Hukum Berkumur dalam Wudhu


Hukum berkumur, mencuci telinga, dan membasuh kaki dalam wudhu

Kami berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta ’ala dari bisikan syetan yang akan menyeret  kedalam kesesatan, dan semoga  dijauhkan dari perbuatan  bid’ah,  perbuatan ’ibadah tanpa landasan sunnah.

Post ini berkenaan dengan komentar seorang ikhwan terhadap  judul posting Ibadah dalam blog ini mengenai bagian ’ibadah mahdlah, dan kemudian ia membawanya kepada perkara ’ibadah wudhu dalam hal berkumur, mengusap telinga, dan membasuh kaki. Beliau mengomentari demikian:

adampisan Says:
28 Desember 2009 at 12:37 am
Menarik mengikuti pemaparan mengenai ibadah mahdlah yang harus mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasul, tidak boleh menambah ataupun mengurangi. Ini contoh dalam hal berwudhu: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki,” (Q.S. Al-Maidah:6) Kalau kita konsisten untuk tidak menambah dan mengurangi apa yang diajarkan Quran (Allah) dan Rasul-Nya, maka seharusnya kita berwudhu tidak boleh memasukkan kumur-kumur dan pembersihan telinga sebagai bagian dari wudhu. Praktik wudhu lain yang sering dilakukan kebanyakan muslimin juga adalah membasuh kaki, padahal jelas-jelas di Quran bahwa kaki hanya diusap/disapu. Kelihatannya tidak ada bukti bahwa Rasul melakukan pembasuhan kaki dan telinga.”

Komentar tersebut saya balas sebagai berikut;

Tentang ketiga rukun dalam wudhu tersebut, kita tidak ragu lagi padanya, bahwa perkara tersebut adalah benar ada dicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah Salallahu Alaihi was Salaam.

Mengenai Hukum Berkumur dalam Wudhu

Mengenai berkumur, ada hadits yang diketengahkan oleh Imam Abu Daud seperti berikut, sabda Nabi Salallahu Alaihi was Salaam:

إِذَاتَوَضَّأْ تَفَمَضْمِضْ

Apabila kamu berwudhu, maka berkumurlah”.

Hadits ini mengandung perintah untuk berkumur dalam berwudhu.

Ada hadits diceritakan oleh Imam Ali yang menjelaskan mengenai berkumur dan istinstar (mengeluarkan air dari lobang hidung) setelah istinsyaq (memasukkan air kedalam lubang hidung) sebagai berikut:

شُمَّ  رَسُوْلَ  اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ  ثَلاَتًا

يُمَضْمِضُ وَيَنْثُرُ مِنَ اْلكَفِّ  الَّذِيْ  يَأْخُذُمِنْهُ  الْمَاءَ . اَخْرَجَه ُ أَبُوْ   دَاوُدَ وَالنَّسَاأِيُّ

Kemudian Rasulullah Salallahu Alaihi was Salaam berkumur dan ber-istinstar sebanyak tiga kali, beliau berkumur dari sekali cedok tangan yang ia gunakan untuk mengambil air.” (Riwayat Abu Daud dan Nasa’i)

Ada hadits lain yang menyatakan bahwa madhmadhah (berkumur) disunnatkan, dan ketika istinstar dengan menghembuskan air dari lubang hidung dipergunakan tangan kiri untuk memegang batang hidung:

عَنْ عَبْدِ خَيْرٍ رَضِ اللَّهُ يَ عَنْهُ قَالَ : دَعَاعَلِيٌّ  بِوُضُوْءٍ

فَتَمَضْمَضَ  وَسْتَنْشَ وَنَشَرَ   بِيَدِهِ قَ الْيُسْرَى  فَفَعَلَ هَذَاثَلاَثًا

ثُمَّ  قَالَ : هَذَاطُهُوْرُ نَبِيِّ صَلَّى اللَّهِ اللَّهُ  علَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abdu Khoir radhiyallahu anhu berkata ”Ali pernah meminta wudhu, maka beliau pun berkumur-kumur serta menghirup air ke hidungnya dan menghembuskan dengan tangan kirinya (menggunakan tangan kiri untuk memegang hidungnya). Beliau berbuat demikian tiga kali. Akhirnya berkata ’Beginilah cara wudhu Rasulullah Salallahu Alaihi was Salaam.” (Hadits Riwayat Ahmad dan An-Nasa’i)

Dari Abdullah ibnu Zaid menceritakan mengenai gambaran wudhu Rosulullah Salallahu Alaihi was Salaam.:

شُمَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدْخَلَ  بِيَدَيْهِ  فَمَضْمَضَ وَسْتَنْثَقَ مِنْ كَفٍ وَاحِدٍ

.   يَفْعَلُ  ذَلِكَ  ثَلاَثًا . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Kemudian Rasulullah Salallahu Alaihi was Salaam memasukkan kedua tangannya (untuk mengambil air), lalu berkumur dan ber-istinsyaq dari telapak tangan yang sama. Hal ini beliau lakukan sebanyak tiga kali.” (Muttafaq ’alaih)

Ada seorang perawi bernama Humran ibnu Abban. Ia seorang pelayan Khalifah Utsman ibnu Affan. Ia menceritakan hadits berikut;

أَنَّ عُشْمَانَ دَعَابِوَضُوْءٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ  شَلاَثَ مَرَّاتٍ

شُمَّ  تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْسَقَ وَاسْتَنْشَرَ

شُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ مَرَّاتٍ شَلاَثَ

شُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ مَرَّاتٍ  ثلاَثَ

ثُمَّ الْيُسْرَى مِشْلَ ذَلِكَ ثُمَّ  مَسَحَ  بِرَأْسِهِ

ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَي الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

ثُمَّ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

. تَوَضَّأَنَحْوَوُ ضُوْ لِيْ هَذَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

”Khalifah Utsman meminta air untuk wudhu, lalu ia membasuh kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian berkumur dan melakukan istinsyaq serta istintsar. Setelah itu ia membasuh mukanya sebanyak tiga kali, lalu membasuh tangan kanan beserta sikunya sebanyak tiga kali, dan melakukan hal yang sama terhadap tangan kirinya. Kemudian mengusap kepala, lalu membasuh kaki kanannya berikut mata kakinya sebanyak tiga kali, dan melakukan hal yang sama terhadap kaki kirinya. Setelah itu ia berkata “Aku telah melihat Rasulullah Salallahu Alaihi was Salaam melakukan wudhu seperti wudhuku ini.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam hadits di atas, lafadz تَمَضْمَضَ  tamadhmadha, berasal dari kata madhmadhah, artinya mengkumur air dalam mulut, kemudian mengeluarkannya lagi. Pekerjaan ini didahulukan atas istinsyaq, mengingat ia lebih penting dan sekaligus untuk menguji rasa air.

Ada hadits lain yang berikut:

: وَعْنِ عَمْرِو تْنِ عَنْبَسَةَ  عَنِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ

مَامِنْكُمْ رَجُلٌ   يُقَرَّبُ وُضُوْءَهُ  فَيُمَضْمِضُ

وَيَتَنْشِقُ وَإِلاَّخَرَجَتْ خَطَايَاوَجْهِهِ مِنْ  فِيْهِ وَخَيَاشِيْمِهِ،

ثُمَّ  إِذَا  غَسَلَ  وَجْهَهُ كَمَا   أَمَرَهُ   اللَّهُ   إِلاَّجَرَجَتْ   خَطَايَا   وَجْهِهِ

ثُمَّ إِذَا غَسَلَ  وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِلاَّجَرَجَتْ  خَطَايَا وَجْهِهِ

مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ  مَعَ الّمَاءِ

شُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ إَلاَّ خَرَجَتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ  أَنَامِلِهِ  مَعَ الْمَاءِ

ثُمَّ يَمْسَهُ رَأْسَهُ إِلاَّ خَرَجَتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ  مَعَ الْمَاءِ

ثُمَ  يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ إِلاَّ خَرَجَتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ

،فَصَلَّى ، فَحَمِدَاللَّهَ ، فَإِنْ هُوَ قَامَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ، وَمَجَدَهُ بِالَّذِي  هُوَلَهُ  أَهْلٌ،

وَفَرَّغَ قَلْبَ لِلَّهِهُ إِلاَّانْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ  وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Dari Amru bin Anbasah, dari Nabi Salallahu Alaihi was Salaam, beliau bersabda: Tidak ada seorang pun di antara kalian yang mendekatkan (beribadah dengan) wudhunya, lalu berkumur-kumur, menghirup air dengan hidung dan mengeluarkannya, melainkan kesalahan-kesalahan wajahnya keluar dari mulut dan lubang hidungnya. Kemudian jika dia membasuh wajahnya sebagaimana diperintahkan oleh Allah, melainkan kesalahan-kesalahan wajahnya keluar dari ujung jenggotnya (janggut) bersama air. Kemudian membasuh kedua tangannya sampai kedua siku, melainkan kesalahan-kesalahan kedua tangannya keluar dari ujung jarinya bersama air. Lalu mengusap kepalanya, melainkan kesalahan-kesalahan kepalanya keluar dari ujung rambutnya bersama air, kemudian membasuh kedua kakinya sampai kedua mata kaki, melainkan kesalahan-kesalahan kakinya  keluar dari ujung jari kaki bersama air. Lalu ia melakukan shalat dan memuji Allah. Jika dia berdiri dan memuja-Nya, mengagungkan-Nya dengan sesuatu yang menjadi kelayakan bagi-Nya, mengosongkan hatinya karena Allah, dia akan berpaling dari kesalahannya seperti hari ketika dia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Muslim).

Para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan hukum madhmadhah (berkumur) dan istinsyaq. Dalam hal ini menjadi tiga pendapat:

Pertama, menurut Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Abu Hanifah, berkumur dan menyerap air ke dalam hidung itu adalah termasuk ibadah sunat dalam wudhu.

Menurut Ibnu Abi Laila dan beberapa orang sahabat Abu Dawud, madhmadhah dan istinsyaq adalah termasuk fardhu wudhu.

Menurut Abu Tsaur, Abu Ubaidah, dan beberapa orang dan ulama Zahiri, istinsyaq itu wajib, sedangkan madhmadhah itu sunat.

Dalam masalah ini faham Imam Ahmad yang kuat, karena dalam surat Almaidah :6 mewajibkan membasuh muka, maka berkumur-kumur itu bagian membasuh wajah, seperti halnya istinsyaq ke dalam lubang hidung adalah sebagai bagian wajah. Dalam hadits-hadits, Nabi Salallahu Alaihi was Salaam menerangkan caranya apabila kita memperhatikan sifat wudhu adalah yang menjelaskan majmal ayat (maksud ayat), nyatalah dengan itu bahwa Nabi tidak pernah meninggalkan madhmadhah dan istinsyaq (berkumur dan mencuci lubang hidung).

Mengenai Hukum Membersihkan Telinga.

Ada hadits dari Ibnu Abas menceritakan mengenai gambaran wudhu Rosulullah Salallahu Alaihi was Salaam.:

تَوَضَّأَ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ

فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِى اْلإِنَاءِ فَسْتَنْشَقَ وَمَضْمَضَ مَرَّةً وَاحِدَةً

شُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ وَصَبَّ عَلَى وَجْهِهِ  مَرَّةً وَاحِدَةً

شُمَّ  أَدْخَلَ يَدَهُ وَصَبَّ عَلَى وَجْهِهِ  مَرَّةً وَاحِدَةً

وَصَبَّ عَلَى يَدَيْهِ مَرَّةً  وَاحِدَةً وَمَسَحَ رَأْسَهُ وَأُذُنَيْهِ مَرَّةً وَاحِدَةً

”Rasulullah Salallahu Alaihi was Salaam melakukan wudhu, untuk itu beliau memasukan tangannya ke dalam wadah, lalu ber-istinsyaq dan berkumur sekaligus. Kemudian memasukan tangannya dan menuangkan air ke wajahnya dengan sekali siraman, lalu menuangkan air kepada kedua tangannya sekali, lalu mengusap kepala dan kedua telinganya sekali usap.”

Abdullah ibnu Amr radhiyallahu anhu menceritakan hadits berikut mengenai gambaran wudhu Rasulullah Salallahu Alaihi was Salaam.

شُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ  وَأَدْخَلَ إِصْبِعَيْهِ السَّبَّا حَتَيْنِ فِيْ أُذُنَيْهِ وَمَسَحَ بِاءِبْهَامِهِ ظَاهِرَ أُذُنَيْهِ

“Kemudian beliau mengusap kepalanya dan memasukkan (masing-masing dari) kedua jari telunjuknya ke dalam kedua telinganya, dan mengusapkan (masing-masing dari dua jari) jempolnya ke bagian luar daun telinga.“ (Riwayat Abu Daud dan Nasa’i, serta dinilai sahih oleh Ibnu Khuzaimah).

عَنِ لْمِقْدَامِ  بْن مَعْدِيْكَرِبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : اِنَّ النَبِيَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَاُذُنَيْهِ وَاَدْخَلَ اُصْبُعَيْهِ فِىصِمَخَيْهِ

“Dari Miqdam Ibn Ma’di Kariba radhiyallahu anhu berkata : Nabi Salallahu Alaihi was Salaam menyapu kepalanya dan dua telinganya, beliau memasukkan anak jarinya dalam lipatan telinganya.“ (Hadits Riwayat Ahmad)

Hadits-hadits ini menceritakan tentang gambaran berwudhu dengan mengusap kepala kemudian disertai dengan tambahan mengusap kedua daun telinga bagian luar dan bagian dalamnya.

Para ulama  berbeda pendapat mengenai mengusap kedua telinga. Apakah itu sunat atau fardhu, dan apakah air yang digunakan untuk mengusap itu harus air baru atau tidak?

Sebagian ulama berpendapat bahwa itu adalah fardhu dan harus memakai air yang baru. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah para murid Imam Malik. Mereka berani berpendapat seperti itu karena manurut Imam Malik kedua telinga itu termasuk bagian dari kepala.

Imam Ahmad mengatakan, “Sesungguhnya kedua daun telinga itu termasuk bagian dari kepala. Karena itu, keduanya diusap bersamaan dengan pengusapan kepala, dan hukumnya wajib.

Imam Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya berpendapat bahwa mengusap kedua telinga adalah wajib. Namun, untuk mengusapnya dapat menggunakan air yang digunakan untuk mengusap kepala.

Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa mengusap kedua telinga adalah sunat dan mengusapnya menggunakan air baru. Sebagian ulama sahabat Imam Malik juga berpendapat demikian.

Perselisihan pendapat di atas bertitik tolak dari perbedaan pendapat dalam menerima hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Salallahu Alaihi was Salaam mengusap kedua telinganya, apakah hadits ini berfungsi sebagai tambahan dari mengusap kepala atau sebagai penjelas A1-Qur’an, yang hukumnya sama dengan hukum mengusap kepala.

Ulama yang mewajibkan mengusap kedua telinga menganggap bahwa hadits itu berfungsi sebagai penjelas A1-Qur’an. Sedangkan ulama yang tidak mewajibkannya menganggap hadits tersebut sebagai tambahan dari Al-Qur’an seperti berkumur. Hadits-hadits yang berkaitan dengan itu banyak sekali walaupun tidak tercantum dalam “Sahih Bukhari dan Muslim.”  Namun, mengusap telinga dalam wudhu merupakan amalan yang sudah cukup populer.

Sedangkan perbedaan pendapat tentang penggunaan air baru atau tidak, itu disebabkan karena mereka berbeda pendapat dalam hal apakah telinga termasuk anggota wudhu yang tersendiri atau menjadi bagian dari kepala.

Ada segolongan ulama yang berpendapat aneh dengan menyatakan bahwa kedua telinga itu dibasuh bersamaan dengan wajah. Sedang ulama lain berpendapat bahwa bagian dalam telinga itu diusap bersamaan dengan mengusap kepala, sedang bagian luar dibasuh bersamaan dengan wajah. Hal ini karena status telinga itu tidak jelas, apakah termasuk bagian dari kepala atau bagian dari wajah. Namun, ini semua tidak mempengaruhi kemasyhuran hadits yang  menjelaskan telinga yang diusap dan kepopuleran pengamalannya. Menurut Syafi’i, mengusap telinga secara berulang-ulang itu sunat seperti hukum mengusap kepala.

Dari Abdullah ibnu Zaid radhiyallahu anhu menceritakan hadits berikut:

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَأْ خُذُلأُِنَيْهِ مَاءًغَيْرَالْمَاءِالَّذِيْ أَخَذَهُ لِرَأْسِه. أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ

”Ia pernah melihat Nabi salallahu alaihi wassalaam mengambil air untuk mengusap kedua telinganya selain dari air yang telah ia pakai untuk mengusap kepalanya.” (Riwayat Baihaqi).

Hadits ini menyatakan, bahwa Nabi  Salallahu Alaihi was Salaam mengambil air yang baru untuk menyapu telinga. Tapi ini mengandung pengertian , bahwa Nabi Salallahu Alaihi was Salaam mengambil air yang baru untuk menyapu telinga adalah karena tangannya sudah terlalu kering untuk mengusap.

Al-Bukhari menegaskan bahwa mengambil air  lain untuk menyapu telinga adalah menyalahi sunnah Nabi Salallahu Alaihi was Salaam.

Kesimpulan, menyapu telinga berurutan dengan menyapu kepala dengan air yang sama, kecuali kalau tangan sudah tidak basah, barulah kita menggunakan air yang baru. Maka tak ada jalan lain, mengharuskan kita menyapu telinga dengan menggunakan air yang baru.

Sedangkan kedudukan hukum menyapu telinga, tak pernah Nabi Salallahu Alaihi was Salaam meninggalkan menyapu telinga beserta menyapu kepala. Karena itu, menurut kaidah, harus kita samakan hukumnya menjadi wajib, karena megikuti hukum menyapu kepala seperti yang diperintahkan dalam surat Al-Maidah ayat 6.

Mengenai Hukum Membasuh Kaki

Ulama sepakat bahwa kedua kaki adalah anggota wudhu. Tapi mereka berselisih tentang cara menyucikannya. Menurut jumhur ulama ialah dengan mencuci (membasuh) kedua kaki.

Sebagian ulama ada yang dengan mengusap kedua kaki. Sedang sebagian ulama yang lain boleh membasuh atau mengusap kedua kaki. Persoalan ini tergantung pada orang yang memilih. Sebab perselisihan mereka adalah cara membaca ayat Al-Qur’an tentang wudhu dalam surat Al-Maidah ayat 6.

Ada yang membaca lafal وَاَرْجُلَكُمْ  wa arjulakum, (dan kaki-kakimu), lam dibaca fathah di-athaf-kan (dihubungkan dengan tempat) kepada anggota yang dibasuh.

Ada juga yang membaca lafal وَاَرْجُلِكُمْ , wa arjulikum, lam dibaca kasrah di-athaf- kan kepada anggota yang disapu.

Ulama yang berpendapat bahwa cara mencuci di atas hanya satu cara yang menjadi rukun (wajib), itu bisa dengan cara mencuci atau mengusap, tergantung cara membaca ayat Al-Qur’an di atas. Dasar bacaan ayat itulah yang menjadi landasan istinbat-nya (menetapkan suatu hukum)

Jika ulama yang menganggap bahwa dua bacaan tersebut sama kedudukannya, maka mencuci kedua kaki boleh memilih dengan dua cara seperti memilih hukuman kafarat sumpah. Pendapat terakhir ini ditemukan oleh Thabari dan Dawud.

Jumhur menarjih (menimbang atau memilih yang lebih kuat) bacaan mereka  berdasarkan nashab pada hadits Nabi Salallahu Alaihi was Salaam ketika beliau bersabda kepada orang-orang yang kurang sempurna dalam membasuh tumit dalam wudhu,

وَيْلٌ لْلأَِ عْقَابِ  مِنَ النَّارِ

Celakalah bagi orang-orang yang (kurang sempurna dalam) membasuh tumit karena akan dibakar oleh neraka.”

Jumhur ulama berpendapat bahwa hadits ini menunjukkan membasuh kedua kaki adalah wajib. Sebab, wajib adalah sesuatu yang apabila ditinggalkan mendapat dosa. Tetapi, ini tidak bisa dijadikan argumen, karena ancaman ini ditujukan kepada orang yang tidak membasuh tumit secara sempurna. Sebab, orang yang mulai membasuh tentu mengetahui bahwa kewajibannya adalah membasuh seluruh kaki. Hal itu sama dengan orang yang mulai mengusap, kewajibannya adalah mengusap seluruh kaki, tergantung ia memilih dari dua pilihan, wajib mengusap atau wajib membasuh.

Dalam hal ini, ada hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Muslim, ketika perawi hadis itu berkata, “Maka kami mengusap kaki, kemudian Nabi berteriak, ’Tumit itu akan celaka dengan api neraka!

Hadits ini, walaupun sudah biasa digunakan sebagai alasan untuk melarang mengusap kaki, kiranya lebih tepat sebagai dalil bolehnya mengusap kaki. Sebab ancaman dalam hadits tersebut terkait dengan ketidaksempurnaan (tidak merata), bukan dengan cara mengusap atau membasuhnya (menyucikan). Tepatnya, hadits itu tidak menyebut cara mengusap atau membasuh, tetapi kesempurnaan mengusap atau kesempurnaan membasuh. Dengan demikian, hadits ini boleh dijadikan dalil “bolehnya mengusap kaki

Kebolehan mengusap kaki dalam wudhu juga berdasarkan riwayat dari sebagian sahabat dan tabi’in. Tetapi ditinjau dari sisi makna, kiranya “membasuh” lebih cocok dengan kondisi kedua kaki. Sama halnya “mengusap” itu lebih cocok untuk kepala (rambut). Sebab, kaki lebih dekat dengan hal-hal yang kotor, dan biasanya, kotoran yang melekat pada kaki tidak dapat hilang kecuali dengan cara dibasuh, sedangkan kotoran yang melekat pada rambut kepala itu biasanya dapat hilang hanya cukup dengan diusap.

Logika penafsiran di atas tidak harus menjadi sebab adanya “sistem peribadatan wajib”. Sebab, syari’at peribadatan mengandung dua pengertian substansial, yakni maslahi dan ‘ibadi. Yang pertama berkaitan dengan “kebersihan” yang dapat dirasakan oleh panca indera, sedang yang kedua berkaitan dengan kebersihan jiwa dan hati.

Selain yang demikian itu, turunnya ayat 6 surat Al-Maidah itu terjadi ketika Rasulullah Salallahu Alaihi was Salaam beserta rombongan dalam perjalanan menuju Madinah, sedangkan kondisi musafir adalah tempat keringan hukum (rukhsah). Sehingga dapat difahami, bahwa mengusap kaki itu lebih bertujuan meringankan bagi musafir, karena kondisi kaki yang bersepatu lebih bersih sehingga meringankan pekerjaan wudhu dan penggunaan air.

Para ulama juga berbeda pendapat tentang “mata kaki”, apakah masuk dalam kategori yang wajib dibasuh atau diusap. Titik pangkal perbedaan tersebut adalah arti ganda (isytirak) lafal ila yang berarti “ke/sampai” dalam firman Allah:

وَاَرْجُلَكُمْ اَلَى الْكَعْبَيْنِ

Dan kedua kaki kalian ‘sampai’ ke mata kaki.”

Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan mata kaki. Perbedaan pendapat itu terjadi karena “mata kaki” (al-ka’b) menurut para pakar bahasa mempunyai arti ganda. Suatu pendapat menyatakan bahwa mata kaki adalah tempat tali terumpah di atas punggung kaki. Pendapat lain mengatakan bahwa dua tulang yang menonjol di ujung betis. Menurut Ibnu Rusyd, jika yang dimaksud dengan ka’b adalah tempat tali terumpah di atas punggung kaki, kiranya tidak ada perbedaan pendapat bahwa dua mata kaki di atas termasuk yang wajib dibasuh, karena ia termasuk bagian dari kaki. Oleh karena itu, para ulama memberi kriteria yaitu jika batas yang ditetapkan itu termasuk bagian dari sesuatu yang dibatasi, maka ujung batas itu masuk dalam sesuatu yang dibatasi, tetapi jika batas itu bukan bagian yang dibatasi, maka ujung batas tersebut tidak termasuk. Seperti contoh dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 187: …

اَتِمُّو االصِّيَامَ اِلَىالَّيْلِ  

Maka sempurnakanlah puasa sampai malam.”

Demikian keterangan-keterangan yang saya peroleh, mudahan-mudahan menjadi jelas. Bila ada ikhwan yang ingin bersodaqoh ilmu, untuk menambahkan atau mengkoreksi posting ini, silakan. Kita berbagi dan belajar bersama.  Khoir.

Wallahu ‘alam.

(dedy kusnaedi)


Maraji:

1. Ibaanatul Ahkam, Alawi Abbas Al Maliki dan Hasan Sulaiman An-Nuri

2. Targhib wa Tarhib, Ibnu Hajar Al-Asqalani

3. Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd

4. Koleksi Hadis-hadis Hukum jld. 1, Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy

5. Asbabun Nuzul, Jalaluddin as-Suyuthi

About these ads

3 Komentar

  1. Fath said,

    11 Januari 2010 at 8:38 am

    Ahsan

  2. ridho said,

    16 Januari 2010 at 1:42 am

    Sebetulnya perbedaan fikih hanya furu’ saja dan sifatnya khilafiyah. monggo silakan pilih sesuai keyakinan. yg penting berdasar.

  3. 28 Mei 2010 at 3:30 am

    jazakallah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: