Tamu Allah Dalam Masjid


Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam sangat mementingkan shalat sebagai rukun Islam yang ke dua untuk didirikan sebagai bukti penghambaan (ubudiyah) umat Islam kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu Rasulullah Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam memerintahkan untuk membangun masjid dan tempat adzan untuk melaksanakan ibadah shalat.

Maka masjid adalah suatu tempat di muka bumi yang disukai Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan sejatinya masjid-masjid di muka bumi adalah milik Allah Subhanahu wa ta’ala seperti dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin:18)

Sa’id bin Jubair mengatakan, “Ayat ini turun berkenaan dengan tempat-tempat yang dipakai sujud, maka tempat-tempat itu adalah kepunyaan Allah. Oleh karena itu, janganlah kamu bersujud kepada selain Allah”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, bahwa ada seorang jin berkata kepada Nabi hallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam ,”Bagaimana mungkin kami shalat (berjama’ah) bersamamu, sementara kami jauh dari tempat anda.” Maka turunlah ayat ini yang menegaskan bahwa shalat dapat dilakukan di masjid mana pun, dan sebagai penegasan bahwa masjid-masjid hanyalah kepunyaan Allah.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi:

اِنَّ بُيُوُتِى فِ الْارَضِ الْمَسَاجِدُ وَاِنَّ زُوَّاِفِيهَا عُمَّارُهَا

Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi adalah masjid-masjid, dan para pengunjungnya adalah orang-orang yang memakmurkannya.” (HQR. Abu Na’im dari Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma).

Ada riwayat dari Jubair bin Muth’im, bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam :

Wahai Rasulullah, tempat manakah yang paling dicintai Allah, dan tempat manakah yang dibenci oleh Allah?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu, akan aku tanyakan kepada Jibril.” Lalu Beliau menemuinya, dan Jibril memberitahukan kepada Beliau: “Sesungguhnya tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjid, dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasar.” (HR. Ahmad dan Al Bazzar. Dinilai shahih oleh Al-Hakim, dan Muslim meriwayatkannya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma ada kisahnya).

Dengan ayat dan hadits-hadits ini Allah telah memberitahukan kepada kita, bahwa Allah mempunyai rumah di bumi, yaitu masjid-masjid sebagai tempat untuk kaum muslimin melakukan ibadah dan mengabdi kepada-Nya. Kaum muslimin memakmurkannya dengan seruan adzan dan melaksanakan shalat berjama’ah, menyelenggarakan majelis-majelis ta’lim, dan sebagainya. Oleh karena itu masjid adalah tempat yang termulia di muka bumi.

Hadits tersebut di atas juga menyebutkan, bahwa orang-orang yang mengunjungi masjid dan memakmurkannya dengan shalat berjma’ah, dzikir, majelis ta’lim, membaca Al-Qur’an, dan dengan cara-cara yang  lain untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah tamu Allah, dan Allah Subhanahu wa ta’ala memuliakan tamunya.

Dan tamu Allah di muka bumi adalah tamu yang termulia, sebab shahibul-bait (tuan rumah) sebagai penerima tamu itu adalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala akan memuliakan tamu-Nya di dalam rumah-Nya dengan jalan mengkaruniakan pahala. Selanjutnya dapat dikatakan dari beberapa hadits, bahwa pengunjung-pengunjung dan orang-orang yang suka memakmurkan masjid adalah termasuk orang-orang yang dicintai Allah.  Orang-orang yang ingin menjadi tamu Allah akan keluar dari rumahnya untuk pergi ke masjid, walaupun di perjalanan dalam keadaan gelap gulita sekalipun. Dan dapat dipastikan, bahwa orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang beriman yang ta’at kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Burada radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam bersabda, “Siapapun yang berangkat ke masjid dalam (keadaan) kegelapan, sampaikan padanya bahwa ia akan mendapat penerangan pada Hari Akhirat”. (HR. Muslim)

Said bin Al-Mussayib seorang ulama tabi’in, tapi sezaman dengan sahabat-sahabat senior ridhwanullah alaihim ajma’in meriwayatkan, “Siapapun yang sedang duduk di dalam rumah Allah Subhanahu wa ta’ala, (berarti) ia sedang duduk bersama Allah. Ia seharusnya hanya melibatkan dirinya dalam kebaikan dan pembicaraan yang baik.”

Adab sebagai tamu Allah di dalam masjid.

Para ulama telah menguraikan beberapa adab  yang harus diperhatikan oleh kaum muslimin yang berkaitan dengan perkara memuliakan masjid:

1.             Ucapkan salam kepada orang-orang yang berada dalam masjid, kecuali jika mereka sedang  shalat atau membaca Al Qur’an atau tengah berzikir. Jika di dalam masjid tidak ada orang, selain berdo’a sebelum memasuki masjid, juga ucapkanlah “Salam bagi kita dan bagi orang-orang yang saleh.” Walaupun kelihatannya tidak ada orang, tapi Malaikat yang akan menjawab salam kita.

2.             Dirikanlah shalat dua raka’at untuk memuliakan tempat ini dengan Tahiyyatul Masjid, kecuali di tiga waktu dimana dilarang untuk shalat. Tiga waktu itu adalah ketika matahari terbit dan terbenam, dan ketika ia tepat berada di atas kepala di siang hari. Sebagian ulama membolehkan shalat pada ketiga waktu tersebut karena adanya sebab, yaitu sebabnya memuliakan masjid.

3.             Ketika ada seseorang yang sedang mendirikan shalat, dilarang membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring, lebih-lebih dengan menggunakan alat pengeras suara hingga mengganggu orang yang tengah mendirikan shalat, walaupun shalat sunnah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring sementara saudaranya yang lain sedang mendirikan shalat tahiyyatul masjid, sehingga mereka merasa terganggu oleh suara bacaan Al-Qur’an yang nyaring itu. Beliau menjelaskan bahwa jika pada saat bersamaan ada saudaranya yang  lain sedang mendirikan shalat sunnat, tidak seharusnya seorang muslim membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring. Benar bahwa membaca Al-Qur’an adalah ibadah, tapi ibadah kepada Allah, dan Allah Subhanahu wa ta’ala  maha mendengar. Kata Imam Malik, orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring sehingga mengganggu orang shalat seharusnya dia dikeluarkan dari dalam masjid. Sabda Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam : اِنَّ الْمُصَلِّيَ يُنَا جِيْ رَبَّهُ عَزَّوَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ بِعَايُنَا جِيْهِ وَلَايَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بَالْقُرْاَنِ. “Sesungguhnya orang shalat itu ialah orang yang sedang berbisik-bisik dengan Tuhannya, oleh sebab itu, hendaklah ia perhatikan bisikannya, dan jangan sebagian dari kamu membaca Qur’an dengan suara nyaring sehingga mengganggu yang lain”. Sabdanya pula: “Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian bermunajat kepada Rabbnya, karena itu janganlah kalian saling mengeraskan suara dalam bacaan.”
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

4.             Jangan membawa sumber bau-bauan yang busuk dan tengik, seumpama asap rokok, bau badan, dan sebagainya ke dalam masjid. عَنْ عَاءِشَةَ رض قَالَْ ظ اَمَرَرَسُوْلُ الَّلهِ صلعم بِبِنَاءِ اْلمَسْجِدِ فِى الدَّوْرِوَاَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ Dari Siti ‘Asyah radhiyallahu ‘anha berkata “Rasulullah memerintahkan supaya dibangun masjid-masjid ditiap-tiap kampung sebagaimana Rasulullah Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam memerintahkan kita menjaga kebersihan masjid dan mewangikannya.”

5.             Jangan keluar meninggalkan masjid setelah adzan diserukan sebelum ia melakukan shalat,  kecuali ada udzur.  Sabda Nabi  Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam : اِذَا كُنْتُمْ فِي مَسْجِدٍ فَنُوْدِيَ بِالصَّلَاةِ فَلَايَحْزُجْ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُصَلِّيَ.  ” Apabila kamu (berada) di dalam masjid, lalu terdengar adzan diserukan, maka janganlah seorang daripada kamu ke luar (meninggalkannya) sebelum shalat.” (HR. Ahmad)

6.             Tidak dibenarkan menjadikan masjid sebagai tempat ajang bisnis, baik lisan maupun tulisan (brosur) atau gambar, plakat-plakat iklan, dan sebagainya. Sabda  Nabi  Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam: اِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيْعُ اَوْيَبْتَاعُ فِىالْمَسْجِدِ فَقوْلُوُا لَااَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ .  “Apabila kamu melihat seseorang berjual-beli di dalam masjid, katakan oleh kalian kepadanya: Semoga Allah tidak memberi keuntungan kepada usaha dagangmu.” (HR. Nasa’i dan Turmudzi).

7.             Jangan membawa atau mengeluarkan senjata tajam apabila tidak dapat menguasainya (berhati-hati dengan ketajamannya).  Ada hadits meriwayatkan: قَالَ عَمْرُوْ: اِنَّ رَجُلًا مَرَّفِىا لْمَسجِدِ بِاَسْهُمٍ قَدْاَبْدَى نُصُوْلَهَا فَاَمَرَا لنَّبِيُّ ص اَنْ يَأ خُذَ بِنُصُوْلِهَاكَيْ لَاتَخْدِشَ مُسْلِمًا. “Telah berkata ‘Amr: Sesunguhnya seorang laki-laki pernah berjalan di masjid dengan membawa panah yang keluar ujung tajamnya, maka Nabi Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam menyuruh ia menjaga terhadap tajam-tajamnya anak panah itu, supaya tidak melukai seorang muslim.

8.             Jangan membuat pengumuman tentang barang-barang hilang. Nabi Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam bersabda: مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِىالْمَسْجِدِ  فَلْيَقُلْ لَارَدَّهَااللَّهُ عَلَيْكَ فاِنَّ المَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا .  “Barang siapa mendengar orang yang mencari binatangnya yang hilang di masjid, hendaknya katakanlah: Tidaklah engkau akan menemukannya kembali (barang itu), karena masjid-masjid tidak didirikan untuk itu.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).

9.             Jangan berteriak-teriak di dalam masjid.

10.         Jangan bersiul dan bertepuk tangan di dalam masjid. Fiman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Dan shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu.” (QS. Al-Anfaal:35).

11.         Jangan banyak memperbincangkan urusan duniawi. Nabi Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam bersabda, “Di akhir zaman sebagian orang akan duduk dalam berbagai kelompok di dalam masjid dan hanya sibuk membicaraan duniawi yang menandakan cintanya terhadap kehidupan duniawi. Jangan duduk dengan mereka, karena Allah Subhanahu wa ta’ala (Tuan Rumah) tidak memerlukan orang-orang seperti itu di dalam masjid.”  (HR. Al-Hakim, disahkan oleh Al-Albani. Al-Dzahabi: Shahih)

12.         Janganlah melewati ruang masjid dengan maksud hendak ketempat lain atau ke tempat wudhu. Oleh karena itu tidak dibenarkan ruang masjid digunakan sebagai jalan lintasan, seperti masuk ruang masjid melalui pintu kiri langsung keluar pintu kanan. Rasulullah Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam bersabda:   اَلْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيْءَةٌ وَكَفَّا رَتُهَا دَفْنُهَا   “Janganlah engkau menjadikan masjid sebagai jalan untuk lewat kecuali untuk berdzikir dan menunaikan shalat.” (Dihasankan oleh Al-Albani dalam kitab Al-Silsilah Al-Shahihah No. 1001).

13.         Jangan bertengkar dengan orang lain di dalam masjid.

14.         Jangan memaksakan diri shalat berjama’ah berdesak-desakan dalam shaf jika tidak cukup tempat, karena akan mengakibatkan tidak tuma’ninah dalam shalat.

15.         Jangan melintas (berjalan) di hadapan orang yang sedang mendirikan shalat, karena hal itu akan menempatkan dirinya sebagai syetan. Sabda Rasulullah Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam : Apabila di antara kamu mendirikan shalat dengan menggunakan pembatas tempat sujud (sutrah), tapi kemudian ada orang yang hendak melintas di hadapannya, maka hendaklah ia tolak di dadanya. Apabila ia enggan, maka hendaklah ia perangi (tolak dengan tegas), karena ia itu tidak lain melainkan syetan.(HR. Bukhari dan Muslim).

16.         Jangan mendirikan shalat menghadap gerbang atau lintasan pintu masuk, sebab bila ada orang yang hendak memasuki masjid terhalang oleh rasa takut dirinya sebagai syetan (lihat point 15). Disunnatkan (bahkan sebagian ulama mewajibkan) shalat dengan menghadap sutrah (pembatas tempat sujud), yaitu dapat berupa dinding, tiang masjid, orang yang sedang shalat, atau orang yang sedang duduk berdzikir, atau apa saja yang bisa memberi kesan sebagai pembatas tempat sujud yang memiliki ketinggian.

17.         Jangan memasuki masjid melalui pintu yang diperuntukkan bagi kaum wanita.  عَنْ نَافِعٍ : اَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَنْهَى اَنْ يَدْخُلَ مِنْ بَابِ الِذّسَاءِ .  “Dari Nafi : Bahwasanya Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma pernah melarang dia masuk masjid dari pintu yang diperuntukkan bagi kaum perempuan.” (R. Abu Dawud)

18.         Jangan meludah atau membersihkan hidung di dalam masjid. Nabi Shallallaahu  ‘Alaihi  wa  Sallam bersabda :مَنْ دَخَلَ هَذَا الْمَسْجِدَ فَبَزَقَ فِيهِ اَوْتَنَخَّمَ فَلْيَحْفِرْ فَلْيَدْ فَنْهُ فَاِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلْيَبْزُقْ فِيْشَوْبِهِ شُمَّ لْيَخْرُجْ بِهِ   .  ” Barangsiapa masuk masjid ini, lalu ia meludah atau ia berdahak, maka hendaklah ia tanam ludah itu (dalam mulutnya), atau kalau tidak, hendaklah ia ludahkan di pakaiannya, lalu ia bawa keluar dahak itu. ” (HR. Abu Dawud). (شَوْبِهِ  tsaub artinya pakaian, ialah barang tenunan yang ada di atas badan kita. Maksudnya adalah tentu diludahkan kepada seumpama saputangan atau selendang, atau lebih praktis jika ada gangguan ludah atau dahak dengan membawa kertas tisue. Ludah atau dahak tidak termasuk najis).

19.         Jangan membunyikan persendian tulang.

20.         Jangan bermain-main dengan bagian manapun dari tubuh kita. Terutama ketika mendengarkan Khutbah Jum’at.

21.         Jagalah kebersihan dan jangan membawa anak-anak yang masih bayi atau orang gila ke dalam masjid.

22.         Sibukkanlah diri dengan banyak-banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. (Syaikh Al Qurtubi).

Semoga kita menjadi tamu Allah yang selalu dalam keikhlasan, agar senantiasa mendapat ridha-Nya. Amin

Wallahu a’lam.

(Dedy Kusnaedi).

Maraji:

1.  Targhib wa Tarhib, Ibnu Hajar Al-Asqalani.

2.  Ibaanatul Ahkam, Alawi Abbas Al-Maliki, Hasan Sulaiman An-Nuri.

3.  Hadits Qudsi, K.H.M. Ali Usman dkk.

4.  Soal-Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama, A. Hasan.

5.  Sumber-sumber lain.

7 Komentar

  1. 25 Maret 2010 at 4:21 am

    Hmm…mengingatkan saya kembali tentang adab2 didalam mesjid. Merupakan sebuah motifasi bagi kami para laki2 yang sebetulnya shalat berjamaah itu harus, buat laki2.

  2. 26 Maret 2010 at 2:43 am

    Memang shalat berjama’ah itu wajib. “…dan rukulah kamu beserta orang-orang yang ruku.” (QS. Al-Baqarah:43).
    Jazakumullaahu khair atas kunjungannya.

  3. adampisan said,

    27 Maret 2010 at 8:57 pm

    Bagaimana mengakomodir kaum perempuan? Saya melihat dalam peraktik-praktik di Indonesia, dalam memahami agama ada keterbatasan sifat “jamaah”. Bahkan dalam shalat Jumat pun praktiknya “diperuntukkan” oleh laki-laki.

    Menurut saya, pengaturan shaf di mesjid itu ada tempat khusus untuk perempuan. Berilah mereka kesempatan. Saya ingat ada satu mesjid namanya Al-Jihad di Cikaso (Cibeunying-Bandung), yang pengaturannya sedemikian rupa sehingga ada tempat khusus untuk perempuan, termasuk untuk shalat Jumat. Sehingga, hak-hak perempuan terakomodasi. Kan Rasulullah tidak melarang perempuan shalat Jumat. Seharusnya para DKM lebih bijak memperhatikan kaum perempuan.

    Di Papua sini, terlihat lebih jelas. Setiap hari Jumat, di kantor saya ada shalat Jumat (muslim) dan ada ibadah Jumat (kristen). Tapi, mesjid terisi penuh oleh laki-laki, sedangkan ibadah mereka bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Mungkin memang ada plus minusnya, tapi dari sisi tadi, pengaturan ibadah mereka lebih mengena bagi kaum perempuan. Terkadang juga dalam benak mereka sering terlontar: “kita perempuan juga bisa ibadah…”

    Bisa jadi ini sebuah cibiran bagi kaum kristiani melihat pengaturan ibadah kita. Jadi, sebaiknya muslimin harus lebih bijak dengan hal ini.

  4. Kang Bondan said,

    29 Maret 2010 at 12:31 pm

    sangat informatif. jazakallah :)

  5. 2 April 2010 at 6:52 am

    Sebesar-besar ibadah perempuan kepada Allah adalah di rumahnya.

  6. 2 April 2010 at 6:55 am

    Semoga berguna, dan menjadikan kita selamanya santun dalam masjid.

  7. 3 Juni 2010 at 9:12 am

    […] Anas bin Malik Radhiallahu anhu pada hari Jum’at, kamipun terdesak diantara tiang-tiang masjid, maka kamipun maju atau mundur, lalu berkata Anas: (( كنا نتقي هذا على عهد رسول […]


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: