegaskan di  dalam firman-firman-Nya:</p>
<p>قُلْ إِنِّي  أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ.  وَأُمِرْتُ لأَنْ  أَكُوْنَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْ إِنِّي أَخَافُ  إِنْ عَصَيْتُ  رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ. قُلِ اللهَ أَعْبُدُ  مُخْلِصًا لَهُ  دِيْنِي</p>
<p>“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya  menyembah Allah  dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan  agama. Dan aku  diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama  berserah diri.  Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari  yang besar jika  aku durhaka kepada Rabbku. Katakan, hanya Allah saja  yang aku sembah  dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan  agama.”  (Az-Zumar: 11-14)</p>
<p>إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ  الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللهَ  مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu kitab (Al-Qur`an) dengan   membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan   kepada-Nya.” (Az-Zumar: 2) [Lihat secara ringkas kitab Manhajul Anbiya`   Fii Ad-Da’wati Ilallah Fiihi Al-Hikmatu Wal ‘Aql karya Asy-Syaikh Rabi’   bin Hadi Al-Madkhali, hal. 41-77]</p>
<p><strong>Langkah yang Benar</strong><br />
Kini  tahukah anda, bahwa angan-angan manusia untuk memperbaiki situasi  dan  kondisi yang telah rusak dengan cara seperti itu, ternyata keliru  dan  jauh dari syariat? Sehingga setelah itu anda mengetahui bahwa jalan   yang benar untuk memperbaiki situasi dan kondisi yang telah rusak adalah   dengan menempuh jalan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang telah ditapaki   oleh para rasul. Kembali kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala artinya   kembali kepada agama-Nya. Berikut petikan indah dari Rasulullah   Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau:</p>
<p>إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ   وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ   عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ</p>
<p>“Bila kalian telah mempraktekkan jual beli dengan ‘inah (salah satu   bentuk jual beli riba), kalian melakukan kedzaliman, cinta kepada cocok   tanam dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada   kalian kehinaan dan tidak akan tercabut kehinaan tersebut sehingga   kalian kembali kepada agama kalian.”1<br />
Agama mana yang dimaksud  sehingga bisa mengembalikan kejayaan dan  kemuliaan kaum muslimin?  Apakah agama yang dipahami dengan akal? Ataukah  agama yang dipahami  oleh kelompok dan golongan tertentu? Ataukah yang  dipahami oleh  nenek-nenek moyang? Ataukah yang dipahami oleh guru-guru  besar? Atau  bagaimana?<br />
Tentu hal ini telah ada jawabannya:<br />
Pertama, Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah menjelaskan di dalam Al-Qur`an:</p>
<p>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ   يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا</p>
<p>“Sungguh telah ada pada diri rasul kalian suri tauladan yang baik bagi   orang yang mengharapkan berjumpa dengan Allah dan hari kiamat dan banyak   mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)</p>
<p>وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ  مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى  وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ  الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى  وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ  مَصِيْرًا</p>
<p>“Barangsiapa yang menentang Rasulullah setelah jelas  baginya petunjuk  dan dia mengikuti selain jalan kaum mukminin maka Kami  akan  memalingkannya kemana dia berpaling dan Kami akan nyalakan  baginya  neraka Jahannam dan Neraka Jahannam adalah sejelek-jelek tempat   kembali.” (An-Nisa`: 115)<br />
Kedua, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam telah menjelaskan di  dalam sabda-sabda beliau:</p>
<p>فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ   الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ   وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ   وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p>“Hendaklah kalian menempuh sunnahku  dan sunnah Al-Khulafa`ur Rasyidin  setelahku, gigitlah dia dengan gigi  geraham dan berhati-hatilah kalian  dari perkara-perkara baru (di dalam  agama) karena perkara-perkara baru  di dalam agama adalah bid’ah dan  setiap kebid’ahan itu adalah sesat.”2</p>
<p>خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي  ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ  يَلُوْنَهُمْ</p>
<p>“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian setelah mereka kemudian   setelah mereka.”3<br />
Ketiga, beberapa ucapan ulama Salaf:<br />
  Abdullah ibnu Mas’ud radhiallahu &#8216;anhu berkata: “Ikutilah oleh kalian   dan jangan kalian mengada-ada sungguh (Sunnah Rasulullah Shallallahu   &#8216;alaihi wa sallam) telah cukup buat kalian.”4<br />
 ‘Umar bin Abdul  ‘Aziz rahimahullahu mengatakan: “Berhentilah kamu di  mana kaum itu  (para shahabat) berhenti. Sesungguhnya mereka berhenti di  atas ilmu,  dan di atas ilmu pula mereka menahan diri, dan mereka lebih  sanggup  untuk membuka (perbendaharaan ilmu) dan jika memiliki keutamaan   merekalah yang lebih dahulu. Jika kalian mengatakan: ‘Telah muncul   perkara baru setelah mereka (shahabat).’ Maka tidak ada yang   mengadakannya kecuali orang yang menyelisihi dan benci mengikuti jalan   mereka. Mereka telah mensifati segala apa yang menyembuhkan dan   berbicara yang mencukupkan. Melebihi mereka adalah melampaui batas dan   menguranginya adalah meremehkan. Maka tatkala suatu kaum meremehkan   mereka, mereka menjadi kaku. Dan ketika kaum itu melampau batas, mereka   menjadi berlebihan. Dan sesungguhnya jika mereka berada di   tengah-tengah, sungguh mereka berada di atas jalan yang lurus.”5<br />
  Al-Imam Malik rahimahullahu berkata: “Tidak ada yang akan memperbaiki   situasi dan kondisi umat sekarang ini melainkan harus kembali kepada apa   yang telah memperbaiki umat terdahulu.”6<br />
 Abu ‘Amr Al-Auza’I  rahimahullahu berkata: “Sabarkan dirimu di atas  As-Sunnah! Berhentilah  di mana kaum (Salafus Shalih) berhenti dan  katakan (semisal) apa yang  mereka telah katakan, dan tahan dirimu pada  hal-hal yang mereka menahan  diri. Tempuhlah jalan Salafmu yang shalih,  niscaya kamu akan  mendapatkan apa yang mereka telah dapatkan.”7<br />
Dalam kesempatan yang  lain berkata: “Hendaklah kamu menempuh jalan Salaf  meskipun orang-orang  menolakmu. Dan berhati-hatilah dari pendapat  banyak orang sekalipun  mereka hiasi dengan ucapan- ucapan.”8<br />
Dari dalil-dalil di atas kita  mengetahui Islam yang dimaksudkan  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam, Islam yang akan mengembalikan  kejayaan, kemuliaan, dan keemasan  Islam serta kaum muslimin. Itulah  agama yang difahami, diamalkan dan  didakwahkan oleh salaf umat ini yang  shalih. Mereka adalah para  shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in.<br />
Berarti jalan yang sesuai  dengan syariat dalam menjawab problematika  umat sekarang ini adalah:<br />
Pertama: Menyebarkan aqidah yang benar di tengah kaum muslimin.<br />
Kedua: Kembali ke jalan Salafush Shalih dalam memahami, mengamalkan, dan   mendakwahkan Islam.<br />
Ketiga: Menyebarkan ilmu yang benar yaitu ilmu  yang berlandaskan  Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam sesuai  dengan pemahaman Salaf umat ini.<br />
Keempat:  Mentarbiyah (mendidik) generasi Islam di atas agama yang  mushaffa  (bersih).<br />
Kelima: Menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar<br />
Keenam: Mendirikan shalat<br />
Ketujuh: Menunaikan zakat<br />
(diambil  dari kaset Keindahan Islam, Asy-Syaikh Musa Alu Nashr)</p>
<p><strong>Aqidah  yang Benar</strong><br />
Munculnya berbagai keyakinan di tengah kaum muslimin  memiliki dampak  demikian besar dalam beragama. Bagaimana tidak, banyak  dari kaum  muslimin menganggap sesuatu yang menurut agama merupakan  kesyirikan,  sebagai tauhid yang harus diyakini dan dipegang seumur  hidup. Dan begitu  sebaliknya, ketauhidan dianggap sebagai ajaran baru  dan menyesatkan  yang harus dimusuhi dan diperangi. Sunnah menjadi  bid’ah dan bid’ah  menjadi sunnah, kebatilan sebagai kebenaran dan  kebenaran menjadi  sesuatu yang samar. Dengan fenomena yang menyedihkan  ini kita dituntut  untuk belajar guna mengetahui aqidah yang benar untuk  kemudian bisa  memilahnya dari aqidah yang jelek. Aqidah yang benar  adalah aqidah yang  bersumber dari Al-Qur`an dan hadits-hadits yang  shahih (benar datangnya  dari Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam)  yang dipahami dengan  pemahaman Salafush Shalih umat ini. (‘Aqidatu  Tauhid karya DR. Shalih  bin Fauzan hal. 11)</p>
<p><strong>Meremehkan Aqidah  dan Tauhid</strong><br />
Aqidah dan tauhid memiliki kedudukan tinggi dan sangat  besar di dalam  agama. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan Rasul-Nya  meletakkan  keduanya dalam prinsip yang pertama dan utama di dalam  agama.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>فَاعْلَمْ  أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ</p>
<p>“Berilmulah kamu tentang Laa  Ilaha Illallah.” (Muhammad: 19)<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam bersabda:</p>
<p>بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ  أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ  وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ  الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ  رَمَضَانَ</p>
<p>“Islam dibangun di atas lima dasar: Mempersaksikan  bahwa tidak ada  sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad  adalah utusan  Allah…”9</p>
<p>فَلْيَكُمْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ  إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ  إِلاَّ اللهُ</p>
<p>“Hendaklah  yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah  mempersaksikan  kalimat La Ilaha illallah.”10<br />
Dengan sebab itulah para nabi dan  rasul diutus, kitab-kitab diturunkan,  adanya perintah amar ma’ruf nahi  munkar, ditegakkannya jihad, ada hari  pembalasan, ada hari hisab  (perhitungan), adanya timbangan dan adanya  surga dan neraka. Bila  engkau meremehkan masalah aqidah dan tauhid  dengan menyebutnya sebagai  kulit agama atau ucapan lain yang semakna,  berarti engkau telah  melakukan kesalahan yang sangat fatal dan melakukan  dosa besar. Engkau  berada dalam ambang marabahaya yang dahsyat dan di  tepi jurang kehinaan  serta kehancuran. Dikhawatirkan engkau keluar dari  Islam. Engkau wajib  bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dari  perbuatanmu, yaitu  meremehkan sesuatu yang karenanya diutus para nabi  dan rasul serta  diturunkannya kitab-kitab oleh Allah Subhanahu wa  Ta&#8217;ala.<br />
Wallahu  a’lam.</p>
<p>1 HR. Al-Imam Abu Dawud no. 3003, dishahihkan oleh  Al-Albani dalam  Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 1 hadits no. 11.<br />
2 HR. Al-Imam Abu Dawud no. 3991, Ibnu Majah no. 42, Ahmad no. 165 dan   Ad-Darimi no. 95 dari shahabat ‘Irbadh bin Sariyah. Dishahihkan oleh   Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2735.<br />
3 HR.  Al-Imam Al-Bukhari no. 2457, 2458 dan Al-Imam Muslim no. 4600,  4601,  4602 dari shahabat Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin ‘Amr bin  ‘Ash.<br />
4 Atsar Ibnu Mas’ud adalah shahih diriwayatkan oleh beberapa tabi’in.  Di  antaranya Abu Abdurrahman As-Sulami diriwayatkan oleh Al-Imam   Ath-Thabrani di dalam Al-Kabir (8870), Ad-Darimi (211), Al-Baihaqi di   dalam Al-Madkhal (204) dan Ibnu Wadhdhah di dalam Al-Bida’ wan Nahyu   ‘Anha hal. 10. Juga dari Ibrahim An-Nakha’i diriwayatkan oleh Abu   Khaitsamah di dalam kitab Al-‘Ilmu, serta dari Qatadah diriwayatkan oleh   Ibnu Wadhdhah (hal. 11)<br />
5 Lihat Lum’atul I’tiqad karya Ibnu  Qudamah dan beliau sebutkan pula di  dalam kitab beliau Al-Burhan Fi  Bayanil Qur`an hal. 88 dan 89<br />
6 Lihat Kitab ‘Ilmu Ushulil Bida’  karya Asy-Syaikh Ali Hasan Ali bin  Abdul Hamid<br />
7 Lihat Ushul  I’tiqad Ahlis Sunnah 1/174<br />
8 Lihat Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah 1/159  dan Lum’atul I’tiqad masalah 9.<br />
9 HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim  dari shahabat Ibnu ‘Umar<br />
10 HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari  shahabat Ibnu ‘Abbas</p>
<p>Penulis  : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman  bin Rawiyah, www.asysyariah.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/575/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=575&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/05/26/bila-aqidah-dan-tauhid-dianggap-kulit-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Renungkan Masa Tua Seperti Apa.</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/05/19/renungkan-masa-tua-seperti-apa-2/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/05/19/renungkan-masa-tua-seperti-apa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 10:28:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[masa muda]]></category>
		<category><![CDATA[masa tua]]></category>
		<category><![CDATA[sengsara]]></category>
		<category><![CDATA[usia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[Masa tua merupakan masa penentu kebahagiaan seseorang. Jika dia dalam masa tuanya sudah tidak lagi memikul berbagai beban dan problematika hidup, maka sungguh itu merupakan masa tua yang membahagiakan. Karena masa tua merupakan masa di mana seseorang sudah mulai mengurangi berbagai aktivitas hidup disebabkan menurunnya produktivitas dan kemampuan. Masa tua merupakan masa bagi seseorang menuai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=566&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masa tua  merupakan masa penentu  kebahagiaan seseorang. Jika dia  dalam masa  tuanya sudah tidak lagi  memikul berbagai beban dan  problematika hidup,  maka sungguh itu  merupakan masa tua yang  membahagiakan. Karena masa tua  merupakan masa  di mana seseorang sudah  mulai mengurangi berbagai  aktivitas hidup  disebabkan menurunnya  produktivitas dan kemampuan.<img title="Selebihnya..." src="http://dedykusnaedi.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /> Masa   tua merupakan  masa bagi seseorang menuai hasil kerja payahnya di masa   muda. <span id="more-566"></span> <img title="Selebihnya..." src="http://dedykusnaedi.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Jika  seseorang sudah renta namun masih harus menanggung  berbagai  persoalan  hidup, maka sungguh itu merupakan masa tua yang  tidak  membahagiakan. Di  dalam kondisi yang sudah tidak mampu banyak  berbuat lagi,  dia justru  masih dituntut harus banyak berbuat. Dalam  kondisi produktivitas   menurun ia justru dituntut untuk berproduksi  tinggi.</p>
<p>Adakah  orang yang menginginkan masa tuanya sengsara? Adakah   seseorang yang  saat dia muda, punya banyak perusahaan dan kekayaan,  lalu  menginginkan  agar nanti tatkala tua seluruh perusahaannya hancur  tanpa  dapat  menikmatinya? Dan saat dia tidak mampu lagi untuk  membangun   perusahaannya itu? Pada saat bersamaan keturunannya belum  bisa mandiri   dan masih bergantung kepadanya? Lalu apakah yang dapat  dia perbuat   dengan tubuhnya yang sudah renta dan pikun itu, dengan  kemampuannya yang  sudah  mulai sirna itu? Sebuah gambaran yang seorang  paling bodoh  sekali pun  tidak menginginkannya!</p>
<p>Itulah  gambaran akhirat! Akhirat adalah puncak segala-galanya,   penentu  kebahagiaan dan kesengasaraan seseorang. Ibarat masa tua,   akhirat  adalah masa menuai, sedangkan kehidupan dunia adalah ibarat  masa  muda,  masa bagi seseorang yang masih mempunyai banyak kesempatan  untuk   berbuat. Justru di akhirat itulah manusia sangat membutuhkan  terhadap   hasil jerih payahnya tatkala di dunia, bukan di dunia sebagai  hasil   akhirnya. Maka merupakan kewajiban setiap muslim untuk  senantiasa   berorientasi terhadap kehidupan akhirat, sebagaimana  manusia pada   umumnya sangat berorientasi terhadap masa tuanya.  Berbagai persiapan   mereka lakukan, mengalokasikan dana pensiun masa  tua, menginvestasikan   harta untuk ini dan itu, membangun perusahaan  dan bisnis, membeli lahan   yang luas, dan masih banyak lagi yang mereka  lakukan agar bisa hidup   tenang di masa tua kelak.</p>
<p>Jika  demikian khawatirnya manusia terhadap bayangan kebangkrutan   masa tua di  dunia, maka selayakanya mereka lebih khawatir lagi dengan   &#8220;masa tua  akhirat&#8221;. Dan itulah yang terjadi pada kaum salaf, para   shahabat,  tabi&#8217;in, para imam dan orang-orang shalih yang menempuh jalan   mereka.  Jika mereka ditaqdirkan oleh Allah <em>subhanahu wata’ala</em> dengan  rizki yang lapang (kaya), maka mereka sangat khawatir jika harta   itu  kelak akan mengurangi &#8220;jatah&#8221; mereka di akhirat. Sehingga mereka    buru-buru menginfaqkan harta tersebut untuk sabilillah dan jalan-jalan    kebaikan. Kesadaran mereka terhadap kebutuhan di akhirat sudah    sedemikian besar, sehingga seluruh kemampuan mereka di dunia mereka    gunakan untuk berbekal menyongsong kehidupan akhirat. Mereka telah    menjual diri dan harta dunia mereka kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em> demi “masa tua” di akhirat, masa ketika mereka sudah tidak mampu lagi    untuk beramal dan berbuat, masa ketika mereka menikmati usaha dan jerih    payah di dunia. Mereka sangat khawatir jika di masa-masa ini, justru    terjerumus dalam kebangkrutan dan kerugian yang besar.</p>
<p>Alangkah  indahnya perumpamaan di dalam al-Qur&#8217;an tentang hal ini,   sebagaimana  firman-Nya, artinya, <em>“Apakah ada salah seorang di   antaramu yang  ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di   bawahnya  sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam   buah-buahan,  kemudian datanglah masa tua pada  orang itu sedang dia   mempunyai  keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin   keras  yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah   menerangkan  ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.”</em> (QS.  al-Baqarah:266)</p>
<p>Diriwayatkan  dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dia berkata,   &#8220;Telah berkata  Umar bin al Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, &#8220;Aku   membaca sebuah  ayat di suatu malam yang membuatku terus begadang,  yaitu  (artinya), <em>&#8220;Apakah  ada salah seorang di antaramu yang ingin  mempunyai  kebun kurma dan  anggur&#8230;dst&#8221;</em> (QS.al-Baqrah:266). Apakah  yang  dimaksud oleh ayat  itu?</p>
<p>Maka  sebagian orang yang hadir berkata, &#8220;Allahu a&#8217;lam (Allah <em>subhanahu    wata’ala</em> yang lebih Tahu).&#8221; Maka Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, &#8220;Sungguh aku tahu bahwa Allah itu Maha Tahu, namun aku bertanya    jika salah seorang dari kalian mempunyai pengetahuan atau pernah    mendengar tentang penjelasan ayat ini hendaknya memberitahukan apa yang    telah dia dengar.&#8221; Maka orang-orang diam membisu, lalu dia melihatku    sedang berbisik lirih. Kemudian berkata, &#8220;Katakan wahai anak saudaraku,    janganlah engkau rendah diri (minder)”. Maka aku berkata, &#8220;Yang    dimaksudkan ayat itu adalah amal.” Dia menghadap kami dan menjelaskan    ayat itu dengan mengatakan, &#8221; Engkau benar wahai putra saudaraku, maksud    ayat itu adalah amal. Bahwa manusia paling butuh terhadap   perkebunannya  adalah ketika dia sudah lanjut usia dan banyak anak   cucunya, dan  keadaan manusia yang paling butuh terhadap amalnya adalah   ketika di hari  Kiamat. Engkau benar wahai putra saudaraku.&#8221;   (Dikeluarkan oleh &#8216;Abd bin  Humaid, Ibnul Mundzir, Ibnul Mubarak, Ibnu   Jarir, Ibnu Abi Hatim,  al-Hakim dengan meringkas, dan dia   menshahihkannya, dan kisah ini  dikuatkan dengan riwayat imam   al-Bukhari).</p>
<p>Ayat  ini menerangkan, bahwa akhirat bagi seorang mukmin adalah    segala-galanya. Sebagaimana dalam kehidupan dunia, masa tua adalah masa    penentu kebahagiaan seseorang.</p>
<p>Dalam  tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa menurut Ibnu Abbas <em>radhiyallahu    &#8216;anhu</em> ayat ini menjelaskan tentang perumpamaan seseorang yang    tadinya kaya dan banyak melakukan amal kebaikan, lalu Allah <em>subhanahu    wata’ala</em> mengujinya dengan melalui godaan syetan sehingga ia    berbalik melakukan  kemaksiatan, dan akhirnya amal-amal kebaikan    tersebut lenyap tenggelam.</p>
<p>Jadi  jelasnya ayat ini merupakan permisalan tentang amal seseorang   yang  tadinya dia senantiasa melakukan kebaikan-kebaikan, lalu di tengah    perjalaan hidupnya dia berubah haluan  menjadi melakukan    keburukan-keburukan. Kita berlindung kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em> dari hal itu. Akhirnya amalnya yang terkahir mengalahkan amalnya yang    terdahulu yang baik. Kemudian ketika ia sangat butuh terhadap amalnya    yang pertama, tatkala dalam kondisi sulit dan sempit (di akhirat)    ternyata dia tidak memperoleh pahala amal itu sedikit pun karena telah    sirna.</p>
<p>Oleh  karena itu dikatakan, <em>“Maka kebun itu ditiup angin keras   yang  mengandung api, lalu terbakarlah.</em> Yakni membakar buahnya dan    menghanguskan pohon-pohonnya, dapat kita bayangkan bagaimana    keadaannya!</p>
<p>Ibnu  Abi Hatim telah meriwayatkan dari jalur al-Aufi dari Ibnu Abbas   <em>radhiyallahu  ‘anhu</em> beliau berkata, &#8220;Allah <em>subhanahu  wata’ala</em> telah  membuat perumpamaan yang sangat bagus, dan seluruh  perumpamaan  dari  Allah adalah bagus. Allah <em>subhanahu wata’ala</em> berfirman, <em>&#8220;Apakah   ada salah seorang di antaramu yang ingin  mempunyai kebun kurma dan   anggur yang mengalir di bawahnya  sungai-sungai; Dia mempunyai dalam   kebun itu segala macam buah-buahan,  kemudian datanglah masa tua pada    orang itu sedang dia mempunyai  keturunan yang masih kecil-kecil. Maka   kebun itu ditiup angin keras  yang mengandung api, lalu terbakarlah,   Demikianlah Allah menerangkan  ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu   memikirkannya.”</em> (QS.  al-Baqarah:266)</p>
<p>Beliau  berkata dalam permisalan firman Allah <em>subhanahu wata’ala</em>,   <em>&#8220;Kemudian  datanglah masa tua pada orang itu,</em> sedang dia   mempunyai keturunan  yang masih kecil-kecil di penghujung umurnya. Maka   kebun itu ditimpa  oleh angin keras yang mengandung api sehingga   membakarnya, sedangkan  dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk   mengembalikan kebun itu  seperti sedia kala. Pada saat yang sama   keturunannya masih belum bisa  diandalkan untuk memperbaiki kondisi   kebun itu agar lebih baik. Demikan  juga dengan orang-orang kafir pada   hari Kiamat, ketika mereka kembali  ke hadapan Allah <em>subhanahu   wata’ala</em> mereka tidak mempunyai  kebaikan yang dapat diandalkan.   Sebagaimana si empunya kebun itu sudah  tidak mempunyai kekuatan dan   apa-apa lagi untuk mengembalikan kebunnya  seperti sebelumnya. Orang   kafir itu tidak punya amal kebaikan yang  dapat memberikan manfaat  kepada  dirinya, sebagaimana si pemilik kebun  tidak bisa mendapat  manfaat  apa-apa dari anaknya yang masih lemah. Si  kafir ini terhalang  dari  pahala pada saat ia sangat membutuhkannya  sebagaimana si pemilik  kebun  ini tidak bisa menikmati hasil kebun di  kala dia sangat butuh   terhadapnya, yakni di masa ia sudah renta, dan  anak-cucunya pun tak   mampu berbuat apa-apa.</p>
<p>Maka  apakah anda ingin nanti di akhirat, tatkala anda butuh terhadap   semua  pahala kebaikan, namun pahala-pahala tersebut ternyata sirna??   Tentu  tidak! Oleh karena itu hendaknya kita semua waspada dari    perkara-perkara yang dapat merusak dan membatalkan amal kebaikan. <strong>(Abu    Ahmad)</strong></p>
<p><strong>Sumber:  &#8211; Kitab Tadabbur al-Qur’an -Tafsir Ibnu Katsir jilid I   hal 424-425,</strong><strong> Judul Asli: Renungan Masa Tua. </strong><strong>alsofwah.or.id</strong><strong><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/566/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=566&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/05/19/renungkan-masa-tua-seperti-apa-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dedykusnaedi.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Selebihnya...</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dedykusnaedi.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Selebihnya...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wafatnya Nabi Adam alaihis salam.</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/04/23/wafatnya-nabi-adam-alaihis-salam/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/04/23/wafatnya-nabi-adam-alaihis-salam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 10:10:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siroh]]></category>
		<category><![CDATA[ibrah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[nabi adam]]></category>
		<category><![CDATA[siroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Menuai pelajaran dari wafatnya Nabi Adam alaihis salam. Al Kisah Dari Utay (Ibnu Dhomroh as-Sa’di) dia berkata: “Aku pernah melihat seorang yang sudah tua di Madinah sedang memberikan nasihat. Maka aku bertanya tentang dirinya, seseorang mengatakan: “Beliau Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu.” Orang tua tersebut mengatakan: “Sesungguhnya tatkala Adam hendak  meninggal dunia, ia berkata kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=459&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#050505;"><strong><span style="color:#050505;">Menuai pelajaran dari wafatnya Nabi Adam alaihis salam.</span></strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong><span style="color:#050505;">Al Kisah</span></strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Dari Utay (Ibnu Dhomroh as-Sa’di) dia berkata: “</span><em><span style="color:#050505;">Aku pernah melihat seorang yang sudah tua di Madinah sedang memberikan nasihat. Maka aku bertanya tentang dirinya, seseorang mengatakan: “Beliau Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu.” Orang tua tersebut mengatakan: “Sesungguhnya tatkala Adam hendak  meninggal dunia, ia berkata kepada anak-anaknya</span><span id="more-459"></span><span style="color:#050505;">: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku rindu akan buah-buahan surga.’ Maka mereka pergi mencarikan (buah-buahan) untuknya. Mereka bertemu dengan  para malaikat yang membawa kain kafan dan minyak wangi (yang disiapkan untuk Adam alaihis salam). Mereka (para malaikat) membawa kapak, sekop, serta alat penimbun. Lalu para malaikat bertanya kepada anak-anak Adam: ‘Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian cari, serta hendak kemana kalian?’ Mereka menjawab: ‘Bapak kami sedang sakit,  ia ingin (memakan) buah-buahan surga.’ Para malaikat berkata: ‘Kembalilah, karena inilah ajal yang telah ditentukan untuk bapak kalian.’ Maka mereka pun kembali, dan tatkala Hawa’ melihat mereka, ia langsung paham dan meminta kepada Adam (agar ditangguhkan ajalnya-Pent), maka Adam menolak seraya mengatakan: ‘Menjauhlah engkau dariku, menjauhlah engkau dariku . . .! Sesungguhnya apa yang aku terima ini karena sebabmu juga</span><a href="#_ftn1"><span style="color:#050505;">[1]</span></a><span style="color:#050505;">,  biarkan aku sendiri bersama para malaikat Rabb-ku.’ Lalu para malaikat mencabut nyawa Adam, lalu mereka memandikannya, mengkafaninya, dan memberinya minyak wangi, lalu mereka menggalikan kubur dan membuat liang lahat, kemudian mereka menyolatinya, lalu masuk ke liang kubur dan meletakkan jasadnya ke dalam kubur, serta meletakkan batu-batu bata padanya, kemudian mereka keluar dari kubur dan meratakan dengan tanah, lalu mereka mengatakan: ’Wahai anak Adam, ini adalah sunnah (syari’at) untuk kalian.”</span></em></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong><span style="color:#050505;">Takhrij Hadits.</span></strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Kisah di atas diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad dalam </span><em><span style="color:#050505;">Zawa’idul Musnad:5/136.</span></em></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Berkata Ibnu Katsir </span><em><span style="color:#050505;">rahimahullah</span></em><span style="color:#050505;">: “Sanadnya shohih sampai kepada beliau”, yakni kepada Ubay bin Ka’ab </span><em><span style="color:#050505;">radhiyallahu ‘anhu</span></em><span style="color:#050505;">. (</span><em><span style="color:#050505;">Bidayah wan-Nihayah:5/98</span></em><span style="color:#050505;">).</span></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Berkata al-Haitsami: “Hadits di atas diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad, dan rijalnya </span><em><span style="color:#050505;">rijalus shohih, </span></em><span style="color:#050505;">kecuali Utay bin Dhomroh, dia adalah seorang yang tsiqoh.” (</span><em><span style="color:#050505;">Mazma Zawa’id: 8/199</span></em><span style="color:#050505;">)</span></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Berkata Dr. Sulaiman al-Asycor: “Sekalipun hadits mauquf kepada Ubay bin Ka’ab, namun hadits ini dihukumi sebagai hadits </span><em><span style="color:#050505;">marfu’ hukman</span></em><span style="color:#050505;"> (secara hukum sampai kepada Nabi </span><em><span style="color:#050505;">Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</span></em><span style="color:#050505;"> karena hadits ini berbicara tentang sesuatu yang tidak mungkin didasarkan pada akal semata.</span></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong><span style="color:#050505;">Ibrah (Pelajaran)</span></strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Ini adalah </span><em><span style="color:#050505;">sunnatullah</span></em><span style="color:#050505;"> yang tetap hingga hari qiamat. Allah </span><em><span style="color:#050505;">Subhanahu wa ta’ala</span></em><span style="color:#050505;"> berfirman :</span></span></p>
<p><span style="color:#050505;"> </span></p>
<p><span style="color:#050505;"> </span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">“</span><em><span style="color:#050505;">Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” </span></em><span style="color:#050505;">(QS. Ali Imran 3:185)</span></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Hendak ke mana jiwa akan lari, ke mana raga akan disembunyikan, bila ajal datang, tidak ada tempat untuk mengelak. Pasti kita akan menjumpainya, oleh karena itu yang patut kita pikirkan adalah bekal yang akan kita bawa.</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Mari kita merenungi sejenak apa yang dikabarkan oleh Rasulullah </span><em><span style="color:#050505;">Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</span></em><span style="color:#050505;"> tentang wafatnya Nabi Adam </span><em><span style="color:#050505;">alaihis salam.</span></em><span style="color:#050505;"> Tatkala kematian telah mengetuk pintu kehidupannya, dia </span><em><span style="color:#050505;">alaihis sallam</span></em><span style="color:#050505;"> merindukan surga dan sangat menginginkan buah-buahannya. Hal ini menunjukkan betapa besar cinta Nabi Adam </span><em><span style="color:#050505;">alaihis salam</span></em><span style="color:#050505;"> kepada surga, dan kerinduannya untuk kembali ke tempat yang indah tersebut. Hal itu tidak mengherankan, karena beliau memang pernah merasakan tinggal di surga, melihat keindahannya selama beberapa waktu.</span></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Beliau tahu bahwa anak-anaknya tidak akan mungkin memberi apa yang menjadi keinginannya. Dan anak-anaknya pun tahu bahwa sebenarnya mereka tidak akan mampu melaksakan perintah sang ayah, tetapi keinginan yang keras pada diri mereka untuk menyenangkan hati orang tuanya membuat mereka tetap berusaha mencari apa yang diinginkan ayahnya.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Belum terlalu jauh mereka beranjak, tiba-tiba mereka bertemu dengan sekelompok malaikat  yang berwujud manusia. Mereka membawa peralatan untuk menguburkan jenazah. Mereka membawa kain kafan, wewangian, dan lain lain.</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Setelah anak-anak Nabi Adam </span><em><span style="color:#050505;">alaihis salam</span></em><span style="color:#050505;"> mengabarkan tentang maksud kepergiannya, para malaikat menyuruhnya kembali. Tatkala Hawa melihat kedatangan para malaikat, sadarlah ia bahwa yang datang adalah utusan Allah </span><em><span style="color:#050505;">Subhanahu wa ta’ala</span></em><span style="color:#050505;"> untuk mengambil ruh suaminya. Hawa pun datang kepada Adam </span><em><span style="color:#050505;">alaihis salam</span></em><span style="color:#050505;"> meminta agar Adam memohon kepada Allah </span><em><span style="color:#050505;">Subhanahu wa ta’ala</span></em><span style="color:#050505;"> untuk menangguhkan ajalnya. Demikian para nabi dan Rasul, tidaklah mereka meninggal dunia sampai mereka diberi dua pilihan, memilih di akhirat atau dunia yang fana, seperti apa yang dikabarkan Nabi </span><em><span style="color:#050505;">Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</span></em></span><span style="color:#050505;"> kepada kita semua.</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Nabi Adam </span><em><span style="color:#050505;">alaihis salam </span></em><span style="color:#050505;">tidak menggubris permintaan Hawa, bahkan ia mengatakan: “</span><em><span style="color:#050505;">Sesungguhnya apa yang akan terjadi ini karena sebabmu juga.”</span></em></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Dahulu mereka tinggal di surga, menikmati keindahan surga, namun karena Adam memenuhi permintaan sang isteri, akhirnya terjadilah apa yang menjadi ketetapan Allah </span><em><span style="color:#050505;">Subhanahu wa ta’ala</span></em><span style="color:#050505;">.</span></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Akhirnya para malaikat pun mencabut arwah Nabi Adam </span><em><span style="color:#050505;">alaihis salam</span></em><span style="color:#050505;">. Mereka mengurus jenazah sampai proses penguburannya, sedang anak-anak Adam menyaksikan hingga selesai. Lalu para malaikat mengatakan kepada anak-anak Adam: “</span><em><span style="color:#050505;">Wahai anak-anak Adam, demikian tuntunan yang diajarkan untuk kalian,”</span></em><span style="color:#050505;"> yaitu syari’at Allah </span><em><span style="color:#050505;">Subhanahu wa ta’ala</span></em><span style="color:#050505;"> dalam pengurusan jenazah. Maka siapa saja yang memahami tata cara pengurusan jenazah yang diajarkan Rasulullah </span><em><span style="color:#050505;">Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</span></em><span style="color:#050505;"> maka ia akan mendapati bahwa tata cara tersebut akan sesuai dengan apa yang dituntunkan para malaikat tersebut.</span></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;">Dengan dasar ini kita mengetahui adanya kesesatan sebagian manusia dalam hal pengurusan jenazah,  sebagian mereka membakar mayat, atau membangun tempat khusus  untuk mengawetkan abu atau mayat.  Mereka meletakan perhiasan, harta dan barang yang menjadi kesenangan mayit ketika masih hidup. Semua ini adalah perbuatan yang (menyimpang) menyelisihi  syari’at Allah</span><em><span style="color:#050505;"> </span></em><em><span style="color:#050505;">Subhanahu wa ta’ala</span></em><span style="color:#050505;">.</span></span></p>
<p><strong><span style="color:#050505;">Mutiara Kisah</span></strong></p>
<p><em><span style="color:#050505;"> </span></em></p>
<p><strong><span style="color:#050505;">&gt;</span></strong><span style="color:#050505;"> Disyari’atkannya mengurus jenazah seperti yang disebutkan dalam hadits di atas. Syari’at tersebut adalah syari’at semua utusan, maka setiap praktek pengurusan jenazah yang tidak sesuai dengan yang dijelaskan dalam kisah di atas adalah penyelewengan.</span></p>
<p><strong><span style="color:#050505;">&gt; </span></strong><span style="color:#050505;">Para malaikat Allah </span><em><span style="color:#050505;">Subhanahu wa ta’ala</span></em><span style="color:#050505;"> diberikan kemampuan berubah wujud menjadi manusia biasa. Bahkan mereka bisa mengajarkan kepada anak-anak Adam secara teori dan praktek (dalam hal pengurusan jenazah).</span></p>
<p><strong><span style="color:#050505;">&gt; </span></strong><span style="color:#050505;">Kisah di atas menunjukkan tingginya akhlak anak-anak Nabi Adam </span><em><span style="color:#050505;">alaihis salaam</span></em><span style="color:#050505;">, mereka menyerahkan kepada para malaikat perihal pengurusan jenazah yang memang mereka belum memiliki ilmunya.</span></p>
<p><strong><span style="color:#050505;">&gt;</span></strong><strong><span style="color:#050505;"> </span></strong><span style="color:#050505;">Hendaknya seorang suami memperingatkan isterinya jika menyimpang dari jalan yang lurus. Allah </span><em><span style="color:#050505;">Subhanahu wa ta’ala</span></em><span style="color:#050505;"> telah memperingatkan kita dari bahaya sebagian isteri dan anak-anak kita. Allah </span><em><span style="color:#050505;">Subhanahu wa ta’ala</span></em><span style="color:#050505;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#050505;">يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُؤْااِنَّ مِنْ اَزْؤَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّالَّكُمْ فَاحْذَرُهُمْ</span></p>
<p><span style="color:#050505;">“</span><em><span style="color:#050505;">Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.</span></em><span style="color:#050505;">” (QS. At Taghobun 64:14)</span></p>
<p><em><span style="color:#050505;">Wallahu ‘Alam</span></em></p>
<p><em><span style="color:#050505;"><br />
</span><span style="color:#050505;"> </span></em></p>
<h5><span style="font-weight:normal;"><em><span style="color:#050505;">Dikutip dari</span></em><span style="color:#050505;"> Majalah Al-Furqon Edisi Khusus Thn. Ke-9 Syawal 1430 H/Okt. 2009.</span></span></h5>
<h5><span style="font-weight:normal;"><em><span style="color:#050505;">Judul asli</span></em><span style="color:#050505;">: Menuai Ibrah Dari Wafatnya Nabi Adam</span></span></h5>
<h5><span style="font-weight:normal;"><em><span style="color:#050505;">Diarsipkan pada</span></em><span style="color:#050505;"> dedykusnaedi.wordpress.com</span></span></h5>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;"><br />
</span><span style="color:#050505;"> </span></span></p>
<hr size="1" />
<h5><span style="color:#050505;"><a href="#_ftnref"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#050505;">[1]</span></span></a><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#050505;"> Nabi Adam alaihis salam mengisyratkan kalimat tersebut karena dahulu ia dikeluarkan dari surga sebab memakan buah terlarang untuk memenuhi permintaan isterinya.</span></span></span></h5>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/459/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=459&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/04/23/wafatnya-nabi-adam-alaihis-salam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Infaq dan Shodaqoh</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/04/11/infaq-dan-shodaqoh/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/04/11/infaq-dan-shodaqoh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 01:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mu'amalah]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[infaq]]></category>
		<category><![CDATA[sodaqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Infaq menurut bahasa adalah mengeluarkan sesuatu untuk sesuatu. Menurut istilah ialah mengeluarkan sebagian harta atau suatu penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan oleh ajaran Islam. Berarti infaq menurut syara’ ialah mengeluarkan sebagian harta untuk kemaslahatan umum, lembaga atau orang yang membutuhkan, baik mengenai urusan duniawi maupun mengenai keakhiratan. Infaq hampir sama dengan shodaqoh. Infaq hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=440&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Infaq menurut bahasa adalah mengeluarkan sesuatu untuk sesuatu. Menurut istilah ialah mengeluarkan sebagian harta atau suatu penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan oleh ajaran Islam. Berarti infaq menurut syara’ ialah mengeluarkan sebagian harta untuk kemaslahatan umum, lembaga atau orang yang membutuhkan, baik mengenai urusan duniawi maupun mengenai keakhiratan.<span id="more-440"></span></p>
<p>Infaq hampir sama dengan shodaqoh. Infaq hanya sebatas pengeluaran materi (harta), sedangkan shodaqoh adalah amalan yang lebih luas, yaitu selain yang bersifat mengeluarkan materil (harta) juga yang bersifat imateril (akhlak/moral). Mengeluarkan beberapa ribu rupiah untuk kesejahteraan masjid adalah shodaqoh. Demikian pula memberikan senyum kepada orang lain, atau menyerahkan tempat duduknya di tempat atau kendaran umum kepada seorang ibu hamil yang sedang berdiri adalah shodaqoh. Mengajarkan ilmu kepada orang lain tanpa memikirkan imbalan disebut pula shodaqoh. Orang yang baru selesai shalat secara berjama’ah, kemudian ada orang yang baru datang hendak shalat fardhu, sedangkan dalam masjid tidak ada lagi orang yang akan melakukan shalat, ia bersedia shalat berjama’ah dengannya, maka itupun disebut shodaqoh (sebagai shalat sunnat baginya). Sikap diam pun adalah shodaqoh apabila yang akan diucapkan atau dilakukannya akan menimbulkan masalah.</p>
<p>Shodaqoh (shadaqa) yang berarti benar. Orang yang suka bershodaqoh adalah orang yang benar pengakuan imannya.</p>
<p>Mengeluarkan sebagian harta di jalan Allah adalah sebagai amalan yang menunjukkan tanda keimanan dan ketaqwaan seorang muslim. Dengan demikian Islam dapat tegak dan berkembang karena ada pengorbanan yang nyata dengan mengeluarkan sebagian rizqinya.</p>
<p>Sebagian harta yang dikeluarkan untuk kemaslahatan umum akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda oleh Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>. Mengeluarkan sebagian harta di jalan Allah, berarti kita memberikan pinjaman kepada Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>, seperti dalam firman-Nya:</p>
<p>“<em>Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizqi) dan kepada Allah kamu dikembalikan</em>.” (QS. 2:245)</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> memerintahkan hambanya agar mengeluarkan sebagian harta di jalan yang baik untuk kepentingan orang lain, karena Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> menganggap infaq dan sodaqoh itu sebagai utang yang baik kepada-Nya dan menanamkannya sebagai tabungan yang baik, simpanan yang tidak akan hilang dan akan tetap berada di sisi Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>, bahkan dilipatgandakan pahalanya. Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> akan membayarnya dalam jumlah berlipat ganda.</p>
<p>Sedangkan terhadap kaum yang memiliki sifat bakhil (kikir), Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> akan menyempitkan rizqinya. Artinya, walaupun dalam hal materi manusia memperoleh kesuksesan besar, tapi akan mendapat kesulitan untuk keluar dari himpitan-himpitan dunia dalam  perkara-perkara lain. Banyak sekali contoh-contoh yang dialami kaum kikir di zaman sekarang ini. Dalam perkara-perkara duniawi, bisa dikatakan sukses dan berlimpah, tapi karena memiliki sifat kikir, maka dicopot rizqinya dari sisi yang lain. Anaknya yang diharapkan menjadi anak yang sholeh yang menjadi aset dunia dan akhirat bagi orang tua, terkulai tak berdaya karena akrab dengan narkoba dan minuman keras. Atau anaknya yang diharapkan kelak menjadi manusia terpelajar dan terhormat malah mogok sekolah/kuliah dan jatuh ke dalam jurang kehinaan. Atau jabatannya di kantor meluncur jatuh ke dalam lembah kenistaan. Atau puluhan jutaan rupiah diberikan kepada rumah sakit atau dokter untuk kesembuhan di antara anggota keluarganya yang ditimpakan sakit. <em>Allaahu a’lam.</em></p>
<p>Kita harus merasa bahwa ibadat yang ditegakkan dapat terwujud diantaranya karena kaum muslimin bersedia dan ikhlas mengeluarkian sebagian harta di jalan Allah, dan membawa kepada kemaslahatan umum. Apa yang diinfaqkan akan menjadi kebaikan-kebaikan yang manfaatnya, selain dapat dirasakan oleh diri sendiri, juga dapat dirasakan oleh  saudara-saudara muslim yang lain.</p>
<p>Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri, kaum muslimin dapat beribadat dalam bangunan masjid karena infaq dan shodaqoh, sebagai wujud dari keimanan dan ketaqwaan seorang muslim. Dalam ruangan masjid yang terang benderang dengan cahaya lampu listrik, sehingga dapat sempurna dalam menjalankan ibadat adalah karena adanya infaq dan  shodaqoh dari kaum muslimin. Demikian pula dalam syi’ar-syi’ar Islam dan kegiatan-kegiatan pencarian ilmu (ilmu syar’i) dalam ruang masjid yang terang adalah karena infaq dan shodaqoh dari kaum muslimin.</p>
<p>Sabda Nabi <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em>:</p>
<p>“<em>Orang yang murah hati dekat kepada Allah, dekat kepada syurga dan dekat kepada manusia. Dan orang yang murah hati itu jauh dari neraka.</em></p>
<p><em>Sedangkan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari syurga, jauh dari manusia, dan dekat kepada neraka.</em></p>
<p><em>Orang yang bodoh tapi pemurah, lebih disukai Allah dari pada orang yang ta’at beribadah tapi kikir.”</em> (HR. Turmudzi).</p>
<p>Bakhil (kikir) adalah sikap mental manusia yang merasa berat untuk mengeluarkan sebagian hartanya yang menjadi suatu keharusan untuk dikeluarkan (diinfaqkan/shodaqoh). Penyakit kikir tumbuh subur pada lahan individualisme. Individuaslisme adalah suatu paham atau falsafah  yang mempunyai pandangan sosial yang menekankan kepentingan dan kebebasan sendiri. Paham yang menganggap individu perlu diperhatikan dan lebih penting daripada orang lain (secara pandangan umum), oleh karenanya yang berpandangan demikian tidak akan cepat gampang mengeluarkan sebagian hartanya, karena dalam dirinya tumbuh sifat kikir. Islam sangat memandang rendah terhadap orang yang memiliki sifat kikir, karena sifat kikir menjauhkan dari dua kebaikan, yaitu kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.</p>
<p>Dengan tidak disadari bahwa yang demikian itu akan membawa kerugian untuk dirinya, sebab tidak disadari pula bahwa <em>orang kikir itu dijauhi Allah </em><em>Subhanahu wa ta’ala dan dekat dengan neraka.</em></p>
<p>Manusia yang berhasil mengalahkan sifat kikir yang ada di dalam dirinya, yang selalu menggoda dan menghalang-halangi niat baiknya, maka Islam memandangnya sebagai suatu nilai kemuliaan terhadapnya.</p>
<p>Usaha untuk memperoleh sesuatu adalah usaha untuk mencari sesuatu yang gaib, sebab kita tidak bisa mengetahui dengan pasti, apakah esok lusa usaha akan berhasil atau tidak. Kalaupun prediksi keberhasilan lebih kuat, kita tidak tahu dengan pasti berapa qadar (ukuran) yang akan diperoleh. Atau bahkan wafat akan lebih mendahului sebelum hasil usaha bisa dinikmati, sebab datangnya kejadian berada dalam dimensi ruang dan waktu yang belum kita lalui.</p>
<p>Kotak amal atau kencleng yang biasa berada dalam masjid, atau ditempat-tempat lain yang ditentukan, bukanlah tempat untuk menerima infaq atau shodaqoh, tapi untuk menampung dana dari kaum muslimin yang karena ketaqwaan telah mengeluarkan sebagian rizqinya untuk kepentingan tegaknya Islam, serta untuk kesempurnaan ibadah kaum muslimin.</p>
<p><strong><em>Merasa beratkah mengirimkan sesuatu ke masa yang akan datang (akhirat)?</em></strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> memperingatkan:</p>
<p><em>1. </em><em>Segeralah beramal kebajikan sebelum kemiskinan yang membuat lupa pada kewajiban.</em></p>
<p><em>2. </em><em>Segeralah beramal kebajikan sebelum kekayaan akan menjadikan rasa sombong yang melewati batas.</em></p>
<p><em>3. </em><em>Segeralah beramal kebajikan sebelum penyakit mengerogoti tubuh hingga rusak.</em></p>
<p><em>4. </em><em>Segeralah beramal kebajikan sebelum masa ketuaan yang menimbulkan kelemahan/pikun atau tubuh menjadi renta.</em></p>
<p><em>5. </em><em>Segeralah beramal kebajikan sebelum kematian menyelesaikan segala-galanya.</em></p>
<p><em>6. </em><em>Segeralah beramal kebajikan sebelum Dajjal yang sejahat-jahat yang dinantikan.</em></p>
<p><em>7. </em><em>Segeralah beramal kebajikan sebelum hari Qiamat yang sangat berat dan sangat sukar.</em></p>
<p><em>Wallaahu a’lam bi ash shawab.</em></p>
<p><em>(dedy kusnaedi)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/440/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=440&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/04/11/infaq-dan-shodaqoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bolehkah kita berwudhu di kamar mandi?</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/04/02/bolehkah-kita-berwudhu-di-kamar-mandi/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/04/02/bolehkah-kita-berwudhu-di-kamar-mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 22:21:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[wajib]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[Boleh berwudhu di dalam kamar mandi, apabila aman dari percikan najis. Berkata Komite Tetap Untuk Riset llmiyyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia: إذا وضع حائل بين الماء الذي ينزل من الصنبور وبين محل النجاسة بحيث إن الماء إذا نزل على الأرض تكون هذه الأرض طاهرة فلا مانع من الوضوء والاستنجاء &#8220;Apabila ada batas antara kran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=405&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><!-- .fullpost{display:inline;} --><strong> </strong>Boleh berwudhu di  dalam kamar mandi, apabila aman dari percikan najis.<br />
Berkata Komite  Tetap Untuk Riset llmiyyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia:<br />
إذا وضع  حائل بين الماء الذي ينزل من الصنبور وبين محل النجاسة بحيث إن الماء إذا  نزل على الأرض تكون هذه الأرض طاهرة فلا مانع من الوضوء والاستنجاء<br />
&#8220;Apabila  ada batas antara kran air dan antara tempat najisnya sehingga air turun  ke tempat yang suci maka tidak mengapa berwudhu dan istinja&#8217; (di dalam  kamar mandi tersebut)&#8221; (Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah 5/86)<span id="more-405"></span><br />
Berkata  Syeikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin rahimahullahu:<br />
يجوز الوضوء  في الحمام ولا حرج فيه ولكن ينبغي للإنسان أن يتحفظ من إصابة النجاسة له  فإذا تحفظ من ذلك فليتوضأ في أي مكان كان<br />
&#8220;Boleh berwudhu di kamar  mandi dan tidak masalah, akan tetapi hendaknya menjaga diri dari ditimpa  najis, apabila bisa terjaga dirinya dari najis maka silakan dia  berwudhu dimana saja&#8221;  (http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1637.shtml)<br />
Beliau  rahimahullahu  juga berkata:</p>
<p>يجوز للإنسان أن يتوضأ في المكان الذي  تخلى فيه من بوله أو غائطه لكن بشرط أن يأمن من التلوث بالنجاسة بأن يكون  المكان الذي يتوضأ فيه جانباً من الحمام بعيداً عن مكان التخلي أو ينظف  المكان الذي ينزل فيه الماء من الأعضاء في الوضوء حتى يكون طاهراً نظيفاً<br />
&#8220;Boleh  bagi seseorang berwudhu di tempat dia buang air kecil dan buang air  besar, dengan syarat aman dari percikan najis, yaitu tempat wudhunya  jauh dari tempat buang air, atau dibersihkan dahulu tempat turunnya air  dari anggota badan sehingga menjadi bersih dan suci&#8221;  (http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1096.shtml)</p>
<p><em>Hukum  membaca dzikir di kamar mandi</em></p>
<p>Membaca dzikir di kamar mandi  makruh, karena berbicara di dalam kamar mandi hukumnya makruh dan  membaca dzikir termasuk berbicara. Demikian pula kita diperintahkan  untuk mengagungkan syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah dan diantara bentuk pengagungan  adalah berdzikir di tempat  yang suci bukan di tempat  yang kotor dan  membuang hajat.<br />
Allah ta&#8217;aalaa berfirman:<br />
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ  شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (32)  [الحج/32]<br />
<em>&#8220;Demikianlah  (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah, maka  sesungguhnya itu termasuk ketaqwaan hati. (QS. 22:32)&#8221;</em><br />
Berkata  Ibnu &#8216;Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma:<br />
يكره أن يذكر الله وهو جالس على  الخلاء<br />
&#8220;Dibenci seseorang dzikrullah sedangkan dia dalam keadaan  duduk di dalam jamban&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam  Al-Mushannaf 1/209 no: 1227, dengan sanad yang hasan)<br />
Abu Wa&#8217;il  rahimahullahu juga berkata:<br />
اثنان لا يذكر الله العبد فيهما إذا أتى  الرجل أهله يبدأ فيسمي الله وإذا كان في الخلاء<br />
&#8220;Dua keadaan dimana  seorang hamba tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, (pertama) ketika  seorang laki-laki mendatangi istrinya, maka hendaklah dia mulai dengan  menyebut nama Allah, (kedua) apabila dia berada di jamban&#8221; (Dikeluarkan  oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf  1/209 no: 1229 ,dengan  sanad yang shahih)<br />
Abu Ishaq As-Sabii&#8217;iy rahimahullah juga berkata:<br />
ما  أحب أن أذكر الله إلا في مكان طيب<br />
&#8220;Aku tidak senang berdzikir kepada  Allah kecuali di tempat yang baik&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di  dalam Al-Mushannaf  1/210 no:1236, dengan sanad yang shahih)<br />
Namun  kemakruhan ini bisa gugur apabila ada hajat atau keperluan,  seperti  mengucap tahmid ketika bersin, mengucap tasmiyyah sebelum wudhu. Berikut  ini adalah sebagian ucapan salaf yang menunjukkan bolehnya berdzikir di  jamban apabila diperlukan.<br />
Berkata Manshur bin Mu&#8217;tamir  rahimahullah:<br />
وسألته عن الرجل يعطس على الخلاء قال يحمد الله فإنها  تصعد<br />
&#8220;Dan aku bertanya kepada Ibrahim (An-Nakha&#8217;iy)  tentang  seseorang yang bersin ketika buang air? Beliau menjawab: Hendaknya dia  memuji Allah (yaitu mengucapkan Alhamdulillah) karena tahmid itu akan  naik (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq di dalam Al-Mushannaf 2/455 no:4063,  dengan sanad yang shahih, dan juga Ibnu Abi Syaibah di dalam  Al-Mushannaf 1/210 no: 1233)<br />
Dari Sya&#8217;by rahimahullahu, beliau  ditanya tentang seseorang yang bersin di jamban, maka beliau berkata:   يحمد الله<br />
&#8220;Hendaklah dia memuji Allah&#8221;. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi  Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1232, dengan sanad yang shahih)<br />
Dari  Muhammad bin Siiriin rahimahullahu beliau berkata:لا أعلم بأسا بذكر  الله<br />
&#8220;Aku tidak memandang adanya masalah dalam dzikrullah (di  jamban)&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210  no:1235, dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Dan inilah yang difatwakan  oleh sebagian ulama kita, Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah  berkata:<br />
لا بأس أن يتوضأ داخل الحمام إذا دعت الحاجة إلى ذلك ، ويسمي  عند أول الوضوء ، يقول : (بسم الله) لأن التسمية واجبة عند بعض أهل العلم ،  ومتأكدة عند الأكثر ، فيأتي بها وتزول الكراهة لأن الكراهة تزول عند  الحاجة إلى التسمية ، والإنسان مأمور بالتسمية عند أول الوضوء ، فيسمي  ويكمل وضوؤه<br />
&#8220;Tidak mengapa berwudhu di dalam kamar kecil apabila  memang diperlukan, dan mengucap tasmiyyah di awal wudhu seraya  mengucapkan&#8221; Bismillah&#8221; karena tasmiyyah wajib menurut sebagian ulama,  dan dikuatkan menurut sebagian besar ulama, maka hendaknya dia  mengucapkan tasmiyyah ini, dan hilang kemakruhannya karena kemakruhan  bisa hilang ketika dibutuhkan tasmiyyah, dan seseorang diperintah untuk  tasmiyyah di awal wudhu, maka hendaknya dia bertasmiyyah dan  menyempurnakan wudhunya&#8221; (Majmu Fataawa Syeikh Abdul Aziz bin Baz 10/28)<br />
Datang  dalam Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah:<br />
يكره أن يذكر الله تعالى نطقاً  داخل الحمام الذي تقضى فيه الحاجة تنزيهاً لاسمه واحتراماً له لكن تشرع له  التسمية عند بدء الوضوء لأنها واجبة مع الذكر عند جمع من أهل العلم<br />
&#8220;Dimakruhkan  dzikrullah dengan lisan di dalam jamban yang digunakan untuk buang  hajat, sebagai penyucian dan penghormatan terhadap nama Allah, akan  tetapi disyari&#8217;atkan tasmiyyah (membaca: bismillah) ketika di awal wudhu  karena ini wajib ketika ketika ingat menurut sebagian ahli ilmu&#8221;  (Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daimah 5/94)</p>
<p><em>Melirihkan Dzikir Di  Kamar Mandi</em></p>
<p>Dan yang perlu diketahui bahwasanya diantara  adab berdzikir di kamar mandi/wc/jamban adalah memelankan suaranya.<br />
Dari  Al-Hasan Al-Bashry  rahimahullah beliau berkata tentang seseorang yang  bersin di dalam jamban: يحمد الله في نفسه<br />
&#8220;Hendaknya dia memuji Allah  dengan di dalam dirinya (yaitu pelan)&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi  Syaibah di dalam Al-Mushannaf  1/210 no: 1234, dengan sanad yang shahih)<br />
Dan berkata Hushain bin Abdurrahman rahimahullahu:<br />
انتهينا إلى  الشعبي وهو مغضب، فقيل له: ما لك يا أبا عمرو ؟ فقال : إن هذا المارق ،  يعني داود بن يزيد الأودي، سألني عن الرجل يعطس في الخلاء، قلت : فما تقول  يا أبا عمرو ؟ قال : « يحمد الله في نفسه »<br />
&#8220;Kami mendatangi  Asy-Sya&#8217;by sedangkan beliau dalam keadaan marah, maka beliau ditanya:  Ada apa wahai Abu &#8216;Amr?<br />
Beliau berkata: Sesungguhnya orang yang  maariq  ini –maksudnya Dawud bin Yazid Al-Audy-, telah bertanya kepadaku  tentang seseorang yang bersin di tempat buang hajat.<br />
Maka aku  berkata: Lalu apa yang kamu katakan wahai Abu &#8216;Amr?<br />
Beliau menjawab:  Hendaklah dia memuji Allah di dalam dirinya ( yaitu dengan pelan)&#8221;  (Dikeluarkan oleh Al-&#8217;Uqaily dalam Adh-Dhu&#8217;afa 2/391, dengan sanad yang  shahih)</p>
<p>Perkataan mereka يحمد الله في نفسه  (Memuji Allah di  dalam dirinya) ada 2 kemungkinan, memuji Allah di dalam hati atau memuji  Allah dengan lisan secara pelan, sebagaimana dijelaskan Syeikhul Islam  dalam Al-Fataawaa Al-Kubraa 5/301.<br />
Dan yang zhahir dari atsar  sebagian salaf di atas –wallahu a&#8217;lam- adalah berdzikir dengan lisan  bukan hanya dengan hatinya.<br />
Akhir kata, tentunya lebih baik apabila  seseorang di dalam rumahnya memiliki tempat wudhu khusus yang berada di  luar kamar mandi/jamban/wc.<br />
Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><em>(Al-Ustadz Abdullah Roy, Lc</em>)</p>
<p>(www.serambimadinah.com)</p>
<p><em>Diarsipkan pada</em> dedykusnaedi.wordpress.com</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/405/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=405&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/04/02/bolehkah-kita-berwudhu-di-kamar-mandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamu Allah Dalam Masjid</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/23/tamu-allah-di-dalam-masjid/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/23/tamu-allah-di-dalam-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 06:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak & Adab]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah allah]]></category>
		<category><![CDATA[tamu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam sangat mementingkan shalat sebagai rukun Islam yang ke dua untuk didirikan sebagai bukti penghambaan (ubudiyah) umat Islam kepada Allah Subhanahu wa ta’ala . Oleh karena itu Rasulullah Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam memerintahkan untuk membangun masjid dan tempat adzan untuk melaksanakan ibadah shalat. Masjid adalah suatu tempat di muka bumi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=297&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#050505;">Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam </em>sangat mementingkan shalat sebagai rukun Islam yang ke dua untuk didirikan sebagai bukti penghambaan (<em>ubudiyah</em>) umat Islam kepada Allah <em>Subhanahu wa ta’ala .</em> Oleh karena itu Rasulullah <em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam </em>memerintahkan untuk membangun masjid dan tempat adzan untuk melaksanakan ibadah shalat.<span id="more-297"></span></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Masjid adalah suatu tempat di muka bumi yang disukai Allah <em>Subhanahu wa ta’ala.</em> Ada riwayat dari Jubair bin Muth’im, bahwa seseorang bertanya kepada Nabi <em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam </em>:</span></p>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Wahai Rasulullah, tempat manakah yang paling dicintai Allah, dan tempat manakah yang dibenci oleh Allah?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu, akan aku tanyakan kepada Jibril.” Lalu Beliau menemuinya, dan Jibril memberitahukan kepada Beliau: “Sesungguhnya tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjid, dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasar.” </em>(HR. Ahmad dan Al Bazzar. Dinilai shahih oleh Al-Hakim, dan Muslim meriwayatkannya dari hadits Abu Hurairah tanpa ada kisahnya).</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em>berfirman dalam hadits Qudsi:</span></p>
<h3><span style="color:#050505;">اِنَّ بُيُوُتِى فِ الْارَضِ الْمَسَاجِدُ وَاِنَّ زُوَّاِفِيهَا عُمَّارُهَا</span></h3>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi adalah masjid-masjid, dan para pengunjungnya adalah orang-orang yang memakmurkannya.”</em> (HQR. Abu Na’im dari Sa’id al-Khudri ra).</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Dengan hadits-hadits ini Allah telah memberitahukan kepada kita, bahwa Allah mempunyai rumah di bumi, yaitu masjid-masjid sebagai tempat untuk kaum muslimin melakukan ibadah dan mengabdi kepada-Nya. Oleh karena itu masjid adalah tempat yang termulia di muka bumi.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Salman al-Farisi <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad <em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam</em> bersabda, “<em>Siapapun  yang datang ke masjid, ia seperti seorang tamu yang berniat untuk  mengunjungi Allah, </em><em> </em><em> dan Allah</em><em> </em><em>menghormati tamu Nya</em>.” (Mazari)</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Hadits tersebut di atas juga menyebutkan, bahwa orang-orang yang mengunjungi masjid dan memakmurkannya dengan shalat, dzikir, shalawat, membaca Al-Qur’an dan dengan cara-cara yang  lain untuk mendekatkan diri kepada Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em>adalah tamu Allah, dan Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> memuliakan tamunya<em>.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Dan tamu Allah di muka bumi adalah tamu yang termulia, sebab shahibul-bait (tuan rumah) sebagai penerima tamu itu adalah Allah <em>Subhanahu wa ta’ala.</em><em> </em>Dan Allah <em>Subhanahu  wa ta’ala </em> akan memuliakan tamu-Nya di dalam rumah-Nya dengan jalan mengkaruniakan pahala. Selanjutnya dapat dikatakan dari beberapa hadits, bahwa pengunjung-pengunjung dan orang-orang yang suka memakmurkan masjid adalah termasuk orang-orang yang dicintai Allah.  Orang-orang yang ingin menjadi tamu Allah akan keluar dari rumahnya untuk pergi ke masjid walaupun di perjalanan dalam keadaan gelap gulita sekalipun. Dan dapat dipastikan, bahwa orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang beriman yang ta’at kepada Allah <em>Subhanahu   wa ta’ala.</em></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Burada <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> meriwayatkan bahwa Nabi <em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam</em> bersabda, “<em>Siapapun yang berangkat ke masjid dalam (keadaan) kegelapan, sampaikan padanya bahwa ia akan mendapat penerangan pada Hari Akhirat</em>”. (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong>Adab sebagai tamu Allah di dalam masjid.</strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Said bin Al Mussayib meriwayatkan, “<em>Siapapun yang sedang duduk di dalam rumah Allah Subhanahu wa ta’ala, (berarti) ia sedang duduk bersama Allah. Ia seharusnya hanya melibatkan dirinya dalam kebaikan dan pembicaraan yang baik</em>.” (Syaikh Al Qurtubi)</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Para ulama telah menguraikan beberapa adab  yang harus diperhatikan oleh kaum muslimin yang berkaitan dengan perkara memuliakan masjid:</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#050505;">Ucapkan salam kepada orang-orang yang berada dalam masjid, kecuali jika mereka sedang  shalat atau membaca Al Qur’an atau tengah berzikir. Jika di dalam masjid tidak ada orang, selain membaca do’a sebelum memasuki masjid, juga ucapkanlah “Salam bagi kita dan bagi orang-orang yang saleh.” Walaupun kelihatannya tidak ada orang, tapi yang akan menjawab salam kita adalah Malaikat.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Dirikanlah shalat dua raka’at untuk memuliakan tempat ini dengan Tahiyyatul Masjid, kecuali di tiga waktu dimana dilarang untuk shalat. Tiga waktu itu adalah ketika matahari terbit dan terbenam, dan ketika ia tepat berada di atas kepala di siang hari. (Sebagian ulama membolehkan shalat pada ketiga waktu tersebut karena adanya sebab).</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Dilarang membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring, lebih-lebih dengan menggunakan alat pengeras suara hingga mengganggu orang yang tengah mendirikan shalat walaupun shalat sunnah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang orang yang membaca Al-Qur&#8217;an dengan suara nyaring  sementara saudaranya yang lain sedang mendirikan shalat tahiyyatul masjid, sehingga mereka merasa terganggu oleh suara bacaan Al-Qur&#8217;an yang nyaring itu. Beliau menjelaskan bahwa jika pada saat bersamaan ada saudaranya yang  lain sedang shalat sunnat, tidak seharusnya seorang muslim membaca Al-Qur&#8217;an dengan suara nyaring. Benar  membaca Al-Qur&#8217;an adalah ibadah, tapi ibadah kepada Tuhan, dan Tuhan  tidak tuli. Kata Imam Malik, orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring sehingga mengganggu orang shalat seharusnya dia dikeluarkan dari dalam masjid.  Sabda Nabi <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam </em> : اِنَّ الْمُصَلِّيَ يُنَا جِيْ رَبَّهُ عَزَّوَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ بِعَايُنَا جِيْهِ وَلَايَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بَالْقُرْاَنِ. &#8220;<em>Sesungguhnya orang shalat itu ialah orang yang sedang berbisik-bisik dengan Tuhannya, oleh sebab itu, hendaklah ia perhatikan bisikannya, dan jangan sebagian dari kamu membaca Qur&#8217;an dengan suara nyaring sehingga mengganggu yang lain&#8221;. </em>Sabdanya pula: <em>&#8220;Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian bermunajat kepada Rabbnya, karena itu janganlah kalian saling mengeraskan suara dalam bacaan.&#8221; </em><em><br />
</em> (HR. Ahmad dan Abu Dawud)</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan membawa sumber bau-bauan yang busuk dan tengik, seumpama asap rokok, bau badan, dan sebagainya ke dalam masjid. </span>عَنْ عَاءِشَةَ رض قَالَْ ظ اَمَرَرَسُوْلُ الَّلهِ صلعم بِبِنَاءِ اْلمَسْجِدِ فِى الدَّوْرِوَاَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ<span style="color:#050505;"> </span><span style="color:#050505;">Dari Siti &#8216;Asyah </span><em>radhiyallahu  ‘anhuma </em>berkata &#8220;<em>Rasulullah memerintahka supaya dibangun masjid-masjid ditiap-tiap kampung sebagaimana Rasulullah </em><em>Shallallaahu   ‘Alaihi  wa  Sallam </em><em>memerintahkan kita menjaga kebersihan masjid dan mewangikannya</em>.&#8221;</li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan keluar meninggalkan masjid setelah adzan diserukan sebelum ia melakukan shalat,  kecuali ada udzur.  Sabda Nabi  <em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam : </em>اِذَا كُنْتُمْ فِي مَسْجِدٍ فَنُوْدِيَ بِالصَّلَاةِ فَلَايَحْزُجْ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُصَلِّيَ<em>.  &#8221; Apabila kamu di dalam masjid, lalu terdengar adzan diserukan, maka janganlah seorang daripada kamu ke luar sebelum shalat.&#8221;</em> (HR. Ahmad)<em><br />
</em></span></li>
<li><span style="color:#050505;">Tidak dibenarkan menjadikan masjid sebagai ajang bisnis, baik lisan maupun tulisan (brosur).   Sabda  Nabi  <em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam: </em>اِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيْعُ اَوْيَبْتَاعُ فِىالْمَسْجِدِ فَقوْلُوُا لَااَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ .  &#8220;<em>Apabila kamu melihat seseorang berjual-beli di dalam masjid, katakan oleh kalian kepadanya: Semoga Allah tidak memberi keuntungan kepada usaha dagangmu</em>.&#8221; (HR. Nasa&#8217;i dan Turmudzi).</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan membawa atau mengeluarkan senjata tajam apabila tidak dapat menguasainya (hati-hati dengan ketajamannya).  Ada hadits meriwayatkan<em>: </em>قَالَ عَمْرُوْ: اِنَّ رَجُلًا مَرَّفِىا لْمَسجِدِ بِاَسْهُمٍ قَدْاَبْدَى نُصُوْلَهَا فَاَمَرَا لنَّبِيُّ ص اَنْ يَأ خُذَ بِنُصُوْلِهَاكَيْ لَاتَخْدِشَ مُسْلِمًا<em> </em>. &#8220;<em>Telah berkata &#8216;Amr: Sesunguhnya seorang laki-laki pernah berjalan di masjid dengan membawa panah yang keluar ujung tajamnya</em>,<em> maka Nabi </em><em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam menyuruh ia menjaga terhadap tajam-tajamnya anak panah itu, supaya tidak melukai seorang muslim.</em>&#8220;</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan membuat pengumuman tentang barang-barang hilang. Nabi <em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam </em>bersabda: مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِىالْمَسْجِدِ  فَلْيَقُلْ لَارَدَّهَااللَّهُ عَلَيْكَ فاِنَّ المَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا .  &#8220;<em>Barang siapa mendengar orang yang mencari binatangnya yang hilang di masjid, hendaknya katakanlah: Tidaklah engkau akan menemukannya kembali (barang itu), karena masjid-masjid tidak didirikan untuk itu.&#8221; </em>(HR. Muslim dan Abu Dawud).</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan berteriak-teriak di dalam masjid.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan bersiul dan bertepuk tangan di dalam masjid. Fiman Allah <em>Subhanahu wa ta’ala: &#8220;Dan shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu.&#8221; </em>(QS. Al-Anfaal:35).</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan banyak memperbincangkan urusan duniawi. Nabi <em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam</em> bersabda, “<em>Di akhir zaman sebagian orang akan duduk dalam berbagai kelompok di dalam masjid dan hanya sibuk membicaraan duniawi yang menandakan cintanya terhadap kehidupan duniawi. Jangan duduk dengan mereka, karena Allah Subhanahu wa ta’ala (Tuan Rumah) tidak memerlukan orang-orang seperti itu di dalam masjid</em>.”  (HR. Al-Hakim, disahkan oleh Al-Albani. Al-Dzahabi: Shahih)</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Janganlah melewati  ruang masjid dengan maksud hendak memotong jalan ketempat lain atau ke tempat wudhu. Jadi tidak dibenarkan ruang masjid digunakan sebagai jalan lintasan,  seperti masuk masjid melalui pintu kiri langsung keluar pintu kanan. Rasulullah <em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam </em>bersabda:   اَلْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيْءَةٌ وَكَفَّا رَتُهَا دَفْنُهَا   “<em>Janganlah engkau menjadikan masjid sebagai jalan untuk lewat kecuali untuk berdzikir dan menunaikan shalat</em>.&#8221; (Dihasankan oleh Al-Albani dalam kitab Al-Silsilah Al-Shahihah No. 1001).</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan bertengkar dengan orang lain di dalam masjid.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan memaksakan diri shalat berjama&#8217;ah berdesak-desakan dalam shaf jika tidak cukup tempat, karena akan mengakibatkan tidak tuma’ninah dalam shalat.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan melintas (berjalan) di hadapan orang yang sedang mendirikan shalat, karena hal itu akan menempatkan dirinya sebagai syetan. Sabda Rasulullah <em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam </em><em>: </em>&#8220;<em>Apabila di antara kamu mendirikan shalat dengan menggunakan pembatas tempat sujud (sutrah), tapi kemudian ada orang yang hendak melintas di hadapannya, maka hendaklah ia tolak di dadanya. Apabila ia enggan, maka hendaklah ia perangi (tolak dengan tegas), karena ia itu tidak lain melainkan syetan</em>.<em>&#8221; </em>(HR. Bukhari dan Muslim).</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Disunnatkan (sebagian ulama mewajibkan) shalat dengan menghadap sutrah (pembatas tempat sujud), yaitu dapat berupa dinding, tiang masjid, orang sedang shalat atau orang yang sedang duduk berdzikir, atau apa saja yang bisa memberi kesan sebagai pembatas tempat sujud.<br />
</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan mememasuki masjid melalui pintu yang diperuntukkan bagi kaum wanita.  عَنْ نَافِعٍ : اَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَنْهَى اَنْ يَدْخُلَ مِنْ بَابِ الِذّسَاءِ .  &#8220;<em>Dari Nafi : Bahwasanya Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma</em> <em>pernah melarang dia masuk masjid dari pintu yang diperuntukkan bagi kaum perempuan.&#8221; </em>(R. Abu Dawud)<em><br />
</em></span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan meludah atau membersihkan hidung di dalam masjid. Nabi <em>Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam </em>bersabda :<em> </em>مَنْ دَخَلَ هَذَا الْمَسْجِدَ فَبَزَقَ فِيهِ اَوْتَنَخَّمَ فَلْيَحْفِرْ  فَلْيَدْ فَنْهُ فَاِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلْيَبْزُقْ فِيْ<em> </em><strong>شَوْبِهِ </strong>شُمَّ لْيَخْرُجْ بِهِ   .  &#8221; <em>Barangsiapa masuk masjid ini, lalu ia meludah atau ia berdahak, maka hendaklah ia tanam ludah itu (dalam mulutnya), atau kalau tidak, hendaklah ia ludahkan di pakaiannya, lalu ia bawa keluar dahak itu. &#8221; </em>(HR. Abu Dawud). (<strong>شَوْبِهِ</strong> <em>tsaub </em>artinya pakaian, ialah barang tenunan yang ada di atas badan kita. Maksudnya adalah tentu <em>diludahkan </em>kepada seumpama saputangan atau selendang, atau lebih praktis jika ada gangguan ludah atau dahak dengan membawa kertas tisue. Ludah atau dahak tidak termasuk najis).</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan membunyikan persendian tulang.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jangan bermain-main dengan bagian manapun dari tubuh kita. Terutama ketika mendengarkan Khutbah Jum’at.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Jagalah kebersihan dan jangan membawa anak-anak yang masih bayi atau orang gila ke dalam masjid.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Sibukkanlah diri dengan banyak-banyak berdzikir kepada Allah SWT. (Syaikh Al Qurtubi).</span></li>
</ol>
<p><span style="color:#050505;">Semoga kita menjadi tamu Allah yang selalu dalam keikhlasan, agar senantiasa mendapat ridha-Nya. Amin</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Wallahu a&#8217;lam.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">(<em>Dedy Kusnaedi).</em></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="text-decoration:underline;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><em><span style="text-decoration:underline;">Maraji:</span></em></span></p>
<p><span style="color:#050505;">1.  Targhib wa Tarhib, <em>Ibnu Hajar Al-Asqalani.</em></span></p>
<p><span style="color:#050505;">2.  Ibaanatul Ahkam, <em>Alawi Abbas Al-Maliki, Hasan Sulaiman An-Nuri.</em></span></p>
<p><span style="color:#050505;">3.  Hadits Qudsi, <em>K.H.M. Ali Usman dkk.</em></span></p>
<p><span style="color:#050505;">4.  Soal-Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama, <em>A. Hasan</em>.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">5.  Sumber-sumber lain.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/297/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=297&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/23/tamu-allah-di-dalam-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wajibkah shalat fardhu secara berjama’ah di masjid?</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/11/wajibkah-shalat-berjamaah-di-masjid/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/11/wajibkah-shalat-berjamaah-di-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 08:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[adzan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sutroh]]></category>
		<category><![CDATA[wajib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa SallamAl-jama’ah menurut pengertian bahasa ialah kumpulan orang banyak, kumpulan orang beribadat, rombongan, suatu golongan atau himpunan dalam suatu kaum. Himpunan suatu kaum yang hatinya sudah dihuni oleh suatu konsep aqidah. Sedangkan Al-Jama‘ah menurut pengertian syara’ adalah “penghubung antara shalat makmum dengan imam”. Wujudnya adalah shalat herjama’ah. Berarti bersatunya hati dalam naungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=236&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa SallamAl-jama’ah menurut pengertian bahasa ialah kumpulan orang banyak, kumpulan orang beribadat, rombongan, suatu golongan atau himpunan dalam suatu kaum. Himpunan suatu kaum yang hatinya sudah dihuni oleh suatu konsep aqidah.</p>
<p>Sedangkan Al-Jama‘ah menurut pengertian syara’ adalah “penghubung antara shalat makmum dengan imam”. Wujudnya adalah shalat herjama’ah. Berarti bersatunya hati dalam naungan ibadah yang sangat besar. Bersatunya jiwa dalam memanjatkan do’a dan mengadu kepada Allah <em>Subhanahu wa ta’ala.</em><span id="more-236"></span></p>
<p>Himpunan dalam ikatan dan kerukunan sesama kaum Muslimin, menjadikan suatu hakikat, yaitu adanya ikatan antara imam<span style="color:#ff0000;">1)</span> dengan ma’mum dalam memeluk Islam secara jelas dan nyata.</p>
<p>Firman Allah <em>Subhanahu wa ta’ala:</em></p>
<h3>وَاَقِيْمُواالصَّلَوةَ وَاَتُواالزَّكَوةَ وَرْكَعُوْامَعَ الرَّاكِعِيْنَ</h3>
<p>“<em>Dan dirikan olehmu shalat, dan keluarkanlah olehmu zakat, dan rukulah kamu beserta orang-orang yang ruku</em>.” (QS. Al-Baqarah:43)</p>
<p>Ayat yang mulia ini menegaskan wajibnya shalat secara berjama’ah. Dalam ayat tersebut sangat jelas, <em>dan rukulah kamu beserta orang-orang yang ruku</em>. Ini perintah untuk ruku (tunduk, khusyu, merendah diri) beserta orang-orang yang ruku. Berarti manusia diperintah untuk shalat secara bersama-sama, atau diperintah untuk shalat secara berjama’ah.</p>
<p>Masih banyak kaum muslimin yang menganggap sederhana terhadap didirikannya shalat fardhu secara berjama’ah di masjid. Atau karena ketidaktahuan bagaimana pentingnya shalat fardhu secara berjama’ah itu. Atau barangkali karena terpengaruh oleh kaidah ushul fiqih, bahwa shalat berjama’ah itu hukumnya sunnat, yang berarti akan mendapat pahala bila dikerjakan, dan tidak berdosa apabila ditinggalkan. Selayaknya seorang muslim tidak meremehkan suatu perkara yang Allah malah menganggapnya besar dalam Al Qur’an. Dan rasul-Nya juga melakukan demikian.</p>
<p>Apakah karena dianggap tidak berdosa kemudian tidak  menghadiri jama&#8217;ah untuk shalat bersama-sama di masjid? Dan apakah benar tidak berdosa apabila tidak menghadirinya? Apakah dengan shalat berjama’ah di masjid kemudian menjadikan shalat di rumah tidak shah? Ataukah belum ada niat untuk shalat secara berjama’ah di masjid?</p>
<p>Suatu fakta menunjukkan, bahwa apabila adzan Magrib dikumandangkan, banyak kaum muslimin pergi ke masjid untuk shalat fardhu secara berjama’ah. Akan tetapi, bila waktunya adzan Isya dikumandangkan, berkuranglah kaum muslimin yang hendak shalat secara berjama’ah. Terutama pada waktu subuh, banyaklah berkurangnya. Dan orang yang biasa datang ke masjid untuk shalat fardhu secara berjama’ah itu, kalau boleh dikatakan sebagai wajah ahlul masjid yang itu-itu juga.</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu ’anhu </em>menceritakan hadits berikut, bahwa Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> pernah bersabda:</p>
<p>“<em>Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafiq ialah shalat Isya dan shalat Subuh. Tetapi seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat pada keduanya (Isya dan Subuh), niscaya mereka mendatanginya, sekalipun harus dengan (jalan) merangkak”. </em> (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Waktu Isya adalah waktunya istirahat dari kesibukan dan bekerja sepanjang hari. Berkumpul bersenda gurau bersama keluarga di rumah, bercengkrama bersama anak isteri, sehingga merasa berat pergi ke luar rumah untuk shalat fardhu secara berjama’ah di masjid.</p>
<p>Udara subuh adalah waktu yang paling dingin untuk dinikmati dalam selimut. Kondisi ini sangat kuat menahan seseorang untuk tidak beranjak dari tempat tidur. Sangat berat rasanya pergi keluar rumah untuk shalat secara berjama’ah di masjid.</p>
<p>Semua keadaan itu sangat kuat untuk memalingkan seseorang dari shalat berjama’ah, maka yang demikian itu dirasakan sangat berat bagi orang-orang yang seperti dikatakan oleh Rasulullah <em>Sha-llallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> sebagai orang-orang munafiq. Namun apabila mereka mengetahui apa yang akan diberikan oleh Allah <em>Subha-nahu wa ta’ala</em> berupa pahala serta kebaikan jika pergi ke masjid untuk shalat fardhu secara berjama’ah, pasti mereka akan datang memenuhi seruan adzan untuk shalat berjama’ah, walaupun dengan cara jalan merangkak seperti anak kecil sekalipun.</p>
<p>Ada hadits riwayat yang menerangkan, bahwa ketika dalam perang Dzatur Riqa’, Rasulullah<em> Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> shalat berjama’ah bersama sebagian sahabat. Di belakang Beliau satu shaf berma’mum kepada Beliau, dan sebagian lagi membelakangi untuk berjaga-jaga menghadapi musuh. Kemudian setelah shaf pertama selesai shalat, maka majulah segolongan yang kedua untuk shalat berjama’ah bersama Rasulullah bergiliran dengan golongan pertama. Sedangkan Beliau tetap di tempatnya.</p>
<p>Firman Allah <em>Subhanahu wa ta’ala:</em></p>
<p><em>&#8220;</em><em>D</em><em>an apabila engkau (Muhammad)</em><em> berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan shalat bersama-sama mereka, hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (selesai menyempurnakan satu raka&#8217;at) maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk pindah menghadapi musuh) dan hendaklah datang </em><em>(giliran) </em><em>golongan yang lain  yang belum shalat, lalu mereka shalat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka.&#8221; </em>(QS. An-Nisa:102) <span style="color:#ff0000;">2)</span></p>
<p>Demikian dalam keadaan yang sedang genting atau perang sekalipun (khauf), Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> mengagungkan shalat secara berjama’ah, karenanya Beliau selalu memeliharanya.</p>
<p>Dibandingkan dengan situasi dan kondisi masa sekarang, yang sudah demikian damai dan tentram, yang sangat memungkinkan seseorang untuk bisa datang ke masjid untuk shalat berjama’ah, cara ibadat yang sangat dianjurkan (bahkan kata sebagian besar ulama diwajibkan), yaitu shalat fardhu secara berjama’ah, kalau tidak pergi ke masjid  rasanya merinding bila sampai disebut durhaka terhadap seruan panggilan adzan untuk datang ke masjid. Lebih-lebih bila letak keberadaan masjid tidak sampai radius ribuan meter.</p>
<p>Kata Abu Hurairah <em>radhiyallahu ’anhu </em>: “<em>Adapun orang ini, maka sungguh ia telah mendurhakai Abu Qosim</em>”. Abu Qosim adalah sebutan untuk Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em>.</p>
<p>Dalam riwayat ini, ada seorang muslim meninggalkan masjid setelah adzan diserukan. Ia tidak respek terhadap seruan adzan untuk memelihara shalat secara berjama’ah di masjid, sehingga ia disebut durhaka. Bahkan seorang muslim yang tidak dapat melihat pun (buta), bila mendengar seruan adzan, ia diharuskan memenuhi panggilan adzan untuk menghadiri jama’ah di masjid. Seperti yang diriwayatkan dalam hadits berikut:</p>
<p>Amr Ibn Ummi Maktum berkata:</p>
<p><em>”Ya Rasulullah, saya seorang tunanetra, dan rumah saya jauh dari masjid. Sedangkan yang menuntun saya tidak cocok dengan diri saya. Dapatkah saya shalat di rumah saja?’</em></p>
<p><em>Maka Nabi bertanya: ’Apakah engkau mendengar adzan?’</em></p>
<p><em>Jawabku: ’Ya’.</em></p>
<p><em>Bersabda Nabi: ’Kalau demikian tidak ada alasan untuk mengijinkanmu shalat di rumah</em>”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah; Al-Muntaqa).</p>
<p>Perlu ditegaskan, bahwa seruan adzan dari masjid  حَيَّ عَلَى الصَّلَا ةِ  &#8220;<em>Hayya alash shalah!&#8221;</em> bukanlah hanya sebagai tanda masuk waktu untuk shalat semata, tapi ia merupakan panggilan mulia kepada kaum muslimin untuk datang ke masjid untuk shalat secara jamaah.</p>
<p>Abdullah ibnu Umar telah menceritakan, bahwa Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda: “<em>Shalat berjama’ah lebih utama daripada shalat sendirian dengan perbandingan dua puluh tujuh derajat (pahala)</em>”. (HR. Bukhary dan Muslim).</p>
<p>Shalat berjama’ah lebih utama memberi kesan shalat sendirian pun shah juga. Barangkali karena inilah ada sebagian ulama menyatakan, bahwa shalat berjama’ah itu hukumnya sunnat.</p>
<p>Ulama-ulama Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan: “Shalat berjama’ah itu adalah sunnat mu’akkadah, oleh karena itu berdosalah orang yang meninggalkannya, dan tetap shah shalatnya walaupun dikerjakan dengan tidak berjama’ah”.</p>
<p>Imam Asy-Syafi’iy mengatakan: “Adapun shalat berjama’ah itu, tidak boleh orang meninggalkannya, terkecuali kalau ada ‘<em><strong>udzur</strong></em> (halangan yang dibenarkan oleh syara’)”.</p>
<p>Yang dimaksud ‘udzur yakni:</p>
<ol>
<li>sakit;</li>
<li>ada keperluan yang sangat penting;</li>
<li>takut kehilangan harta benda, gangguan keselamatan, sangat mengantuk;</li>
<li>gangguan alam (hujan sangat lebat, banjir, jalan yang dilalui berlumpur).</li>
</ol>
<p>Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, Imam Ahmad, Ishaq, dan segolongan dari Ahlul Bait berpendapat, bahwa shalat dengan cara berjama’ah adalah fardu‘ain (wajib).</p>
<p>Kita kaji pula hadits yang berikut: Abu Hurairah <em>radhiyallahu ’anhu</em> menceritakan, bahwa Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam </em> pernah bersabda:</p>
<h3 style="text-align:right;">وَالََّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَبِحَطَبٍ فَيُحْتَطَبَ، شُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا شُمَ آمُرَ</h3>
<h3 style="text-align:right;">رَجُلًافَيَؤُمَّ النَّاسَ، شُمَّ لُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ لَايَشْهَدُوْنَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ</h3>
<p style="text-align:left;">“<em>Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku telah berniat untuk memerintahkan (orang-orang) agar kayu-kayu dikumpulkan, kemudian aku perintahkan (orang-orang) untuk shalat, dan adzan diserukan untuknya, kemudian aku perintahkan seorang laki-laki untuk menjadi imam bagi mereka. Setelah itu aku pergi menuju kaum laki-laki yang tidak menghadiri shalat (berjama’ah), lalu aku (akan) membakar rumah-rumah mereka</em>”. (Muttafaq ‘alaih, sedangkan lafaz hadits diketengahkan oleh Imam Bukhary)</p>
<p>Hadits ini mengungkapkan, bahwa Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersumpah ketika beliau merasa kehilangan orang-orang yang biasa mengikuti shalat berjama’ah. Beliau berniat akan melakukan suatu perkara besar untuk menghukum mereka atas ketidakhadirannya dalam shalat berjama’ah. Lalu beliau memerintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang sebagai pengganti dirinya, sementara Beliau sendiri pergi menemui orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjama’ah. Beliau akan membakar rumah-rumah mereka sebagai hukuman atas perbuatan mereka karena tidak menghadiri shalat berjama’ah, sekaligus untuk memberi peringatan bagaimana pentingnya shalat secara berjama’ah. Hadits ini mengandung kecaman yang sangat pedas terhadap mereka yang tidak menghadiri shalat berjama’ah di masjid.</p>
<p>Kalau kita kaji makna hadist tersebut, seperti yang dikatakan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-’Asqalany “Hadits ini lahirnya menegaskan, bahwa shalat berjama’ah itu adalah hukumnya wajib (fardlu ‘ain). Karena kalau sunnat, tentu Nabi tidak akan mengancam orang-orang yang tidak memelihara shalat berjama’ah, yaitu dengan ancaman rumah-rumah mereka akan dibakar beserta dengan mereka sendiri”.</p>
<p>Sebagian ulama mengatakan, walaupun tidak ada alasan untuk tidak shalat berjama’ah di masjid, shalat sendirian di rumah pun shah, tetapi bukan berarti tidak wajib datang manghadiri jama’ah di masjid.</p>
<p>Bagaimana dengan shalat berjama’ah yang dilakukan di rumah?</p>
<p>Tentu saja dibolehkan selama ada halangan yang dibenarkan syara&#8217;.</p>
<p>Seperti yang diceritakan oleh Mahmud bin Rabi&#8217; Al-Anshari:</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Itban bin Malik </em>(ia seorang sahabat Rasulullah yang turut dalam perang Badar dari Madinah) <em>datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam sambil berkata : &#8220;Ya Rasulullah! Sesungguhnya penglihatanku sudah tidak jelas dan saya shalat menjadi imam bagi kaumku. Kalau hari turun hujan mengalirlah air lembah di antara saya dan mereka, dan saya tidak bisa datang ke masjid kami untuk shalat berjama&#8217;ah bersama mereka. Saya lebih suka, ya Rasulullah, supaya anda datang shalat di rumahku.&#8221;  Jawab Rasulullah: &#8220;Nantilah saya datang, insya Allah!&#8221;  Kata Itban bin Malik: &#8220;Pada suatu pagi datanglah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersama Abu Bakar, waktu hari telah agak tinggi. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam minta izin untuk masuk dan kuizinkan. Beliau tidak langsung duduk ketika masuk rumah, hanya bertanya kepada Itban bin Malik: &#8220;Di manakah yang engkau lebih suka aku shalat di rumahmu ini?&#8221; Lalu kutunjukkan kepadanya satu sisi dari rumah itu. Maka beridirilah Rasulullah bertakbir di situ, kami berbaris di belakang Nabi. Beliau shalat dua raka&#8217;at, lalu memberi salam. Kemudian kami tahan beliau untuk tidak pergi lebih dulu untuk makan makanan yang telah kami sajikan untuk beliau. </em>(HR. Sahih Buchari)<em>.</em></p>
<p><em></em>Demikian juga shalat berjama’ah yang dilakukan di tempat bekerja, di kantor-kantor intansi atau perusahaan pada waktu-waktu shalat. Tapi kalau mengingat pahala dari shalat berjama’ah yang dilakukan di rumah dengan yang dilakukan di masjid, tentu saja ada perbedaan. Sebab, shalat seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> , bahwa “<em>Shalat berjama‘ah lebih utama daripada shalat sendirian dengan perbandingan dua puluh tujuh derajat</em>” adalah khusus untuk shalat berjama’ah di masjid.</p>
<p>Yang dimaksud dengan <em>dua puluh tujuh derajat</em>, walaupun para ulama tidak menemukan hadits yang jelas mengenai perincian pahala dari kedua puluh tujuh derajat tersebut, Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-’Asqalany mencoba menguraikan berikut:</p>
<ol>
<li>pahala memenuhi panggilan adzan untuk shalat berjama’ah;</li>
<li>pahala bergegas menuju jama’ah pada awal waktu;</li>
<li>pahala berangkat (langkah kaki) menuju masjid dengan tenang dan terhormat;</li>
<li>memasuki masjid dengan berdo’a;</li>
<li>mendirikan shalat tahiyyatul masjid;</li>
<li>menanti jama’ah;</li>
<li>memperoleh istighfar malaikat;</li>
<li>para malaikat menyaksikan shalat cara berjama’ah;</li>
<li>menjawab seruan iqamah;</li>
<li>memperoleh ketentraman karena syetan lari ketika iqamah diserukan;</li>
<li>duduk di masjid dan kemudian berdiri menanti imam bertakbirathul ikhram;</li>
<li>mengikuti takbirathul ikhram bersama imam;</li>
<li>meluruskan dan mengisi celah-celah dalam shaf;</li>
<li>menjawab ketika imam tasmi’ (bacaan bangkit dari ruku);</li>
<li>terhindar dari lupa, dan mengingatkan bila imam lupa;</li>
<li>khusyu dan terhindar dari yang melalaikan;</li>
<li>membaguskan keadaan shalat;</li>
<li>mendapat naungan malaikat;</li>
<li>melatih tajwid bacaan dan mempelajari kaifiyat (tata cara) shalat;</li>
<li>melahirkan syi’ar agama Islam;</li>
<li>mempersatukan kekuatan untuk mengalahkan syetan dalam melakukan ibadat;</li>
<li>terbebas dari sifat munafiq dan dari buruk sangka orang;</li>
<li>menjawab salam imam;</li>
<li>mendapat maslahat dan do’a dari himpunan jama’ah, dan memperoleh ilmu bagi yang kurang (yang belum mengeta-hui) dari orang-orang yang cukup (berilmu);</li>
<li>melahirkan silaturrahim persaudaraan dan kerukunan dalam jama’ah. Ditambah nomor yang berikut untuk shalat jahriyah</li>
<li>mendengarkan surat Al-Fatihah yang dibacakan imam;</li>
<li>dan mengaminkan surat Al-Fatihah yang dibacakan imam.</li>
</ol>
<p>Selain pahala dari shalat secara berjama’ah, hal yang paling penting adalah sebagai manispestasi tanggungjawab seorang muslim dalam syi’ar Islam secara nyata. Masjid dan jama’ah adalah dua komponen yang demikian penting untuk menunjukkan keberadaan Islam dan kekuatan syi’ar dalam memperkokoh aqidah islamiyah.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Peringatan bagi laki-laki yang tidak mengikuti shalat berjama’ah di masjid tanpa ada alasan.</strong></p>
<h3 style="text-align:right;">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ &#8211; رَضِيَ الَّله عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسَُوْلُ الَّله صَلَّى الَّله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَمِعَ النَّدَاءَ فَلَمْ يَمْنَعْهُ مِنِ اتَّبَاعِهِ عُذْرٌ. قَالُوا: وَمَا الْعُذُرُ؟ قَالَ خَوْفٌ، أَوْمَرَضٌ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ الصَّلَاةُ الَّتِي صَلَّى</h3>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ’anhu</em>, dia berkata : Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda: &#8220;<em>Barangsiapa mendengar panggilan (adzan), lalu tidak ada <strong>udzur</strong> (alasan) yang menghalanginya untuk mengikuti (mendatangi masjid) maka shalat </em><em>(sendirian di rumah) </em><em>yang ia lakukan tidak diterima.&#8221;</em><em>  Mereka bertanya: &#8220;Apa itu udzur?&#8221; Beliau menjawab &#8216;Yakni sakit atau ada perkara yang menakutkannya.&#8221; </em>(HR. Abu Daawud dan Ibnu Maajah dinilai sahih oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim.)<em></em></p>
<p><em><br />
</em>Dalam hadits lain, dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ’anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p>”<em>Siapa yang mendengar panggilan adzan lalu tidak mendatanginya (ke masjid), maka tidak ada shalat baginya kecuali ada udzur</em>”. (HR. Abu Daawud dan Ibnu Maajah).</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bagi siapa yang mendirikan shalat dengan tidak secara berjama’ah di masjid (shalat sendiri di rumah) dengan tidak ada alasan, maka sama dengan tidak melakukan shalat, atau shalatnya sia-sia. Sebagian besar ulama mengatakan shalatnya tidak berpahala<strong>.<br />
</strong></p>
<p><em>Wallaahu a’lam.</em></p>
<p><em>(Dedy Kusnaedi)</em></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Maraji:</span></p>
<p>1.  Tafsir Al-Maraghi.</p>
<p>2.  Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir.</p>
<p>3.  Shahih Bukhori</p>
<p>4.  Ibaanatul Ahkaam, <em>‘Ala</em><em>wi Abbas Al-Maliki, Hasan Sulaiman An-Nuri.</em></p>
<p>5.  Koleksi Hadits-hadits Hukum, jld. 4  <em>DR. TM. </em><em>Hasbi Ash-Shidieqy</em>.</p>
<p>6.  Pedoman Shalat, <em>DR. TM Hasbi Ash-</em> <em>Shidieqy.</em></p>
<p>7.  Shifatu Shalati in-Nabiyyi,<em> Muhammad Nashiruddin Al-Albani.</em></p>
<p><em>8. </em>Ringkasan Targhib wa Tarhib,<em> Ibnu Hajar Al-Asqalani<br />
</em></p>
<hr size="1" />
<p><span style="color:#ff0000;">1)</span> Adalah sebagai perantaraan ma’mum dengan Rab-nya (HR. Ad-Daruquthy, dan Ibnu Umar: Jami Shagir 1:8)</p>
<p><span style="color:#ff0000;">2) </span>Selain Surat Al-baqarah ayat 43, Surat An-Nisa ayat 102 ini pun menjadi dalil bagi jumhur ulama bahwa shalat berjama&#8217;ah adalah hukumnya wajib, sedangkan seperti kita ketahui, bahwa hukum wajib adalah berdosa bila meninggalkannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=236&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/11/wajibkah-shalat-berjamaah-di-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jama’ah Saling Bersalam-salaman Setelah Sholat Fardhu</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/03/jama%e2%80%99ah-saling-bersalam-salaman-setelah-sholat-fardhu/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/03/jama%e2%80%99ah-saling-bersalam-salaman-setelah-sholat-fardhu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 17:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Jabat tangan]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Salam]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[wajib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Mengucapkan salam dan berjabat tangan kepada sesama Muslim adalah perkara yang terpuji dan disukai dalam Islam. Dengan perbuatan ini hati kaum Muslimin dapat saling bersatu dan berkasih sayang di antara mereka. Sunnah ini sudah lama diamalkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Qotadah berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-, “Apakah ada jabat tangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=214&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#050505;">Mengucapkan  salam dan berjabat tangan kepada sesama Muslim adalah perkara yang  terpuji dan disukai dalam Islam. Dengan perbuatan ini hati kaum Muslimin  dapat saling bersatu dan berkasih sayang di antara mereka. Sunnah ini  sudah lama diamalkan oleh para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>. Qotadah  berkata, “<em>Aku bertanya kepada Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu-,  “Apakah ada jabat tangan di kalangan sahabat Rasulullah -Shallallahu  ‘alaihi wa sallam-?” Anas berkata, “Ya, ada</em>”.[HR. Al-Bukhoriy dalam  Ash-Shohih (5908), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (2871), Ibnu Hibban (492),  dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra (13346)]<span id="more-214"></span></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Sunnah ini dilakukan oleh  Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dan para sahabatnya ketika mereka  bertemu dan berpisah. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong>مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ  يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ  يَفْتَرِقَا.</strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Tidaklah dua orang  muslim bertemu, lalu keduanya berjabatan tangan, kecuali akan diampuni  keduanya sebelum berpisah</em>”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (5212),  At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2727), Ahmad dalam Al-Musnad (4/289), dan  lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih  At-Targhib (3/32/no.2718)]</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong>إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا  لَقِيَ الْمُؤْمِنَ وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ تَنَاثَرَتْ  خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرُ.</strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Sesungguhnya seorang  mukmin jika bertemu dengan seorang mukmin, dan mengambil tangannya, lalu  ia menjabatinya, maka akan berguguran dosa-dosanya sebagaimana daun  pohon berguguran</em>”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (245). Hadits  ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib  (no.2720)]</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong>كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ  -صلى الله عليه وسلم- إِذَا تَلاَقَوْا تَصَافَحُوْا وَإِذَا قَدِمُوْا  مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوْا.</strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Dulu para sahabat Nabi  -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, apabila mereka bertemu, maka mereka  berjabatan tangan. Jika mereka datang dari safar, maka mereka berpelukan</em>”.  [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath. Hadits ini di-hasan-kan oleh  Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (2719)]</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Namun apa yang terjadi jika  perbuatan yang mulia ini dilakukan bukan pada tempat yang semestinya!?  Tidak akan ada kebaikan, bahkan akan terjadi pelanggaran syari’at yang akan menimbulkan perpecahan serta ketidaksukaan karena ada sebagian jama’ah jika usai  sholat fardhu ia langsung menjabati tangan orang yang jika jabatan tangannya tidak dilayani, maka  dalam hatinya akan mengerutu dan jengkel kepada saudaranya yang tak mau menerima jabat tangan dengannya.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Syaikh Abdullah bin Abdur  Rahman Al Jibrin-hafizhohullah- berkata, “<em>Mayoritas orang yang  baru usai shalat kemudian mengulurkan tangan mereka untuk berjabat tangan dengan orang di  sampingnya setelah salam dari shalat fardlu dan mereka berdoa dengan  ucapan mereka ‘taqabbalallah’. Perkara  ini adalah bid’ah yang tidak pernah dinukil dari Salaf”</em>.  [Lihat Majalah Al-Mujtama’ (no. 855)].</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Bagaimana bisa mereka melakukan  hal itu, sedangkan para peneliti dari kalangan ulama telah menukil bahwa  jabat tangan dengan tata cara tersebut (setelah salam dari shalat) adalah perbuatan yang tak ada contohnya dari Nabi  -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dan para sahabatnya. Tragisnya lagi,  jika ada diantara kaum muslimin yang menganggap jabat tangan sebagai  sunnah, apalagi wajib, sehingga mereka membenci saudaranya yang tak mau  berjabatan tangan habis sholat, dan kemudian berburuk sangka, bahwa orang yang  tidak menyambut jabat tangannya telah menganggap kepadanya orang najis, menyangka benci kepadanya, tidak ada rasa persaudaraan dan kekompakan, serta persangkaan buruk lainnya. Padahal saudaranya tidak mau berjabatan tangan  usai sholat fardhu itu karena ia tahu, bahwa hal ini tak ada contoh jika dilakukan habis  sholat, bahkan itu merupakan bid’ah. Bukan karena benci !!!</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Al ‘Izz bin Abdus Salam  Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata, “<em>Jabat tangan setelah shalat  Shubuh dan Ashar termasuk bid’ah, kecuali bagi yang baru datang dan  bertemu dengan orang yang menjabat tangannya sebelum shalat. Maka  sesungguhnya jabat tangan disyaratkan tatkala datang. Nabi Shallallahu ‘  Alaihi Wa Sallam berdzikir setelah shalat dengan dzikir-dzikir yang  disyariatkan dan beristighfar tiga kali kemudian berpaling.</em> Diriwayatkan bahwa beliau berdzikir :</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong>رَبِّ قِِنِيْ عَذَابَكَ  يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ</strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Wahai Rabbku, jagalah  saya dari adzab-Mu pada hari Engkau bangkitkan hamba-Mu</em>.” [HR.  Muslim 62, Tirmidzi 3398 dan 3399, dan Ahmad dalam Al-Musnad (4/290)].  Kebaikan seluruhnya adalah dalam mengikuti Rasul”. [Lihat Fatawa Al ‘Izz  bin Abdus Salam (hal.46-47), dan Al Majmu’ (3/488)].</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Al Luknawiy -rahimahullah-  berkata, “<em>Sungguh telah tersebar dua perkara di masa kita ini pada  mayoritas negeri, khususnya di negeri-negeri yang menjadi lahan subur  berbagai bid’ah dan fitnah. Pertama, mereka tidak mengucapkan salam  ketika masuk masjid waktu shalat Shubuh, bahkan mereka masuk dan langsung shalat  sunnah kemudian shalat fardlu. Lalu sebagian mereka mengucapkan salam  (dan jabat tangan) atas sebagian yang lain setelah shalat dan seterusnya. Hal ini adalah  perkara yang jelek karena sesungguhnya salam hanya disunnahkan tatkala  bertemu sebagaimana telah ditetapkan dalam riwayat-riwayat yang shahih,  bukan tatkala telah duduk. Kedua, mereka berjabat tangan setelah selesai  shalat Shubuh, Ashar, dan dua hari raya, serta shalat Jum’at. Padahal  pensyariatan jabat tangan juga hanya di saat awal pertemuan antara sesama muslim</em>”. [Lihat  As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al-Wiqayah (hal. 264)].</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Dari perkataan beliau dapat  dipahami bahwa jabat tangan antara dua orang atau lebih yang belum  berjumpa sebelumnya tidak ada masalah. Muhaddits Negeri Syam, Syaikh Al  Albaniy -rahimahullah- berkata dalam As-Silsilah As-Shahihah (1/1/53), “<em>Adapun  jabat tangan setelah shalat adalah bid’ah yang tidak ada keraguan  padanya, kecuali antara dua orang yang belum berjumpa sebelumnya. Maka  hal itu adalah sunnah sebagaimana Anda telah ketahui</em>”.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Berjabat tangan  usai salam dari shalat fardhu merupakan perkara yang dilarang oleh para  ulama’. Oleh karena itu, sebuah kesalahan besar, jika diantara kaum  muslimin yang membenci saudaranya jika tidak melayaninya untuk berjabatan  tangan, bahkan menganggapnya pengikut  aliran sesat. Padahal mereka yang tak  mau berjabatan tangan saat usai sholat fardhu memiliki sandaran dari Al-Kitab  dan Sunnah, serta ucapan para ulama’.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Al-Allamah  Al-Luknawiy-rahimahullah- berkata, “<em>Di antara yang melarang  perbuatan itu (jabat tangan setelah sholat), Ibnu Hajar Al-Haitamiy  As-Syafi’iy, Quthbuddin bin Ala’uddin Al-Makkiy Al-Hanafiy, dan  Al-Fadhil Ar-Rumiy dalam Majalis Al-Abrar menggolongkannya termasuk dari  bid’ah yang jelek ketika beliau berkata, “Berjabat tangan adalah baik  saat bertemu. Adapun selain saat bertemu misalnya keadaan setelah shalat  Jum’at dan dua hari raya sebagaimana kebiasaan di jaman kita adalah  perbuatan tanpa landasan hadits dan dalil! Padahal telah diuraikan pada  tempatnya bahwa tidak ada dalil berarti tertolak dan tidak boleh taklid  padanya</em>.” [Lihat As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al-Wiqayah  (hal. 264), Ad-Dienul Al-Khalish (4/314), Al-Madkhal (2/84), dan  As-Sunan wa Al-Mubtada’at (hal. 72 dan 87)].</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Beliau juga berkata, “<em>Sesungguhnya  ahli fiqih dari kelompok Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Malikiyah  menyatakan dengan tegas tentang makruh dan bid’ahnya.” Beliau berkata  dalam Al Multaqath ,“Makruh (tidak disukai) jabat tangan setelah shalat  dalam segala hal karena shahabat tidak saling berjabat tangan setelah  shalat dan bahwasanya perbuatan itu termasuk kebiasaan-kebiasaan  Rafidhah.” Ibnu Hajar, seorang ulama Syafi’iyah berkata, “Apa yang  dikerjakan oleh manusia berupa jabat tangan setelah shalat lima waktu  adalah perkara yang dibenci, tidak ada asalnya dalam syariat</em>.”  Alangkah fasihnya perkataan beliau –rahimahullah Ta’ala- dari ijtihad  dan ikhtiarnya. Beliau berkata, “<em>Pendapat saya, sesungguhnya mereka  telah sepakat bahwa jabat tangan (setelah shalat fardhu) ini tidak ada asalnya  dari syariat. Kemudian mereka berselisih tentang makruh atau mubah.  Suatu masalah yang berputar antara makruh dan mubah harus difatwakan  untuk melarangnya, karena menolak mudlarat lebih utama daripada menarik  maslahah. Lalu kenapa dilakukan padahal tidak ada keutamaan mengerjakan  perkara yang mubah? Sementara orang-orang yang melakukannya di jaman  kita menganggapnya sebagai perkara yang baik, menjelek-jelekkan dengan  sangat orang yang melarangnya, dan mereka terus-menerus dalam perkara  itu. Padahal terus-menerus dalam perkara mandub (sunnah) jika berlebihan  akan menghantarkan pada batas makruh. Lalu bagaimana jika terus-menerus  dalam bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syariat?! Berdasarkan atas hal  ini, maka tidak diragukan lagi makruhnya. Inilah maksud orang yang  memfatwakan makruhnya. Di samping itu pemakruhan hanyalah dinukil oleh  orang yang menukilnya dari pernyataan-pernyataan ulama terdahulu dan  para ahli fatwa. Maka riwayat-riwayat penulis Jam’ul Barakat, Siraj Al  Munir, dan Mathalib Al Mu’minin, mampu menandinginya, karena kelonggaran  penulisnya dalam meneliti riwayat-riwayat telah terbukti. Telah  diketahui oleh Jumhur Ulama bahwa mereka mengumpulkan segala yang basah  dan kering (yang jelas dan yang samar). Yang lebih mengherankan lagi  ialah penulis Khazanah Ar Riwayah tatkala ia berkata dalam Aqd  Al-La’ali, [“Dia (Nabi) ‘Alaihis Salam berkata, “Jabat tanganlah kalian  setelah shalat Shubuh, niscaya Allah akan menetapkan bagi kalian sepuluh  (kebaikan)”.] Rasul Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam bersabda, [“Berjabat  tanganlah kalian setelah shalat Ashar, niscaya kalian akan dibalas  dengan rahmah dan pengampunan”.] Sementara dia tidak memahami bahwa  kedua hadits ini dan yang semisalnya adalah palsu yang dibuat-buat oleh  orang-orang yang berjabat tangan itu. Inna lillahi wa inna ilaihi  raji’un</em>”.[Lihat As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al Wiqayah (hal.  265)]</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Perlu  diingat, bahwa tidak boleh  seseorang memutuskan dzikir saudaranya sesama Muslim oleh uluran jabat tangan, kecuali dengan sebab syar’i. Yang sekarang kita  saksikan adalah berupa adanya gangguan terhadap kaum Muslimin ketika mereka mulai melaksanakan dzikir-dzikir sunnah setelah shalat wajib. Kemudian,  tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan ke kanan dan  ke kiri dan seterusnya. Akhirnya, memaksa mereka tidak tenang dan  terganggu, bukan terganggu karena jabat tangan, akan tetapi karena  memutuskan tasbih dan mengganggu dzikir kepada Allah akibat  jabat tangan ini, padahal tidak ada sebab-sebab perjumpaan dan  semisalnya. Bahkan <span style="color:#050505;"> ada yang lebih aneh, sebelumnya ketika berjumpa dengan seseorang kemudian bersalaman dan berjabat tangan, tapi usai  salam dari shalat fardhu</span></span><span style="color:#050505;"> mereka kembali mengulurkan tangan ke kiri dan ke kanan bersalaman untuk kedua kalinya!</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Kendati demikian, bukanlah termasuk hikmah jika kita menolak dan menarik tangan kita  dari uluran tangan orang untuk berjabat tangan. Karena sesungguhnya ini adalah sikap yang kasar yang tidak dikenal  dalam Islam. Akan tetapi sambutlah tangannya dengan lemah lembut dan  jelaskan kepadanya bahwa kebid’ahan jabat tangan ini adalah yang diada-adakan  manusia.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Ketidaktahuan telah menjerumuskan seorang muslim kepada perbuatan yang menyelisihi  sunnah. Maka sepatutnya umat muslim untuk tidak meremehkan perbuatan menuntut ilmu agar mendapat kejelasan dengan  baik.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Wallahu &#8216;alam<br />
</span></p>
<h2><span style="color:#050505;"><br />
</span></h2>
<p><span style="color:#050505;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Maroji :</em></span></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 04 Tahun I. Penerbit : Pustaka  Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58,  Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><em>Disunting dan diarsip<span style="color:#050505;">kan pada: </span></em><span style="color:#333333;"><a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/">dedykusnaedi.wordpress.com</a></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=214&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/03/03/jama%e2%80%99ah-saling-bersalam-salaman-setelah-sholat-fardhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AWAS!! Bencana Namimah!!</title>
		<link>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/02/16/awas-bencana-namimah/</link>
		<comments>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/02/16/awas-bencana-namimah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 18:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Kusnaedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak & Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Dusta]]></category>
		<category><![CDATA[Fasiq]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Keji]]></category>
		<category><![CDATA[Lidah]]></category>
		<category><![CDATA[Munafiq]]></category>
		<category><![CDATA[Namimah]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Syurga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedykusnaedi.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Termasuk penyimpangan lidah yang sangat besar bahayanya adalah namimah, yaitu menyampaikan berita di antara dua orang dengan maksud merusak hubungan keduanya serta untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian. Perbuatan yang merusak ini terkadang dilakukan antara dua orang kawan, suami istri, dua orang saudara, dua keluarga, dua suku, dua negara, atau antar dua kelompok yang sudah menjalin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=180&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#050505;">Termasuk penyimpangan lidah yang sangat besar bahayanya adalah <strong>namimah</strong>, yaitu menyampaikan berita di antara dua orang dengan maksud merusak hubungan keduanya serta untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian. Perbuatan yang merusak ini terkadang dilakukan antara dua orang kawan, suami istri, dua orang saudara, dua keluarga, dua suku, dua negara, atau antar dua kelompok yang sudah menjalin perdamaian dan kasih sayang di antara keduanya.<span id="more-180"></span> Jadi, namimah tidak hanya dilakukan terhadap dua orang secara perorangan. Ini termasuk cara syaitan yang paling keji untuk memisahkan dua kelompok, merusak keutuhan <em>ukhuwah</em> dan <em>mahabbah</em>. Amat banyak keburukan yang diakibatkan oleh namimah. Amat banyak pula perpecahan yang terjadi di antara manusia, rusaknya hubungan di antara mereka dan lahirnya berbagai macam fitnah sebagai akibat dari namimah.</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>A. Pendorong Namimah</strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Namimah kadangkala disebabkan hasad dan kebencian. Atau khususnya keinginan untuk meraih ambisi, misalnya agar lebih dekat dengan orang yang diberi informasi, atau ingin menimpakan kejelekan kepada orang lain, atau ingin menyalakan api fitnah di antara manusia.</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>B. Hukum Namimah dan Dalil-dalilnya</strong></span> <span style="color:#050505;"> </span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong><span style="color:#050505;">1.</span> </strong>Namimah termasuk dosa besar yang diharamkan berdasarkan ijma’. Telah jelas dalil-dalil yang mengharamkannya di dalam Kitab Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah </span><em>Shallallaahu  ‘Alaihi wa Sallam</em><span style="color:#050505;">. Di antara dalil-dalil dan Al Qur’an tentang namimah adalah:</span></p>
<h2 style="text-align:right;">وَلَاتُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِيْنٍ  &#8211; ١٠  &#8211; هَمَّازِمَشَّاءٍبِنَمِيْمٍ -١١</h2>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Dan janganlah kamu taat kepada orang-orang yang suka bersumpah dan menghina. Yang suka mencela dan kian kemari untuk berbuat namimah (menyebarkan fitnah)</em>.” (QS. Al-Qalam 10-11)</span> <span style="color:#050505;"> </span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;"><strong>2.</strong></span> Allah telah menerangkan sifat istri Abu Lahab sebagai pemikul kayu bakar. Sebagian mufasir telah menjelaskan bahwa ini hanyalah kiasan, karena pekerjaannya selalu melakukan namimah. Namimah diumpamakan sebagai kayu bakar karena bisa menimbulkan permusuhan yang diibaratkan seperti menyalakan api.</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;"><strong>3.</strong></span> Orang yang melakukan namimah dengan menyebarkan kabar buruk, telah disebut oleh Allah sebagai orang fasik, dan Allah telah memerintahkan orang-orang mu’min untuk menyaring informasi yang datang darinya. Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</span></p>
<h2 style="text-align:right;">يَآَيُّهَا لَّذِيْنَ اَمَنُوْا اِنْجَآءَكُمْ فَسِقٌ بِذَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْا اَنتُصِيْبُوُا قَوْمًا بِجَهَا لَةِ فَتُصْبِحُوْا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَدِميْنَ</h2>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Hai orang-orang yang beriman, bila datang kepadamu orang fasik membawa keterangan, maka selidikilah dahulu, agar kamu tidak menimpakan satu kerugian kepada suatu kaum karena kebodohan kamu, sehingga kamu akan menyesal</em>.” (QS. Al-Hujurat 6).</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong><span style="color:#339966;"><span style="color:#050505;">4.</span> </span></strong>Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</span></p>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Celakalah bagi setiap humazah dan lumazah</em>.” (QS. Al-Humazah 1). Yang dimaksud <strong>humazah</strong> dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang berbuat namimah, pengumpat.</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><span style="color:#050505;"><strong>5.</strong></span> Ketika istri Nabi Nuh menyebut suaminya sebagai orang gila, dan istri Nabi Luth menyebarkan berita tentang tamu yang datang ke rumahnya, maka Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em> berfirman tentang mereka berdua:</span></p>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Maka keduanya mengkhianati suaminya, padahal hal itu tidak bermanfaat sedikit pun bagi Allah, dan dikatakan, ‘Masuklah kalian berdua ke dalam neraka bersama orang-orang yang memasukinya</em>.” (QS. At-Tahrim 10).</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Namimah berarti menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat, dan Islam telah mengharamkan perbuatan menyakiti, apa pun bentuknya, termasuk di antaranya namimah.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Di dalam Sunnah Nabi <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> yang dikeluarkan oleh Syaikhoni dan yang lainnya dari Hudzaifah, bahwa Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></p>
<h2 style="text-align:right;">لَايَدْخُلُ الْجَنَّهَ نَمَامٌ</h2>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Tidak akan masuk surga orang yang melakukan namimah</em>.”</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Di dalam riwayat lain dikatakan:</span></p>
<h2 style="text-align:right;">لَايَدْخُلُ الْجَنَّهَ قَتَّاتٌ</h2>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Tidak akan masuk surga Al Qottat</em>.”</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Al Qottat artinya an-naumam, ialah orang yang berbuat namimah.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Dikeluarkan oleh Asy Syaikhoni dan yang lainnya dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> melalui dua kuburan yang penghuninya sedang disiksa, lalu beliau bersabda:</span></p>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Keduanya sedang disiksa sekarang. Tidaklah keduanya disiksa karena kesalahan yang besar. Salah seorang di antaranya disiksa karena melakukan namimah, dan yang lainnya tidak sempurna ketika bersuci setelah buang air kecil</em>.”</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Dalam hadits di atas, yang pertama disiksa karena berbuat namimah yang mengakibatkan terjadinya permusuhan di antara manusia dengan lisannya, sekalipun apa yang dikatakannya benar. Yang kedua, disiksa karena meninggalkan thaharoh yang diwajibkan, padahal dalam satu hadits dijelaskan bahwa yang pertama kali akan ditanya kepada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Thaharoh merupakan persiapan yang harus dilakukan sebelum shalat, dan merupakan syarat yang paling penting. Bila tidak suci dari najis air kecil, maka dia telah melalaikan salah satu syarat shalat. Demikian pula dengan namimah.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Sesungguhnya sebab-sebab terjadinya pertumpahan darah di antara manusia adalah permusuhan, dan namimah merupakan pemicu dan penyebab timbulnya permusuhan.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">(Ghodz a’u al-Albab, Juz I hal. 11)</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>C. Bermuka Dua</strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Orang yang melakukan namimah seakan-akan memiliki dua wajah, karena ia menampakkan wajah yang berbeda kepada dua pihak yang akan diadudombakannya. Orang yang memiliki dua wajah adalah sejelek-jelek manusia pada hari kiamat. Dikeluarkan oleh Asy Syaikhoni dari Abu Hurairoh, bahwa Nabi <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></p>
<h2 style="text-align:right;">وَتَجِدُوْنَ شَرَّالنَّا سِيَوْمَ القِيَامَةِ ذُالوَجْهَيْنَ الَّذِيْ يَأْتِي هَؤُلَاءبِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِبِوَجْهٍ</h2>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Akan kalian temui sejelek-jelek manusia pada hari kiamat, yaitu yang bermuka dua. Dia datang kepada satu kelompok manusia dengan satu wajah, dan datang kepada kelompok lain dengan wajah yang lain pula</em>.”</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Orang yang bermuka dua adalah orang munafiq yang takut kepada manusia, tapi tidak takut kepada Allah, Rabb manusia. Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em>telah menjelaskan sifat mereka di dalam Al Qur’an:</span></p>
<p><span style="color:#050505;"> </span></p>
<p><span style="color:#050505;">“<em>Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan</em>.” (QS. An Nisa’ 108)</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Dikeluarkan oleh Bukhari, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Abdullah bin Umar ra, “Kami masuk menemui penguasa-penguasa kami, lalu kami berkata kepada mereka dengan perkataan yang berbeda dengan apa yang kami bicarakan bila kami keluar dari tempat mereka.” Lalu Abdullah menjawab, “Kami menganggap itu sebagai sifat munafik di zaman Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em>.”</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>D. Bagaimana bila Berhadapan dengan Orang yang Melakukan Namimah?</strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Para ulama menjelaskan enam sikap yang wajib kita lakukan bila berhadapan dengan orang yang melakukan namimah.</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#050505;">Tidak membenarkan apa yang disampaikannya, karena persaksiannya tertolak. Al-Qur’an menyebut orang semacam itu dengan sebutan fasik.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Melarangnya dari namimah, karena melarang kemunkaran itu wajib.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Membencinya karena Allah, karena ia telah maksiat; dan membenci orang yang maksiat itu wajib.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Tidak berburuk sangka terhadap saudara kita yang diceritakannya, karena berburuk sangka terhadap sesama muslim itu haram.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Tidak mencari-cari keterangan untuk menemukan kesalahan orang lain, karena Allah melarang perbuatan tersebut.</span></li>
<li><span style="color:#050505;">Apa yang tidak disukai oleh manusia dari namimah jangan sampai kita lakukan, dan jangan pula menyebarkan apa yang disampaikan oleh orang yang berbuat namimah kepada siapa pun.</span></li>
</ol>
<p><span style="color:#050505;">Ketika seseorang masuk menemui Umar bin Abdul Aziz dan menceritakan kepadanya tentang orang lain, berkatalah Umar, “Bila engkau mau, akan aku selidiki keteranganmu. Bila engkau dusta maka engkau termasuk yang diceritakan dalam ayat: ‘<em>Bila datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka selidikilah dahulu</em>.’ Sedangkan bila engkau benar, maka engkau termasuk yang diceritakan dalam ayat: ‘<em>Yang mengadu domba dan berjalan dengan melakukan namimah</em>.’ Bila engkau mau, aku akan mengampuni.” Lalu orang itu berkata, “Maafkanlah wahai Amirul Mukminin, saya tidak akan mengulanginya lagi”</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Berkata Hasan al Bashri, “Barangsiapa menyampaikan suatu pembicaraan kepadamu, maka ketahuilah, sesungguhnya ia pun akan menyampaikan ucapanmu kepada orang lain.”</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>E. Pengaruh Namimah</strong></span></p>
<p><span style="color:#050505;">Jarang sekali orang yang memandang namimah sebagai suatu penyakit yang bisa diobati. Kisah berikut ini menjelaskan kepada kita, bahaya namimah dalam memecah belah manusia dan menyebabkan kerusakan di muka bumi.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Dari Hamad bin Salamah, dia mengatakan bahwa seseorang telah menjual seorang hamba sahaya, lalu dia berkata kepada si pembeli, “Dia tidak mempunyai cacat, kecuali suka berbuat namimah.” Lalu si pembeli menganggap itu baik, maka dibelilah hamba sahaya itu. Kemudian budak itu tinggal dengan keluarga si pembeli. Suatu hari, ia bercerita kepada istri si pembeli, “Sesungguhnya suamimu tidak mencintaimu dan dia akan menikah lagi. Maukah engkau kuberitahu agar dia mencintaimu kembali.” Lalu istri Si pembeli itu menjawab, “Mau!” Berkata lagi si hamba kepadanya, “Ambillah pisau cukur, dan cukurlah jenggot suamimu ketika ia tidur.” Setelah itu si hamba tadi pergi menemui tuannya, lalu berkata, “Sesungguhnya istrimu punya kekasih yang lain dan dia hendak membunuhmu, apakah Tuan ingin mengetahui hal itu?” Si tuan menjawab, “Ya, mau!” Lalu si hamba berkata lagi, “Berpura-puralah Tuan tidur, maka Tuan akan tahu.” Maka ia pun berpura pura tidur, lalu datanglah istrinya dengan membawa pisau cukur, dengan maksud akan mencukur jenggot suaminya. Tetapi suaminya menyangka bahwa istrinya akan membunuhnya, maka direbutlah pisau cukur itu dari istrinya, lalu dibunuhlah istrinya. Setelah itu datanglah orangtuanya, sehingga terjadilah perang antara dua kelompok. (Lihat kitab Al Kabair karangan Adz Dzahabi hal. 156)</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Demikian pula halnya pada tingkat negara. Seringkali terjadi peperangan dahsyat antara dua negara, yang banyak menelan korban harta dan manusia. Penyebab utamanya adalah namimah, amat cepat menanggapinya tapi lamban dalam menyelidikinya.</span></p>
<p><span style="color:#050505;">Perhatikanlah wahai saudaraku, betapa banyak kehancuran yang menimpa seseorang atau kelompok, karena namimah! Semoga Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em>menyelamatkan kita dari keburukan namimah, dan menyibukkan lidah kita dengan berdzikir kepada Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>, dan taat kepada-Nya. </span>Semoga Allah menuntun kita kepada hal-hal yang dicintai dan diridhoi-Nya. Sesungguhnya  Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada hamba dan kekasih-Nya, Muhammad <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam </em>, serta keluarga dan para sahabatnya.</p>
<h1 style="text-align:center;"><span style="color:#339966;">≈</span></h1>
<p><span style="color:#050505;"> </span></p>
<p><span style="color:#050505;"> <span style="text-decoration:underline;">Maroji:</span></span></p>
<p><span style="color:#050505;"><strong>Al Bayan fi Aafaati al Lisan</strong>, <em>Abdullah bin Jaarulah</em>, Terj. <em>Abu Haidar, Abu Fahmi</em>, Gema Insani Press.</span></p>
<p><span style="color:#050505;"><em>Dituliskan, disunting, dan diarsipkan pada </em>dedykusnaedi.wordpress.com</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedykusnaedi.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedykusnaedi.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedykusnaedi.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedykusnaedi.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedykusnaedi.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedykusnaedi.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedykusnaedi.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedykusnaedi.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedykusnaedi.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedykusnaedi.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedykusnaedi.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedykusnaedi.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedykusnaedi.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedykusnaedi.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedykusnaedi.wordpress.com&amp;blog=9958782&amp;post=180&amp;subd=dedykusnaedi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedykusnaedi.wordpress.com/2010/02/16/awas-bencana-namimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<georss:point>-6.987167 107.806054</georss:point>
		<geo:lat>-6.987167</geo:lat>
		<geo:long>107.806054</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a66e2bc510aa1d9cb16cd5d6dbe64e4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedykusnaedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
